NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Lorong Para Pewaris

Lin Yuan berdiri tegak di depan lorong gelap menuju Lantai Kedua, merasakan hawa dingin yang mulai menusuk kulitnya.

Keheningan kembali memenuhi seluruh Balai Takdir setelah kabut hitam yang ditinggalkan oleh Pewaris Ketujuh akhirnya menghilang tanpa bekas.

Meskipun kabut telah sirna, tekanan energi yang tersisa masih membuat udara di sekitar aula terasa sangat berat.

Di tangan kirinya, Lentera Jiwa memancarkan cahaya putih lembut dengan nyala api yang terlihat sangat tenang dan stabil.

Komandan Bayangan Takdir melangkah mendekat, tatapan emasnya tertuju lurus pada api kecil yang menyala di dalam lentera.

"Api itu memilih untuk tetap menyala terang, artinya hatimu saat ini masih belum tergoyahkan oleh hasutan jahat tersebut."

Lin Yuan mengangguk pelan. "Aku memang memiliki banyak pertanyaan besar yang belum terjawab di kepalaku."

"Tapi aku tidak akan mencari jawaban hanya dengan mempercayai ucapan dari satu orang yang dipenuhi oleh rasa kebencian."

Komandan Bayangan Takdir memandangnya selama beberapa saat, lalu untuk pertama kalinya sebuah senyum tipis muncul di wajah cantiknya.

"Itulah sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang pewaris sejati yang ingin menentukan jalan hidupnya sendiri di dunia ini."

Penjaga Makam segera menghantamkan tongkat batunya ke lantai.

DUUM!

Seluruh lorong di depan mereka perlahan mulai bergetar hebat.

Obor-obor batu yang menempel di sepanjang dinding lorong menyala satu per satu, memancarkan cahaya api berwarna biru yang pucat.

Cahayanya memang redup, namun sudah cukup untuk memperlihatkan jalan tangga batu yang menurun jauh ke dalam perut bumi.

"Lantai Kedua telah menunggumu untuk datang menjelajahinya," ucap Penjaga Makam dengan nada suara yang terdengar sangat berat.

Lin Yuan menatap lorong gelap tersebut, kegelapan di ujung sana seolah tidak memiliki akhir yang pasti bagi siapa pun.

Dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, kemudian segera melangkah maju memasuki wilayah baru yang penuh dengan misteri besar.

Tok... Begitu telapak kakinya menginjak anak tangga pertama, suara sistem segera bergema di dalam kepalanya memberikan laporan status.

[Memasuki wilayah khusus: Lantai Kedua Makam Takdir. Seluruh fungsi sistem tetap aktif untuk mendukung perjalanan Tuan sekarang!]

[Harap berhati-hati karena tingkat bahaya di tempat ini jauh lebih tinggi daripada wilayah lantai sebelumnya!]

Lin Yuan melanjutkan langkahnya menuruni tangga batu, semakin jauh dia berjalan, udara di sekitarnya pun terasa menjadi semakin dingin.

Dinding batu lorong perlahan mulai berubah teksturnya, tidak lagi terasa kasar melainkan berubah menjadi kristal hitam yang sangat mengilap.

Di balik permukaan kristal hitam tersebut, seolah ada bayangan misterius yang sedang bergerak mengikuti setiap langkah kaki Lin Yuan.

Lin Yuan segera menghentikan langkahnya dan memusatkan seluruh perhatiannya, namun bayangan tersebut mendadak menghilang seolah tidak pernah ada sebelumnya.

"Mata Takdir!" bisiknya pelan mengaktifkan kemampuan sistemnya. Sepasang mata Lin Yuan seketika berubah warna menjadi keemasan yang terang.

Dunia di sekitarnya segera dipenuhi oleh ribuan benang Takdir yang saling bersilangan, namun benang itu mendadak putus saat menyentuh kristal.

Seolah benang Takdir tersebut telah ditelan oleh sesuatu yang sangat kuat yang bersembunyi di balik dinding kristal hitam.

Lin Yuan segera mematikan Mata Takdir karena perasaannya mengatakan bahwa penggunaan kemampuan ini di tempat ini sangatlah berisiko besar.

Dia kembali melangkah maju, dan beberapa puluh langkah kemudian, lorong mulai melebar menyingkapkan deretan patung batu yang berjajar rapi.

