Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Ariana sama sekali belum mengetahui bahwa Alyssa telah ditemukan.
Dan tanpa ia sadari...
Keputusan gegabah yang dibuat karena rasa cemburu telah membawa dirinya selangkah lebih dekat menuju konsekuensi yang tidak bisa ia hindari.
Di lantai dua, suasana masih sunyi.
Alyssa masih tertidur di kamarnya setelah dokter memasang infus dan memberikan obat penenang ringan. Maria serta Ranty bergantian berjaga di dekat tempat tidurnya.
Di luar kamar...
Lucas berdiri tanpa bergerak.
Tatapannya tertuju ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
Beberapa saat kemudian dokter keluarga menghampirinya.
"Untung Nona Alyssa memiliki kondisi fisik yang cukup baik."
Lucas mengangguk pelan.
"Kalau terlambat sedikit lagi..."
Dokter menghela napas.
"Saya tidak ingin membayangkannya."
Kalimat itu membuat rahang Lucas kembali mengeras.
"Terima kasih, Dok."
Dokter menepuk bahunya pelan sebelum meninggalkan mansion.
Koridor kembali sunyi.
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Lucas menoleh ke arah Adrian.
"Panggil seluruh tim pengawal."
Suara Lucas terdengar sangat datar.
Justru karena terlalu datar...
Adrian tahu kemarahan atasannya sudah mencapai batas.
"Baik, Tuan."
Lima belas menit kemudian.
Ruang rapat pribadi Mansion Laurent dipenuhi belasan pria berbadan tegap.
Mereka adalah tim pengamanan elite Laurent.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah gagal menjalankan misi.
Malam itu...
Tidak seorang pun berani mengangkat kepala.
Lucas berdiri di ujung meja panjang.
Tangannya bertumpu pada permukaan meja.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah para pengawal.
Suasana sangat sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.
Lucas akhirnya membuka suara.
"Siapa ketua tim hari ini?"
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun maju selangkah.
"Saya, Tuan."
Lucas menatapnya.
"Namamu."
"Victor."
Lucas mengangguk pelan.
"Victor."
"Jelaskan."
Victor menarik napas panjang.
"Nona Alyssa bersama Bu Ariana menuju gudang arsip."
"Kami mengikuti sesuai prosedur."
Lucas memotong.
"Prosedur?"
"Iya, Tuan."
"Prosedur yang mana?"
Victor terdiam.
Lucas melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.
"Prosedur yang membiarkan orang yang kalian lindungi menghilang selama tiga jam?"
Tidak ada jawaban.
Lucas kembali bertanya.
"Atau prosedur yang membuat kalian berdiri di depan lift sementara orang yang kalian lindungi dikunci di gudang?"
Victor menundukkan kepala.
"Itu kesalahan kami."
Lucas tertawa kecil.
Namun tawa itu sama sekali tidak mengandung humor.
"Kesalahan?"
"Menurutmu ini hanya kesalahan?"
Victor mengepalkan tangannya.
"Tidak, Tuan."
Lucas berjalan perlahan mengelilingi meja.
"Kalian tahu..."
"Berapa biaya pelatihan kalian?"
Tak seorang pun menjawab.
"Kalian pernah menjalani latihan bertahan hidup."
"Pelatihan antiteror."
"Negosiasi sandera."
"Pengamanan VIP."
"Bahkan sebagian dari kalian mantan pasukan khusus."
Lucas berhenti tepat di depan Victor.
"Lalu..."
"Bagaimana mungkin..."
"...kalian bisa percaya begitu saja hanya karena seseorang memiliki jabatan Manajer Umum?"
Victor menelan ludah.
"Kami mengira..."
Lucas langsung memotong.
"Dalam pekerjaan ini..."
"'Mengira' adalah kata yang paling berbahaya."
Ruangan kembali hening.
Lucas berbicara lebih keras.
"Kalau hari ini yang dikurung bukan Alyssa."
"Melainkan Leonardo."
"Apa kalian juga akan menunggu tiga jam?"
Semua orang langsung membeku.
Pertanyaan itu terasa seperti pukulan telak.
Victor langsung menundukkan kepala lebih dalam.
"Maaf, Tuan."
Lucas mengepalkan tangannya.
"Kalian gagal."
"Bukan karena tidak mampu bertarung."
"Tapi karena lengah."
"Dan kelengahan..."
"...adalah sesuatu yang tidak pernah kutoleransi."
Semua pengawal serempak menjawab,
"Kami siap menerima hukuman."
Lucas menoleh kepada Adrian.
"Mulai besok."
"Seluruh tim menjalani evaluasi ulang."
"Semua izin cuti dibatalkan."
"Latihan ditambah."
"Ganti seluruh SOP pengawalan VIP."
Adrian mencatat cepat.
"Baik."
Lucas kembali berkata,
"Dan..."
"Mulai malam ini."
"Tidak ada seorang pun yang boleh membawa Alyssa keluar dari jangkauan pengawal."
"Siapa pun."
"Termasuk aku."
Semua orang menjawab tegas.
"Siap!"
Lucas menghela napas panjang.
"Kalian boleh keluar."
Satu per satu pengawal meninggalkan ruangan dengan wajah penuh penyesalan.
Tak lama kemudian...
Ruangan hanya tersisa Lucas dan Adrian.
Adrian memecah keheningan.
"Tuan."
Lucas menatap ke luar jendela.
