Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Milkshake Cokelat, Lemon Tea, dan Lavender
“Kak Doni! Udah lama nunggunya? Aku telat, ya? Sori banget ya, soalnya tadi lumayan rame”, sapa Olivia santai. “Eh… tapi nggak telat-telat amat, kok”, sambungnya setelah melihat jam dinding di kafe.
Suara renyah itu seketika memutus lamunan Doni, menariknya kembali dari pusaran ingatan tentang tribun GOR minggu lalu. Doni berdehem pelan, buru-buru menguasai ekspresi wajahnya agar tidak tertangkap basah sedang terpesona.
“Eh, iya. Nggak apa-apa. Nih, tas…”
“Pesen minum dulu kali, Kak. Buru-buru banget. Haus, kali!” potong Olivia sebelum Doni sempat menyerahkan tas olahraga itu.
“Ya udah. Kamu mau apa? Biar aku pesenin”, tanya Doni sambil berdiri dari kursinya.
“Kayak biasa, Kak. Milkshake cokelat!” jawab Olivia antusias memesan minuman favorit-nya.
Deg. Jantung Doni serasa terhenti. Semenjak dia duduk disini, pandangannya sudah tertuju ke daftar minuman yang terpampang di atas meja kasir. Dia juga sesekali memperhatikan semua minuman yang terletak di atas meja pelanggan. Hanya satu minuman yang membuat air liurnya hampir menetes. Dan minuman itu adalah yang dipesan oleh Olivia. Karena tidak ingin suasana menjadi canggung, akhirnya Doni terpaksa mengubah pesanannya menjadi lemon tea.
“Tuh, tas kamu, udah aku cuci bersih. Pakaian-pakaian di dalamnya udah aku setrika juga”, ujar Doni setibanya di meja mereka. Dia kemudian menyerahkan tas olahraga yang diletakkan di samping kursi itu.
Olivia menerima tas tersebut dengan mata yang berbinar cerah. Tanpa canggung, dia membuka sedikit ritsletingnya, mendekatkan hidung, lalu menghirup aromanya dalam-dalam.
“Wah... wangi banget! Wangi apaan nih Kak, lavender ya?” tanya Olivia senang.
“I-iya. Lavender. Aku… pakai itu juga soalnya”, jawab Doni sedikit gelagapan.
“Oh, ya? Pinter juga Kak Doni milih pewangi. Baju-baju aku yang tadinya bau keringat basket langsung berasa kayak baju baru”, ucap Olivia sambil tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang membuat matanya menyipit manis.
Doni mendadak membeku di tempat. Tawa polos tanpa jaim itu seolah langsung melekat di dadanya, perlahan melenyapkan sisa-sisa rasa kesal yang sempat membakar pikirannya sejak pagi.
“Ya... kan kamu yang minta dicuciin”, gumam Doni pelan, sengaja melempar pandangan ke luar jendela kafe demi menyembunyikan rona merah yang mulai muncul di pipinya.
“Makasih ya, Kak”, sahut Olivia.
“Iya, sama-sam…” Doni yang menjawab itu sambil menoleh, mendadak salah tingkah karena ucapan terima kasih yang dia kira ditujukan padanya itu ternyata diucapkan Olivia untuk waitress yang mengantarkan minumannya. “Eh… Liv. Jadi gimana? Baju kamu… jadi… wangi, kan?” tanya Doni canggung.
“Hmm?” Olivia menanggapinya dengan bingung karena tidak terlalu mendengar suara Doni yang pelan. Dia pun lanjut menyeruput milkshake favorit-nya.
Karena canggung, Doni hanya mengaduk-aduk lemon tea di depannya dengan sedotan. Namun, sesekali dia menatap wajah manis gadis berseragam SMA di hadapannya itu. Doni tampak ikut tersenyum melihat Olivia yang terlihat bahagia saat meminum milkshake-nya.
“Oh iya, Kak Don!” seru Olivia mengagetkan Doni. Setelah melepas sedotan dari bibirnya, dan menggeser gelasnya ke pinggir, dia lalu menopang dagu dengan satu tangan sambil mengunyah buah ceri yang menjadi topping minumannya.
“Kak Doni kok... nurut-nurut aja sih, aku suruh-suruh? Aku suruh jemput latihan, mau. Aku minta temenin ke mall, mau. Sampai aku suruh Kak Doni nyuciin pakaian kotor aku, mau juga. Kak Doni emang orangnya penurut gitu ya, kalo sama cewek?” goda Olivia dengan gaya menginterogasi.
“Sebenernya, Liv. Aku khawatir…”
“Ah, aku tau!” sela Olivia cepat sebelum Doni sempat menyelesaikan kalimatnya. “Kak Doni cuma takut rahasia kita terbongkar, kan? Kak Doni nurutin aku, baik-baikin aku, biar aku nggak ngomong ke Kak Cella. Iya, kan?” sambung Olivia yakin.
