NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Atas Es

Fajar belum sepenuhnya mengusir kegelapan ketika Zidan dan Viona akhirnya bisa menarik napas lega. Rumah Ardhana kembali hening, meski kini dipenuhi oleh pita polisi kuning yang melilit pagar dan sisa-sisa kekacauan semalam. Para penyusup telah dibawa ke kantor polisi, dan Mbak Surti—dengan air mata yang tak kunjung kering—telah diamankan di ruang tamu untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh pengacara keluarga.

Zidan duduk di tepi sofa, matanya terpejam lelah. Bahunya yang memar terasa semakin nyeri seiring dengan menurunnya adrenalin. Ia merasa berat kepala, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena beban moral dari apa yang baru saja mereka lakukan: menggunakan Mbak Surti sebagai umpan.

Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan halus di lengannya. Ia membuka mata dan melihat Viona berdiri di depannya, membawa secangkir teh hangat dan kotak pertolongan pertama.

"Minum ini dulu," ucap Viona pelan, suaranya serak. Matanya bengkak bekas menangis, namun tatapannya lembut. "Aku sudah bersihkan lukamu sedikit. Nanti kita ke klinik setelah Ayah selesai dengan polisi."

Zidan menerima cangkir itu, jari-jarinya bersentuhan singkat dengan jari Viona. Sentuhan itu mengirimkan arus listrik aneh di dadanya—campuran antara rasa aman dan rasa bersalah yang mendalam.

"Terima kasih, Vion," gumam Zidan. Ia meneguk teh panas itu, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. "Maafkan aku... karena melibatkanmu dalam semua ini. Kau seharusnya tidak perlu mengalami malam seperti ini."

Viona tersenyum sedih, lalu duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun intim. "Kita sudah sepakat, Kak. Ini perang kita berdua. Aku tidak menyesal berada di sini. Yang aku sesali..." Ia terhenti, menatap lantai marmer yang dingin. "...adalah bahwa kita harus berbohong pada orang-orang yang kita percaya. Seperti Mbak Surti."

Zidan menghela napas. "Itu satu-satunya cara. Jika kita memberitahu Surti rencananya, ekspresi wajahnya akan ketahuan. Wijaya punya detektor kebohongan manusia yang sangat tajam. Kita harus membuatnya terlihat benar-benar putus asa dan takut."

"Aku tahu itu logis," kata Viona, suaranya bergetar. "Tapi hati ini sulit diajak kompromi, Kak. Aku merasa kotor. Apakah kita menjadi sama buruknya dengan mereka jika kita memanipulasi orang lemah?"

Pertanyaan itu menghantam Zidan lebih keras daripada pukulan tongkat besi semalam. Ia menoleh, menatap profil Viona yang diterangi cahaya pagi yang mulai masuk melalui jendela. Wanita ini adalah adik iparnya. Secara hukum, secara sosial, dan secara moral, mereka seharusnya menjaga batas. Namun, dalam pusaran krisis ini, batas-batas itu telah kabur. Mereka berbagi trauma, berbagi rahasia, dan berbagi tujuan hidup yang sama.

"Kita tidak melakukan ini karena jahat, Vion," jawab Zidan tegas, meski hatinya juga ragu. "Kita melakukan ini untuk bertahan. Untuk membersihkan nama keluarga kita dari racun yang sudah merasuk terlalu dalam. Kadang-kadang, untuk menyembuhkan penyakit parah, kita perlu operasi yang menyakitkan."

Viona menatap Zidan lekat-lekat. Di mata pria itu, ia melihat kelelahan seorang pemimpin muda yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Tanpa sadar, tangan Viona terulur, menyentuh pipi Zidan yang kasar karena kurang istirahat.

Zidan membeku. Sentuhan itu begitu akrab, begitu penuh makna. Ia ingin membalasnya, ingin menarik Viona ke dalam pelukannya dan melupakan sejenak semua intrik, semua ancaman, dan semua label "kakak ipar" dan "adik ipar" yang membelenggu mereka. Tapi ia tahu, satu langkah salah bisa menghancurkan segalanya. Bukan hanya hubungan mereka, tapi juga strategi pertahanan mereka. Wijaya pasti sedang memantau setiap gerakan mereka, mencari celah skandal asmara untuk mendiskreditkan Zidan.

Dengan berat hati, Zidan menangkap tangan Viona dan menurunkannya perlahan. "Jangan, Vion. Belum saatnya. Mata-mata Wijaya mungkin masih ada di luar sana. Kita tidak bisa memberi mereka amunisi tambahan."

Viona menarik tangannya, wajahnya memerah karena malu dan sakit hati yang tertolak. "Aku mengerti, Kak. Maaf."

Suasana menjadi canggung. Keheningan di antara mereka bukan lagi hening yang nyaman, melainkan hening yang penuh dengan kata-kata yang tak terucap. Cinta mereka memang tumbuh di tempat yang salah—di tengah reruntuhan kepercayaan dan di bawah bayang-bayang dosa masa lalu keluarga.

Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka. Pak Wahyu masuk, diikuti oleh Pengacara Keluarga, Mr. Handoko. Wajah Pak Wahyu tampak tegang.

"Zidan, Viona," panggil Pak Wahyu. "Ada perkembangan baru. Polisi menemukan sesuatu pada ponsel pemimpin penyusup tadi malam. Sebuah rekaman suara."

Zidan dan Viona segera bangkit, lupa sejenak pada ketegangan pribadi mereka. "Rekaman apa, Yah?" tanya Zidan.

Mr. Handoko meletakkan tablet di atas meja. "Rekaman percakapan antara pemimpin penyusup itu dengan atasan langsungnya. Bukan Wijaya. Tapi seseorang yang suaranya sangat familiar bagi kita."

Jari Mr. Handoko menekan tombol play. Suara statis terdengar sebentar, lalu muncul suara pria paruh baya yang tenang dan berwibawa.

"Pastikan flashdisk itu hancur. Jangan tinggalkan jejak. Dan ingat, jika Zidan mencoba konferensi pers besok, bocorkan foto-foto masa lalunya dengan wanita itu. Hancurkan reputasinya sebelum dia sempat bicara."

Darah Zidan membeku. Ia mengenal suara itu. Itu adalah suara Paman Hendra.

"Paman Hendra?" bisik Viona ngeri. "Tapi... dia selalu bersikap netral. Dia bahkan yang menasihati kita untuk berhati-hati minggu lalu!"

Zidan mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih. Rasa dikhianati itu lebih menyakitkan daripada luka fisik manapun. Paman Hendra, saudara kandung ayahnya sendiri, ternyata adalah dalang di balik layar yang bekerja sama dengan Wijaya. "Racun warisan" itu bukan hanya datang dari luar, tapi dari darah daging mereka sendiri.

"Dia menginginkan kursi CEO," desis Zidan, matanya menyala dengan kemarahan dingin. "Dia berpikir jika Ayah dan aku hancur, dialah yang akan mengambil alih Ardhan Group."

Pak Wahyu duduk lesu di kursinya. "Saudaraku sendiri... Dia rela mengorbankan nyawa cucu Surti, rela mengirim preman ke rumah kita, demi kekuasaan?"

"Ini bukan soal kekuasaan lagi, Yah," kata Zidan, suaranya datar namun menakutkan. "Ini soal kelangsungan hidup. Paman Hendra tahu bahwa jika bukti asli keluar, dia juga terseret karena dia yang menutupi kasus Kendal dulu bersama Budi. Dia harus membungkam kita."

Viona memandang Zidan, lalu memandang Pak Wahyu. Ia menyadari bahwa lingkaran setan ini semakin sempit. Musuh mereka bukan lagi sekadar orang luar, tapi keluarga sendiri. Dan di tengah badai pengkhianatan ini, satu-satunya orang yang bisa dipercaya Zidan hanyalah Viona. Dan satu-satunya orang yang bisa dipercaya Viona hanyalah Zidan.

"Malam ini," ucap Zidan, menatap ayah dan pengacaranya. "Kita ubah rencana. Konferensi pers tetap jalan. Tapi kita tidak akan menyerang Wijaya dulu. Kita akan menyerang Paman Hendra. Kita akan ungkapkan peran ganda dia di depan publik. Biarkan dia panik. Biarkan dia membuat kesalahan."

Mr. Handoko menggeleng khawatir. "Itu risiko besar, Mas Zidan. Menyerang anggota keluarga inti bisa dianggap sebagai perang saudara bisnis. Investor akan lari."

"Biarlah mereka lari," jawab Zidan tegas. "Lebih baik perusahaan kecil yang bersih, daripada imperium besar yang dibangun di atas bangkai dan kebohongan. Lagipula..." Ia menoleh sekilas ke arah Viona, tatapan mereka bertemu sebentar, penuh pengertian diam-diam. "...kami punya alasan kuat untuk membersihkan rumah ini dari dalam."

Viona merasakan getaran di dadanya. Kata-kata Zidan bukan hanya tentang bisnis. Itu adalah janji. Janji untuk melindungi kebenaran, dan secara implisit, melindungi hubungan mereka yang terlarang namun tak terbendung.

Di luar, matahari telah naik sepenuhnya, menerangi Semarang dengan cahaya yang terang benderang. Namun bagi Zidan dan Viona, bayangan Paman Hendra telah jatuh seperti tirai tebal yang memisahkan mereka dari dunia normal. Mereka kini berdiri di tepi jurang, saling berpegangan tangan di bawah meja, siap untuk menghadapi badai berikutnya.

Cinta mereka mungkin salah tempat, lahir di tengah racun warisan keluarga. Tapi justru di tengah racun itulah, mereka menemukan satu-satunya obat yang bisa menyelamatkan jiwa mereka: saling percaya. Dan hari ini, obat itu akan diuji dalam api pengkhianatan terbesar. Mereka tidak perlu bertarung sampai mati; mereka hanya perlu bertahan cukup lama untuk melihat kebenaran itu menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!