Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Tanpa disadari Tara dan Sarif, dari balik jendela kamar paling depan, sepasang mata sejak tadi memperhatikan mereka. Ratna. Awalnya ia hanya berniat melihat apakah Tara sudah pulang. Namun, yang tertangkap matanya justru pemandangan yang membuat dadanya kembali sesak.
Ia melihat Tara tersenyum lepas, menggoda Sarif tanpa canggung. Yang lebih mengejutkan, Sarif yang selama ini dikenal pendiam ternyata membalas godaan itu dengan senyum tipis yang begitu tulus.
Ratna belum pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya. Pria yang beberapa hari lalu hanya dikenalnya sebagai "cucu sahabat Nenek" kini tampak begitu nyaman berada di dekat Tara.
Sesaat, Ratna teringat nasihat Nenek Bani saat makan malam. "Jangan saling iri. Kalau ada saudaramu yang mendapat kebahagiaan, ikutlah bahagia." Ratna sempat merasa dirinya mulai menerima kenyataan. Ia bahkan sudah berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini adalah konsekuensi dari keputusannya sendiri.
Namun, melihat interaksi sederhana di depan rumah itu... Semua ketenangan yang susah payah ia bangun runtuh seketika. Api cemburu yang sempat meredup kembali menyala. Bukan karena Tara melakukan sesuatu yang salah. Bukan pula karena Sarif memberikan harapan kepadanya. Melainkan karena Ratna menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa mereka berdua mulai terlihat serasi. Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar membayangkannya.
Ratna menggenggam erat ujung tirai. Dalam hati ia bertanya pada dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. "Kenapa waktu itu aku menolak bahkan sebelum mengenalnya?" Pertanyaan itu tidak pernah menemukan jawaban yang mampu menghapus penyesalannya.
Sementara di halaman rumah, Tara masih melambaikan tangan dengan senyum cerah hingga motor Sarif menghilang di ujung jalan. Ratna perlahan menutup tirai jendela. Ia tahu ia harus belajar mengikhlaskan. Tetapi malam itu, ia menyadari bahwa mengikhlaskan ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkannya.
***
Beberapa minggu setelah menjalani sidang BP4R, sebuah map cokelat akhirnya tiba di tangan Sarif. Di dalamnya terdapat selembar dokumen yang sejak beberapa waktu terakhir mereka tunggu-tunggu. Surat Izin Kawin.
Di bagian bawah surat itu terpampang tanda tangan Komandan Satuan beserta cap resmi. Artinya, secara kedinasan, rencana pernikahan mereka telah mendapatkan persetujuan. Begitu selesai dinas, Sarif langsung mendatangi rumah keluarga Bani.
Tara yang saat itu sedang membantu ibunya menghias kue ulang tahun langsung keluar begitu mendengar suara motor Ninja berhenti di depan rumah. "Bang, kok mendadak ke sini?"
Sarif tidak banyak bicara. Ia hanya mengeluarkan sebuah map bening dari tasnya. "Ini."
Tara menerimanya dengan bingung. "Apa ini?"
"Buka saja."
Perlahan Tara membuka map itu. Matanya langsung membulat. Beberapa kali ia membaca judul surat tersebut, seolah takut salah lihat. SURAT IZIN KAWIN. Tangannya spontan menutup mulut. "Ya Allah..." Ia membalik halaman itu, lalu membaca sampai bagian paling bawah. Begitu melihat tanda tangan komandan dan cap resmi satuan, wajahnya langsung berseri-seri. "Bang..." Saranya bergetar karena menahan haru. "Ini beneran?"
Sarif mengangguk. "Sudah disetujui."
Tara menatap surat itu lagi. Entah mengapa, selembar kertas itu terasa jauh lebih berharga daripada sertifikat apa pun yang pernah ia miliki. Ia tiba-tiba tertawa kecil.
Sarif mengernyit. "Kenapa?"
Tara mengangkat surat itu tinggi-tinggi. "Bang..."
"Iya?"
"Selamat ya."
"Untuk apa?"
"Abang resmi dapat izin buat menikahi aku."
Sarif tersenyum tipis. "Begitu juga sebaliknya."
Tara terkekeh. "Iya juga, ya." Ia kembali membaca surat itu dengan penuh perhatian. "Masya Allah... Perasaanku kayak habis lulus seleksi."
