Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Rencana Doni
Doni menyeringai lebar sambil menggenggam jeruji besi di depannya. Otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya tampak jelas. Sorot matanya berkeliling, memastikan seluruh penghuni blok memperhatikannya. Bahkan para narapidana yang semula masih mengantuk kini sudah berdiri di depan sel masing-masing.
"Aku muak berada di tempat busuk ini!" bentaknya lantang. "Kalian juga, kan?"
Tidak ada yang menjawab. Namun beberapa pasang mata mulai saling berpandangan.
Doni tertawa pendek. "Jangan pura-pura betah! Tidak ada orang waras yang ingin menghabiskan hidup di balik jeruji."
Seorang narapidana bertubuh kurus memberanikan diri bertanya, "Lalu memangnya kenapa?"
Doni menatapnya sambil menyeringai. "Karena aku punya jalan keluar."
Ucapan itu langsung membuat lorong menjadi riuh.
"Maksudnya?"
"Jalan keluar?"
"Kamu serius?"
Doni mengangguk mantap. "Sangat serius."
Ia melirik ke arah koridor untuk memastikan belum ada sipir yang datang. Setelah itu, suaranya dipelankan, tetapi masih cukup keras untuk didengar seluruh blok.
"Aku pernah kabur dari tahanan sebelumnya."
Beberapa narapidana langsung terbelalak.
"Apa?"
"Itu benar?"
"Aku dengar memang pernah ada tahanan yang lolos..."
Doni kembali tertawa. "Bedanya, waktu itu aku sendirian." Ia mengangkat telunjuknya.
"Sekarang... kita bisa keluar bersama."
Bisik-bisik langsung memenuhi blok tahanan.
Faris yang berdiri di belakang beberapa narapidana hanya mengamati tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Keluar bersama?" gumamnya pelan.
Di dalam kepalanya, sistem langsung memberikan tanggapan.
[Ding!]
[Terdeteksi ajakan melakukan tindakan ilegal.]
Faris mendesah pelan.
"Kamu cepat sekali muncul."
[Pengguna disarankan tidak ikut.]
"Aku juga memang tidak berniat ikut."
[Keputusan pengguna dinilai tepat.]
Sementara itu, Doni kembali bersuara.
"Aku sudah mengamati tempat ini selama berbulan-bulan." Ia menunjuk ke arah langit-langit. "Setiap sipir punya jadwal. Setiap pintu punya kelemahan."
Lalu dia mengepalkan tangannya. "Yang kurang hanya satu."
"Apa?" tanya seseorang.
"Jumlah orang."
Doni tersenyum lebar. "Kalau kita bergerak bersama, mereka tidak akan mampu menghentikan kita."
Ucapan itu membuat sebagian narapidana mulai tampak tergoda.
"Aku ikut!"
"Kalau berhasil lumayan."
"Aku juga tidak mau mati di sini."
Namun tidak sedikit pula yang tetap diam. Faris termasuk salah satunya. Baginya, melarikan diri justru akan memperburuk keadaan. Jika benar Pak Adi dan Pak Bandi berhasil menemukan bukti, dirinya bisa keluar secara sah. Namun bila kabur, statusnya akan berubah menjadi buronan.
'Aku sudah difitnah sekali,' pikir Faris. 'Aku tidak mau benar-benar menjadi penjahat.'
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari dari ujung lorong.
"SIAPA YANG RIBUT?!"
Empat orang sipir muncul sambil membawa tongkat.
Doni hanya tertawa. "Nah, datang juga."
Seorang sipir senior langsung membentak. "Doni! Mundur dari jeruji!"
Doni tetap berdiri. "Apa kalian takut?"
"Tutup mulutmu!"
Doni malah memukul jeruji sekuat tenaga.
KLANG!
KLANG!
KLANG!
Suaranya menggema ke seluruh blok.
"Bangunkan semuanya!" teriak Doni. "Biar mereka tahu kita bukan binatang yang bisa dikurung selamanya!"
"Doni!"
"Pegang dia!"
Dua sipir membuka pintu selnya dengan sangat hati-hati. Begitu pintu terbuka, Doni langsung mencoba mendorong salah seorang petugas hingga terhuyung. Beruntung tiga sipir lain segera membantu. Setelah bergumul beberapa saat, mereka akhirnya berhasil memborgol kedua tangan pria bertubuh kekar itu.
Meski begitu, Doni masih terus tertawa.
"Hahaha! Kalian boleh mengurungku! Tapi suatu hari nanti... tembok ini akan terbuka!"
Seorang sipir mendorong tubuhnya. "Diam!"
Namun sebelum dibawa pergi, Doni sempat berteriak sekuat tenaga.
"Ingat kata-kataku! Kalau ingin bebas... Kalian harus berani mengambilnya sendiri!"
Suara langkah kaki mereka perlahan menghilang di ujung lorong. Blok tahanan kembali sunyi, tetapi suasananya sudah berubah. Hampir semua narapidana masih memikirkan kata-kata Doni.
Faris kembali naik ke ranjangnya. "Sistem."
[Ya.]
"Menurutmu dia benar?"
[Data tidak cukup.]
"Maksudku... tentang kabur."
[Probabilitas keberhasilan rendah.]
"Berapa?"
[Kurang dari sembilan persen.]
Faris menghela napas lega. "Syukurlah."
[Namun probabilitas hukuman bertambah hampir seratus persen jika gagal.]
Faris terkekeh pelan. "Kali ini aku setuju."
