Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan sebenarnya
Sore itu berlalu dengan atmosfer yang jauh lebih tenang di kediaman keluarga Hardian. Setelah perjuangan menahan perih saat lukanya dibersihkan dengan cairan antiseptik oleh Mama Soraya, Keana akhirnya tertidur di kamarnya karena kelelahan menangis. Kedua lututnya kini sudah terbalut perban putih yang rapi.
Mama Soraya perlahan menutup pintu kamar Keana, lalu melangkah turun ke lantai bawah. Di ruang tengah, ia mendapati Gavin yang duduk melamun di sofa, tampak masih merasa bersalah.
"Adikmu sudah tidur, Gav," ujar Mama Soraya lembut, duduk di samping anak keduanya.
Gavin menoleh, mengembuskan napas berat.
"Ma, maafin Gavin ya. Tadi Gavin telat jemput, Kea, karena ada kuis tambahan. Harusnya Gavin suruh Kea nunggu di dalam perpustakaan aja biar gak kelayapan ke taman."
Mama Soraya tersenyum, mengusap bahu Gavin menenangkan. "Ini bukan salah kamu, Sayang. Namanya juga musibah, lagipula Kea memang anak yang tidak bisa diam kalau sudah urusan jajan. Yang penting sekarang Kea sudah aman di rumah."
Gavin mengangguk pelan.
"Oh ya, Ma. Apa Papa lembur malam ini?" tanya Gavin.
"Tidak. Paling sebentar lagi pulang" jawab Mama Soraya.
"Ouuu... yaudahlah, Gavin ke kamar dulu ya, Mam" ucapnya sembari berdiri dan mendapat anggukan dari sang Mama.
Jam 19.00
Di dalam kamar bernuansa pastel itu terasa begitu sunyi. Keana sebenarnya sudah terbangun sejak jam enam sore. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, menatap lurus ke arah jendela kamar yang mulai menampilkan pekatnya langit malam.
Keana perlahan menyibak selimut tebalnya, menatap kedua lututnya yang kini terbungkus perban putih bersih. Rasa perihnya sudah sedikit berkurang, berganti dengan rasa kaku dan berdenyut nyeri yang timbul tenggelam.
"Lapar..." gumam Keana pelan, sembari memegangi perutnya yang mulai berbunyi.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, yang berarti waktu makan malam keluarga Hardian telah tiba. Keana mencoba menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Namun, begitu telapak kakinya menyentuh lantai dingin dan ia mencoba berdiri, rasa nyeri langsung menusuk kuat di kedua lututnya.
"Awhh..." Keana meringis, refleks terduduk kembali di tepi ranjang.
Ia mengembuskan napas frustrasi. Sifatnya yang aktif dan tidak bisa diam membuat situasi ini terasa sangat menyiksa. Sambil memegangi tepi ranjang, Keana mencoba memosisikan kakinya agak lurus, berniat memaksakan diri berjalan perlahan dengan bertumpu pada tumitnya.
Dengan langkah yang sangat lambat dan bahkan terkesan menyeret kakinya, ia merambat menuju pintu kamar. Setiap satu langkah, ia harus berhenti sejenak untuk menahan ringisan. Gengsinya terlalu tinggi untuk berteriak memanggil Gavin atau Mama hanya untuk meminta bantuan turun tangga.
“Gue pasti bisa, masa jalan ke meja makan aja manja banget,” batin Keana menyemangati diri sendiri, meski wajahnya sudah berkerut menahan perih.
Dengan sisa tenaga, tangan kanannya meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. Namun, tepat saat daun pintu kamarnya terbuka, sosok tinggi Gavin sudah berdiri di sana dengan tangan yang melayang di udara, baru saja berniat untuk mengetuk pintu kamar adiknya itu.
Gavin yang mendapati pintu kamar adiknya terbuka tiba-tiba langsung menurunkan tangannya. Matanya turun, menatap posisi berdiri Keana yang kaku, lalu beralih pada kedua lutut yang tampak dipaksakan untuk menumpu badan.
"Heh, bocah batu. Ngapain lo berdiri kayak penguin begitu?" celetuk Gavin, melipat kedua tangannya di dada dengan sebelah alis terangkat menyebalkan.
Keana yang ketahuan sedang menahan perih langsung memasang wajah galak, meski dahi dan pelipisnya agak berkeringat. "Mau makanlah! Lapar tahu. Minggir, Kak, Kea mau lewat."
