bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pertengkaran fisik itu berlangsung singkat namun brutal. Suara benda jatuh dan tarikan
napas berat mengisi ruangan. Nadira akhirnya berhasil melepaskan diri, namun ia
kehilangan buku harian itu saat ia mendorong Dinda menjauh. Buku itu terpelanting ke
bawah lemari besi di sudut ruangan.
Nadira menatap buku yang terjepit di celah sempit itu dengan putus asa. Jarak antara dia dan buku itu terlalu jauh, dan Dinda sudah mulai bangkit dengan wajah penuh darah akibat benturan dengan meja.
"Kamu akan menyesal sudah mencoba melawanku," geram Dinda, merapikan gaunnya yang kusut sambil menatap Nadira dengan kebencian yang murni.
Nadira mundur selangkah, menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan Dinda dalam
kondisi fisik saat ini. Ia harus mengubah strateginya, namun waktunya sudah sangat
sempit. Ia harus segera keluar dari ruangan itu sebelum Dinda memanggil penjaga
keamanan atau Pak Herman datang.
Ia menarik napas lega, meski tangannya masih gemetar hebat. Ia mulai menyusun strategi baru di kepalanya, sebuah rencana untuk mengonfrontasi Dinda dengan cara yang lebih halus namun mematikan. Namun, langkahnya terhenti secara tiba-tiba saat suara samar mengalun dari arah koridor luar.
Suara itu bukan suara Dinda atau Pak Herman. Itu adalah suara langkah kaki yang sangat dikenalnya, suara yang membawa kehangatan sekaligus kebingungan di hati Nadira.
Suara itu berasal dari arah tangga utama, menarik perhatiannya dari amarah dan
keserakahan yang membuncah dalam dirinya.
Udara sore di koridor lantai dua terasa lebih dingin karena aliran pendingin ruangan yang
menyala sejak siang. Nadira baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti baju,
namun ia menahan langkah tepat sebelum sudut pilar yang menghubungkan ruang
keluarga utama. Di sana, Arga berdiri dengan satu tangan menyangga pinggang dan
tangan lainnya menempel di telinga, menatap keluar jendela lebar yang menghadap ke
arah kolam renang.
Ia menarik napas panjang dan menahan napas itu selama beberapa detik, mencoba
meredam detak jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Dari balik sudut dinding, ia bisa mendengar suara Arga yang biasanya kasar dan penuh amarah kini terdengar sangat berbeda. Intonasi suaranya melunak, dipenuhi ketenangan yang asing, seolah ia sedang bernegosiasi dengan seseorang yang sangat dihormatinya.
"Proyek di SCBD itu tidak bisa ditunda lagi, Pak. Saya sudah menyiapkan dana talangan
dari aset pribadi," ucap Arga dengan nada yang serius. Nadira mengerutkan kening,
mencoba memahami arah pembicaraan suaminya itu. "Saya tidak ingin melibatkan uang keluarga besar untuk ini. Ini murni tanggung jawab saya sebagai pengembang."
Nadira perlahan merosotkan punggungnya ke dinding, merapatkan tubuh ke pilar agar
tidak terlihat. Selama ini, dalam ingatannya sebagai pemilik tubuh ini, Arga selalu
digambarkan sebagai pria urakan yang hanya menghabiskan uang warisan dan tidak
pernah bekerja. Mendengar kata-kata tentang investasi dan tanggung jawab membuat
tangannya sedikit gemetar karena kebingungan.
Di dalam benaknya, Nadira mulai meragukan semua catatan kebencian yang ditinggalkan
oleh wanita jahat itu. Jika Arga memang jahat, mengapa ia bersusah payah
menyelamatkan proyek yang tidak menguntungkan keluarganya?
Arga melanjutkan bicaranya, menjelaskan detail teknis tentang pembangunan apartemen hijau yang ternyata
sangat peduli dengan lingkungan. Hal itu sama sekali tidak cocok dengan kepribadian yang ia bayangkan sebelumnya.
Arga menghela napas panjang di ujung telepon. "Saya tahu Sandy tidak setuju dengan konsep ini. Tapi saya tidak akan mundur hanya karena dia mengancam akan memotong dana warisan bulanan kita. Biarkan dia marah, saya akan mencari jalan sendiri." Suara Arga terdengar berat, namun ada keteguhan di sana yang membuat Nadira merasa sedikit bersalah karena telah mendengarkan sembunyi-sembunyi.
Ia menutup satu matanya, mencoba memproses informasi baru ini. Pria yang sedang berbicara di telepon itu memiliki visi yang begitu besar, jauh melampaui kepentingan pribadinya sendiri.
Nadira merasakan sesak di dada yang bukan karena takut, melainkan rasa malu karena telah terlalu lama membenci orang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya. Ia menarik kedua lututnya ke dada, duduk di lantai marmer yang dingin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat. Nadira menahan napas, berharap Arga tidak
akan berbelok ke arah koridor ini. Namun, langkah itu berhenti tepat di depan pilar. Arga
mematikan teleponnya dan memasukkannya ke dalam saku celana panjangnya. Nadira
melihat bayangan Arga yang memanjang di lantai, mendekatinya dengan sangat perlahan.
"Kamu bisa keluar sekarang. Aku tahu kamu ada di sana sejak tadi." suara Arga
terdengar tenang, tanpa sedikit pun nada marah yang biasanya selalu ia munculkan setiap kali mereka bertemu di ruang makan.
Nadira menelan ludah dengan susah payah, lalu perlahan-lahan berdiri dengan kaki yang terasa sedikit lemas. Ia mencoba tersenyum tipis, meskipun wajahnya terasa kaku.
"A-aku hanya lewat, Aku tidak sengaja mendengar..." kata Nadira terbata-bata, berusaha mencari alasan yang masuk akal. Namun, Arga tidak memotongnya. Pria itu justru menatapnya dengan mata yang jernih, sebuah tatapan yang tidak pernah ia lihat selama ia berada di dalam tubuh wanita ini.
"Tentang apa yang kamu dengar tadi," Arga memulai, suaranya sedikit lebih rendah. "Jangan pernah bicarakan itu pada Sandy atau siapa pun di keluarga ini. Mereka tidak akan mengerti." Ia melangkah maju, namun tidak dengan agresif. Ia hanya ingin memastikan bahwa rahasia kecilnya tetap aman di tangan Nadira.
Nadira mengangguk perlahan, merasakan kejujuran dalam permintaan Arga.
"Aku tidak akan bicara. Aku... aku minta maaf jika selama ini aku terlalu banyak
menghakimimu." ucap Nadira jujur. Ia menyadari bahwa skema untuk mendapatkan warisan 200 triliun dengan cara menjatuhkan Arga mulai terasa sangat keliru baginya.
Arga terkejut mendengar permintaan maaf itu. Biasanya, wanita dalam tubuh itu akan
membalasnya dengan makian atau sikap dingin yang menyerang. Namun, saat ini, ada
kelembutan yang aneh di wajah Nadira. Arga mendekatkan tubuhnya, menyandarkan bahu
di dinding di sebelah Nadira, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat.