Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin yang Sepi
Malam yang seharusnya menjadi puncak paling manis dalam hidup Kirana terasa runtuh menjadi puing-puing hampa.
Jam dinding kayu berukir klasik di atas perapian berdetik konstan, setiap bunyinya seperti jarum halus yang menusuk keheningan kamar utama yang megah itu. Jarum panjang baru saja melewati angka 12, menandakan hari telah berganti dini hari. Di tengah ruangan berukuran belasan meter persegi itu, Kirana duduk sendirian di tepi ranjang berukuran king-size.
Ranjang itu telah dihias sedemikian rupa—sprei sutra putih, tumpukan bantal empuk, dan taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk pola hati di bagian tengah. Bunga-bunga itu memancarkan aroma wangi yang lembut, namun bagi Kirana, wewangian itu justru terasa menyesakkan.
Ia masih mengenakan gaun pengantinnya. Gaun berwarna putih tulang rancangan desainer ternama, lengkap dengan sulaman renda rumit dan ribuan payet kristal yang berkilauan ditimpa cahaya lampu gantung kristal di langit-langit. Gaun itu indah, sangat indah, tetapi juga sangat berat. Bobot kain lapis demi lapis itu kini menekan pundaknya, seolah menegaskan betapa beratnya beban yang harus ia tanggung mulai malam ini.
Jari-jemari Kirana yang lentik dan terhias cat kuku merah muda meremas kain renda di bagian pangkuannya. Riasan wajahnya masih utuh—pipi bertabur blush-on lembut, bibir yang dipoles lipstik warna merah muda alami, dan mahkota tiara kecil yang masih tersemat anggun di atas sanggul rambutnya. Dari luar, ia tampak seperti putri raja yang siap menyambut pangerannya. Namun di dalam batinnya, Kirana hanyalah seorang gadis muda yang ketakutan, bingung, dan sangat kesepian.
Perjodohan ini terjadi begitu cepat. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan sejak keputusan keluarga besar diambil, Kirana—anak gadis yang terbiasa dimanjakan dan dilingkupi kasih sayang hangat—tiba-tiba dilemparkan ke dalam kehidupan Arka Pratama. Pria itu adalah putra tunggal dari mitra bisnis almarhum ayahnya, seorang CEO muda berusia tiga puluh tahun yang dikenal dingin, tidak tersentuh, dan berotak dingin dalam mengendalikan konglomerasi usahanya.
Bagi Kirana yang polos, Arka adalah sosok pria idaman. Ketampanan Arka yang tajam dengan garis rahang tegas, postur tubuh tinggi tegap, serta aura kepemimpinan yang kuat berhasil mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka di acara makan malam keluarga. Kirana membayangkan, meskipun pernikahan ini berawal dari kesepakatan keluarga, ia bisa meluluhkan hati Arka. Ia percaya bahwa keramahan, perhatian, dan rasa cintanya yang tulus kelak akan dibalas dengan kehangatan yang sama.
Namun, harapan itu mulai retak sejak prosesi ijab kabul pagi tadi.
Sepanjang resepsi pernikahan yang digelar mewah di ballroom hotel bintang lima, Arka hampir tidak pernah menatap matanya. Pria itu menyalami ribuan tamu undangan dengan senyum formal yang sangat tipis dan terstruktur—senyum yang jelas-jelas hanya dipasang demi menjaga citra di depan para media dan rekan bisnis. Tidak ada genggaman tangan yang hangat, tidak ada bisikan lembut saat berdiri bersisian, bahkan tidak ada satu pun lirikan penuh perhatian saat Kirana mengeluh kesakitan karena sepatu hak tingginya menekan kakinya sepanjang hari.
Dan kini, di kamar pengantin mereka yang berlokasi di lantai dua rumah mewah milik Arka, kebenaran itu terpampang makin nyata.
Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari luar lorong. Kirana refleks menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan ketukan panik sekaligus cemas. Ia dengan cepat mengusap peluh halus di dahi dan merapikan tatanan gaunnya yang sedikit terlipat.
Pintu kamar berukir tebal itu terdorong terbuka.
