NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Siska mendorong pintu kaca tebal ruangan kerja utama dengan gerakan pelan dan hati-hati.

​Deni melangkah masuk mengikutinya dari belakang sambil memegang kantong plastik berisi martabak manis.

​Ruangan kerja itu sangat luas dengan dekorasi modern yang didominasi warna abu-abu gelap dan kaca.

​Di balik meja kerja marmer yang besar, Clara terlihat sedang fokus menatap layar laptopnya.

​"Nona Clara, Deni sudah datang," lapor Siska sambil berdiri di dekat pintu.

​Clara mengangkat kepalanya perlahan lalu merapikan beberapa dokumen kertas di mejanya.

​Matanya langsung menatap ke arah Deni yang berdiri santai sambil tersenyum lebar.

​"Kamu terlambat sepuluh menit dari waktu yang saya tentukan, Deni," tegur Clara dengan suara datar.

​Deni tidak merasa bersalah sama sekali dan malah mengangkat kantong plastiknya sedikit ke atas.

​"Maaf Nona, tadi saya mampir dulu beli oleh-oleh buat merayakan hari pertama saya kerja," jawab Deni polos.

​Clara mengerutkan keningnya karena merasa bingung melihat kantong plastik putih berlogo kedai makanan itu.

​"Oleh-oleh apa yang kamu bawa itu?" tanya Clara sambil menyilangkan tangannya di dada.

​"Martabak manis spesial keju cokelat yang paling enak di dekat perempatan jalan," seru Deni bersemangat.

​"Saya jamin Nona belum pernah makan martabak seenak ini seumur hidup Nona."

​Siska yang berdiri di samping Clara langsung berusaha menahan senyumnya agar tidak tertawa.

​Clara memperhatikan kantong plastik itu seolah benda tersebut adalah barang yang cukup berbahaya.

​"Deni, saya tidak pernah makan makanan pinggir jalan yang tidak jelas kebersihannya," tolak Clara dengan tegas.

​"Pola makan saya diatur sangat ketat oleh ahli gizi pribadi setiap harinya."

​Deni menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar alasan dari bos barunya itu.

​"Hidup cuma sekali Nona, kalau tidak pernah mencoba martabak manis nanti rugi," bujuk Deni santai.

​"Coba saja dulu satu potong, kalau tidak enak boleh potong gaji saya bulan ini."

​Clara terdiam sejenak melihat wajah Deni yang tampak sangat yakin dengan omongannya.

​Dia akhirnya menyerah lalu beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa di sudut ruangan.

​"Baiklah, taruh di meja, saya akan coba sedikit saja untuk menghargai usahamu," kata Clara.

​Deni dengan cepat membuka kotak kardus martabak itu hingga aromanya langsung memenuhi ruangan.

​Aroma mentega cair dan lelehan cokelat keju membuat tampilannya terlihat sangat menggoda.

​Clara mengambil sepotong kecil menggunakan garpu perak yang diambilkan oleh Siska dari lemari kecil.

​Dia memasukkan potongan martabak manis itu ke dalam mulutnya secara perlahan-lahan.

​Deni dan Siska terus memperhatikan ekspresi wajah Clara dengan rasa penasaran.

​Kriuk!

​Suara pinggiran martabak yang renyah terdengar saat Clara mengunyah gigitan pertamanya.

​Mata Clara yang tadinya terlihat dingin tiba-tiba sedikit terbuka lebar karena merasakan rasa gurih dan manisnya.

​"Bagaimana Nona? Enak sekali kan?" tanya Deni dengan penuh percaya diri.

​Clara menelan makanan itu lalu meminum sedikit air putih dari gelas kaca di depannya.

​"Hmm... rasanya lumayan juga," jawab Clara mencoba bersikap biasa saja walau menyukainya.

​"Tapi kandungan gulanya terlalu banyak dan kurang baik untuk kesehatan," lanjut Clara cepat.

​"Kalau sangat sehat namanya bukan makanan enak Nona, tapi sayur bayam," balas Deni sambil tertawa.

​Siska yang melihat bosnya mau memakan martabak itu langsung ikut mengambil satu potong dengan garpu lain.

​"Wah, ini beneran enak banget Deni! Teksturnya empuk dan manisnya pas," puji Siska gembira.

​"Nah kan, saya bilang juga apa, martabak itu tidak pernah salah," sahut Deni bangga.

​"Ngomong-ngomong Nona Clara, tadi pas jalan ke sini ada kejadian yang lumayan aneh lho."

​Clara yang baru saja mau mengusap bibirnya dengan tisu mendadak menghentikan tangannya.

​"Kejadian aneh apa yang kamu maksud Deni?" tanya Clara dengan raut wajah serius.

​"Tadi di jalan sepi dekat pabrik tua, ada delapan orang bertubuh besar menghadang saya," cerita Deni santai.

​"Mereka membawa pipa besi dan tongkat bisbol sambil teriak-teriak tidak jelas."

​Siska yang sedang mengunyah martabaknya langsung tersedak dan menatap Deni dengan cemas.

​"Uhuk! Kamu dicegat preman di jalan? Terus kamu tidak apa-apa kan Deni?" tanya Siska panik.

​"Saya tidak apa-apa kok Siska, cuma jaket saya terkena sedikit debu," jawab Deni menepuk bajunya.

​"Terus orang-orang yang menghadangmu itu sekarang ada di mana?" tanya Clara menyela.

​"Mereka sudah menangis di atas aspal karena pipa besinya tidak sengaja saya bengkokkan," jawab Deni nyengir.

​Clara menggenggam jemarinya sendiri di atas meja sambil menghembuskan nafas panjang.

