Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih tenang.
Alesha duduk di belakang motor Kevin sambil melihat pemandangan jalan. Tidak seperti biasanya yang langsung bercerita panjang, kali ini ia lebih diam.
Kevin yang menyadari itu akhirnya bertanya.
"Kamu capek?"
Alesha menggeleng.
"Nggak."
"Lalu kenapa diam?"
Alesha berpikir sebentar.
"Sedang menikmati hari tanpa dimarahin."
Kevin langsung menghela napas kecil.
"Jadi selama ini hidup kamu cuma soal dimarahin?"
Alesha tertawa pelan.
"Nggak juga."
Sesampainya di rumah, Alesha langsung masuk ke kamar untuk mengganti pakaian.
Berbeda dari biasanya, ia tidak langsung bermain atau melakukan hal lain.
Ia malah mengambil buku pelajaran dan mulai merapikan catatannya.
Oma yang kebetulan lewat depan kamar sampai berhenti sebentar.
"Rajin sekali hari ini."
Alesha menoleh.
"Aku sedang berusaha."
Oma tersenyum.
"Berusaha apa?"
"Supaya Kak Kevin nggak pusing."
Mendengar itu, Oma hanya tertawa kecil.
"Ternyata kamu juga bisa memikirkan orang lain."
Alesha langsung memasang wajah tidak terima.
"Aku dari dulu memikirkan orang lain."
"Iya, iya."
Tak lama kemudian, Kevin masuk ke kamar.
Ia terdiam melihat Alesha yang sedang belajar.
"Serius?"
Alesha menoleh.
"Apa?"
"Kamu belajar tanpa disuruh?"
Alesha langsung mengerucutkan bibir.
"Kak, jangan kaget begitu."
Kevin tersenyum tipis.
"Soalnya biasanya kamu lebih dekat dengan kasur daripada buku."
Alesha langsung menatapnya kesal.
"Jahat."
Kevin tertawa kecil.
Namun, dalam hati ia merasa lega.
Mungkin Alesha memang masih ceroboh dan sering membuatnya pusing.
Tapi setidaknya, adiknya mulai berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Malam itu suasana rumah terasa lebih tenang.
Setelah selesai belajar, Alesha menutup bukunya lalu melihat ke arah jam dinding.
"Masih jam sembilan..."
Ia menatap kasurnya dengan ragu.
Biasanya ia masih melakukan banyak hal sebelum tidur, tapi sejak kejadian di sekolah, Kevin benar-benar mengawasinya.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Kevin muncul sambil membawa segelas susu.
"Minum dulu."
Alesha menatap gelas itu.
"Kak, aku bukan anak kecil."
Kevin mengangkat alis.
"Tapi kamu yang kemarin hampir masuk UKS karena memaksakan diri."
Alesha langsung terdiam.
Tidak bisa membantah.
Ia menerima gelas itu.
"Iya, iya."
Kevin bersandar di pintu.
"Besok jangan terlalu dipikirkan soal tidur di kelas."
Alesha menatapnya.
"Maksudnya?"
"Gue tahu kamu berusaha karena nggak mau bikin gue kecewa."
Alesha diam.
"Tapi jangan sampai kamu terlalu takut salah."
Beberapa detik suasana kamar hening.
Alesha lalu tersenyum kecil.
"Iya, Kak."
Kevin mengangguk.
"Bagus."
Sebelum keluar, ia kembali mengingatkan.
"Jam sepuluh tidur."
Alesha langsung menatap jam.
"Loh, masih ada satu jam."
Kevin langsung berjalan keluar.
"Gunakan untuk bersiap tidur."
Alesha hanya bisa menghela napas.
"Kak Kevin semakin mirip ibu."
Dari luar kamar, suara Kevin terdengar.
"Gue dengar."
Alesha langsung menutup mulut.
"Hehe..."
Tak lama kemudian, ia kembali melihat Pingky yang berada di sudut kamar.
"Kamu lihat kan? Kak Kevin sekarang jadi polisi tidur."
Pingky hanya bersuara kecil.
Alesha tertawa pelan.
Meski sering merasa kesal dengan aturan kakaknya, ia tahu semua itu dilakukan karena Kevin peduli.
Keesokan paginya, Alesha bangun tanpa harus dibangunkan oleh Kevin.
Ia duduk di atas kasur sambil menguap kecil, lalu melihat jam.
"Masih pagi..."
Biasanya ia masih akan menarik selimut dan tidur lagi, tetapi kali ini ia langsung teringat kejadian kemarin.
"Enggak boleh. Nanti Kak Kevin menang lagi."
Dengan semangat yang masih setengah mengantuk, Alesha segera bersiap.
Saat turun ke ruang makan, Kevin yang sedang sarapan langsung menoleh.
Wajahnya terlihat sedikit terkejut.
"Kamu bangun sendiri?"
Alesha langsung duduk.
"Iya."
Kevin memperhatikannya beberapa detik.
"Aneh."
Alesha langsung menatap tidak percaya.
"Kak, kok malah bilang aneh?"
"Karena biasanya gue harus panggil berkali-kali."
Oma yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum.
"Bagus dong. Berarti Alesha mulai berubah."
Alesha langsung tersenyum bangga.
"Nah, dengar itu."
Kevin hanya mengangguk kecil.
"Semoga bukan cuma hari ini."
Alesha langsung menghela napas.
"Kak, percaya sedikit dong."
Setelah sarapan selesai, mereka pun berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Alesha berjalan menuju kelas bersama Dinda.
Hari ini ia merasa lebih percaya diri.
