Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tega Volume Dua 13
Bhumi menunjukkan jalan kepada Ibnu, karena memang hanya dia saya yang pernah datang ke rumah Senia. Dan ternyata, tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai ke kediaman wanita itu.
Bhumi meminta Ibnu untuk memarkir mobilnya lebih jauh. Dan benar saja, di rumah itu saat ini tengah banyak orang. Beberapa mobil terparkir di jalanan dan juga di halaman. Dimana mungkin itu adalah mobil-mobil dari pihak si pria.
Degh degh degh
Detak jantung Bhumi semakin keras. Bahkan seolah bunyinya bisa terdengar sampai ke telinga orang lain.
Pria itu pun turun. Di susul oleh Ibnu, lalu mereka berdua berjalan ke arah rumah milik Senia.
"Sur, kamu ikutin mereka. Aku khawatir kalau ada apa-apa nanti di dalam. Paling nggak kamu bantu Pak Ibnu buat nenangin Pak Bhumi kalau emosinya meledak."
"Baik Bu."
Surya paham dengan apa yang diperintahkan oleh Arimbi. Ketika emosi tengah memuncak, tidak akan tahu bagaimana itu akan meledak.
Surya berlari kecil untuk menyusul Ibnu dan Surya. Sedangkan Arimbi, tentu saja memilih untuk di dalam mobil.
Pikiran Arimbi melalang buana. Dia berpikir, mengapa ada orang yang tega berkhianat terhadap seseorang yang sangat tulus mencintai.
Apa yang terjadi pada dirinya dan sekarang terjadi pada Bhumi sungguh membuatnya berpikir keras, apakah orang kalau setia itu akan mati? Kenapa kesetiaan menjadi hal yang sangat mahal?
Suasana rumah tersebut sangat riuh. Dekorasi pertunangan juga nampak cantik dan digelar dengan cukup mewah. Bhumi tersenyum kecut. Hatinya sakit teriris melihat wanita yang sangat dicintai dan bahkan sudah dikenalkan dengan kedua orangtuanya itu tega menyakitinya sedalam ini.
Engagement SS
Senia & Saputra
Nama pria yang ada di backdrop itu seharusnya adalah nama dirinya. Tapi ternyata tidak demikian. Tanpa perkataan dan penjelasan apapun, semuanya berubah.
Dan yang lebih miris dan menyakitkannya lagi, barang-barang yang Bhumi kirimkan sebagai seserahan yang katanya akan dihias lebih dulu, itu dijadikan bagian dari rangkaian acara ini. Memang benar sudah dihias, akan tetapi bukan untuk kedatangannya melainkan untuk acara lain.
"Bos, itu bukannya yang beli bos semua ya?"ucap Ibnu.
"Bener, dan itu yang dia bilang ilang. Ternyata buat lamaran sama pria lain."
Keberadaan Bhumi di sana masih belum ada yang menyadari termasuk Senia dan kedua orang tuanya. Bhumi juga memilih untuk tenang. Dia mengambil kursi dan duduk membaur dengan tamu, menghadap ke depan dimana dua orang calon berdiri dan mengatakan kata-kata yang biasa diucapkan saat lamaran.
Bhumi sedang mencari waktu yang pas, untuk kapan dirinya tampil. Sebuah seringai terbit di bibirnya ketika melihat wanita yang selama ini dicintai dan dipercaya berdiri dengan cantik di 'panggung' bersama seorang pria.
Plok plok plok
Saat suasana tengah hening dan juga sakral karena hendak memasangkan cincin lamaran, Tiba-tiba Bhumi bertepuk tangan dimana suara tepuk tangan Bhumi tersebut begitu menggelegar.
Dia bertepuk tangan dengan sangat kencang, dari yang awalanya posisi duduk kini menjadi posisi berdiri saat semua mata melihat ke arahnya.
Ya sekarang Bhumi lah yang menjadi pusat perhatian dan bukannya kedua calon pasangan. Mata Senia membulat sempurna melihat sosok Bhumi yang ada diantara para tamu yang datang.
"Bagus ... sangat bagus, pacarku Senia. Lanjutin dulu lah, tinggal pasang cincin masa berhenti. Ah apa karena aku ya, ups sorry ya. Tapi aku tepuk tangan ini ada artinya lho. Aku sedang mengapresiasi kebohongan mu yang sempurna."
"M-mas Bhumi, k-kenapa kamu bisa disini?"
Hahahaha
Bhumi tertawa dengan sangat keras. Semua orang bingung dan berbisik-bisik tentang apa yang terjadi sekarang. Sedangkan pria yang bernama Saputra itu, hanya melihat kesana-kemari tidak mengerti.
Bhumi berjalan menuju ke tempat dimana Senia dan pria itu berada. Ketampanan Bhumi tentu tidak kalah dengan Saputra yang merupakan perwira polisi. Bahkan pesona Bhumi bisa dikatakan jauh lebih bersinar ketimbang Saputra.