"Mau lewat gimana? Jalan aja kayak robot rusak begitu. Gaya-gayaan banget gak mau manggil orang," ejek Gavin lagi. Ia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka.
"Ih, Kak Gavin kalau gak mau bantuin mending gak usah ngejek deh! Kea bisa jalan sendiri, nih, liat!" Keana mencoba menghentakkan satu langkah kakinya ke depan untuk membuktikan ucapannya, namun rasa nyeri langsung menyengat hebat.
"Awhh—"
Sebelum tubuh Keana limbung karena kehilangan keseimbangan, sepasang lengan kekar Gavin dengan cekatan menahan tubuh adiknya.
"Udah, jangan bandel. Naik di punggung, kakak!" Gavin berjongkok di depan Keana sembari menepuk bahunya sendiri.
Melihat itu Keana tersenyum. Dengan senang hati ia naik ke punggung kakaknya, memeluk lehernya erat-erat, sementara Gavin menopang kaki Keana yang melingkar di pinggangnya.
Setelah merasa aman, barulah Gavin berjalan menuruni tangga. Sambil menuruni anak tangga satu per satu, Keana menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Rasa hangat dan aman kembali menjalar di hatinya. Begitu mereka sampai di area meja makan, Papa Arland yang baru saja selesai mencuci tangan langsung menoleh. Alis pria paruh baya itu bertaut melihat kedua lutut putrinya terdapat perban putih.
"Loh, anak gadis Papa kenapa ini? Itu lututnya kenapa di perban?" tanya Papa Arland, nadanya langsung dipenuhi rasa cemas. Pria itu segera melangkah mendekat, membantu Gavin mendudukkan Keana dengan hati-hati di salah satu kursi makan.
"Jatuh di taman pas pulang sekolah tadi, Pa. Dikejar anjing liar," adu Gavin sambil mengambil posisi duduk di sebelah Keana.
Papa Arland langsung berlutut di depan Keana, memeriksa perban di kedua lutut anaknya dengan tatapan khawatir. "Ya Allah, Kea... sakit sekali ya? Kenapa bisa teledor begini, Sayang?"
Keana menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis agar papanya tidak terlalu cemas. "Udah agak mendingan kok, Pa. Tadi udah diobatin sama Mama."
Mama Soraya datang dari arah dapur membawa mangkuk sup ayam hangat, lalu tersenyum menenangkan suaminya.
"Sudah, Pa. Tadi sudah Mama bersihkan lukanya. Untung tidak perlu dijahit, cuma lecet bergesekan dengan aspal. Lebih baik sekarang kita makan malam dulu."
Papa Arland mengembus napas lega, lalu mengacak rambut Keana penuh kasih sayang sebelum kembali ke kursinya.
"Lain kali harus lebih hati-hati. Kalau mau jajan, ajak Gavin. Jangan sendirian."
"Iya, Pa," jawab Keana patuh.
Suasana makan malam pun dimulai dengan hangat. Papa Arland dan Mama Soraya sesekali berbincang tentang pekerjaan mereka di rumah sakit, sementara Gavin tetap menjadi kompor yang meledek porsi makan Keana yang tidak berkurang sedikit pun walau sedang cedera.
Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga sembari menikmati cemilan dan juga nonton tv. Keana berbaring di atas paha sang Mama dengan mama yang mengusap rambut putrinya itu.
"Ini, minum obat anti nyeri dulu. Biar tengah malam gak berasa perihnya" Papa Arland memberikan sebutir obat pada Keana dan juga segelas air.
Dengan malas Keana menerimanya. Ia sangat malas jika di suruh minum obat karena rasa pahit. Pipinya sampai mengembung menatap obat itu.
"Minum cepat obatnya, Kea!" seru Gavin, karena sejak tadi Keana masih diam menatap obat di tangannya.
"Iya-iya" dengan susah payah Keana menelan obat itu, lalu minum air dengan terburu-buru hingga habis.
Gavin, Mama, dan papa terkekeh melihat sikap Keana. Keana yang tidak memperdulikan itu, kembali berbaring di paha sang Mama. Hingga tanpa sadar jam berputar begitu cepat, karena lelah dan juga pengaruh obat, Keana tertidur disana.
Papa Arland dengan sigap menggendong putri kesayangannya itu.
