NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam kian merambat sunyi di langit Jakarta, namun di dalam dada tiga manusia, badai sedang mengamuk hebat. Nadia masih terisak di balik bantalnya, meratapi kenyataan bahwa sepuluh tahun penantiannya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang menyakitkan. Di sisi lain, Lukman terduduk di tepi ranjang, menatap sepucuk surat usang dengan tangannya yang gemetar. Rasa iri yang ia pelihara sejak kecil kini mulai berbuah menjadi rasa takut yang mencekam.

Dan Fatih? Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap rembulan yang menggantung pucat. Ingatannya terseret jauh ke belakang, ke masa di mana semuanya masih terasa sederhana, namun menjadi akar dari segala luka yang mereka rasakan hari ini.

Telur, Tepung, dan hadiah Al-Qur’an yang Salah Alamat

Waktu itu, matahari bersinar terik di halaman SDN 01. Fatih kecil adalah definisi dari keriuhan. Ia cerdas, atletis, dan memiliki sifat "tengil" yang tak ada habisnya. Korbannya yang paling setia adalah Zahra, adik kelasnya yang manis namun cengeng. Fatih senang sekali melihat hidung Zahra memerah dan matanya berkaca-kaca.

Berbeda dengan Lukman. Sebagai sepupu sekaligus sahabat Fatih, Lukman adalah bayang-bayang yang tenang. Ia pengamat yang pendiam. Diam-diam, Lukman menaruh hati pada kepolosan Zahra. Baginya, melihat Zahra tersenyum adalah kebahagiaan yang tak berani ia suarakan.

Saat Zahra berulang tahun yang ke-11, Lukman memutuskan untuk melakukan hal besar. Ia menabung uang sakunya selama enam bulan hanya untuk membeli sebuah Al-Qur’an kecil bersampul beludru biru dengan ukiran emas yang indah. Ia tahu Zahra ingin menjadi penghafal Al-Qur’an. Namun, Lukman terlalu pengecut. Ia takut jika ia memberikan langsung, teman-temannya akan meledeknya habis-habisan.

"Tih, tolong kasih ini ke Zahra. Bilang saja ini kado ulang tahun," bisik Lukman sambil menyodorkan bungkusan itu dengan wajah memerah.

Fatih menyeringai nakal. "Beres, Man! Tenang saja, biar aku yang urus."

Tapi Fatih tetaplah Fatih. Baginya, memberi kado secara normal adalah hal yang membosankan. Di depan gerbang sekolah saat jam pulang, Fatih menghadang Zahra yang sedang bersama teman-temannya.

"Woi, Gadis Cengeng! Selamat ulang tahun ya!" teriak Fatih.

Prak!

Sebuah telur pecah di atas kerudung putih bersih Zahra. Tak cukup sampai di situ, Fatih menaburkan segenggam tepung terigu ke kepala Zahra. Teman-teman yang lain tertawa riuh, sementara Zahra mematung. Air matanya mulai mengalir, membasahi adonan tepung dan telur di pipinya. Ia merasa sangat malu dan terhina.

Lukman yang melihat dari jauh merasa jantungnya seolah berhenti. Ia ingin maju, ingin menghapus tepung itu dari wajah Zahra, tapi ia terpaku oleh ketakutannya sendiri.

Melihat Zahra mulai terisak kencang, Fatih merasa sedikit bersalah. Ia segera mengeluarkan kado dari balik punggungnya. "Yee... gitu aja nangis! Nih, hadiah buat kamu! Jangan cengeng lagi!"

Zahra menerima kado itu dengan tangan bergetar, tanpa tahu bahwa di dalamnya ada cinta tulus dari Lukman yang tersembunyi.

"Cie... cie... Fatih sama Zahra! Fatih sama Zahra!" Sorakan anak-anak SD itu menggema, membelah langit siang itu. Zahra segera kabur karena malu, memeluk erat Al-Qur’an itu. Fatih hendak mengejar dan menjelaskan bahwa itu dari Lukman, tapi kerumunan anak-anak menghalanginya. Sejak hari itu, Zahra menyimpan nama Fatih di hatinya, sementara Lukman hanya bisa menelan kepahitan di balik bayang-bayang.

