Anjani, seorang aktris multitalenta yang terpaksa menerima pinangan kakak angkatnya atas perjodohan yang diatur orang tua. Sekian tahun menikah, tak ada sentuhan apapun yang terjadi. Pria bernama Mahaka Wiratama itu sibuk dengan wanita yang ia cintai.
Di tahun ke 5 pernikahan, Anjani nekat kabur dan hidup sendiri. Semua itu berkat bantuan Devan, sahabat Mahaka, tetapi masalah baru justru hadir dalam hidupnya.
Hampir setiap malam ia merasakan kehangatan seorang pria dalam tidurnya. Ia bahkan harus kehilangan mahkotanya, tapi Anjani tak pernah tahu siapa yang melakukannya.
Semuanya semakin rumit saat dirinya dinyatakan hamil dan vidio asusilanya dengan seorang pria misterius tersebar di jagad maya. Hidup Anjani hancur dalam sekejap, lalu apa yang akan ia lakukan demi bisa memperoleh harga dirinya kembali.
Follow Instagram El khiyori
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tak ingin terlarut dengan Mahaka dan Mahaka, Anjani memilih mengajak putranya yang kini berusia tiga tahun untuk jalan-jalan di luar.
"Jullyan ikut Mommy yuk jalan-jalan di luar," ajak Anjani dengan wajah riang.
"Mau kemana Mommy?"
"Ada taman indah di luar, dari sana lautnya kelihatan. Yuk kita ke sana yuk .... "
"Apa nanti di sana ada yogurt?" tanya Jullyan polos membuat sang ibu menatapnya lalu berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.
"Jullyan mau minum yogurt ya?" tanya Anjani sambil menyentuh rambut depan putranya yang bergerak-gerak karena tertiup angin dari jendela yang terbuka.
"Iya Mommy, Jullyan mau yogurt."
"Iya Sayang, Mommy akan pesankan. Sini Mommy pakaikan dulu sepatunya."
Mendengar itu Jullyan nampak riang. Apalagi saat mereka mulai keluar dari ruangan dan menghirup udara sore yang bertiup lembut. Melihat alam terbuka membuat Jullyan lupa pada permintaannya. Anak itu langsung berlari ke sana kemari, membuat Anjani sedikit kewalahan karena putranya memang tipe anak yang sangat aktif.
"Jullyan, yuk duduk dulu yuk, main ayunan sambil lihat laut dari sana!!" seru Anjani masih sambil berlarian mengikuti putranya karena ia takut Jullyan lari terlalu jauh dan mendekati sesuatu yang berbahaya. Benar saja, karena terus berlari sambil tertawa anak itu tak melihat ada tiang tanjakan di depannya.
"Jullyan awasss!!"
Meski Anjani sudah berteriak, tetap saja ia kalah cepat dengan gerakan sang buah hati. Kini anak itu sudah terjungkal ke depan dan menangis histeris karena kesakitan.
"Ya Tuhan, Mommy kan sudah bilang jangan terus lari-lari. Tidak apa-apa Sayang, sini biar Mommy obati lukanya," ucap Anjani yang langsung merengkuh tubuh Jullyan lalu mengusap-usap lembut kakinya yang terbentur.
Cukup lama Jullyan menangis. Anak itu baru bisa diam saat seorang anak datang padanya. Bibir mungil yang semula mengeluarkan suara nyaring itu langsung terdiam seketika. Tangannya pun buru-buru mengusap kedua matanya yang sembab.
Anjani sendiri baru menyadari kalau ternyata putranya sudah memiliki rasa malu saat berada di depan temannya. Jullyan bahkan sampai buru-buru turun dari gendongannya.
"Kau siapa? Kenapa menatapku begitu?" tanya Jullyan yang membuat sang ibu menahan tawa karena di mata Anjani tiba-tiba putranya tampak seperti orang dewasa.
"Aku Jane, aku sedang bermain di sini bersama Mommy dan Daddy. Aku kemari karena mendengar suara tangisanmu," jawab Marry yang usianya memang lebih dewasa dari Jullyan.
Tak lama seorang pria dan wanita terlihat mendekat. Mereka adalah orangtua Jane. Awalnya suasana cukup hangat karena mereka saling menyapa dengan sopan, sampai saat Jane menanyakan sesuatu yang membuat jantung Anjani seperti berhenti berdetak.
"Kenapa hanya bersama Mommymu, Daddymu kemana?" tanya bocah perempuan itu dengan polosnya, dan jawaban yang keluar dari bibir Jullyan terdengar lebih menyedihkan lagi.
"Aku tidak punya Daddy karena selama ini aku tidak pernah melihat ada Daddy di rumah," jawab Jullyan jujur, dan jawaban itu membuat kedua orangtua Marry saling berpandangan sebelum akhirnya meminta maaf pada Anjani lalu mengajak putri mereka segera pergi dari sana.
Benar dugaan Anjani. Setelah pembicaraan itu, untuk pertama kalinya Jullyan menuntut penjelasan tentang keberadaan seorang ayah dalam hidupnya. Selama ini Anjani memang tak pernah membahas soal itu. Lagipula setelah Jullyan berusia 4 tahun rencananya Anjani akan menyekolahkan putranya dengan metode home schooling. Menurutnya itu lebih aman dan membuat Jullyan tak banyak melihat hal-hal yang tak seharusnya, termasuk tentang keberadaan seorang ayah dalam keluarga.
Lagipula di rumah pun tak ada sosok pria sama sekali. Satu pengasuh dan juga satu pembantu rumah tangga adalah perempuan semua. Dalam hidup seorang Jullyan memang tak pernah ada kehadiran sosok laki-laki, tapi tak disangka rasa keingintahuan anak itu sangatlah besar dan itu sebenarnya adalah hal yang wajar, namun membuat Anjani sangat terpukul.
"Jullyan, tadi Mommy sudah reservasi meja loh. Yuk kita ke sana, yogurt kesukaanmu pasti sudah siap di minum."
Anjani yang belum siap dengan semua pertanyaan dari bibir putranya memilih mengalihkan pembicaraan, tapi ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Disaat mereka sudah duduk berdua dan bersiap menyantap makanan, Jullyan kembali bertanya.
"Mommy ... kenapa di rumah kita tidak ada Daddy?"
Pertanyaan itu terdengar polos dan lucu. Terasa sekali kalau Jullyan belum memahami apa peran seorang Daddy dalam hidupnya.
"Mm ... tapi meskipun tidak ada Daddy dalam rumah kita, Jullyan tetap happy kan?"
"Happy!! tapi kalau ada Daddy kan lebih happy lagi. Kita bisa main bola, bisa olahraga sama-sama, dan _ "
"Stt ... sudah Jullyan, ayo makanannya dimakan, keburu dingin," sela Anjani yang mulai resah dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut sang buah hati.
Ia sungguh belum siap menyebut nama Mahaka di depan anak itu. Menurutnya belum saatnya karena Jullyan masih terlalu kecil untuk bisa memahami semuanya.
Ternyata saat malam mulai merambat sepi, semua kata-kata Jullyan kembali terngiang dalam benaknya, membuat Anjani tak bisa tidur. Ia memilih bangkit perlahan dari tempat tidur dan menuju ke jendela.
Perasaannya campur aduk. Sedih, khawatir, bimbang, semuanya bercampur jadi satu. Sepenuhnya Anjani sadar jika dirinya tak mungkin bisa selamanya menyembunyikan semuanya, tapi membayangkan kembali bertatap muka dengan Mahaka rasanya ia masih belum sanggup.
Cukup lama Anjani terus termenung sebelum akhirnya ketiduran di sofa dan Jullyanlah yang membangunkannya saat pagi datang.
"Mommy ... banguunnn, mataharinya sudah terbit!!" seru Jullyan sambil menciumi wajah Anjani, membuat tangan wanita itu terulur untuk memeluk dan menciumi putra kecilnya dengan gemas.
"Iya Sayang, Mommy bangun. Selamat pagi anak Mommy yang tampan," balas Anjani dengan senyumnya yang hangat. Keduanya lantas beranjak ke kamar mandi sebelum kembali menikmati sarapan di luar kamar sambil menikmati segarnya udara pagi.
"Mommy .... "
"Ya?" sahut Anjani sambil memotong telur di piring putranya.
"Kita pulang saja yuk, Jullyan bosan di sini. Jullyan kangen sama mainan-mainan Jullyan. Mereka juga pasti merasakan hal yang sama, kan kasihan."
Seketika Anjani tertawa lebar, dan ternyata suara tawanya mengundang perhatian seseorang yang kebetulan berada di bagian atas tak jauh dari tempat Anjani berada, hanya saja orang tersebut berdiri di lantai yang berbeda.
Mendengar suara tawa nyaring itu seketika perhatiannya yang semula tertuju ke ponsel langsung teralihkan.
"Tunggu ... apa itu benar Anjani .... " lirihnya hampir tak terdengar setelah ia menajamkan penglihatannya ke arah wanita yang baru saja tertawa di bawah sana.
Senyum haru pun terbit di bibirnya setelah ia memastikan kalau dirinya tak salah lihat, apalagi saat tatapan matanya tertuju pada seorang anak yang duduk berhadapan dengan wanita cantik itu. Tak ingin kehilangan jejak lagi, dengan langkah tergesa dan sedikit gemetar ia pun segera menuju ke tempat Anjani berada. Sayangnya tepat saat tiba di tempat yang dituju, Anjani bersama dengan putranya tak ada lagi di sana karena ternyata mereka harus ke toilet.
Dalam kebingungan dan kepanikan pria itu terus mengedarkan pandangan ke sana kemari sampai akhirnya sorot matanya bersitatap dengan sorot mata orang yang ia cari-cari.
"Anjani .... " panggilnya dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Ini benar kau?" tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
Yuk follow Instagram El khiyori biar bisa lihat visual mereka dan kita bisa berkhayal bareng-bareng. Hhh ....
🤣🤣🤣🤣🤣
*seorang berstatus istri tapi berhubungan dengan pria lain bahkan sampai serius mau menikah padahal dia masih berstatus istri orang
*memberi harapan dan membohongi pria lain
*berbohong pada suami untuk menemui pria lain
*menuduh suami
*istri berhati batu setelah melakukan kesalahan pada suami bukan nya minta maaf malah dia merasa paling benar
baru beberapa episode saja aku baca tapi kelakuan laknat pemeran utama wanita sudah banyak, dan membuat novel miris dan tidak bermoral adalah karena author membela dan membenarkan semua kesalahan pemeran utama wanita
😄😁ahtor nya galak jg😄😄
ngatain pembaca galak, kan yg bikin galak pembaca ahtor nya😄😄 di bikin marah jengkel gemes lucu penasaran
kapok perempuan sombong angku keras,sok percaya diri ,
orang yg terlalu pede,berakhir dgn ,masalah
kalian lagi happy pasti ga nyadar kalau bahaya mengintai siap" salah faham lagi ribut lagi Weh Weh