NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Latihan Pagi

Setelah kumpul keluarga itu, Bu Sri mendiamkan Keira selama dua hari.

Bagi Keira, itu hampir seperti hadiah.

Ia memakai dua hari itu untuk memperketat latihan. Pagi lari tiga putaran perumahan. Sore latihan fleksibilitas di ruang belakang. Malam memeriksa kaki Bayu dan mengulang rumus. Tubuhnya masih jauh dari kondisi Blood Shadow, tetapi napasnya mulai lebih panjang. Langkahnya tidak lagi seberat minggu pertama.

Bayu menjadi saksi paling setia.

Setiap pagi ia berdiri di depan pagar dengan botol air. Kadang ia menghitung putaran Keira, kadang mengerjakan soal di bangku kecil dekat warung. Kakinya belum sembuh, tetapi setelah dua kali terapi, rasa hangat di betisnya bertahan lebih lama.

Tetangga mulai memperhatikan mereka.

"Rajin banget sekarang, Keira," kata seorang ibu sambil menyiram tanaman.

"Iya."

"Diet, ya?"

"Latihan hidup."

Ibu itu tidak tahu harus tertawa atau khawatir. Bayu menunduk menyembunyikan senyum.

"Mbak, jangan terlalu dipaksa," katanya saat Keira berhenti dengan wajah merah.

"Kalau tidak dipaksa, tubuh ini tidak akan berubah."

"Tapi kamu pucat."

"Itu karena lapar."

Bayu langsung membuka tas. "Aku bawa pisang."

Keira menatap pisang kecil yang sudah agak penyok itu. "Kamu ini bawa bekal atau posko bantuan?"

Bayu tersenyum. "Dua-duanya."

Di sekolah, perubahan Keira mulai sulit diabaikan. Seragamnya masih sama, tetapi cara ia berdiri berbeda. Wajahnya belum cantik seperti Laras, tetapi garis rahangnya mulai terlihat. Matanya lebih tajam, kulitnya tidak lagi kusam, dan ia berjalan seperti orang yang tahu persis ke mana harus pergi.

Perubahan paling jelas bukan di tubuhnya, melainkan di cara orang memberi jalan. Dulu, Keira harus menyelip di antara kelompok siswa yang sengaja menutup lorong. Sekarang, mereka bergeser sebelum bahunya menyentuh siapa pun.

Tidak ada yang mengaku takut.

Tapi tubuh manusia sering lebih jujur daripada mulut.

Beberapa siswa laki-laki yang dulu mengejek mulai melihat terlalu lama.

Revano salah satunya.

Keira melewati lapangan saat kelas olahraga. Bola basket memantul liar ke arahnya. Seorang siswa berteriak agar ia menyingkir. Keira menangkap bola itu dengan satu tangan, memutarnya sebentar, lalu melempar kembali tepat ke tangan pemiliknya.

Gerakan sederhana.

Tetapi terlalu presisi.

Di sisi lapangan, seorang siswa dari keluarga kaya yang sedang berkunjung untuk urusan lomba sekolah memperhatikan. Namanya Farel Hadiwijaya. Ia datang bersama sopir dan guru pendamping dari sekolah lain, memakai jam tangan mahal dan senyum santai.

"Siapa itu?" tanyanya.

Temannya menjawab, "Keira. Anak XII. Dulu sering di-bully."

Farel menatap Keira yang sudah berjalan pergi. "Dulu?"

"Iya. Sekarang agak serem."

Farel tertawa kecil. "Menarik."

Keira tidak menoleh. Ia tahu ada orang memperhatikan, tetapi Farel belum penting. Dunia selalu penuh orang penasaran. Tidak semua perlu dilayani.

Yang lebih penting adalah Laras.

Beberapa hari terakhir, Laras lebih sering masuk ruang belakang dengan alasan mencari charger, mengambil sisir, atau bertanya hal tidak penting pada Bayu. Matanya selalu berhenti di buku catatan.

Bayu sadar. Ia mulai menyimpan buku itu di tas. Namun satu sore, saat ia dipanggil Pak Prasetyo membantu mengangkat galon, buku itu tertinggal di meja.

Laras masuk.

Ia berdiri diam di depan meja, mendengar suara orang rumah dari depan. Keira sedang mandi. Bayu di luar. Bu Sri menelpon seseorang soal biaya bimbel.

Laras membuka buku itu.

Halaman demi halaman penuh rumus, cara singkat, catatan kecil dengan tulisan Keira yang rapi. Ada soal-soal yang belum pernah ia lihat di buku sekolah. Ada solusi yang terlihat sederhana, seolah pembuatnya sedang mengejek semua metode panjang di kelas.

Mata Laras berubah.

Ia ingat ucapan Bu Sri tentang UI. Ingat tawa sepupu-sepupu di kumpul keluarga. Ingat bagaimana semua orang mulai melihat Keira, bukan dirinya. Selama ini Laras punya satu hal yang bisa ia banggakan di rumah itu: ia lebih pintar, lebih rapi, lebih pantas dibanggakan.

Jika Keira bahkan mengambil itu, Laras tidak tahu apa yang tersisa.

Ia memotret satu halaman.

Lalu satu halaman lagi.

Tangannya bergetar sedikit, tetapi bukan karena takut. Ia sudah bisa membayangkan wajah Bu Ratna saat ia menjawab soal lebih cepat dari Keira. Bisa membayangkan Bu Sri memeluknya sambil berkata bahwa Laras memang paling pintar.

Bayangan itu terlalu manis untuk ditolak.

Lalu halaman lain.

Ketika suara langkah terdengar dari kamar mandi, ia cepat menutup buku dan meletakkannya kembali. Namun posisinya bergeser sedikit.

Keira keluar sambil mengeringkan rambut.

Laras tersenyum manis. "Aku cari charger."

"Di meja depan."

"Oh. Salah lihat."

Ia pergi terlalu cepat.

Keira menatap buku di meja. Bayu masuk beberapa detik kemudian, wajahnya langsung berubah.

"Mbak, tadi Laras masuk?"

"Iya."

"Bukuku..."

"Biarkan."

Bayu panik. "Tapi itu catatan yang Mbak ajarin."

Keira membuka buku, melihat sudut halaman yang tidak kembali tepat seperti semula. "Kalau ikan sudah mau menggigit umpan, jangan tarik kail terlalu cepat."

Bayu tidak sepenuhnya paham, tetapi rasa takutnya sedikit reda melihat Keira begitu tenang.

Malam itu, Laras duduk di kamar dengan ponsel menyala. Ia memperbesar foto rumus dan menyalinnya ke buku baru yang sampulnya lebih bersih. Di wajahnya muncul sesuatu yang bukan lagi sekadar iri.

Itu kesempatan.

Di ruang belakang, Keira menutup buku Bayu dan memasukkannya ke tas anak itu.

Senyum kecil muncul di bibirnya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!