Keesokan paginya, suasana ruang makan terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya. Para narapidana duduk berkelompok sambil menikmati sarapan sederhana berupa nasi, sayur, dan telur rebus. Akan tetapi, pembicaraan mereka sama sekali bukan mengenai makanan. Semuanya membahas Doni.
Faris baru saja duduk ketika seorang narapidana berbisik dari meja sebelah.
"Eh..."
"Kamu dengar?"
"Dengar apa?"
"Rencana Doni."
Faris menggeleng.
Pria itu menoleh ke kanan dan kiri sebelum kembali berbisik. "Katanya minggu depan."
"Minggu depan apa?"
"Pelariannya."
Faris menghentikan gerakan sendoknya. "Benarkah?"
Pria itu mengangguk. "Semalam setelah dipindahkan, dia sempat mengirim pesan lewat blok sebelah."
"Pesan?"
"Iya."
"Katanya dia sudah punya jalan keluar."
Tak lama kemudian narapidana lain ikut menyela.
"Bukan cuma itu. Doni juga bilang kalau mau berhasil... Semua tahanan harus bekerja sama. Kalau ada satu saja yang membocorkan rencana semuanya gagal."
Bisik-bisik itu menyebar dari satu meja ke meja lainnya seperti api yang menjalar di padang rumput kering.
Tidak ada yang tahu mana yang benar. Namun gosip tersebut berkembang semakin liar.
Salah seorang narapidana yang duduk di samping Faris menepuk bahunya. "Kamu ikut?"
Faris langsung menggeleng. "Tidak."
"Lho?"
"Kalau berhasil, kita bebas."
"Kalau gagal?" tanya Faris tenang.
Pria itu terdiam.
Faris melanjutkan, "Aku memang ingin keluar dari sini. Tapi bukan dengan cara seperti itu."
"Lalu?"
"Aku ingin keluar karena memang tidak bersalah."
Pria itu menghela napas. "Kamu terlalu jujur.
"Tapi aku lebih tenang seperti ini."
Di dalam kepalanya, sistem berbunyi.
[Ding!]
[Integritas pengguna meningkat.]
"Poin?"
[Tidak.]
Faris langsung cemberut. "Kirain dapat hadiah."
[Pengguna terlalu berharap.]
"Setidaknya sedikit?"
[Integritas adalah hadiah tersendiri.]
Faris mendengus pelan.."Kamu mulai terdengar seperti guru."
[Sistem menerima pujian.]
"Itu bukan pujian!"
Sementara itu, jauh dari lembaga pemasyarakatan, suasana sangat berbeda terlihat di sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Musik berdentum keras memenuhi ruangan. Botol-botol minuman beralkohol berserakan di atas meja kaca. Asap rokok memenuhi udara. Tiga pria muda duduk santai di sofa kulit mahal sambil ditemani wanita-wanita berpakaian minim yang terus menuangkan minuman ke dalam gelas mereka.
Ketiga pria itu adalah Yudi, Arman, dan Zaki.
"Hahaha!"
Yudi mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Untuk hidup yang indah!"
"Cheers!" sahut Arman.
Zaki langsung meneguk habis isi gelasnya. "Sumpah, hidup jauh lebih tenang sejak si Faris masuk penjara."
Ketiganya tertawa bersamaan.
Seorang wanita yang duduk di pangkuan Yudi mengernyit.
"Siapa Faris?"
Yudi menyeringai. "Cuma anak miskin. Yang sok pintar."
Arman menambahkan sambil tertawa. "Padahal kerjanya cuma tukang pel. Tapi mimpi jadi insinyur."
Semua kembali tertawa.
"Lucu, kan?"
Wanita itu ikut tertawa kecil meski tidak benar-benar mengerti.
Zaki mengambil sebatang rokok. "Masih ingat wajahnya waktu polisi membuka tasnya?"
Yudi langsung terbahak-bahak. "Hahaha! Wajahnya benar-benar kosong!"
Arman menirukan ekspresi Faris. "'Pak... itu bukan punya saya.'"
Ketiganya kembali tertawa sampai perut mereka sakit.
Wanita yang lain mulai penasaran. "Memangnya kalian apakan dia?"
Yudi meminum sedikit minumannya sebelum menjawab santai. "Masukin barang ke tasnya."
Wanita itu membelalak. "Barang?"
"Obat-obatan."
Arman menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Gampang banget. Dia selalu ninggalin tas di belakang kelas. Tinggal masukin."
Zaki mengangkat bahu. "Terus kami tinggal kasih informasi anonim. Polisi datang. Permainan selesai."
Ketiganya tertawa puas seolah sedang mengenang sebuah lelucon lucu, bukan kehancuran hidup seseorang.
"Kasihan juga sih," kata salah satu wanita.
Yudi langsung mendengus. "Kasihan? Dia yang bikin kita kesal."
Arman mengangguk. "Kalau dia terus ikut kelas dosen itu lama-lama bisa benar-benar jadi insinyur."
Zaki tersenyum sinis. "Orang miskin harus tahu tempatnya. Jangan mimpi terlalu tinggi."
Yudi mengangkat gelasnya lagi. "Kalau bukan karena kami mana mungkin dia masuk penjara."
Arman menyeringai. "Dan sekarang mungkin ibunya juga sudah stres."
"Hahaha!"
Tawa mereka kembali memenuhi ruangan. Tak seorang pun di antara mereka merasa bersalah.