Jumlahnya mencapai puluhan, semuanya mengenakan jubah panjang dengan masing-masing patung membawa jenis senjata yang berbeda-beda.

Ada patung yang memegang pedang, tombak, busur, bahkan ada yang menggenggam rantai raksasa dengan sangat kuat di tangan batunya.

Yang terasa sangat aneh adalah tidak ada satu pun patung yang memiliki wajah utuh, sebagian kepalanya retak dan hancur.

Seolah wajah-wajah pada patung tersebut sengaja dihancurkan oleh seseorang agar identitas asli mereka tidak pernah diketahui oleh dunia.

Lin Yuan mendekati patung pertama dan menemukan tulisan kuno di bagian bawahnya yang sudah hampir terkikis habis dimakan zaman.

Dia mengusap debu tebal yang menempel, dan perlahan beberapa huruf mulai terlihat kembali dengan jelas di depan matanya.

"...Pewaris Kedua..." Namun tulisan setelah gelar tersebut telah hancur total, menyisakan misteri tentang siapa sebenarnya sosok asli pewaris itu.

Lin Yuan berpindah ke patung berikutnya, namun tulisan di bawahnya ternyata jauh lebih rusak dan hanya menyisakan dua kata.

"...Pewaris Keempat..." Dia terus berjalan melewati patung-patung lain dan menemukan tulisan gelar "Pewaris Keenam" pada patung batu yang lainnya.

Semakin jauh dia berjalan, semakin banyak pula patung pewaris yang muncul di sepanjang lorong kristal hitam yang sangat luas.

Namun, Lin Yuan menyadari satu hal penting: tidak ada satu pun patung milik Pewaris Pertama ataupun patung milik Pewaris Ketujuh.

Tatapan Lin Yuan berubah menjadi sangat serius. "Kenapa hanya patung milik mereka berdua saja yang tidak ada di sini?" tanyanya.

Belum sempat dia memikirkan jawabannya, api putih di dalam Lentera Jiwa tiba-tiba bergoyang hebat seolah sedang merasakan kehadiran sesuatu.

Lin Yuan langsung menghentikan langkahnya seketika, suasana di dalam lorong pun mendadak menjadi sangat sunyi dan juga sangat mencekam.

Bahkan suara langkah kakinya sendiri telah menghilang sepenuhnya, lalu dari arah ujung lorong terdengar suara langkah kaki orang lain.

Tok... Tok... Tok...

Suaranya terdengar sangat pelan dan teratur, namun jelas sekali bukan berasal dari gerakan kaki milik Lin Yuan.

Lin Yuan perlahan menggenggam gagang pedang besinya dengan sangat erat, tatapannya tertuju lurus ke arah kegelapan pekat di depan.

Siapa pun sosok yang sedang berjalan di sana, dia jelas sedang menuju lurus ke arah posisi Lin Yuan sekarang.

Suara langkah kaki itu terus bergema di lorong, tidak cepat namun juga tidak lambat seolah sengaja memberikan waktu bersiap.

Api putih di dalam Lentera Jiwa bergetar semakin kuat, namun warnanya tetap putih bersih tanpa ada tanda-tanda berubah menjadi hitam.

Lin Yuan menarik napas dalam-dalam, dia tidak terburu-buru mencabut pedangnya melainkan lebih memilih untuk memusatkan seluruh indra sensorik miliknya.

Naluri Tempur segera diaktifkan, dan suara sistem kembali terdengar memberikan laporan mengenai hasil analisis terhadap lingkungan sekitar.

[Naluri Tempur aktif! Menganalisis lingkungan sekitar... Target yang mendekat tidak menunjukkan adanya niat permusuhan terhadap Tuan!]

Alis Lin Yuan sedikit berkerut karena merasa bingung. "Tidak bermusuhan? Kalau begitu siapa sebenarnya sosok yang sedang berjalan di lorong?"

Perlahan, sosok tersebut mulai terlihat dari balik kegelapan, seorang pria tua mengenakan jubah hitam panjang yang sudah sangat usang.

Tubuhnya tampak agak membungkuk, dengan rambut putih panjang yang terurai hingga melewati bahunya yang terlihat sangat rapuh dan lemah.

Di tangan kanannya terdapat sebuah sapu tua, dia berjalan perlahan sambil menyapu lantai lorong dengan gerakan yang sangat tenang.

Seolah keberadaan Lin Yuan di tempat itu sama sekali tidak penting baginya, dia terus saja fokus pada pekerjaan menyapunya.