"Selamat tidur putri, Papa" Papa Arland mengecup dahi Keana, lalu melangkah keluar setelah merasa Keana aman. Ia kembali turun ke bawah dimana masih ada istri dan putranya.
Papa Arland mengembuskan napas lelah, lalu duduk di sofa ruang disebelah sang istri. Suasana rumah mendadak terasa lebih sunyi dan serius.
Gavin berdeham, memecah keheningan.
"Pa... ada satu hal yang mau Gavin omongin tentang Kea."
Papa Arland menoleh, menatap anak keduanya dengan kening bertaut.
"Soal kejadian di taman tadi?"
"Bukan, Pa. Ini soal... Bang El," jawab Gavin pelan. Ia memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua lengan di paha.
"Tadi pas di mobil sebelum Kea sampai di sekolah, dia nangis. Dia nanya ke Gavin, apa bener Bang El nggak suka sama dia."
Papa Arland tampak terkejut. Begitupun dengan Mama Soraya
"Kenapa Kea bisa mikir begitu?"
"Dua tahun lalu, Kea nggak sengaja denger Papa teleponan sama Bang El. Kea denger sendiri kalau Bang El menolak keras waktu Papa bilang mau adopsi Kea," jelas Gavin apa adanya.
"Sampai sekarang, Kea takut mikirin Bang El yang lusa mau pulang. Dia takut nanti Bang El bakal benci dan merasa tidak diinginkan."
Mendengar penuturan Gavin, Papa Arland terdiam cukup lama. Beliau menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit rumah dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat rasa bersalah yang dalam di wajah paruh bayanya.
"Bang El memang sekaku itu, Pa. Tapi apa bener... dia sebenci itu sama kehadiran Kea?" tanya Gavin lagi, menuntut penjelasan yang selama dua tahun ini juga sempat mengganjal di hatinya.
"Abangmu tidak pernah membenci Keana, Gavin," ujar Papa Arland akhirnya, suaranya berat dan tenang.
"Alasan Elvan tidak setuju dua tahun lalu... itu bukan karena dia jahat, tapi karena dia terlalu realistis sebagai anak pertama." Papa Arland menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
"Waktu Papa mengutarakan niat untuk mengadopsi Keana, posisi Elvan baru saja mulai residensi bedah di luar negeri. Dia tahu betul bagaimana sibuknya dunia kedokteran. Papa dan Mama bekerja hampir 24 jam di rumah sakit, kamu baru mau masuk kuliah, dan Elvan jauh di luar negeri. Elvan tidak setuju karena dia merasa kita tidak punya cukup waktu dan kesiapan mental untuk membesarkan seorang anak perempuan yang punya trauma masa lalu."
Gavin mendengarkan dengan saksama.
"Elvan bilang begini ke Papa waktu itu via telepon: 'Pa, mengadopsi anak itu bukan kayak bawa pulang kucing terlantar. Dia manusia. Dia butuh perhatian penuh, lingkungan yang stabil, dan jaminan masa depan. Kalau Papa dan Mama cuma kasihan tapi nanti dia telantar di rumah besar ini karena semua orang sibuk, itu namanya egois.'" Papa Arland menirukan ucapan tegas anak sulungnya dua tahun lalu.
Papa Arland tersenyum tipis, mengingat bagaimana kaku namun protektifnya Elvan.
"Dia takut kita gagal memberikan kasih sayang yang utuh untuk Kea. Dia juga cemas dengan stigma lingkungan sosial kita, bagaimana omongan keluarga besar kita yang konservatif nanti ke Kea. Elvan hanya ingin melindungi nama baik keluarga, sekaligus melindungi Kea dari ekspektasi yang salah."
"Jadi... Bang El cuma khawatir kita gak becus jaga Kea, Pa?" tanya Gavin memastikan, seulas senyum lega mulai terbit di wajahnya.
"Iya. Cara penyampaian abangmu memang selalu dingin dan terkesan tanpa ampun, sampai membuat Kea salah paham," Papa Arland menepuk bahu Gavin.
"Besok-besok, kamu berikan pengertian lagi ke adikmu. Biar Papa juga yang bicara dengan Elvan begitu dia sampai lusa. Bagaimanapun, Keana sudah jadi bagian dari jantung rumah ini."
"Pantas saja, waktu papa bilang Elvan mau datang tadi pagi, Kea langsung diam, ternyata dia sedang merasa khawatir dengan kedatangan Elvan" seru Mama Soraya.
.
.