Sarif mengangkat sebelah alis. "Seleksi?"
"Iya. Mulai dari ngumpulin berkas setebal novel, sidang BP4R, ditanya macam-macam sama atasan Abang, sampai deg-degan nunggu hasil." Ia menghela napas panjang. "Akhirnya... lolos juga."
Sarif tidak bisa menahan senyumnya. "Bukan lolos."
"Lalu?"
"Disetujui."
Tara tertawa lagi. "Artinya sama aja." Ia memeluk map bening itu seperti memeluk piala. "Kalau nanti punya anak, surat ini jangan dibuang ya, Bang."
"Kenapa?"
"Biar anak-anak tahu...Kalau buat nikahin ibunya itu... perjuangannya panjang."
Sarif langsung tertawa. Melihat gadis itu begitu bahagia hanya karena selembar surat, ia semakin yakin bahwa pilihannya tidak pernah salah. Perempuan yang berdiri di hadapannya memang bukan tipe yang mencari kemewahan. Hal-hal sederhana saja sudah mampu membuatnya tersenyum selebar itu. Dan senyum itulah yang selalu membuat hati Sarif terasa hangat.
***
Sejak awal, Nenek Bani mengambil alih hampir seluruh persiapan pernikahan Tara. Mulai dari menentukan tanggal akad, memilih gedung, menyusun daftar tamu, hingga urusan katering dan dekorasi, semuanya diputuskan oleh beliau. Tara dan keluarganya nyaris tidak diberi kesempatan untuk ikut memilih. Tugas mereka hanya satu, mengikuti semua keputusan Nenek. Bahkan urusan pakaian pengantin pun tidak luput dari campur tangan sang nenek.
Tara sempat bercanda kepada ibunya, jangan-jangan nanti warna lipstiknya pun dipilihkan oleh Nenek.
Ibunya hanya tersenyum pasrah. "Kalau itu terjadi, Ibu juga nggak kaget."
Meski begitu, ada satu hal yang diam-diam diakui seluruh keluarga. Jangan pernah meremehkan selera Nenek Bani. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, selera berpakaiannya selalu elegan. Beliau sangat teliti memilih kain, model, hingga detail bordir. Baginya, cucunya harus tampil anggun di hari pernikahan, tanpa terlihat berlebihan.
Malam itu, seorang penjahit langganan Nenek datang membawa beberapa kotak besar dan kantong pakaian yang dibungkus rapi. Seluruh penghuni rumah langsung berkumpul di ruang tamu karena penasaran.
"Nah, akhirnya datang juga," ujar Nenek Bani dengan wajah puas.
Kotak pertama dibuka. Gaun akad berwarna putih gading perlahan dikeluarkan dari dalam plastik pelindung. Kainnya berkilau lembut dengan sulaman yang halus dan anggun.
Tara yang sejak tadi hanya menjadi penonton refleks menutup mulutnya. "Masya Allah..." Matanya tidak berkedip. "Ini... buat aku?"
Nenek mendengus pelan. "Ya buat siapa lagi?"
Tara mendekati gaun itu dengan hati-hati, seolah takut menyentuh sesuatu yang sangat mahal. Ia mengusap ujung lengan gaun tersebut dengan ujung jarinya. "Bagus banget..."
"Bagus, kan?" tanya Nenek, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut.
Tara mengangguk berkali-kali. "Bagus banget, Nek." Ia lalu menoleh pada ibunya sambil berbisik pelan, "Untung Nenek yang milih."
Ibunya tersenyum. "Lho, kenapa?"
"Soalnya kalau aku yang milih..." Tara menggaruk tengkuknya. "...mungkin aku bakal milih yang diskon."
Seketika ruang tamu dipenuhi gelak tawa. Nenek sampai menggeleng sambil menahan senyum. "Kamu ini memang susah disuruh serius."
Tara hanya nyengir. Dalam hati, ia kembali bersyukur. Di balik sifat keras dan kebiasaan Nenek yang sering memaksakan kehendak, perempuan tua itu ternyata sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk hari paling berharga dalam hidup cucunya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Tara benar-benar membayangkan dirinya mengenakan gaun tersebut, berjalan menuju pelaminan, lalu mengucapkan akad bersama pria berseragam loreng yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya.