Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayangan di Balik Persatuan
Seminggu berlalu sejak kebenaran terungkap di ruang rapat keluarga, dan kediaman Wijaya yang selama ini terasa seperti kuburan es perlahan mulai menghangat. Para pelayan kini menyapa Larasati dengan senyum tulus saat ia lewat, tidak lagi berbisik-bisik di belakangnya. Kerabat-kerabat yang dulu paling lantang menghina kini malah sering datang berkunjung membawa oleh-oleh, mencari muka agar bisa mendapatkan bagian proyek kecil dari perusahaan keluarga. Bahkan Ibu Saras — wanita yang dulu memperlakukannya seperti noda di meja marmer — mulai menunjukkan perubahan kecil yang hampir tidak terlihat: suatu pagi Larasati menemukan sebungkus obat herbal batuk di atas meja kamarnya, dengan secarik kertas tulisan tangan Ibu Saras yang hanya bertuliskan “Kebetulan beli banyak, tidak habis.” Tidak ada kata maaf, tidak ada kata terima kasih, tapi itu sudah cukup membuat Larasati tersenyum kecil seharian.
Pak Haryo semakin sering memanggil Larasati mendampinginya mengurus dokumen-dokumen ringan. Ia sering berkata pada Agung di depan umum, bahwa istrinya itu punya insting dan ketulusan yang tidak dimiliki oleh orang-orang besar di perusahaan mereka. “Harta bisa dicari, jabatan bisa diperebutkan, tapi hati yang tetap tulus meski diinjak-injak? Itu yang paling langka di dunia ini,” ucapnya suatu sore, sambil menepuk bahu Larasati dengan lembut.
Agung sangat lega melihat perubahan itu. Ia mulai berani mengajak Larasati terlibat dalam diskusi bisnis ringan keluarga, sering memegang tangannya erat saat mereka berjalan berkeliling taman, seolah ingin membuktikan ke seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah separuh jiwanya. Namun Larasati tidak sepenuhnya tenang. Sejak hari rapat itu, ia selalu merasa ada tatapan yang mengawasinya dari sudut-sudut rumah — tatapan yang tidak penuh kebencian seperti Raisa dulu, tapi jauh lebih dingin, jauh lebih waspada, seperti ular yang sedang mengintai mangsanya di balik semak.
Tatapan itu milik Paman Surya Wijaya — kakak tertua Pak Haryo, yang selama belasan tahun mengelola cabang terbesar perusahaan keluarga di Surabaya dan jarang sekali pulang ke Jakarta. Pria berusia 62 tahun itu datang tiga hari lalu dengan sikap begitu ramah, begitu sempurna, hingga semua orang di keluarga menyambutnya seperti pahlawan. Ia memeluk Pak Haryo dengan mata berkaca-kaca, mencium tangan Ibu Saras dengan hormat, memuji Agung atas keberhasilannya memimpin beberapa proyek besar, dan khusus untuk Larasati, ia berkata dengan suara lembut yang terdengar sangat tulus: “Akhirnya keluarga Wijaya punya wanita sepertimu. Kebenaran yang kamu bawa seminggu lalu sudah menyatukan kita semua yang dulu sempat terpecah karena prasangka. Keluarga ini berhutang banyak padamu, Nak.”
Semua orang terkesima mendengarnya. Hanya Larasati yang merasa ada yang tidak beres. Saat Paman Surya memegang tangannya untuk bersalaman, telapak tangan pria itu dingin seperti batu, dan tatapan matanya yang berkerut di ujung tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun. Ia justru seperti sedang menimbang-nimbang Larasati, menghitung seberapa besar ancaman wanita ini bagi rencananya.
Puncak ketegangan itu terjadi pada makan malam keluarga Rabu itu. Setelah hidangan penutup dihidangkan, Pak Haryo tiba-tiba meletakkan sendoknya perlahan, lalu memandang semua orang yang hadir dengan tatapan tegas.
