NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

 

Bab 19: Badai yang Menguji Cinta

Ketenangan yang mulai terjalin di rumah kecil mereka kembali diuji oleh takdir yang tak terduga. Seolah belum cukup dengan tuduhan fitnah yang sempat menyakitkan hati, cobaan lain datang menghampiri dengan cara yang jauh lebih berat dan menggetarkan hati.

Pagi itu, langit tampak begitu cerah tanpa setitik awan pun. Sinar matahari masuk menyinari ruangan dengan kehangatan yang menenangkan. Dika baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi yang bergizi, lalu duduk di samping tempat tidur sambil tersenyum lembut pada istrinya.

"Hari ini udara terasa sangat segar ya, Sayang," ucap Dika pelan sambil mengusap lembut punggung tangan Raina. "Mungkin nanti sore, jika kau merasa kuat, kita bisa duduk sebentar di beranda melihat matahari terbenam."

Raina tersenyum lemah, mengangguk pelan. "Aku juga ingin sekali, Dik. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan luar secara langsung."

Namun takdir berkata lain. Tak lama kemudian, Raina tiba-tiba memegang perutnya dengan erat. Wajahnya yang tadinya tampak segar seketika berubah menjadi pucat pasi. Keringat dingin mulai mengucur deras dari keningnya, napasnya terengah-engah seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa hebat.

"Dik..." panggilnya dengan suara bergetar penuh ketakutan. "Perutku... rasanya sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam sana."

Melihat kondisi istrinya yang mendadak berubah drastis, jantung Dika seakan berhenti berdetak sesaat. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyergap seluruh tubuhnya. Namun ia segera menguatkan diri. Ia tidak boleh panik di saat seperti ini.

"Tenanglah, Sayang. Aku di sini," ucap Dika sekuat tenaga meski suaranya jelas bergetar menahan cemas. "Kita segera ke rumah sakit. Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dika segera membungkus tubuh Raina dengan selimut tebal, lalu menggendongnya dengan sangat hati-hati seolah wanita itu adalah benda paling rapuh di dunia ini. Langkah kakinya cepat namun tetap berhati-hati, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang tampak meringis kesakitan.

Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidup Dika. Ia menyetir secepat mungkin namun tetap menjaga kestabilan mobil agar tidak mengguncang tubuh Raina. Sesekali ia menoleh ke kursi penumpang, menggenggam tangan istrinya yang dingin dan berkeringat.

"Bertahanlah, Sayang. Kita sudah hampir sampai," bisik Dika berulang-ulang, lebih kepada dirinya sendiri untuk menenangkan rasa takut yang meluap-luap.

Sesampainya di rumah sakit, suasana menjadi sangat sibuk. Dokter dan perawat segera membawa Raina ke ruang perawatan intensif. Dika duduk menunggu di luar ruangan dengan gelisah, mondar-mandir tak tenang di lorong rumah sakit yang sepi. Keringat dingin juga membasahi keningnya, pikirannya dipenuhi dengan berbagai ketakutan terburuk.

Berjam-jam berlalu terasa seperti berabad-abad lamanya. Akhirnya, dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang tampak serius namun tidak sepenuhnya putus asa. Dika segera menghampiri dengan langkah tergesa-gesa.

"Dok! Bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanyanya dengan napas terengah-engah.

Dokter menghela napas panjang, menatap Dika dengan pandangan penuh pengertian.

"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, Pak. Saat ini kondisi istri Anda sudah mulai stabil, namun kami harus jujur kepada Anda. Kandungannya sangat lemah sekali. Jika ia terlalu banyak bergerak, lelah, atau mengalami guncangan emosi sedikit saja, risiko keguguran sangat besar."

Dokter berhenti sejenak, melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih serius.

"Kami sangat menyarankan agar istri Anda menjalani istirahat total di rumah sakit selama beberapa hari ke depan untuk pemantauan ketat. Setelah itu, ia harus benar-benar berbaring di tempat tidur tanpa boleh melakukan aktivitas apa pun sampai masa kandungannya cukup kuat, setidaknya memasuki usia tujuh bulan."

Mendengar penjelasan itu, kaki Dika terasa lemas seketika. Ia bersandar ke dinding lorong rumah sakit, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Apakah karena ia kurang teliti menjaganya? Apakah ada hal yang terlewatkan?

Namun seketika bayangan wajah Raina yang selalu tersenyum padanya muncul di benak. Dika mengangkat wajahnya kembali, matanya kini tampak teguh dan penuh tekad.

"Baik, Dok," ucap Dika dengan suara mantap. "Saya akan melakukan apa saja yang diperlukan. Saya akan menjaganya sebaik mungkin, tidak peduli seberapa berat pun hal itu harus saya lakukan."

