Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Gema di Lorong Kosong
Dinding selokan itu lembap, berlendir, dan memantulkan setiap tetes air dengan gema yang menyiksa. Arka meringkuk di ceruk beton yang paling gelap. Tubuhnya adalah sebuah peta luka; punggungnya yang teriris logam drum Gulo terasa seperti disiram air garam setiap kali dia bergerak.
Dia mengeluarkan bungkusan plastik transparan itu dari balik jaketnya. Plastik itu kotor, terlumuri debu tambang, tapi di dalamnya tersimpan penyelamat.
"Bram," bisik Arka, suaranya parau, pecah oleh tenggorokan yang kering. "Aku dapat obatnya."
Arka menoleh ke sisi kirinya, ke arah tumpukan kain kusam yang menumpuk di sudut. Dalam remang-remang cahaya yang menembus kisi-kisi besi di atas sana, dia bisa melihat siluet Bram yang sedang duduk memegang pipa besi. Bram terlihat besar, tegap, dan bisa diandalkan seperti biasanya.
"Bagus, Bos," suara Bram terdengar berat dan familiar, memantul di dinding selokan. "Hasan sangat membutuhkannya. Dia sudah tidak makan selama dua hari."
Arka mengangguk. Tangannya yang gemetar menyodorkan bungkus plastik itu ke arah tumpukan kain tersebut. "Hasan? Kau masih sadar?"
Arka merangkak mendekat. Lututnya bergesekan dengan kerikil tajam di lantai selokan, membiarkan kulitnya tersayat lagi. Dia mendekati tempat Hasan berbaring. Namun, saat tangannya menyentuh kain itu, yang ia temukan hanyalah beton dingin yang berlumut.
Tumpukan kain itu kosong.
Arka terdiam. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Dia menoleh kembali ke arah Bram. "Bram? Kenapa kau pindah tempat?"
Di sudut itu, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pipa air yang berkarat dan gundukan sampah plastik yang menumpuk.
Zzzzt.
Sengatan itu datang lagi. Neural Feedback menghantam pangkal tengkoraknya seperti gada yang diayunkan tepat ke pusat kesadarannya. Arka menjatuhkan obat itu ke genangan air limbah, lalu mencengkeram kepalanya hingga kuku-kukunya memutih. Pandangannya berubah menjadi statis—deretan titik-titik hitam dan putih yang menari-nari menutupi penglihatannya.
"Tidak... tidak, ini efek samping obat," gumam Arka, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Efek samping. Hanya efek samping."
Dia merangkak kembali ke tempat obat itu jatuh. Tangannya yang melepuh mencari-cari di dalam air limbah yang pekat dan bau. Jarinya menyentuh sesuatu yang keras. Dia mengangkat bungkusan plastik itu, membersihkannya dengan kain bajunya yang juga kotor.
Di dalam sana, tablet itu masih utuh.
Arka menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia memeluk bungkusan itu ke dadanya, menempelkannya seerat mungkin. Dinginnya dinding beton menembus pakaiannya, membuat giginya bergemeretak, tapi dia tidak beranjak.
Aku sendirian.
Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada Neural Feedback mana pun. Dia sendirian di Sektor 4. Bram dan Hasan tidak ada di sini. Mereka dibawa pergi oleh Unit Sanitasi berhari-hari yang lalu.
"Kau tidak bisa gila, Arka," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya bergetar. "Kau harus tetap hidup. Kau harus mencari mereka."
Arka mencoba memetakan rute kembali ke gerbang utama sektor untuk mencari informasi ke mana Unit Sanitasi membawa tahanan. Jika aku bisa mengakses log pergerakan kendaraan...
BZZZZT!
Kepalanya terentak ke depan, dahinya menghantam beton. Darah segar menetes, membasahi bungkusan obat di tangannya. Arka tersungkur. Dia tidak bisa berpikir. Dia tidak bisa merencanakan. Logikanya adalah musuh yang akan menghancurkan kewarasannya jika dia mencoba menggunakan otaknya.
Dia meringkuk di sana, di tengah bau busuk selokan yang kental. Untuk sesaat, dia mendengar tawa Hasan. Tawa yang renyah, tawa yang selalu muncul saat mereka berhasil melakukan pengiriman sukses. Arka tersenyum tipis, memejamkan mata, membiarkan imajinasinya mengisi ruang hampa di selokan itu dengan bayangan teman-temannya yang sudah hilang.
Besok, dia harus kembali ke tempat Gulo. Dia harus mengangkut dua puluh drum. Bukan karena dia punya rencana jenius untuk melarikan diri, tapi karena di dunia ini, hanya dengan menjadi mesin kuli yang hancur, dia bisa merasa sedikit lebih dekat dengan kemanusiaannya.
Dan jika itu berarti dia harus "berbicara" dengan bayangan Bram setiap malam agar dia tidak lupa caranya menjadi manusia, maka itu adalah harga yang harus dia bayar.
***
**[AUTHOR NOTE] **Isolasi Arka kini bukan sekadar fisik, tapi mental. Arka mulai menciptakan realitasnya sendiri untuk menahan hantaman rasa sepi dan trauma. Penggunaan obat kedaluwarsa menjadi pemicu halusinasi yang perlahan mulai mengaburkan batas antara nyata dan delusi. Apakah kalian merasa ngeri melihat Arka mulai "berbicara" dengan bayangannya sendiri? Bagaimana pendapat kalian tentang harga yang harus dibayar Arka: kehilangan kewarasan demi mempertahankan "kehadiran" teman-temannya?
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