Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas dan Bisik-Bisik kantor
Suara denting halus dari mesin kopi otomatis di pantry lantai 12 menjadi satu-satunya penghibur Alina di tengah keheningan jam istirahat.
Ia menggenggam cangkir keramik berisi teh hangat, membiarkan uap tipisnya menyentuh kulit wajahnya yang lelah. Pikiran Alina masih tertahan pada tatapan dingin Devan dua jam lalu saat rapat evaluasi riset pasar berlangsung.
Di dalam ruang rapat berpendingin udara tinggi itu, Alina bertugas membagikan salinan dokumen dan mencatat poin-poin penting. Setiap kali ia melintas di dekat Devan untuk menyerahkan berkas, aroma parfum sandalwood dan bergamot maskulin milik pria itu menusuk indra penciumannya, aroma yang sama persis seperti malam saat mereka menandatangani surat nikah. Namun, Devan memperlakukannya tak ubahnya sebisa bayangan: tak tersentuh, tak kasat mata, dan sepenuhnya diabaikan. Bahkan ketika Alina membetulkan posisi mikrofon di depan Devan, pria itu hanya mengibaskan tangan pelan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar iPad-nya.
"Kamu staf baru yang namanya Alina, kan?"
Sebuah suara nyaring yang terkesan dipaksa ramah memecah lamunan Alina. Ia berbalik dan menemukan seorang wanita bertubuh jenjang berdiri di ambang pintu pantry.
Wanita itu mengenakan gaun terusan merah marun yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadu sepatu hak tinggi bertali yang berkilau. Tanda pengenal di dadanya tertulis: Clara, Senior Marketing Executive.
"Iya, Mbak. Saya Alina Dania," jawab Alina sopan sambil menganggukkan kepala.
Clara melangkah masuk, menyandarkan pinggulnya ke konter marmer tepat di samping Alina. Ia mengamati Alina dari ujung rambut hingga ujung sepatu kain hitamnya dengan pandangan menilai yang tidak ditutup-tutupi.
"Senang berkenalan denganmu, Alina," ujar Clara sambil tersenyum tipis, walau matanya tetap terasa dingin. "Sebagai senior di sini, aku cuma mau kasih sedikit nasihat ramah. PT Dirgantara ini standar kerjanya sangat tinggi, terutama kalau berhubungan langsung dengan Pak Devan.
Jangan sampai penampilan atau cara kerja yang asal-asalan bikin reputasi divisi kita jatuh di mata beliau."
"Baik, Mbak Clara. Terima kasih atas pengingatnya. Saya akan berusaha bekerja seprofesional mungkin," sahut Alina datar, tetap menjaga kesopanannya.
Clara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sinis. Ia menyesap kopi hitamnya sebelum melanjutkan, "Oh, satu lagi. Jangan pernah terpengaruh rumor konyol atau mencoba menarik perhatian Pak Devan secara pribadi seperti yang dilakukan beberapa anak magang bodoh dulu. Pak Devan itu berada di kelas yang sangat berbeda dengan kita. Beliau calon penerima warisan tunggal Dirgantara Group, dan rumornya ... beliau sudah punya calon istri dari kalangan berpengaruh yang direstui keluarga besarnya. Jadi, fokus saja pada tumpukan kertas laporanmu, ya?"
Pernyataan Clara menggantung di udara bagaikan tamparan tak berwujud. ,("Calon istri dari kalangan berpengaruh?")Alina menelan ludah yang terasa pahit.
Hatinya mencelos, bukan karena rasa cemburu, sebab ia paham betul pernikahan mereka hanyalah transaksi bisnis, melainkan karena realitas yang diucapkan Clara memang benar adanya.
Alina hanyalah seorang gadis miskin dengan ibu yang sakit-sakitan, sementara Devan adalah pangeran di atas takhta emas.
"Saya mengerti, Mbak," jawab Alina singkat.
Clara mengangguk puas, merasa telah berhasil menegaskan posisinya. Ia merapikan riasan bibirnya di cermin saku sebelum berbalik melangkah keluar pantry dengan langkah anggun.
Setelah Clara pergi, Alina menghela napas panjang. Ia menatap cincin perak polos yang tersembunyi rapat di balik jemarinya. Semakin jelas baginya mengapa Devan bersikap sangat dingin dan tidak mengenalnya di depan umum. Pernikahan ini bukan hanya sekadar rahasia, melainkan sebuah aib yang mungkin bisa merusak citra sang CEO jika sampai terendus media atau keluarga besarnya.
