"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Undangan Kunci Emas
Pagi harinya, kasur di sebelah Anna sudah mendingin. Sosok nesar Aethan telah lenyap tanpa jejak, menyisakan aroma samar kayu cedar yang masih tertinggal di bantal. Namun, yang membuat Anna tidak bisa menahan tawa adalah tingkah Mimi. Anak kucing hutan berbulu putih itu sedang duduk tegak di tengah kasur dengan dada membusung sombong, sesekali menjilati cakar depannya dengan lagak seperti seorang pemenang yang baru saja mengusir monster raksasa dari wilayah kekuasaannya.
"Kau merasa menang, hmmm?" goda Anna, mencubit gemas telinga berbulu Mimi hingga kucing itu mengeong manja dan berguling di pangkuannya.
"Anna! Bersiaplah, Nak! Ada kabar gembira!" Suara bariton Paul terdengar menggema dari lantai bawah rumah pohon, memecah keheningan pagi.
Anna bergegas turun dengan Mimi yang di gendong nyaman dalam dekapan. Di ruang tengah, Paul dan Marry sudah berdiri dengan wajah berseri-seri. Paul memegang sebuah gulungan perkamen besar berselimut segel sihir perak—sebuah dokumen resmi penyelesaian dari Serikat Pekerja Konstruksi.
"Rumah kita sudah selesai?" tebak Anna, matanya melebar tak percaya.
"Selesai seratus persen!" jawab Paul dengan senyum bangga. "Hanya butuh waktu satu minggu bagi para pekerja serikat magis itu untuk merombak total fondasinya. Bahkan mereka menambahkan enkripsi pelindung badai di setiap sudut dinding batu atas saran dari Tuan Panglima."
"Dan tebak apa lagi, Anna?" Marry menimpali dengan binar mata haru. "Ayahmu secara khusus meminta mereka membangun satu ruangan besar di lantai dua. Sebuah studio jahit pribadi khusus untukmu, lengkap dengan perapian sihir agar jemarimu tidak kaku saat musim dingin tiba."
Hati Anna menghangat seketika. Rasa bersyukur membubung tinggi di dadanya. Namun, kejutan di pagi yang cerah itu belum berakhir.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan berirama di pintu depan membuat mereka bertiga menoleh. Saat Paul membuka pintu, sesosok pria paruh baya mengenakan setelan necis khas kurir kelas atas dari Guild Logistik berdiri di sana, menjinjing sebuah kotak beludru merah berstempel lilin emas murni.
"Apakah benar ini kediaman Nona Anna?" tanya kurir itu dengan gestur membungkuk hormat.
"Benar, saya sendiri," jawab Anna, melangkah maju.
"Saya utusan khusus dari Tuan Leon. Beliau menitipkan kotak ini untuk Anda, Nona. Beliau berpesan bahwa seluruh persiapan telah selesai," ucap sang kurir seraya menyerahkan kotak beludru tersebut dengan kedua tangannya, lalu berpamitan mundur dengan sangat sopan.
Dengan debaran jantung yang kian cepat, Anna membuka kotak tersebut di meja makan. Di dalamnya, tergeletak sebuah surat dengan tulisan tangan Leon yang rapi dan elegan, bersanding dengan sebuah kunci emas murni yang diukir membentuk siluet bunga mawar yang indah.
Anna membaca isi surat itu dengan saksama:
Kepada Nyonya Bos yang Terhormat,
Butik kita di distrik elite Solmara telah selesai ditata ulang dan siap beroperasi. Tempat ini kuberi nama sesuai dengan yang anda mau yaitu 'Ruby Rose Boutique', sesuai dengan pancaran keindahan kain-kain magismu. Kunci emas di dalam kotak ini adalah kunci utama yang kini menjadi milikmu. Aku menunggumu siang ini untuk meninjau tempat ini, sekaligus merayakan kerja sama besar kita.
Mitra bisnismu,
Leon
"Leon bergerak sangat cepat," bisik Anna, jemarinya mengusap permukaan dingin kunci emas mawar tersebut.
Siang harinya, setelah mengemasi barang-barang dari rumah pohon dan menaruhnya kembali ke rumah panggung batu mereka yang baru, yang terlihat luar biasa megah seperti kastil kecil di pinggiran distrik, Anna dan Paul segera berangkat menuju distrik elite Solmara. Mimi bersikeras ikut, menyusup ke dalam keranjang rajut yang dibawa Anna dan hanya menyembulkan kepalanya dengan rasa ingin tahu yang besar.
Sesampainya di distrik elite, mata Anna langsung terpaku pada sebuah bangunan berlantai dua dengan arsitektur klasik yang mewah. Papan namanya terbuat dari kayu ek hitam berukir benang emas yang membentuk tulisan: Ruby Rose Boutique.
Leon sudah berdiri di depan pintu kaca besar, menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar yang memancarkan aura pengusaha sukses.
"Selamat datang di kerajaan kecil kita, Nona Anna, Tuan Paul, Nyonya Marry," sambut Leon hangat, membuka pintu butik lebar-lebar.
Bagian dalam butik itu benar-benar menakjubkan. Dindingnya dilapisi kain beludru merah marun, dengan rak-rak kayu premium yang diterangi oleh lampu gantung sihir yang berpendar lembut. Tempat itu terasa sangat berkelas, siap menampung pakaian-pakaian mahal untuk kalangan borjuis dan bangsawan.
"Ini luar biasa, Leon. Kau melakukannya dengan sangat sempurna," puji Anna jujur, merasa takjub dengan hasil kerja keras sekutu bisnisnya ini.
"Tentu saja, aku tidak pernah setengah-setengah dalam berbisnis," sahut Leon bangga.
Namun, di tengah atmosfer perayaan kecil itu, Mimi yang berada di dalam keranjang Anna mendadak menegakkan tubuhnya. Bulu-bulu putih di lehernya meremang. Kucing kecil itu mengeluarkan desisan rendah ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan utama distrik elite.
Anna yang menyadari perubahan sikap Mimi langsung melemparkan pandangannya ke luar jendela.
Di seberang jalan, dua orang pria tegap mengenakan jubah perang kelabu milik Ksatria Penyelidik Kekaisaran sedang berjalan perlahan, menginterogasi beberapa pemilik toko perhiasan. Salah satu ksatria itu mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan Ruby Rose Boutique.
Dari balik jubahnya, sebuah kompas sihir pelacak Mana kuno yang ia pegang mendadak berputar dengan sangat liar, bergetar hebat hingga memancarkan kilatan cahaya merah samar, merespons resonansi energi Thread Magic dari dalam tubuh Anna yang berada di dalam butik. Sang Ksatria perlahan mendongak, menatap tajam langsung ke arah pintu kaca butik dengan tatapan penuh kecurigaan yang mematikan.
lanjut yaaaaa