Lin Yuan tetap waspada meskipun sistem mengatakan tidak ada bahaya. "Siapa kau yang berada di tempat terpencil ini?" tanyanya.

Orang tua itu berhenti menyapu, namun dia tidak menoleh ke arah Lin Yuan. "Sudah sangat lama sekali tidak ada tamu."

Suara seraknya terdengar sangat pelan. Lin Yuan kembali bertanya. "Apakah kau adalah salah satu penghuni tetap dari tempat misterius ini?"

Orang tua itu tersenyum tipis. "Penghuni? Aku hanyalah seorang penjaga debu yang sudah lama terlupakan oleh waktu."

Jawaban tersebut membuat Lin Yuan semakin bingung, namun belum sempat bertanya lagi, orang tua itu perlahan mulai berbalik.

Wajahnya dipenuhi kerutan yang sangat dalam, namun yang membuat Lin Yuan membeku adalah sepasang mata milik orang tua tersebut.

Dia tidak memiliki bola mata manusia biasa, melainkan hanya ada cahaya putih redup yang menyala seperti api di dalam rongganya.

Orang tua itu memperhatikan Lin Yuan selama beberapa saat, kemudian tatapannya beralih menatap lurus ke arah Lentera Jiwa yang dibawa.

"Hm... ternyata kau membawanya," ucapnya pelan. Lin Yuan menggenggam lentera itu lebih erat. "Apakah kau mengenali benda kuno ini?" tanyanya.

Orang tua tersebut mengangguk pelan. "Dahulu, setiap pewaris membawanya, namun hanya sedikit yang mampu membawanya pulang dengan keadaan selamat."

Jantung Lin Yuan berdegup lebih cepat mendengar ucapan itu, mengingatkannya kembali pada peringatan yang diberikan oleh sosok Pewaris Ketujuh sebelumnya.

Orang tua itu kembali menyapu lantai dengan gerakan pelan, namun setiap sapuannya membuat debu hitam di lantai menghilang tanpa bekas.

"Tahukah kau alasan sebenarnya kenapa semua patung pewaris di sepanjang lorong ini wajahnya sengaja dirusak hingga hancur seperti itu?" tanyanya.

Lin Yuan menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Orang tua itu mengangkat sapunya dan menunjuk ke arah deretan patung batu.

"Mereka tidak dihancurkan oleh musuh luar, melainkan mereka semua justru memilih untuk menghancurkan diri mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri."

Mata Lin Yuan membelalak lebar karena sangat terkejut. "Menghancurkan diri sendiri? Kenapa mereka harus melakukan hal sekeji itu?"

"Ketika seseorang telah kehilangan seluruh keyakinannya, maka namanya sudah tidak lagi pantas untuk diabadikan di dalam tempat suci ini."

"Patung itu akan mulai retak, namanya memudar, dan perlahan seluruh jejak keberadaannya akan dilupakan oleh sejarah dunia yang kejam ini."

Suasana kembali menjadi sangat hening, sementara Lin Yuan memandangi patung-patung tersebut dengan perasaan yang sangat campur aduk di dalam hatinya.

Kini dia menyadari bahwa retakan pada setiap patung ternyata berbeda-beda, seolah masing-masing patung menyimpan kisah kegagalan yang tidak sama.

Tiba-tiba, api putih di dalam Lentera Jiwa bergoyang sangat keras karena merasakan sesuatu dari arah patung besar di ujung lorong.

Patung itu jauh lebih besar daripada yang lainnya, tubuhnya hampir utuh namun seluruh wajahnya sengaja dipahat hingga menjadi rata sekali.

Di bawah patung tersebut terdapat sebuah prasasti batu dengan tulisan "Pewaris Kedelapan" yang masih bisa dibaca dengan sangat jelas.

Di bawah nama tersebut, masih ada satu kalimat pendek yang belum terkikis waktu: "Dia hampir saja berhasil membuka Gerbang Terakhir."

Tatapan Lin Yuan langsung berubah menjadi sangat tajam. "Gerbang Terakhir?" tanyanya. Belum sempat dia mendekat, seluruh lorong mendadak berguncang hebat.

DUUUUM!

Patung milik Pewaris Kedelapan tiba-tiba mulai retak dengan sangat cepat, seolah ada sesuatu yang sedang berusaha keluar dari dalamnya.

..........

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!