"Kenapa, kaget ya? Kamu pikir aku nggak bisa datang ke sini hmmm? Kamu pikir aku nggak bisa ngelacak semua kebohonganmu? Masnya, Mas polisi kan ya. Apa Mas tahu, kalau semua barang itu, iya barang itu yang dikotakin cantik dan dihiasi itu, semua itu adalah barang yang aku beli. Itu semua adalah barang yang dibeli dengan uangku. Terus, kamu ngasih uang nggak buat seserahan? Dia pasti bilang kan, mau beli sendiri dan dihias sendiri sesuai seleranya? Pinter nih orang, dia make barang dari aku, dan uangmu di simpen."
Ketika Bhumi bicara seperti itu semua orang kaget bukan main termasuk Saputra tentunya. Kedua orangtua Senia hendak menghalau Bhumi agar tidak bicara lebih lanjut, akan tetapi Ibnu dan Surya menghadang dengan baik sehingga mereka tak bisa mendekat barang satu langkah pun.
Sedangkan orangtua Senia hanya menatap tajam. Pun dengan keluarga pihak Saputra, raut wajah mereka nampak tidak suka.
Bhumi sebenarnya bukan orang yang perhitungan. Dia tidak mungkin mengungkit barang yang diberikannya kepada orang. Akan tetapi di sini kasusnya berbeda. Dia telah dibohongi dan dikhianati. Atau lebih tepatnya dia telah ditipu oleh wanita yang dicintainya.
Tentu saja hal tersebut membuat Bhumi tidak bisa diam saja. Yang namanya orang, kalau diganggu dan disalahi, pasti akan membalas atau melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Senia, entah apa tujuanmu melakukan ini padaku. Tapi selamat, kamu berhasil membuatku hancur. Cinta yang kau berikan kepadaku ternyata racun berbisa. Selamat untuk pertunangan kalian. Mas Saputra, selamat ya. Ternyata Anda adalah pria yang dipilih oleh wanita ini. Entah aku atau kamu yang jadi selingkuhannya, hanya dia dan Allah yang tahu."
"M-mas!" Senia berusaha untuk bicara dengan memanggil Bhumi. Namun dia tidak bisa melakukan itu.
Bhumi tak acuh ketika mendengar Senia memanggil namanya. Dia melenggang pergi setelah mengatakan hal tersebut. Hatinya jelas hancur, tapi dia enggan melakukan lebih jauh dari ini.
Alhasil, ia kembali ke mobil dan meminta Ibnu untuk menjalankan mobilnya. Bhumi meninggalkan rumah sang kekasih atau lebih tepatnya mantan. Tak sedikitpun pria itu menoleh ke belakang. Entah apa yang terjadi setelah itu pada acara pertunangan tersebut, Bhumi sama sekali tidak peduli. Dia tidak peduli jikalau pertunangan itu hancur sekalipun.
Meski sakit, ia memantapkan hatinya untuk tidak pernah melihat ke belakang. Rasa sakit yang bercampur dengan kenangan indah itu, akan ia kubur dalam-dalam.
"Apakah semuanya baik-baik saja?"
Pertanyaan yang bodoh sebenarnya. Akan tetapi Arimbi tetap melontarkannya. Tidak mungkin orang itu baik-baik saja setelah mengalami pengkhianatan. Namun tidak ada salahnya bertanya, karena dengan sebuah pertanyaan dari orang lain terkadang membuat hati sedikit ringan.
"Yeah, bohong kalau aku bilang baik-baik aja. Tapi seenggaknya lebih baik ketahuan sekarang dari pada nanti kan? Ternyata paket itu merupakan jalan untuk mengungkap sebuah kebohongan dan pengkhianatan yang udah dia lakukan. Bagus sih dari pada nanti pas udah nikah baru ketahuannya," jawab Bhumi sambil tersenyum kecut.
Arimbi pun membalas senyuman kecut itu dengan senyum yang juga tak kalah kecutnya. Setidaknya Bhumi mengetahui pengkhianatan itu sebelum menikah, tidak seperti dirinya. Namun bukan berati Arimbi menyepelekan rasa sakit yang dirasakan Bhumi. Dia tahu kadar sakit seorang beda-beda dimana tidak bisa dibandingkan.
"Semoga Anda mendapatkan jodoh yang lebih baik, Pak Bhumi."
"Terimakasih Bu Arimbi. Sungguh terimakasih banyak untuk semua bantuan yang Anda berikan," jawab Bhumi dengan sangat tulus.
Dua hati yang sama-sama disakiti itu larut dalam pikirannya masing-masing. Dalam pikiran mereka berdua, sebenarnya masih tidak menyangka bahwa mereka akan disakiti hingga sesakit ini.
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