Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
Bab 33: Roda Perjudian di Kota Hujan
Langit di atas gurun Alabasta perlahan meredup ketika matahari mulai tergelincir ke barat, meninggalkan semburat jingga keemasan yang memantul di antara bukit-bukit pasir. Di kejauhan, siluet menara-menara tinggi dan kubah-kubah megah kota Rainbase—pusat hiburan, perjudian, dan markas operasional Baroque Works—mulai tampak membelah cakrawala. Kota hujan buatan itu selalu membasahi dirinya sendiri dengan tetesan air artifisial yang turun dari langit-langit kubah raksasa, menciptakan kontras yang tajam dengan keringnya hamparan pasir di sekitarnya.
Kelompok Erebus melanjutkan perjalanan tanpa hambatan berarti. Bebek super Eyelash kini berjalan dengan langkah yang jauh lebih tenang setelah ancaman badai pasir Sables di Yuba dihancurkan berkeping-keping oleh sambaran petir Enel. Putri Vivi, yang duduk di punggung bebek tersebut, masih terdiam seribu bahasa. Pikirannya dipenuhi oleh pemandangan mustahil yang baru saja ia saksikan: kekuatan destruktif yang mampu melenyapkan badai buatan seorang Shichibukai dalam satu kedipan mata.
"Tuan Muzan," suara Vivi memecah keheningan, terdengar begitu rapuh namun sarat akan rasa penasaran. "Kita... kita sudah semakin dekat dengan Rainbase. Itu adalah wilayah kekuasaan mutlak Crocodile. Tempat itu dipenuhi oleh ribuan agen, pembunuh bayaran, dan kasino tempat ia mengawasi seluruh Alabasta. Apakah rencana kita... benar-benar akan langsung menyerangnya?"
Muzan Kibutsi, yang berjalan di barisan terdepan dengan jubah hitamnya, melirik sedikit ke belakang lewat sudut matanya. "Menyerangnya secara membabi buta adalah tindakan bodoh yang hanya akan dilakukan oleh bajak laut amatir, Tuan Putri. Crocodile mengira dirinya adalah raja di dalam sarangnya sendiri. Tugas kita bukanlah meratakan kota itu menjadi debu, melainkan merobek topeng kekuasaannya dari dalam."
Roy Mustang, yang melangkah santai di sisi Muzan, merapikan sarung tangan putihnya. "Betul sekali. Tempat perjudian selalu menjadi sarang informasi terbaik sekaligus tempat di mana para penguasa lalim merasa paling aman. Ketika mereka merasa di atas angin, di situlah celah terbesar mereka terbuka."
Di atas udara, Enel mendengus remeh. “Yahahahaha! Kasino manusia? Tempat di mana semut-semut mempertaruhkan koin-koin kecil mereka demi impian palsu? Jika mereka membuatku bosan, aku akan meratakan bangunan itu bersama semua orang di dalamnya.”
"Jangan gegabah, Enel," tegur Muzan dingin, menghentikan spekulasi sang Dewa Petir. "Bangunan itu menyimpan banyak hal menarik, termasuk ruang bawah tanah tempat target kita bersembunyi. Kita butuh kerendahan hati dalam bergerak, setidaknya sampai pintu jebakan terbuka."
Menjelang senja, rombongan tersebut akhirnya tiba di gerbang utama Rainbase. Kota itu tampak meriah. Musik ceria mengalun dari berbagai bar, lampu-lampu neon temaram menyala menghiasi jalanan basah oleh air hujan buatan, dan ribuan orang—mulai dari pelancong, pedagang, hingga preman bayaran—lalu-lalang memenuhi jalanan. Kehadiran kelompok Erebus dengan gaya berpakaian mereka yang mencolok sempat menarik perhatian beberapa mata pengawas Baroque Works di sudut jalan. Namun, begitu mereka merasakan aura intimidasi pasif yang menguar dari sosok Muzan dan Enel, para agen rendahan itu memilih menunduk dan menghindar, tidak berani mencari masalah.
Mereka berjalan lurus menuju pusat kota, menembus kerumunan hingga tiba di sebuah bangunan kasino terbesar dan paling mewah di Alabasta: Rain Dinners.
Gedung megah berarsitektur modern dengan papan nama raksasa berhiaskan lampu neon itu berdiri kokoh. Di depannya, lalu-lalang tamu elit masuk dan keluar silih berganti.