Masuk ke dalam ruangan perawatan, Dika melihat Raina berbaring lemah di atas tempat tidur, tubuhnya dipasangi banyak selang dan alat bantu. Saat melihat suaminya, mata Raina langsung berkaca-kaca.

"Maafkan aku ya, Dik..." ucapnya pelan dengan suara yang sangat lemah. "Aku jadi merepotkanmu lagi."

Dika segera mendekat, duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam erat tangan istrinya. Ia mencium punggung tangan itu berkali-kali dengan penuh rasa sayang dan syukur karena istrinya masih selamat.

"Jangan pernah bicara begitu, Sayang," bisik Dika dengan suara serak karena menahan haru. "Kau tidak pernah merepotkanku. Merawatmu adalah kebahagiaanku. Aku akan melakukan apa saja demi melihatmu dan anak kita sehat dan selamat."

Sejak hari itu, Dika benar-benar mengubah seluruh pola hidupnya demi Raina. Ia meminta izin cuti panjang dari pekerjaannya, memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas lain selain merawat istrinya sepenuhnya.

Hari-hari di rumah sakit berlalu dengan penuh kesabaran. Dika selalu ada di samping tempat tidur Raina setiap saat. Ia yang menyuapi makan, memandikan, mengganti pakaian, hingga membacakan buku atau bercerita hal-hal indah agar Raina tidak merasa bosan atau sedih.

Banyak orang yang melihat hal itu mengagumi ketulusan hati Dika. Bahkan para perawat yang biasanya sudah terbiasa melihat berbagai macam pasangan, seringkali terharu melihat betapa lembut dan telitinya pria itu merawat istrinya tanpa pernah sekalipun mengeluh atau terlihat lelah.

"Kau suami yang sangat luar biasa, Pak," ucap salah satu perawat suatu sore saat membantu merawat Raina. "Jarang sekali ada pria yang mau melakukan hal sebanyak ini dengan sukarela seperti yang Bapak lakukan."

Dika hanya tersenyum tipis sambil menatap wajah istrinya yang sedang terlelap.

"Bagiku, melakukan ini adalah kewajiban sekaligus kebahagiaanku," jawabnya pelan. "Raina telah memberikan makna baru dalam hidupku. Tidak ada hal yang terlalu berat jika dilakukan demi orang yang kita cintai."

Setelah beberapa hari pemantauan, dokter mengizinkan Raina pulang dengan syarat ketat untuk istirahat mutlak di rumah. Sesampainya di rumah, Dika membuat suasana kamar menjadi senyaman mungkin. Ia menaruh bunga-bunga segar di sudut ruangan, memastikan udara selalu bersih, dan menyiapkan segala kebutuhan Raina dalam jangkauan tangan istrinya.

Kadang kala, rasa sakit di perut Raina datang kembali secara tiba-tiba. Setiap kali itu terjadi, Dika akan merasa sangat cemas namun ia selalu berusaha tampil tenang di hadapan istrinya. Ia akan memijat lembut kaki dan punggung Raina, membawakan minuman hangat, dan terus membisikkan kata-kata penyemangat sampai rasa sakit itu perlahan hilang.

Suatu malam, saat hujan turun deras membasahi bumi, Raina terbangun dan melihat Dika sedang tertidur bersandar di tepi tempat tidur dengan tangannya masih menggenggam erat tangannya. Wajah pria itu tampak sedikit pucat dan lelah, namun di sudut bibirnya terukir senyum tenang seolah sedang memimpikan sesuatu yang indah.

Air mata mengalir perlahan membasahi pipi Raina. Ia sadar betapa besarnya pengorbanan yang dilakukan suaminya demi dirinya dan buah hati mereka. Dika telah melepaskan kenyamanan, waktu, dan tenaganya hanya untuk memastikan keselamatan mereka berdua.

"Dik..." panggil Raina pelan dengan suara bergetar.

Dika langsung terbangun, matanya segera mencari wajah istrinya dengan panik.

"Kau kenapa, Sayang? Apakah sakit lagi?" tanyanya cemas.

Raina menggeleng pelan, tersenyum penuh kasih sayang. "Tidak, aku hanya ingin melihatmu. Terima kasih, Dik. Terima kasih sudah mencintaiku sebegitu besarnya."

Mendengar itu, Dika tersenyum lega lalu mencium kening istrinya dengan penuh perasaan.

"Terima kasih juga telah datang ke dalam hidupku, Raina. Bertahanlah ya, Sayang. Kita akan segera bertemu dengan anak kita nanti."

Badai yang datang menguji pernikahan mereka ternyata tidak mampu merenggangkan ikatan hati mereka. Justru semakin berat cobaan yang datang, semakin dalam dan kuat rasa cinta yang tumbuh di antara Dika dan Raina. Mereka sadar, selama mereka saling memegang tangan dan berjuang bersama, tidak ada badai yang mampu menghancurkan kebahagiaan yang mereka bangun dengan penuh kasih sayang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!