"Panggil Ariana."
Adrian mengangguk.
"Sekarang juga?"
"Sekarang."
"Ke mansion."
"Ya."
"Kalau perlu..."
Lucas berhenti beberapa detik.
"...jemput."
Adrian langsung memahami maksudnya.
"Baik."
Ia segera menghubungi nomor Ariana.
Tetap tidak aktif.
Adrian menghubungi sekretaris perusahaan.
"Di mana Bu Ariana?"
Sekretaris menjawab,
"Beliau sudah pulang lebih awal."
Adrian kembali bertanya,
"Alamat rumahnya?"
Beberapa saat kemudian alamat itu dikirim.
Adrian menoleh kepada Lucas.
"Tuan."
"Saya kirim tim?"
Lucas mengangguk.
"Suruh dia datang ke mansion."
"Malam ini."
"Tidak ada alasan."
"Baik."
Setelah Adrian keluar...
Lucas tetap berdiri sendirian.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca.
Untuk pertama kalinya...
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa..."
"Kenapa aku semarah ini?"
Ia memejamkan mata.
Alyssa...
Bukan keluarganya.
Bukan kerabat.
Bukan kekasih.
Mereka bahkan baru saling mengenal dalam waktu yang singkat.
Lalu...
Kenapa saat melihat Alyssa pingsan di gudang...
Dadanya terasa seperti diremas?
Kenapa saat dokter berkata "terlambat satu atau dua jam lagi"...
Ia justru merasa takut?
Lucas mengusap wajahnya perlahan.
"Apa yang terjadi padaku..."
Ia mengingat kembali saat menggendong Alyssa keluar dari gudang.
Tubuh gadis itu yang begitu dingin.
Napasnya yang hampir tidak terdengar.
Senyum lemahnya.
"Aku tahu... kau pasti datang..."
Kalimat itu kembali terngiang.
Lucas mengembuskan napas pelan.
"Alyssa..."
"Sebenarnya..."
"...kau ini siapa bagiku?"
Ia sendiri tidak memiliki jawabannya.
Di sisi lain kota.
Di sebuah rumah mewah.
Ariana mondar-mandir dengan wajah pucat.
Tangannya terus gemetar.
Ponselnya sejak tadi dipenuhi panggilan tidak terjawab dari kantor.
Ia sudah mendengar kabar.
Alyssa ditemukan.
Masih hidup.
Dan Lucas mengetahui semuanya.
Ariana terduduk lemas di sofa.
"Bagaimana ini..."
"Aku tidak bermaksud sampai seperti ini."
Ia memang berniat memberi pelajaran kepada Alyssa.
Namun ia tidak pernah membayangkan gadis itu akan terkunci selama berjam-jam.
Tiba-tiba...
Sebuah ide muncul.
Ariana langsung mengambil ponselnya.
Mencari satu nama.
Nyonya Claire Laurent.
Ibu Lucas.
Wanita yang sudah mengenalnya sejak kecil.
Ariana segera menekan tombol panggil.
Beberapa saat kemudian...
Panggilan tersambung.
"Halo?"
Suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang.
"Ariana?"
Ariana langsung menangis.
"Bibi Claire..."
Claire langsung terkejut.
"Ariana?"
"Ada apa?"
Ariana terisak.
"Bibi..."
"Aku..."
"...membuat Lucas marah."
Claire mengernyit.
"Apa yang terjadi?"
Ariana tidak berani menceritakan semuanya.
Ia hanya berkata,
"Ada kesalahpahaman di kantor."
"Lucas menyuruhku datang ke mansion malam ini."
"Aku takut."
Claire mengenal putranya dengan sangat baik.
Kalau Lucas sampai memanggil seseorang ke mansion pada malam hari...
Berarti masalahnya bukan hal kecil.
Claire bertanya pelan,
"Kau melakukan apa, Ariana?"
Ariana terdiam.
Keheningan itu justru membuat Claire semakin curiga.
"Ariana."
"Jawab Bibi."
Dengan suara gemetar Ariana akhirnya berkata,
"Aku..."
"...meninggalkan wanita yang dibawa Lucas."
Claire langsung terdiam.
"Sendirian."
"Di gudang."
Beberapa detik...
Tak ada suara dari seberang.
Claire yang biasanya lembut kini berbicara dengan nada jauh lebih serius.
"Ariana."
"Jangan bilang..."
"...kau sengaja melakukannya."
Air mata Ariana kembali jatuh.
"Aku hanya..."
"...cemburu."
Claire memejamkan mata.
Ia menarik napas panjang.
"Ariana..."
"Kau tahu karakter Lucas."
"Iya..."
"Kalau benar wanita itu hampir celaka karena tindakanmu..."
"Bibi tidak yakin bisa meredakan amarahnya."
Ariana menangis semakin keras.
"Tolong aku..."
"Bibi..."
"Tolong bicara pada Lucas."
Claire terdiam cukup lama.
Kemudian menjawab pelan,
"Bibi akan datang ke mansion."
"Tapi..."
"Satu hal harus kau ingat."
"Apa?"
Claire berkata dengan tegas,
"Kalau kau memang bersalah..."
"Jangan berharap Bibi membelamu."
"Yang bisa Bibi lakukan hanya memastikan Lucas tetap tenang."
"Bukan menghapus kesalahanmu."
Panggilan berakhir.
Ariana menurunkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar.
Di luar rumahnya...