Muzan berhenti tepat di depan pintu masuk kasino. Di balik tudung jubah hitamnya, sepasang matanya menyipit mengamati pengamanan ketat di dalam lobi.
"Kita masuk," ucap Muzan singkat.
Baru saja mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi Rain Dinners, suasana bising khas tempat judi langsung menyambut. Suara koin bergemerincing di mesin slot, sorak-sorai dari meja roulette, dan kepulan asap cerutu tebal memenuhi ruangan luas berkarpet merah itu.
Namun, langkah Muzan dan kelompoknya mendadak terhenti oleh sebuah pemandangan yang tidak terduga di tengah kerumunan lobi.
Di dekat meja informasi, sesosok pemuda bersurai hijau dengan luka tebasan di dadanya—Roronoa Zoro—tampak terikat erat di atas sebuah kursi kayu besar dengan lilitan kawat baja yang tebal. Di sampingnya, berdiri seorang pria berbadan tinggi besar dengan mantel bulu mewah, rambut disisir ke belakang, dan cerutu di mulutnya—Smoker sang Kapten Angkatan Laut, yang rupanya juga berhasil menyusup atau tertangkap di tempat ini. Dan tak jauh dari mereka, Monkey D. Luffy bersama Usopp dan Smoker's subordinate (Tashigi) tampaknya terjebak dalam situasi yang sama atau sedang berjuang melarikan diri dari perangkap pasir.
Ternyata kelompok Topi Jerami dan Angkatan Laut sudah lebih dulu masuk ke dalam jebakan, batin Muzan dingin.
Sebelum Luffy atau Zoro sempat menyadari kehadiran kelompok Erebus di tengah kerumunan kasino yang padat, lantai di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat.
GRRRRRRRR... CLACK!
Lantai marmer di tengah lobi itu terbuka secara mekanis, membentuk sebuah lubang raksasa selebar belasan meter.
"WAAAAAHHH!"
Luffy, Zoro, Usopp, Tashigi, dan Smoker—yang tidak sempat menghindar—langsung jatuh terperosok ke dalam lubang gelap tersebut, meluncur turun ke dasar ruang bawah tanah raksasa tempat sang Shichibukai menunggu.
Suara jeritan mereka menghilang ditelan kegelapan bawah tanah saat lantai marmer itu menutup kembali secara otomatis dengan suara benturan logam yang berat.
Lobi Rain Dinners kembali sunyi dalam sekejap. Para pengunjung biasa yang ketakutan langsung berhamburan lari keluar gedung, menyadari bahwa tempat ini bukan lagi sekadar kasino biasa, melainkan sarang monster.
Muzan Kibutsi berdiri tenang di depan lantai yang baru saja tertutup itu. Ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang mengerikan.
"Pintu masuknya telah dibukakan oleh para tikus bodoh itu," bisik Muzan pelan.
Ia membalikkan badan menghadap Mustang dan Enel.
"Waktunya turun ke ruang bawah tanah. Crocodile sedang menunggu mangsanya."
Tepat saat Muzan melangkah menuju pintu samping khusus staf kasino, sebuah panel sistem menyala terang di dalam retinanya, melaporkan pembaruan situasi.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
STATUS SISTEM
Nama : Muzan Kibutsi
Belly : 29.369.850 Belly
Level Sistem : Tier 1 (Optimized)
Puppet :
Giyu Tomioka (Tersimpan / Siap Rotasi)
Zenitsu Agatsuma (Tersimpan / Siap Rotasi)
Neji Hyuga (Tersimpan / Siap Rotasi)
Roy Mustang (Aktif / Independen Command)
Gaara (Tersimpan / Siap Rotasi)
Uchiha Itachi (Tersimpan / Siap Rotasi)
Enel (Aktif / Udara)
Mission :
[Saga: Alabasta - Intervensi Baroque Works & Runtuhnya Kekuasaan Crocodile] (Aktif)
Achievement :
[Bertahan dari Puncak Dunia]
[Pembersih Nanohana]
[Penakluk Badai]
Inventory :
Eternal Pose Alabasta
Stasis: Mr. 4, Miss Merry Christmas
Shop :
[Shop Standar] (Terbuka)
[Shop: Black Market Tier 1] (Terbuka)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Muzan menutup panel sistemnya. Kakinya melangkah pasti menembus koridor gelap kasino Rain Dinners, membawa Erebus langsung ke jantung kekuasaan Sir Crocodile.