“Ada hal penting yang ingin saya sampaikan malam ini,” ucapnya, suaranya berat namun jelas menggelegar di seluruh ruang makan. “Sejak saya pulih dari serangan jantung minggu lalu, saya banyak berpikir. Usia saya tidak lagi muda. Sudah saatnya saya menyerahkan tampuk kepemimpinan keluarga dan perusahaan ini kepada generasi yang lebih muda, yang punya hati bersih dan visi yang benar.”
Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk Agung dan Larasati yang duduk berdampingan di hadapannya. “Oleh karena itu, saya akan segera menyusun ulang wasiat saya. Tujuh puluh persen seluruh saham perusahaan Wijaya, seluruh aset tanah dan gedung di lima kota besar, akan saya serahkan sepenuhnya kepada Agung sebagai pewaris tunggal. Sisanya akan dibagikan kepada kerabat yang setia mengabdi pada keluarga, dan sepuluh persen dari total aset akan saya masukkan ke dalam yayasan sosial yang dikelola sepenuhnya oleh Larasati. Saya percaya, dengan ketulusan hatinya, dana itu akan sampai pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan, bukan malah mengisi kantong segelintir orang saja.”
Suasana ruang makan seketika hening. Kerabat-kerabat yang hadir saling berpandangan, ada yang tampak senang, ada yang menyembunyikan kekecewaan. Namun yang paling menarik perhatian Larasati adalah Paman Surya. Pria itu masih tersenyum ramah di wajahnya, ia bahkan ikut bertepuk tangan pelan seolah mendukung keputusan itu. Tapi Larasati melihatnya jelas: tangan Paman Surya yang memegang gelas anggur putih bergetar sangat halus, sampai sedikit cairan di dalamnya bergoyang. Dan tatapan matanya yang tertuju pada Pak Haryo, sesaat saja, berubah menjadi sedingin es sebelum kembali disembunyikan di balik senyum palsunya.
Malam itu Larasati tidak bisa tidur. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi saat ia memutuskan bangun untuk mengambil segelas air putih di dapur bawah. Saat melewati taman belakang, langkahnya terhenti mendengar suara bisikan pelan dari balik pohon beringin tua — pohon yang menjadi saksi air matanya, janji setia Agung, dan kini, rahasia gelap yang tidak seharusnya ia ketahui.
“Rencana kita hancur total, Yah,” suara muda itu dikenali Larasati sebagai Dika — anak tunggal Paman Surya yang selama ini bersaing ketat dengan Agung memperebutkan posisi wakil direktur utama perusahaan. “Selama belasan tahun kita perlahan mengalihkan aset cabang Surabaya ke perusahaan bayangan kita, merencanakan membuat Pak Haryo terkena serangan jantung kedua yang lebih parah supaya dia lumpuh permanen, lalu kamu bisa jadi wali sementara Agung yang dianggap belum cukup dewasa. Kita hampir menang! Tapi wanita kampung itu datang, menyelamatkan nyawa Pak Haryo, dan sekarang malah bikin orang tua itu mau serahkan SEMUANYA ke mereka berdua!”
Larasati menutup mulutnya erat dengan kedua tangan, jantungnya berdegup kencang hampir mau pecah dari dada. Ia bersandar erat di balik dinding taman, tidak berani mengeluarkan napas sedikit pun.
“Tenang, Nak,” jawab suara Paman Surya, dingin dan tenang, tidak ada kepanikan sedikit pun. “Kita sudah merencanakan ini terlalu lama untuk menyerah sekarang. Pak Haryo mau serahkan asetnya? Bagus. Biarkan dia menandatangani wasiat itu dulu. Dan seminggu lagi, di pesta ulang tahunnya yang ke-70 yang dihadiri semua mitra bisnis dan pejabat besar… kita akan membuat kecelakaan kecil yang tidak akan dicurigai siapa pun. Serangan jantung kedua, kali ini tidak akan ada wanita kampung yang bisa menyelamatkannya tepat waktu. Setelah Pak Haryo pergi, wasiat itu bisa kita ganti dengan yang versi kita — yang menyatakan saya sebagai pemegang kuasa penuh semua aset, karena Agung masih ‘labil’ dan istrinya ‘tidak punya latar belakang layak memimpin harta keluarga besar’.”
“Tapi bagaimana dengan Larasati?” tanya Dika lagi suaranya cemas. “Wanita itu tidak selemah yang kita kira. Dia cerdas, dia peka. Kalau dia curiga…”
“Siapa pun yang menghalangi jalan kita, harus disingkirkan,” potong Paman Surya suaranya turun menjadi bisikan mematikan. “Termasuk wanita kampung itu. Kita buat dia seolah mengalami depresi karena tekanan hidup di keluarga kaya, lalu mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada yang akan curiga. Semua orang tahu dulu dia pernah menangis tersedu-sedu di taman ini hampir setiap malam. Kematiannya akan terlihat sangat masuk akal.”
Larasati gemetar hebat mendengarnya. Kakinya terasa lemas seperti tidak bertulang, sampai tanpa sengaja ia menginjak ranting kering di bawah kakinya.
Crak!
Suara kecil itu terdengar sangat keras di tengah keheningan malam.
“Siapa di sana?” seru Paman Surya suaranya meninggi. Langkah kaki berat mulai berjalan mendekati tempat Larasati bersembunyi.
Larasati panik. Ia melihat ada semak belukar lebat di sampingnya, segera merangkak masuk ke sana, menahan napas sekuat tenaga. Detik kemudian ia melihat sepasang sepatu kulit mahal berhenti tepat di depan semak tempatnya bersembunyi. Hatinya hampir berhenti berdetak. Tapi tepat saat Paman Surya akan membuka cabang semak, tiba-tiba kucing hitam peliharaan keluarga melompat lewat di depannya, mengeong pelan lalu lari ke arah dapur.
“Tch… cuma kucing,” gerutu Paman Surya pelan. Ia berdiri di sana beberapa saat lagi, seolah masih ragu, sebelum akhirnya berbalik pergi bersama anaknya. “Ayo kembali ke kamar. Jangan lupa siapkan semuanya untuk pesta minggu depan. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.”
Setelah suara langkah mereka benar-benar hilang, Larasati baru bisa mengeluarkan napas panjang. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, matanya berair menahan ketakutan yang luar biasa. Ia segera bangkit berlari kembali ke kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, lalu memeluk lututnya di sudut tempat tidur sambil gemetar tak berhenti.
Ia ingin membangunkan Agung, ingin menceritakan semua yang baru saja ia dengar. Tapi kemudian ia ragu. Apa buktinya? Hanya percakapan yang ia dengar sendiri, tidak ada rekaman, tidak ada saksi lain. Paman Surya adalah orang yang paling dihormati di keluarga setelah Pak Haryo. Semua orang menganggapnya pria baik yang setia mengabdi. Siapa yang akan percaya padanya? Apakah Agung pun akan percaya, atau malah mengira dia hanya terlalu lelah jadi berhalusinasi? Dan yang paling ia takutkan: bagaimana kalau Paman Surya tahu dia yang mendengar tadi, lalu segera menjalankan rencananya lebih cepat — mencelakai Agung atau Pak Haryo sebelum sempat ada yang mencegah?
Pagi harinya, saat Larasati sedang duduk sendirian di teras belakang memikirkan apa yang harus dilakukan, Paman Surya tiba-tiba datang menghampiri dengan nampan berisi kue tradisional kesukaan Larasati — kue yang hanya dibicarakannya sekali pada Ibu Saras seminggu lalu, yang seharusnya tidak ada orang lain yang tahu.
“Selamat pagi, Nak,” ucap Paman Surya dengan senyum ramah, meletakkan nampan itu di meja di hadapan Larasati. “Saya dengar kamu suka kue ini. Saya suruh koki buat khusus pagi ini. Coba rasakan, apakah rasanya sesuai selera kamu?”