Jarak yang Memisahkan dan Darah di Pelipis

Memasuki masa SMP, jurang antara Fatih dan Lukman semakin lebar. Fatih masuk ke SMP Negeri favorit di kota. Dengan uang saku melimpah dari Abi, ia menjelma menjadi remaja yang liar namun memesona. Ia mulai membentuk band sekolah, memanjangkan rambut, dan menjadi idola para siswi.

Sementara Lukman? Ayahnya, Syamsul, yang merupakan mantan preman yang telah bertaubat, bersikap sangat keras padanya. Karena keterbatasan biaya, Lukman dikirim ke pesantren di daerah Tasikmalaya.

"Kamu harus jadi anak sholeh, Man! Jangan kayak ayah dulu!" bentak Syamsul setiap kali Lukman terlihat lemah.

Uniknya, Syamsul justru sangat membanggakan Fatih. "Fatih itu hebat, Man. Dia berani, dia tegas. Kamu ini laki-laki, tapi nangis mulu kalau dibully!"

Perbandingan itu menjadi racun yang merayap di hati Lukman. Ia iri pada kekayaan Fatih, ia iri pada keberanian Fatih, dan yang paling menyakitkan, ia iri pada cara ayahnya sendiri menatap Fatih dengan penuh kekaguman.

Puncaknya terjadi saat Fatih kelas 3 SMP. Suatu sore, tawuran antar sekolah pecah di depan gerbang. Zahra, yang saat itu sudah kelas 2 SMP di sekolah yang sama dengan Fatih, sedang menunggu angkot. Tiba-tiba, sebuah batu nyasar melayang dan menghantam pelipis Zahra hingga ia jatuh tersungkur. Darah segar mengalir membasahi wajahnya.

Fatih yang melihat kejadian itu seolah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak peduli pada aturan sekolah atau nasihat Abi. Ia mengambil sebatang kayu besar yang tergeletak di pinggir jalan. Dengan mata merah padam dan urat leher yang menegang, Fatih menerjang kerumunan anak sekolah lawan seorang diri.

"SIAPA YANG KENAIN ADIK GUE?!" teriaknya menggelegar.

Fatih mengamuk seperti singa lapar. Ia memutar kayu itu, membanting siapa pun yang berani mendekat. Puluhan anak tawuran itu lari tunggang langgang, ketakutan melihat kegilaan Fatih. Setelah semua bersih, Fatih segera menggendong Zahra ke ruang UKS.

"Cepat sembuh ya... biar nanti cantik lagi," bisik Fatih pelan saat melihat perban menutupi pelipis Zahra. Saat itu, Zahra benar-benar merasa Fatih menaruh perhatian dia adalah pahlawannya.

Namun, keberanian itu berbuah pahit. Fatih dikeluarkan dari sekolah. Abi sangat marah, sebuah tamparan mendarat di pipi Fatih—tamparan pertama yang pernah ia terima. Tapi yang paling menghancurkan hati Fatih adalah tangisan Umi Fatimah.

"Nak... jika kamu hanya ingin jadi preman, keluar dari rumah ini sekarang juga!" seru Umi dengan suara parau karena kecewa.

Malam itu, Fatih merenung. Ia menyadari bahwa ia telah mengecewakan satu-satunya wanita yang ia cintai. Besok harinya, dengan kepala tertunduk, ia menghadap Abi. "Bi... aku mau ikut Lukman ke pesantren."

Pesantren dan Rembulan di Balik Cadar

Di pesantren, Fatih tetap menjadi pusat perhatian. Meski sudah bersarung, ketengilannya tidak hilang. Teman-temannya memanggilnya Abas, singkatan dari Ahmad Bashir, ledekkan teman-temanya karena nama aslinya terlalu "berat" untuk gaya tengilnya.

Suatu sore, saat sedang melintasi jalan setapak menuju aula pengajian, Fatih melihat seorang gadis bercadar lewat. Gadis itu berjalan menunduk, sangat kontras dengan keramaian di sekitarnya.

"Hai... Anak Ninja! Mau kemana?" ledek Fatih sambil menghalangi jalan.

Gadis itu berhenti sejenak, lalu bergeser hendak menghindar. Fatih kembali menghalangi. "Hei, Cewek Ninja yang sombong! Kalau ditanya itu jawab dong!"

Tiba-tiba, gadis itu berteriak dengan suara yang melengking. "TOLOOONG! TOLOOONG! ADA SANTRI MESUM! TOLOOONG!"