Doni melirik Olivia, lalu menghela napas panjang. Tatapannya tertahan sejenak pada wajah polos gadis di depannya yang menatapnya tanpa dosa. Dia hampir saja mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, kalau dia benar-benar mengkhawatirkan Olivia. Namun, membayangkan konsekuensinya justru membuat Doni menelan kembali kata-katanya. Apalagi, nama Marcella yang keluar begitu saja dari bibir Olivia terasa seperti siraman air dingin yang menyadarkan Doni untuk kembali ke realita. Dia akhirnya memilih untuk bersembunyi di balik tuduhan itu.
“Nah, tuh tau”, sahut Doni pelan sambil tersenyum tipis yang seperti dipaksakan. “Makanya, kamu jangan aneh-aneh. Kalau sampai kakak kamu tahu, bisa makin rumit urusannya”, ancam Doni.
Olivia terkekeh renyah dan lepas, membuat matanya menyipit manis.
“Lucu banget sih, Kak Doni”, celetuk Olivia sambil tertawa kecil. “Padahal Kak Doni kelihatannya dewasa banget, tapi ternyata gampang diancam sama anak SMA”, sambungnya sambil menggelengkan kepala.
Doni hanya bisa menggeleng pasrah melihat kepolosan Olivia. Dia menggeleng bukan karena kesal, tapi karena sadar betapa gadis di depannya ini sama sekali tidak tahu seberapa besar kekacauan perasaan yang sedang dibuatnya di dalam dada Doni.
Drrt… Drrt…
Ponsel Olivia yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar. Olivia melirik layarnya, membalas chat yang masuk dengan ibu jarinya yang lincah, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kenapa, Liv? Udah disuruh pulang?” tanya Doni sambil menyeruput lemon tea-nya.
“Iya nih, Kak”, sahut Olivia sambil memasukkan ponselnya ke saku seragamnya. “Mama nitip minta dibeliin sesuatu ke Kak Cella. Tapi Kak Cella-nya lagi nggak bisa, jadi dia nyuruh aku”, sambungnya cemberut.
“Oh… bagus dong”, Doni mengangguk-angguk paham. “Ya udah, aku juga mau balik kalo gitu. Capek banget, mau tidur”, ucap Doni lega, bersiap bangkit dari kursinya.
“Eh… bentar dulu, Kak”, tahan Olivia. “Main balik-balik aja. Sini dulu, duduk”, sambungnya sambil menunjuk kursi Doni dengan bibirnya.
“Apa lagi sih, Liv?” tanya Doni kesal, namun tetap menuruti perintah Olivia untuk duduk.
Olivia menatap Doni dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. Doni mengernyitkan dahi karena bingung.
“Anterin aku dong Kak, ke supermarket”, pinta Olivia manja sambil menopang dagunya.
“Hah?! Nggak mau, ah! Aku capek banget, Liv. Sumpah!” jawab Doni menolak. “Emang kamu kesini tadi naik apa?” Walaupun menolak, Doni tetap merasa kasihan.
“Pake ojol, Kak. Tapi… saldo aku udah mau habis. Takutnya nggak bisa pulang ntar”, jawab Olivia cemberut. “Lagian, kayaknya ini titipan Mama banyak banget, deh. Kalo aku nanti nggak bisa ngangkatnya, gimana?” tambahnya.
“Pake troli! Seriusan, Liv. Aku capek banget. Pengen istirahat”, tolak Doni tegas, mencoba bertahan.
Olivia kemudian tersenyum tipis penuh rahasia. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Doni dengan mata cokelatnya yang berbinar.
“Ayolah, Kak Doni... Makin cepet kita pergi, makin cepet selesai, kan? Makin cepet juga Kak Doni bisa istirahat di kosan”, bujuk Olivia pelan dengan nada santai yang mematikan. “Tapi kalau Kak Doni masih nggak mau juga, ya udah. Aku telpon Kak Cella aja kalau gitu” Olivia melancarkan serangan terakhir.
Skakmat! Sesuai dugaan, serangan terakhir Olivia itu sukses membuat Doni mati langkah. Doni mengusap wajahnya kasar. Rasa lelahnya yang amat berat dikalahkan oleh nama kekasihnya itu. Dia tidak punya pilihan lain.
“Ya udah, ayo…” jawab Doni pasrah sambil menarik tas ranselnya.
“Yes! Gitu dong. Yuk, Kak!” Olivia tertawa puas merayakan kemenangannya.
Doni berjalan mendahului keluar kafe dengan langkah lemas, sementara Olivia mengekor di belakangnya sambil memanggul tas olahraganya yang wangi. Di bawah terik matahari siang, Doni menyalakan mesin motornya, pasrah membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan ‘kencan rahasia’ mengantar adik pacarnya ke supermarket.