​Dia sudah menduga siapa orang yang tega mengirim preman untuk menghentikan pengawal barunya ini.

​"Deni, orang-orang itu pasti suruhan dari Direktur Hendra," kata Clara menjelaskan situasi perusahaannya.

​"Dia sengaja ingin mencelakaimu agar aku tidak punya pengawal yang bisa melindungiku."

​Deni mengangguk-angguk pelan seolah baru saja memahami isi cerita tersebut.

​"Oh, jadi paman tua berjas yang kemarin kelihatan sombong itu ya pelakunya?" tanya Deni memastikan.

​"Benar, dia sangat mengincar posisiku di perusahaan ini," jawab Clara tegas.

​"Mulai sekarang kamu harus lebih waspada karena dia pasti akan menggunakan cara yang lebih licik."

​Deni tersenyum santai sambil merenggangkan kedua tangannya ke belakang.

​"Tenang saja Nona Clara, selama ada saya, orang tua itu tidak akan bisa menyentuh Nona," janji Deni.

​Clara menatap mata Deni dan merasakan ketenangan yang aneh di dalam hatinya.

​Meskipun Deni hanya memakai jaket oranye kurir, tapi pemuda ini terasa sangat bisa diandalkan.

​"Baiklah, karena kamu sudah resmi bekerja padaku, ini ada fasilitas untukmu," ucap Clara.

​Clara berjalan kembali ke meja kerjanya dan mengambil sebuah kotak ponsel baru berlogo mahal.

​Dia juga mengambil sebuah kartu tipis berwarna emas yang ada di dalam laci mejanya.

​"Ini ponsel baru untuk menggantikan ponsel milikmu yang layarnya retak parah itu," kata Clara.

​"Dan kartu emas ini adalah kartu akses untuk masuk ke semua area gedung ini tanpa diperiksa."

​Deni menerima kotak ponsel dan kartu emas itu dengan mata yang berbinar-binar gembira.

​"Wah, terima kasih banyak Nona Clara! Ini ponsel yang gambarnya apel digigit kan?" seru Deni girang.

​"Iya, gunakan ponsel itu dengan baik untuk koordinasi pekerjaan kita," balas Clara mengingatkan.

​Tring!

​Belum sempat Deni membuka kotak ponsel itu, ponsel barunya yang sudah dinyalakan Siska tiba-tiba berdering.

​Deni melihat layar ponsel mahal itu dan melihat nomor tidak dikenal yang menelponnya.

​"Halo, ini dengan Deni di sini, ada yang bisa dibantu?" tanya Deni menempelkan ponsel di telinga.

​"Halo Mas Deni! Ini saya, Rina pemilik restoran yang kemarin," jawab suara wanita di seberang sana.

​Clara yang mendengar suara wanita dari speaker ponsel Deni langsung melirik dengan tatapan tajam.

​"Oh Nona Rina! Ada apa menelpon saya malam-malam begini?" tanya Deni ramah.

​"Begini Mas Deni, nanti malam restoran saya mau tutup agak larut karena ada pesanan banyak," jelas Rina ragu.

​"Saya takut preman yang kemarin datang lagi untuk mengganggu, bisa Mas Deni temani saya sebentar?"

​Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melirik ke arah Clara.

​"Duh gimana ya Nona Rina, saya sekarang lagi ada di kantor bos saya nih," jawab Deni agak ragu.

​Clara melihat keraguan Deni dan memberikan isyarat tangan agar Deni menerima permintaan tersebut.

​"Pergi saja bantulah dia, kamu kan butuh mengumpulkan ulasan dari orang lain juga," bisik Clara pelan.

​Deni mengangguk mengerti lalu kembali berbicara ke ponselnya.

​"Baiklah Nona Rina, nanti setelah urusan di sini selesai saya akan datang ke restoranmu," janji Deni.

​"Terima kasih banyak ya Mas Deni! Saya tunggu kedatangannya," jawab Rina senang sebelum mematikan telepon.

​Deni memasukkan ponsel barunya ke dalam saku jaket dengan perasaan lega.

​Clara menyandarkan punggungnya di kursi kerja sambil menatap Deni dengan pandangan selidik.

​"Siapa Rina itu Deni? Kenapa dia menelponmu sambil minta ditemani segala?" tanya Clara dingin.

​Deni tertawa kecil mendengar nada suara bosnya yang terasa sedikit berbeda dari biasanya.

​"Dia pemilik restoran yang kemarin saya bantu dari penipuan kecoa mati itu Nona," terang Deni jujur.

​"Oh, wanita pemilik restoran yang pernah kamu ceritakan itu," gumam Clara meredakan amarahnya.

​"Ya sudah, sana pergi bantu dia sebelum restorannya kemasukan preman lagi."

​Deni memberi hormat dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada khas pendekar.

​"Siap Nona Clara, saya permisi dulu kalau begitu!" pamit Deni bersemangat.

​Deni berbalik dan berjalan keluar dari ruangan kerja CEO dengan langkah yang sangat ringan.

​Siska berjalan menyusul di samping Deni menuju ke area lift VIP.

​"Deni, kamu hebat ya bisa bikin Nona Clara mau makan martabak dan kelihatan cemburu begitu," bisik Siska.

​"Cemburu bagaimana Siska? Nona Clara cuma bertanya biasa saja kok," balas Deni polos.

​Siska hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketidakpekaan kurir di sebelahnya ini.

​Pintu lift VIP terbuka dan Deni melangkah masuk sambil melambaikan tangan ke arah Siska.

​Hari pertama Deni bekerja di ibukota berjalan sangat penuh warna dan malam ini petualangan barunya di restoran Rina sudah menunggunya.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!