Arka melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas pengantin mewahnya, hanya menyisakan kemeja putih polos yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. Dasi hitamnya tergantung longgar di sekeliling kerah, dan lengan kemejanya disingkap hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan mahal serta lengan bawahnya yang kokoh.
Wajah Arka tampak sangat lelah, tetapi lelah yang terpancar bukan sekadar kelelahan fisik setelah pesta seharian. Itu adalah kelelahan emosional—ekspresi seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas berat yang tidak disenanginya.
Untuk beberapa detik, Kirana menahan napas. Ia menatap suaminya dengan binar harapan yang tersisa di matanya. Kirana mencoba mengingat semua nasihat ibunya sebelum berangkat ke rumah ini: “Jadilah istri yang lembut, Nak. Sambut suamimu dengan senyuman, cairkan hatinya yang keras dengan kasih sayangmu.”
Mengikuti bisikan hatinya, Kirana memberanikan diri berdiri dari tepi ranjang. Langkahnya agak tertahan karena beratnya gaun pengantin serta rasa pegal di kakinya, tetapi ia tetap memaksakan diri mendekat. Kirana mengukir senyum manis—senyum terbaik yang bisa ia berikan, meski senyum itu sedikit bergetar karena rasa gugup yang amat sangat.
"Mas Arka..." bisik Kirana halus. Suaranya terdengar manis, dengan nada manja alami yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan orang-orang tercintanya. "Akhirnya selesai juga ya acaranya. Kamu... pasti capek banget. Mau aku ambilkan air minum? Atau mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"
Kirana mengulurkan tangannya ragu-ragu, berniat membantu Arka melonggarkan dasinya lebih lanjut, sebuah gestur sederhana yang ia bayangkan sering dilakukan seorang istri.
Namun, belum sempat jemari Kirana menyentuh kain dasi itu, Arka mundur satu langkah secara mendadak.
Gerakan Arka begitu cepat dan tegas, seolah tangan Kirana adalah sesuatu yang akan menular atau mengotorinya. Tangannya melayang di udara beberapa saat sebelum akhirnya Kirana menariknya kembali dengan canggung, meremas jarinya sendiri di depan dada.
Arka tidak memandang wajah Kirana. Pandangannya menembus melewatinya, menatap lurus ke arah lemari pakaian besar berkayu jati di balik tubuh Kirana. Pria itu berjalan melangkahi Kirana begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia membuka pintu lemari, mengambil sebuah bantal tambahan, selimut tebal bertumpuk, serta tas kerja kulitnya yang terletak di meja samping.
Sikap dingin itu begitu mutlak. Arka berprilaku seolah-olah Kirana tidak lebih dari sebuah patung pajangan di sudut ruangan—sebuah benda mati yang kebetulan diletakkan di sana dan bisa diabaikan kapan saja.
"Mas?" Kirana membalikkan badannya cepat. Kain gaunnya terseret keras di atas karpet tebal, menimbulkan suara gesekan yang memecah kesunyian. Matanya membelalak, memandang tumpukan Bantal dan selimut di pelukan suaminya. "Kamu... kamu mau ke mana, Mas? Kenapa bawa bantal sama selimut?"
Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar. Ia memegang gagang pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan selimut dan bantal. Pria itu tidak menoleh sedikit pun untuk menatap Kirana.
"Saya tidur di ruang kerja," ujar Arka.
Suaranya datar, tanpa nada, tanpa nada kebencian yang meledak-ledak, tetapi justru karena kedatarannya itulah suara Arka terasa sepuluh kali lebih menusuk. Ringan, dingin, dan benar-benar hampa dari perasaan.
Dada Kirana berdenyut nyeri. Ia melangkah maju dua ketuk, mengabaikan rasa perih di ujung jari kakinya. "Tidur di ruang kerja? Tapi... tapi ini kan malam pertama kita, Mas? Tadi Mama sama Ibu bilang, kita—"
"Kirana," potong Arka tegas.
Kali ini, Arka akhirnya memutar kepalanya sedikit. Tatapannya menatap Kirana dari samping. Matanya yang tajam dan tajam memancarkan kilatan ketidaksabaran yang dingin. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di dalam netra hitam itu.