Sore harinya, pukul lima lewat lima belas menit. Sebagian besar pegawai divisi Pemasaran mulai berkemas untuk pulang. Alina masih bertahan di meja kerjanya, menyelesaikan rekapitulasi data penjualan daerah yang sempat tertunda karena rapat pagi.
"Alina, kamu belum pulang?" Siska menyampirkan tas bahunya, menghampiri meja Alina.
"Belum, Sis. Tinggal sedikit lagi, mau aku selesaikan sekalian supaya besok pagi tidak menumpuk," jawab Alina sambil tersenyum tipis.
"Duh, rajin banget! Tapi jangan terlalu malam ya, gedung ini kalau sudah lewat jam enam suka agak sepi dan seram," pamit Siska sambil melambaikan tangan. "Sampai ketemu besok!"
"Iya, hati-hati di jalan, Siska."
Ruangan divisi Pemasaran perlahan-lahan menghening. Lampu-lampu utama di beberapa sudut mulai dimatikan secara otomatis oleh sistem gedung untuk menghemat energi, menyisakan lampu sorot di atas meja Alina dan beberapa kubikel lain.
Saat jemari Alina sibuk mengetik angka terakhir pada lembar kerja digitalnya, ponsel di samping papan ketiknya bergetar keras. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
[Nomor Tak Dikenal]: Naik ke lantai 20 sekarang. Lewat tangga darurat belakang, gunakan lift khusus eksekutif nomor 3 yang ada di sana.
Alina mengerutkan dahi. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu betul siapa satu-satunya orang di gedung 20 lantai ini yang memegang akses dan berada di lantai paling atas: ruangan Direktur Utama.
Alina sempat ragu sejenak. Namun, mengingat status pria itu sebagai 'suami' sekaligus penyokong biaya hidup ibunya, ia tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah tersebut. Alina merapikan dokumennya, menyimpan hasil pekerjaannya, lalu mengambil tas selempangnya.
Ia melangkah mengendap-endap menuju pintu tangga darurat yang berada di sudut koridor belakang. Koridor itu sepi dan lengang, hanya terdengar gema langkah kakinya sendiri. Alina menekan tombol pada lift khusus eksekutif nomor 3 seperti yang diinstruksikan. Pintu lift terbuka tanpa suara, dan ia melangkah masuk.
Lift meluncur naik menuju lantai 20 dengan sangat cepat. Ketika pintu kembali terbuka, Alina disambut oleh karpet tebal berwarna abu-abu gelap yang meredam setiap suara langkah, serta dinding kayu mahogany yang memancarkan aura kemewahan yang tenang dan intim. Tidak ada pegawai di lantai ini; seluruh sekretaris dan staf eksekutif tampaknya sudah pulang.
Di ujung koridor, sebuah pintu ganda berukir megah sedikit terbuka, memancarkan sinar hangat dari dalam ruangan. Alina berjalan perlahan, mengetuk pintu kayu tebal itu dua kali.
"Masuk," suara bass yang berat dan tegas terdengar dari dalam.
Alina mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Devan sangat luas, hampir tiga kali lipat ukuran rumah kontrakan Alina. Di balik meja kerja kaca yang besar, berdiri dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan lanskap kota Jakarta di sore hari, dipenuhi pendar cahaya lampu jalan dan gedung-gedung tinggi.
Devan berdiri di dekat meja kerjanya, telah menanggalkan jas resmi yang dipakainya pagi tadi. Lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan hitam yang berkilau. Dasinya sudah dilonggarkan.
Pria itu menatap Alina yang berdiri kaku di dekat pintu. Tatapannya masih tajam, namun intensitasnya berbeda dari saat mereka berada di lantai 12 tadi pagi.
"Tutup pintunya," perintah Devan singkat.
Alina berbalik dan menutup pintu hingga terdengar bunyi klik mengunci. Ia berdiri canggung, menggenggam tali tasnya dengan erat. "Ada apa ... Pak Devan memanggil saya ke sini?"
Devan berjalan perlahan menuju sebuah sofa kulit hitam di tengah ruangan, lalu mendudukkan dirinya. Ia menyilangkan kaki dan menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Alina melangkah mendekat dan duduk di tepi sofa dengan canggung, menjaga jarak aman di antara mereka.
"Bagaimana hari pertama kerjamu?" tanya Devan datar. Matanya mengamati wajah Alina yang terlihat lelah.
"Bagus, Pak. Semua berjalan lancar," jawab Alina pelan, berusaha menjaga suaranya tetap profesional. "Saya sudah menyelesaikan tugas rekapitulasi data dari Mbak Maya."
Devan mengangguk pelan.