NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pertengkaran fisik itu berlangsung singkat namun brutal. Suara benda jatuh dan tarikan

napas berat mengisi ruangan. Nadira akhirnya berhasil melepaskan diri, namun ia

kehilangan buku harian itu saat ia mendorong Dinda menjauh. Buku itu terpelanting ke

bawah lemari besi di sudut ruangan.

Nadira menatap buku yang terjepit di celah sempit itu dengan putus asa. Jarak antara dia dan buku itu terlalu jauh, dan Dinda sudah mulai bangkit dengan wajah penuh darah akibat benturan dengan meja.

"Kamu akan menyesal sudah mencoba melawanku," geram Dinda, merapikan gaunnya yang kusut sambil menatap Nadira dengan kebencian yang murni.

Nadira mundur selangkah, menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan Dinda dalam

kondisi fisik saat ini. Ia harus mengubah strateginya, namun waktunya sudah sangat

sempit. Ia harus segera keluar dari ruangan itu sebelum Dinda memanggil penjaga

keamanan atau Pak Herman datang.

Ia menarik napas lega, meski tangannya masih gemetar hebat. Ia mulai menyusun strategi baru di kepalanya, sebuah rencana untuk mengonfrontasi Dinda dengan cara yang lebih halus namun mematikan. Namun, langkahnya terhenti secara tiba-tiba saat suara samar mengalun dari arah koridor luar.

Suara itu bukan suara Dinda atau Pak Herman. Itu adalah suara langkah kaki yang sangat dikenalnya, suara yang membawa kehangatan sekaligus kebingungan di hati Nadira.

Suara itu berasal dari arah tangga utama, menarik perhatiannya dari amarah dan

keserakahan yang membuncah dalam dirinya.

Udara sore di koridor lantai dua terasa lebih dingin karena aliran pendingin ruangan yang

menyala sejak siang. Nadira baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti baju,

namun ia menahan langkah tepat sebelum sudut pilar yang menghubungkan ruang

keluarga utama. Di sana, Arga berdiri dengan satu tangan menyangga pinggang dan

tangan lainnya menempel di telinga, menatap keluar jendela lebar yang menghadap ke

arah kolam renang.

Ia menarik napas panjang dan menahan napas itu selama beberapa detik, mencoba

meredam detak jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Dari balik sudut dinding, ia bisa mendengar suara Arga yang biasanya kasar dan penuh amarah kini terdengar sangat berbeda. Intonasi suaranya melunak, dipenuhi ketenangan yang asing, seolah ia sedang bernegosiasi dengan seseorang yang sangat dihormatinya.

"Proyek di SCBD itu tidak bisa ditunda lagi, Pak. Saya sudah menyiapkan dana talangan

dari aset pribadi," ucap Arga dengan nada yang serius. Nadira mengerutkan kening,

mencoba memahami arah pembicaraan suaminya itu. "Saya tidak ingin melibatkan uang keluarga besar untuk ini. Ini murni tanggung jawab saya sebagai pengembang."

Nadira perlahan merosotkan punggungnya ke dinding, merapatkan tubuh ke pilar agar

tidak terlihat. Selama ini, dalam ingatannya sebagai pemilik tubuh ini, Arga selalu

digambarkan sebagai pria urakan yang hanya menghabiskan uang warisan dan tidak

pernah bekerja. Mendengar kata-kata tentang investasi dan tanggung jawab membuat

tangannya sedikit gemetar karena kebingungan.

Di dalam benaknya, Nadira mulai meragukan semua catatan kebencian yang ditinggalkan

oleh wanita jahat itu. Jika Arga memang jahat, mengapa ia bersusah payah

menyelamatkan proyek yang tidak menguntungkan keluarganya?

Arga melanjutkan bicaranya, menjelaskan detail teknis tentang pembangunan apartemen hijau yang ternyata

sangat peduli dengan lingkungan. Hal itu sama sekali tidak cocok dengan kepribadian yang ia bayangkan sebelumnya.

Arga menghela napas panjang di ujung telepon. "Saya tahu Sandy tidak setuju dengan konsep ini. Tapi saya tidak akan mundur hanya karena dia mengancam akan memotong dana warisan bulanan kita. Biarkan dia marah, saya akan mencari jalan sendiri." Suara Arga terdengar berat, namun ada keteguhan di sana yang membuat Nadira merasa sedikit bersalah karena telah mendengarkan sembunyi-sembunyi.

Ia menutup satu matanya, mencoba memproses informasi baru ini. Pria yang sedang berbicara di telepon itu memiliki visi yang begitu besar, jauh melampaui kepentingan pribadinya sendiri.

Nadira merasakan sesak di dada yang bukan karena takut, melainkan rasa malu karena telah terlalu lama membenci orang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya. Ia menarik kedua lututnya ke dada, duduk di lantai marmer yang dingin.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat. Nadira menahan napas, berharap Arga tidak

akan berbelok ke arah koridor ini. Namun, langkah itu berhenti tepat di depan pilar. Arga

mematikan teleponnya dan memasukkannya ke dalam saku celana panjangnya. Nadira

melihat bayangan Arga yang memanjang di lantai, mendekatinya dengan sangat perlahan.

"Kamu bisa keluar sekarang. Aku tahu kamu ada di sana sejak tadi." suara Arga

terdengar tenang, tanpa sedikit pun nada marah yang biasanya selalu ia munculkan setiap kali mereka bertemu di ruang makan.

Nadira menelan ludah dengan susah payah, lalu perlahan-lahan berdiri dengan kaki yang terasa sedikit lemas. Ia mencoba tersenyum tipis, meskipun wajahnya terasa kaku.

"A-aku hanya lewat, Aku tidak sengaja mendengar..." kata Nadira terbata-bata, berusaha mencari alasan yang masuk akal. Namun, Arga tidak memotongnya. Pria itu justru menatapnya dengan mata yang jernih, sebuah tatapan yang tidak pernah ia lihat selama ia berada di dalam tubuh wanita ini.

"Tentang apa yang kamu dengar tadi," Arga memulai, suaranya sedikit lebih rendah. "Jangan pernah bicarakan itu pada Sandy atau siapa pun di keluarga ini. Mereka tidak akan mengerti." Ia melangkah maju, namun tidak dengan agresif. Ia hanya ingin memastikan bahwa rahasia kecilnya tetap aman di tangan Nadira.

Nadira mengangguk perlahan, merasakan kejujuran dalam permintaan Arga.

"Aku tidak akan bicara. Aku... aku minta maaf jika selama ini aku terlalu banyak

menghakimimu." ucap Nadira jujur. Ia menyadari bahwa skema untuk mendapatkan warisan 200 triliun dengan cara menjatuhkan Arga mulai terasa sangat keliru baginya.

Arga terkejut mendengar permintaan maaf itu. Biasanya, wanita dalam tubuh itu akan

membalasnya dengan makian atau sikap dingin yang menyerang. Namun, saat ini, ada

kelembutan yang aneh di wajah Nadira. Arga mendekatkan tubuhnya, menyandarkan bahu

di dinding di sebelah Nadira, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!