"Pernikahan ini terjadi karena keinginan orang tua kita," ucap Arka kata demi kata, jelas dan penuh penekanan yang tidak bisa diganggu gugat. "Bukan keinginan saya. Saya menyetujuinya hanya untuk menyelesaikan kewajiban saya kepada keluarga, begitu juga kamu. Jadi jangan pernah berharap lebih dari itu."
Kirana merasa seolah-olah pasokan udara di dalam kamar itu mendadak disedot keluar. Paru-parunya menegang. "Tapi Mas... kita sudah sah jadi suami istri. Apa salahnya kalau kita mencoba? Aku bisa belajar jadi istri yang baik buat kamu. Aku..."
"Saya tidak butuh anak manja yang hanya tahu bermain rumah-rumahan," potong Arka lagi, suaranya kini meninggi setengah nada, dipenuhi rasa muak yang tak lagi ditutup-tutupi. Tatapannya menyapu gaun pengantin Kirana yang terlalu mewah, riasan wajahnya, dan ekspresi memelas di wajah gadis itu. Bagi Arka, Kirana tidak lebih dari seorang gadis manja kaya raya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia nyata—seorang beban yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya yang tertata rapi.
"Di atas meja kerja di bawah, ada amplop cokelat berisi dokumen aturan rumah tangga kita," lanjut Arka tanpa empati. "Baca besok pagi. Dan ingat baik-baik aturan paling mendasar dalam rumah ini: jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya, jangan mencampuri pekerjaan saya, dan jangan pernah mengganggu saya saat saya sedang bekerja."
"Mas Arka, tolong... jangan seperti ini..." suara Kirana mulai pecah. Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangannya membayang. "Malam ini saja... setidaknya bicara sama aku..."
"Jangan cengeng, Kirana. Saya tidak punya waktu untuk melayani rengekan kamu," jawab Arka dingin.
Tanpa menunggu balasan lagi, Arka melangkah keluar dari kamar.
Brak!
Pintu kayu yang tebal itu ditutup dari luar. Suara benturan pintu itu bergema hebat di dalam kamar yang luas, disusul suara cetrekan kunci yang mengunci rapat rapat dari luar, atau mungkin sekadar ketukan langkah Arka yang kian menjauh menyusuri lorong menuju ruang kerjanya di ujung rumah.
Hening kembali merayap. Namun kali ini, keheningan itu terasa begitu menghancurkan.
Lutut Kirana mendadak tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Gadis itu meluruh, jatuh terduduk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin mereka. Gaun mewahnya yang mekarnya kini terhampar acak di lantai, menutupi sebagian besar karpet, membungkus tubuhnya yang gemetar hebat.
"Mas Arka..." bisiknya lemah di tengah kegelapan yang seolah membelitnya.
Tangannya naik menutup wajahnya sendiri. Tangisan yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah dalam keheningan malam. Kirana terisak-isak, bahunya naik turun menahan guncangan emosi yang teramat sangat. Air matanya mengalir deras, membasahi jemarinya dan merusak riasan bedak serta eyeliner yang dipasang memikat sejak pagi tadi.
Ia memandangi ranjang pengantin di depannya. Kelopak-kelopak mawar merah yang tersusun rapi itu kini terasa seperti sebuah ejekan tajam atas kepolosannya. Ia membayangkan betapa bahagianya sepupu-sepupunya yang menikah, membayangkan kehangatan malam pertama yang selalu diceritakan dalam buku-buku roman atau nasihat keluarga. Namun yang ia dapatkan hanyalah dinginnya penolakan dan pandangan muak dari pria yang statusnya kini adalah suaminya.
Kenapa? Apa salahnya? Apakah hanya karena ia bertingkah manja? Apakah karena ia sangat menyukai pria itu dan berusaha bersikap hangat?
Di dalam kamar yang luas, dingin, dan asing itu, Kirana menangis dalam diam sampai napasnya tersedak-sedak. Jam dinding terus berdetik, mengiringi derai air mata sang nona manja yang baru saja menyadari bahwa pernikahan impiannya telah berubah menjadi penjara emas yang tak bertepi. Dan di sanalah, di atas karpet dingin berbalut gaun pengantin yang tak sempat dilepasnya, Kirana menghabiskan malam pertamanya seorang diri.