Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Dua Kehamilan
"Aku hamil."
Rania mengucapkan dua kata itu di ruang keluarga Wiratama, di depan Nenek Ratih, Pak Surya, Bu Mira, dan beberapa kerabat yang sengaja datang dengan wajah seolah hanya ingin menjenguk Rayyan.
Naya berdiri di lorong, tangan masih memegang gelas air hangat untuk Lila.
Gelas itu hampir jatuh.
Di sofa tengah, Rania menunduk sambil memegang perutnya. Wajahnya pucat dibuat-buat, tetapi matanya sesekali naik, mencari reaksi Arkan.
Arkan berdiri dekat jendela.
Tidak ada kaget di wajahnya.
Hanya dingin.
Bu Mira langsung menangis pelan. "Masyaallah, ini kabar baik di tengah semua fitnah. Anak ini harus dilindungi, Kan."
Nenek Ratih menatap Arkan. "Benar itu anakmu?"
Rania menggigit bibir. "Nek..."
"Saya tanya Arkan."
Ruang itu langsung sunyi.
Arkan melangkah ke meja, mengambil amplop dari tangan Rania, lalu membaca surat keterangan klinik yang ia bawa. Nama pasien: Rania Pradipta. Hasil: positif hamil. Tidak ada usia kandungan jelas, tidak ada nomor registrasi dokter, hanya kop klinik kecantikan yang juga membuka layanan kandungan.
Arkan melempar kertas itu ke meja.
"Selamat," katanya datar. "Tapi jangan bawa namaku."
Wajah Rania berubah. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak pernah menyentuhmu."
Bu Mira berdiri. "Arkan, jaga mulutmu. Di sini ada orang tua."
"Justru karena ada orang tua, saya bicara jelas."
Pak Surya menepuk meja. "Rania calon istrimu. Kalian bertunangan. Kalau dia hamil, tanggung jawabmu jangan lari."
Arkan menatapnya. "Pertunangan bukan izin untuk memalsukan anak."
Rania menangis. "Kamu tega. Setelah semua yang terjadi, kamu masih memilih perempuan itu?"
Matanya mengarah ke lorong.
Semua orang menoleh.
Naya belum sempat mundur.
Rayyan yang duduk di karpet dengan buku gambar langsung berdiri. "Jangan lihat Mama Naya begitu."
Rania membeku.
"Rayyan," suara Arkan rendah.
Anak itu berjalan ke Naya dan berdiri di depannya, kecil tetapi keras kepala.
"Aku tidak mau Mama Rania punya bayi di rumah ini."
Bu Mira tersentak. "Rayyan!"
"Aku tidak mau." Mata Rayyan mulai basah. "Kalau ada bayi, nanti Mama Rania bilang aku harus kasih kamar, kasih mainan, kasih Papa. Aku tidak mau."
Rania menutup mulut, seolah kata-kata anak itu menusuk hatinya. Tapi Naya melihat tangannya mengepal di sisi gaun.
Nenek Ratih menatap Rayyan lebih lama daripada menatap Rania.
"Kenapa kamu takut begitu, Nak?"
Rayyan menunduk. "Karena Mama Rania selalu bilang anak baik harus mengalah."
"Mengalah untuk siapa?"
"Untuk dia."
Tidak ada yang bersuara.
Naya merasa perutnya berputar.
Kata hamil itu terus memukul kepalanya. Hamil. Bayi. Rahim. Rumah sakit. Gelang kecil. Tangisan yang dirampas.
Ia ingin bernapas, tetapi udara terasa tipis.
Lila menarik ujung bajunya. "Mama?"
Naya menunduk. Wajah Lila buram.
"Naya?" Arkan sudah bergerak.
Gelas di tangan Naya jatuh dan pecah di lantai.
Tubuhnya limbung.
Arkan menangkapnya sebelum kepalanya membentur dinding.
Rayyan berteriak. Lila menangis tanpa suara.
Rania berdiri, wajahnya campur takut dan marah. "Dia pura-pura. Selalu begitu, kalau perhatian bukan untuk dia..."
"Diam," kata Arkan.
Satu kata itu membuat Rania mundur.
Arkan mengangkat Naya dan berjalan keluar. "Raka, siapkan mobil. Rumah sakit sekarang."
Nenek Ratih ikut berdiri. "Saya ikut."
"Tidak perlu."
"Saya tidak minta izin."
Di rumah sakit Wiratama Medika, dokter memeriksa Naya tanpa banyak tanya. Tekanan darahnya rendah. Tubuhnya kelelahan. Stres berat.
Naya sadar ketika infus sudah terpasang.
Arkan duduk di sisi ranjang.
Ia langsung mencoba bangun. "Anak-anak?"
"Dengan Nenek Ratih dan Raka."
"Lila takut kalau saya tidak ada."
"Dia tahu kamu di sini."
Naya memejamkan mata. "Saya tidak suka rumah sakit."
"Aku tahu."
"Bapak tidak tahu."
Arkan menerima kalimat itu tanpa melawan.
Pintu terbuka. Dokter perempuan masuk membawa hasil pemeriksaan. Wajahnya tenang, tetapi matanya berhenti sebentar pada Arkan.
"Bu Naya, ada satu hal yang perlu saya sampaikan."
Naya menoleh.
"Hasil tes urine dan darah menunjukkan Ibu sedang hamil."
Suara mesin di ruangan terdengar lebih keras.
Naya tidak bergerak.
Arkan juga tidak.
Dokter melanjutkan hati-hati. "Usia kandungan sekitar enam minggu. Masih awal. Dengan kondisi Ibu yang stres, perlu dijaga baik-baik."
Enam minggu.
Naya mencengkeram selimut.
Enam minggu lalu adalah malam setelah Lila hampir diculik untuk kedua kalinya, malam ketika Rayyan demam dan menangis memanggilnya, malam ketika Arkan mengantar pulang terlalu larut. Ia datang membawa dokumen, datang dengan rasa bersalah yang terlalu berat, dan Naya, untuk pertama kalinya, tidak punya tenaga untuk membencinya.
Malam itu tidak kasar.
Tidak seperti kebun.
Malam itu ia sadar. Ia memilih membuka pintu. Ia memilih tidak mendorong Arkan ketika laki-laki itu memegang tangannya dan bertanya sekali, dua kali, apakah ia ingin berhenti.
Justru karena itu, berita ini lebih menakutkan.
Karena anak ini lahir dari pilihan, bukan hanya luka.
Dokter pergi setelah memberi vitamin dan jadwal kontrol.
Ruangan menjadi sunyi.
Arkan menatap Naya.
"Anak itu..."
"Jangan," potong Naya.
"Naya."
"Jangan tanya sekarang."
"Aku perlu tahu."
Naya menoleh padanya. Matanya kering, tetapi wajahnya pucat.
"Bapak perlu banyak hal. Saya juga. Tapi setiap kali saya punya sesuatu, keluarga kalian selalu datang mengambil."
Arkan terdiam.
Di luar ruangan, suara Rania terdengar tinggi.
"Aku mau masuk! Aku juga sedang hamil. Kenapa dia yang dijaga?"
Naya menutup mata.
Dua kehamilan diumumkan di hari yang sama.
Satu mungkin kebohongan.
Satu terlalu benar untuk bisa ia hadapi.
Di luar ruang rawat, Rania akhirnya berhasil menerobos sampai depan pintu sebelum Raka menahannya.
"Aku hanya mau bicara," katanya, suaranya sengaja dibuat gemetar.
"Pasien butuh istirahat," jawab Raka.
"Aku juga pasien."
"Silakan ke bagian pendaftaran."
Wajah Rania berubah sesaat. Ia benci cara Raka bicara, sopan tetapi menutup semua celah. Sejak dulu semua orang di sekitar Arkan seperti dinding. Hanya Rayyan yang dulu bisa ia pakai sebagai pintu.
Sekarang anak itu pun lebih sering bersembunyi di balik Naya.
Bu Mira menariknya ke sudut lorong. "Jangan ribut di sini."
"Dia hamil, Bu."
"Belum tentu anak Arkan."
"Kalau iya?"
Bu Mira menatapnya tajam. "Maka kamu harus lebih pintar daripada menangis."
Rania menggenggam ponsel. Di layar, unggahannya mulai ramai. Beberapa akun gosip sudah mengambil potongan story. Komentar datang cepat.
`Perempuan mantan napi kok bisa dekat keluarga Wiratama?`
`Kalau benar mau aborsi, serem banget.`
`Rania sabar ya, calon ibu harus kuat.`
Rania membaca semua itu dan merasa napasnya sedikit lega.
Orang-orang tidak perlu tahu kebenaran. Mereka hanya perlu diberi kalimat yang cukup kotor untuk dibayangkan sendiri.
Di dalam kamar, Naya mendengar suara samar dari lorong.
"Dia masih di luar?" tanyanya.
Arkan menoleh ke pintu. "Raka yang urus."
"Bapak pikir Raka bisa mengurus semua?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat Naya menatapnya.
Arkan duduk kembali. "Tapi untuk malam ini, biarkan orang lain berdiri di depan pintu."
Naya mengusap perutnya tanpa sadar.
Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Arkan.
"Kamu takut anak ini lahir ke perang yang sama."
"Saya takut dia tidak sempat lahir."
Arkan membeku.
Naya menatap langit-langit. "Rania tidak akan membiarkan saya punya apa pun yang bisa mengikat Bapak. Bu Mira lebih tidak akan membiarkan."
"Aku akan pindahkan kamu ke tempat aman."
"Bukan tempat yang saya pilih, kan?"
Arkan diam.
Naya tertawa kecil. "Lihat. Kita kembali ke awal."
Pintu terbuka sedikit. Rayyan menyelipkan kepala, matanya bengkak.
"Mama Naya, boleh masuk?"
Naya langsung menghapus air mata yang belum jatuh.
"Boleh."
Rayyan masuk pelan, membawa satu botol susu kotak dan roti sobek dari minimarket rumah sakit. Di belakangnya Lila berdiri dengan boneka kelinci.
"Ini untuk adik," kata Rayyan.
Naya hampir tidak bisa bernapas.
"Adik belum bisa makan roti."
"Kalau begitu Mama yang makan. Nanti adik dapat lewat perut."
Lila mengangguk serius.
Arkan memalingkan wajah.
Ia belum pernah melihat keluarga terbentuk dari remah roti minimarket dan dua anak yang terlalu takut kehilangan.
Di lorong, Rania melihat dari celah pintu sebelum Raka menutupnya.
Senyumnya hilang.
Ia menatap perut Naya, lalu perutnya sendiri yang kosong dari kebenaran.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin mengambil posisi Naya.
Ia ingin memastikan bayi itu tidak pernah menjadi alasan Arkan memilih perempuan lain.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