"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Di Barisan Belakang
Sesuai dengan perjanjian ketat yang mereka sepakati, tidak ada drama berangkat bersama dalam satu mobil. Tepat pukul tujuh pagi, Labib sudah lebih dulu membelah jalanan kota dengan mobil sedan hitamnya. Sementara Yuna baru berangkat tiga puluh menit kemudian, mengendarai mobil City Car putih kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari almarhum ayahnya dulu.
Membelah kemacetan hari Senin dengan mobil sendiri membuat Yuna punya waktu untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar akibat insiden "pelukan gurita" tadi pagi.
Pukul 08.15, Yuna sudah duduk manis di ruang kuliah Arsitektur Teoretis. Jam pertama dijadwalkan mulai pukul 08.30, dan dosen pengampunya tak lain adalah suaminya sendiri, Pak Labib. Yuna menghela napas lega setelah memeriksa grup WhatsApp kelas; untung saja untuk hari ini tidak ada tugas maket atau revisi gambar yang dikumpulkan. Setidaknya, ia aman dari amukan profesional Pak Labib.
"Eh, Yun! Tahu nggak sih?"
Dinda, sahabat dekat Yuna yang duduk di sebelahnya, tiba-tiba menyenggol lengan Yuna dengan heboh. Beberapa mahasiswi di barisan mereka pun langsung mendekat, membuat lingkaran gosip kecil sebelum kelas dimulai.
"Tahu apa?" tanya Yuna, mencoba bersikap sebiasa mungkin sambil mengeluarkan buku catatannya.
"Ini loh, soal Pak Labib," bisik Dinda dengan mata berbinar-binar penuh spekulasi. "Ada gosip panas dari anak-anak administrasi fakultas. Katanya, akhir-akhir ini Pak Labib kayaknya udah punya pacar, atau bahkan mungkin... lagi dekat sama seseorang sampai serius!"
Uhuk!
Yuna mendadak tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk kecil sambil buru-buru meminum air mineral dari botolnya untuk menyembunyikan kepanikan yang mendadak menyerang.
"L-lo tahu dari mana, Din? Jangan ngarang deh, Pak Labib kan dingin banget kayak es kutub," sahut Yuna, berusaha terdengar tidak peduli meski hatinya ketar-ketir.
"Ih, beneran! Kemarin ada anak semester akhir yang bimbingan telat, terus nggak sengaja dengar Pak Labib lagi teleponan di ruangannya. Katanya, nada suaranya itu lembut banget, beda seratus delapan puluh derajat kalau lagi ngomong sama kita. Terus katanya, Pak Labib juga nolak jadwal rapat malam karena ada 'urusan rumah' yang harus diurus. Gila nggak sih? Cowok sekaku Pak Labib kalau udah bucin kayak gimana ya?" sahut salah satu temannya yang lain ikut menimpali dengan heboh.
Yuna menelan ludah. 'Urusan rumah yang harus diurus... itu kan waktu Mas Labib pulang cepat buat masakin aku nasi goreng kemarin malam!' teriak Yuna dalam hati.
"Aduh, patah hati nasional se-fakultas ini mah kalau Pak Labib beneran udah ada yang punya," keluh Dinda sambil menopang dagunya dengan lesu. "Kira-kira cewek beruntung mana ya yang bisa mencairkan es batu berjalan kayak dia? Pasti speknya minimal model atau anak konglomerat."
Yuna hanya bisa tersenyum kaku, pura-pura bersimpati dengan kegalauan teman-temannya. Dalam hati, ia berteriak histeris. Cewek beruntung yang kalian maksud itu lagi duduk di sebelah lo, Din, pakai hoodie kebesaran dan belum ngerjain tugas studio buat besok!
Tepat pukul 08.30, obrolan itu langsung bubar dalam hitungan detik.
Langkah kaki yang sangat familier terdengar dari koridor. Pintu kelas terbuka, dan Pak Labib melangkah masuk dengan setelan kemeja formal abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana kain hitam. Wajahnya datar, tatapannya tajam menembus kacamata, dan aura "dosen pembunuh" yang dingin langsung menyelimuti ruangan.
Labib meletakkan tas kerjanya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Tatapannya sempat berhenti selama dua detik tepat di mata Yuna yang duduk di barisan belakang. Ada binar geli yang sangat tipis di mata pria itu, seolah tahu bahwa istrinya baru saja mendengarkan gosip tentang dirinya.
"Selamat pagi semuanya. Buka buku panduan halaman 142. Hari ini kita akan membahas tentang struktur bangunan ramah lingkungan," suara berat Labib menggema, memulai perkuliahan dengan ketegasan mutlak.
Yuna menunduk, buru-buru membuka bukunya. Berada di kelas yang sama dengan suaminya sendiri, sambil menyembunyikan status pernikahan mereka di antara ratusan mahasiswa yang menggosipkannya, ternyata memicu adrenalin yang jauh lebih menegangkan daripada ujian akhir semester.