Fatih panik setengah mati. Ia menutup telinganya, sementara teman-temannya di belakang tertawa sambil mengejeknya. "Mampus kamu, Bas! Keamanan datang!"

Benar saja, Fatih diseret ke kantor keamanan dan disidang di depan Kiai. Fatih gemetar, membayangkan Abi jika benar akan dipanggil. Namun, saat gadis itu diminta memberikan kesaksian, suaranya terdengar lembut namun tegas dari balik cadar hitamnya.

"Maafkan dia, Kiai. Saya rasa dia tidak berniat jahat, hanya kurang tata krama saja. Saya sudah memaafkannya, tolong jangan dihukum berat."

Fatih tertegun. Di balik mata yang hanya terlihat sedikit itu, ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia temukan pada wanita mana pun. Sejak hari itu, Fatih seperti terobsesi. Setiap kali ada pengajian umum yang diikuti santriwati, ia selalu mencari sosok itu.

Suatu hari, ia berhasil mencegatnya lagi. "Maafkan aku yah!!"... aku cuma mau kasih ini sebagai permintaan maaf yang beneran," ucap Fatih sambil menyodorkan sebuah bross perak berbentuk rembulan sabit yang indah. "Ini buat kamu. Kalau kamu pakai, berarti kamu benar-benar sudah tidak marah."

Gadis itu menerima bross tersebut. "Kenapa kamu panggil aku anak ninja,"..?? Tanya gadis itu

"Aku kan gak tahu nama kamu..?" Jawab fatih kikuk

"Namaku... Wulan. Nama kamu siapa?"

Fatih hendak menjawab "Fatih", namun teman-temannya dari kejauhan sudah berteriak memanggilnya. "BAS! ABBAS! CEPETAN, MAU SOROGAN!"

Wulan sedikit memiringkan kepalanya. "Abbas?"

Fatih hanya mengangguk cepat sambil berlari. "Iya! Panggil saja Abas!"

Sejak saat itu, bagi Wulan, pemuda itu adalah Abbas. Dan bagi Abbas, rembulan hatinya adalah Wulan. Mereka tidak pernah tahu bahwa nama-nama itu akan menjadi kunci rahasia yang terkunci selama satu dekade.

Gema Masa Lalu

Kembali ke masa kini. Lukman memejamkan matanya rapat-rapat. Ingatannya berhenti pada hari di mana ia mengirimkan surat fitnah itu sepuluh tahun lalu, surat yang mengatakan bahwa Wulan telah berpaling kepada pria lain, surat yang membuat Fatih pergi meninggalkan pesantren dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Lukman melakukan itu karena ia tidak sanggup lagi melihat Fatih mendapatkan segalanya—termasuk rasa sakitnya ketika zahra yang dia sukai juga malah menyukai fatih.

Di kamar sebelah, Bella—si Wulan yang asli—sedang merapikan tas lusuhnya. Dari dasar tas yang robek, ia mengeluarkan sebuah bross perak berbentuk rembulan sabit. Bross yang sudah kusam namun masih ia simpan dengan segenap nyawa. Air matanya jatuh menyentuh perak itu.

"Di mana kamu sekarang, Abbas?" bisiknya lirih.

Ia tidak tahu, bahwa pria yang ia cari—pria yang namanya tertulis di buku nikahnya sebagai Fatih—sedang berdiri hanya terhalang beberapa lapis tembok, sedang menatap rembulan yang sama, merindukan nama yang sama.

Malam itu, rahasia masa lalu mulai mengetuk pintu kenyataan. Drama kehidupan ini bukan lagi soal pernikahan paksa, melainkan soal bagaimana takdir sedang menertawakan mereka yang saling mencari namun tak saling mengenali.

Fatih menarik napas panjang, kedinginan malam menembus kulitnya. "Wulan... jika kamu masih ada, beri aku satu tanda saja,"

"benarkah kamu telah memilih yang lain.. seperti surat terakhir yang kamu tulis padaku.. kenapa gak beri aku penjelasan..!" batinnya.

Tanpa ia sadari, Bella baru saja meletakkan bross rembulan itu di atas meja rias, tepat di tempat yang akan dilihat Fatih saat pria itu masuk ke kamar nanti.

Badai besar akan segera datang. Dan kali ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!