Larasati hanya bisa mengangguk kaku, tangannya dingin tidak berani menyentuh kue itu sedikit pun.
Paman Surya duduk di hadapannya, lalu bersandar santai di kursi. Tatapannya tetap ramah, tapi saat ia berbicara lagi, suaranya diturunkan sedemikian rupa sehingga hanya Larasati yang bisa mendengarnya, bisikan yang begitu lembut namun menusuk tepat ke jantung:
“Kamu pintar sekali, Nona Larasati. Pintar menyelamatkan Pak Haryo, pintar menyatukan keluarga yang dulu terpecah belah. Tapi orang yang terlalu pintar seringkali lupa satu hal penting: terlalu banyak tahu hal yang bukan urusannya… bisa sangat berbahaya bagi nyawa sendiri. Apalagi kalau dia tidak tahu kapan harus diam dan pura-pura tidak melihat apa-apa.”
Ia berdiri perlahan, menepuk bahu Larasati yang membeku itu dengan lembut, lalu berbalik pergi. Sebelum benar-benar hilang dari pandangan, ia sempat menoleh lagi dengan senyum yang tidak berarti: “Jangan lupa makan kuenya, Nak. Nanti dingin, sayang.”
Setelah Paman Surya pergi, Larasati baru menyadari ada foto tua yang terjatuh dari rak hias di sampingnya. Ia mengambilnya dengan tangan gemetar. Foto itu diambil 25 tahun lalu, memperlihatkan Paman Surya yang masih muda sedang berdiri berdampingan dengan Dokter Hartono — dokter pribadi keluarga yang dulu menangani ibu Agung, yang meninggal dunia secara tiba-tiba karena “serangan jantung keturunan” saat Agung baru berusia 5 tahun.
Tiba-tiba pikiran Larasati terbang ke mana-mana. Serangan jantung Pak Haryo tiga minggu lalu yang terjadi secara tiba-tiba tanpa gejala sebelumnya. Rencana Paman Surya membuat serangan jantung kedua di pesta ulang tahun. Dan kematian ibu Agung dulu yang selalu disebut sebagai musibah keturunan… apakah itu semua benar-benar kecelakaan? Atau ada satu tangan dingin yang sudah merancang semuanya sejak puluhan tahun lalu?
Larasati memegang foto itu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Persatuan keluarga yang baru saja ia perjuangkan dengan air mata dan darah ternyata berdiri kokoh di atas tumpukan rahasia gelap yang sudah dikubur bertahun-tahun. Kebenaran yang dulu ia bawa berhasil merobohkan tembok dingin yang memisahkannya dengan keluarga Wijaya. Tapi sekarang, kebenaran yang lebih besar, lebih mengerikan, justru bisa menghancurkan persatuan itu selamanya — dan mungkin juga nyawa orang-orang yang paling ia cintai.
Dari kejauhan, ia melihat Agung berjalan mendekatinya dengan senyum pagi yang begitu tulus, membawa segelas susu hangat untuknya. Larasati segera menyembunyikan foto itu di balik bantal kursi, lalu memaksakan senyum di wajahnya yang masih pucat.
Ia harus memilih sekarang. Diam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, supaya dia dan Agung bisa hidup tenang dengan harta melimpah yang menanti mereka. Atau berani mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya, melawan musuh yang jauh lebih licik dan berbahaya dari Raisa — dengan risiko kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sendiri.
Dan saat angin pagi berhembus pelan membawa aroma bunga melati dari taman, Larasati sudah tahu jawabannya. Ia tidak akan diam. Tidak setelah tahu ada nyawa yang sudah melayang karena kebohongan itu, dan tidak sebelum dia bisa melindungi pria yang berdiri di hadapannya sekarang, yang sudah rela melepaskan segalanya demi tetap memegang tangannya.
Perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, tidak ada lagi ruang untuk salah langkah sedikit pun.