Namun, baru beberapa langkah masuk koridor, sebuah suara terdengar.
"Alesha."
Ia langsung berhenti.
Alesha menoleh dan melihat Arka berdiri di dekat papan pengumuman.
"Kenapa lagi, Arka?"
Arka menatapnya sebentar.
"Bukan apa-apa."
"Lalu?"
"Kamu terlihat berbeda hari ini."
Alesha menunjuk dirinya sendiri.
"Berbeda?"
Arka mengangguk.
"Kamu tidak mengantuk."
Alesha langsung tersenyum lebar.
"Berarti usaha gue berhasil."
Arka hanya mengangguk kecil.
"Bagus."
Satu kata itu membuat Alesha tersenyum puas.
Ternyata bukan hanya Kevin yang memperhatikan perubahan kecilnya.
Alesha masuk ke kelas dengan perasaan lebih bersemangat dari biasanya.
Dinda yang melihat ekspresi wajahnya langsung penasaran.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?"
Alesha meletakkan tasnya di meja.
"Arka bilang gue berubah."
Dinda langsung mengangkat alis.
"Arka?"
"Iya."
"Dia bilang apa?"
"Dia bilang gue nggak mengantuk hari ini."
Dinda terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil.
"Lo bahagia cuma karena itu?"
Alesha mengangguk santai.
"Iya. Itu berarti perjuangan gue berhasil."
Dinda hanya bisa menggeleng.
"Kadang gue bingung sama cara berpikir lo."
"Kenapa?"
"Karena hal kecil bisa bikin lo senang."
Alesha tersenyum.
"Menurut gue itu bagus."
Sementara itu, di kelas Kevin, Reza kembali membahas adiknya.
"Vin."
"Hm?"
"Adik lo hari ini kelihatan beda."
Kevin menoleh.
"Beda bagaimana?"
"Lebih semangat."
Alvian ikut bicara.
"Kayaknya nasihat lo kemarin masuk."
Kevin hanya tersenyum kecil.
"Semoga."
Arka yang sedang membaca buku hanya mendengar percakapan mereka.
Tanpa sadar, ia mengingat ekspresi Alesha saat dirinya mengatakan perubahan itu.
Gadis itu terlihat sangat senang hanya karena satu kalimat sederhana.
"Dia memang aneh," gumam Arka pelan.
Reza yang mendengar langsung menoleh.
"Apa?"
"Nggak ada."
Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, bel masuk berbunyi.
Semua siswa kembali fokus ke pelajaran.
Di kelas Alesha, pelajaran pertama dimulai.
Kali ini ia duduk dengan niat serius.
Buku terbuka, pulpen siap, dan matanya masih fokus ke depan.
Dinda sampai heran melihatnya.
"Lo benar-benar berubah."
Alesha tersenyum kecil.
"Gue cuma nggak mau kalah sama rasa ngantuk."
Namun, tanpa mereka sadari...
Beberapa jam ke depan akan menguji seberapa kuat tekad Alesha untuk tidak tertidur lagi.
Jam pelajaran kedua dimulai.
Kali ini mata pelajaran yang berlangsung cukup berat bagi Alesha. Guru di depan kelas menjelaskan materi dengan suara yang tenang, membuat suasana kelas menjadi semakin hening.
Dinda yang duduk di sebelahnya mulai melirik.
Awalnya Alesha masih terlihat fokus. Ia mencatat, sesekali mengangguk mengikuti penjelasan guru.
Namun beberapa menit kemudian...
Kelopak matanya mulai turun perlahan.
Dinda langsung menyenggol lengannya.
"Les."
Alesha tersentak kecil.
"Hm?"
"Jangan."
"Gue nggak tidur."
Dinda menatapnya curiga.
"Barusan mata lo hampir tutup."
Alesha langsung duduk lebih tegak.
"Gue masih kuat."
Ia lalu mengambil botol minumnya dan meneguk beberapa kali.
Dinda hanya tersenyum melihat perjuangan temannya.
"Lo serius banget cuma buat nggak tidur."
Alesha berbisik pelan.
"Gue sudah janji."
Sementara itu, di kelas Kevin, ia sedang mengikuti pelajaran seperti biasa. Namun entah kenapa, ia beberapa kali melihat jam.
Reza yang menyadari itu langsung menyenggolnya.
"Lo khawatir lagi?"
Kevin menggeleng.
"Nggak."
"Padahal kelihatan."
Kevin diam.
Ia hanya berharap hari ini Alesha benar-benar bisa melewati pelajaran tanpa masalah.
Kembali ke kelas Alesha, perjuangannya akhirnya membuahkan hasil.
Bel istirahat berbunyi.
Alesha langsung mengangkat kedua tangannya kecil.
"Menang."
Dinda tertawa.
"Lo menang melawan satu jam pelajaran?"
"Iya."
Namun saat mereka berdiri, Alesha tiba-tiba melihat seseorang berdiri di depan pintu kelas.
Arka.
Seperti biasa, wajahnya tetap datar.
"Alesha."
Alesha langsung berhenti.
"Kenapa lagi?"
Arka melihat ke arah mejanya.
"Kali ini tidak tidur."
Alesha langsung tersenyum bangga.
"Tentu saja."
Arka mengangguk kecil.
"Bagus."
Lalu ia pergi begitu saja.
Alesha masih berdiri sambil tersenyum.
Dinda langsung menatapnya.
"Jangan bilang..."
"Apa?"
"Lo senang lagi cuma karena dipuji Arka."
Alesha langsung terdiam.
"...Mungkin."