Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : DI BALIK DINDING
Kamar Elara adalah salah satu dari banyak tempat di kediaman, yang tidak tercampur oleh bau mesiu atau asap tembakau murah.
Ruangan itu didominasi warna hitam, abu-abu, dan sentuhan warna emas di beberapa sudut ruangan.
Aroma bunga LIly yang samar memenuhi udara.
Elara berdiri di depan cermin besar, melepaskan anting berliannya satu per satu, gerakannya sangat elegan.
Lewat pantulan kaca, ia bisa melihat siluet dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa yang sedang berdiri di sana.
"Dante," panggilnya. Suaranya datar, memutus keheningan kamar.
"Kenapa kamu masih berdiri di depan pintu kamarku? Pekerjaanmu di ruang bawah tanah sudah selesai bukan?"
Dante melangkah masuk tanpa suara, ia berhenti di belakang Elara. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat pantulan keduanya di cermin terlihat kontras—Elara yang tampak anggun bak malaikat tanpa cela dan Dante yang tampak berbahaya dalam dalam setelan jas hitam yang sedikit berantakan.
"Aku hanya ingin memastikan tidurmu tidak terganggu setelah kekacauan di bawah tadi." suaranya rendah dan serak.
Elara membalikkan badannya perlahan, menatap mata Dante.
"Memastikan? Kamu tidak pernah benar-benar menjagaku Dante. Kamu hanya mengawasiku bukan?" ucap Elara dingin.
Ia melangkah maju, sampai ujung gaunnya menyentuh sepatu Dante. Jarak yang begitu dekat hingga Dante bisa menghirup aroma dari tubuh Elara, sementara Elara bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu.
"Apa kamu mulai bosan jadi pengawal? Atau posisi itu mulai terasa kurang buatmu?" pancing Elara, mendongak sedikit menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.
Dante terdiam seketika, ia adalah pria kejam yang bisa mematahkan leher seseorang tanpa berkedip. Namun di depan Elara ia hanyalah pria yang terikat rantai kasatmata.
"Menjagamu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih bernapas, Elara," jawab Dante pelan.
Elara mengangkat tangan kanannya, jemarinya yang lentik dan halus menyentuh kerah kemeja Dante, mengusap setitik noda merah kecil di sana.
"Kamu berdarah," gumamnya datar.
"Bukan darahku," sahut Dante cepat, menahan napas saat sentuhan kulit Elara menyentuh kulitnya.
"Tentu saja bukan," ucap Elara sambil menarik kembali tangannya, lalu mengusap jemarinya sendiri dengan selembar tisu diatas meja rias.
"Bersihkan dirimu sebelum kamu berani mendekat ke arahku lagi. Aku tidak suka bau amis darah merusak ruangan ini."
Dante menundukkan kepalanya, lalu berbalik dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Elara kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Napasnya yang tadi sempat tertahan kini berembus pelan. Sikap dingin yang menjadi satu-satunya pelindung Elara selama ini selalu saja terasa rapuh setiap kali Dante berada di dekatnya.
Setelah menutup pintu kamar Elara, Dante melangkah menuju ruangannya sendiri di sayap kiri kediaman.
Begitu pintu ruangannya tertutup, ia berjalan menuju wastafel, memutar keran air dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Napasnya memburu, ingatannya terus berputar pada momen jemari Elara yang menyentuh kerahnya.
Ia menatap cermin, melihat pantulannya sendiri yang tampak mengerikan.
"Dia tahu... Dia tahu persis apa yang sedang dia lakukan." bisiknya lirih.
Dante menarik napas, menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Ia membenci dirinya sendiri karena kelemahan ini. Sebagai orang kepercayaan Tuan Besar, ia seharusnya tidak memiliki perasaan terhadap Elara.
Tapi di hadapan Elara, ia hanyalah seseorang yang rela menyerahkan nyawanya, asalkan itu berarti ia bisa terus memandang gadis itu.
Malam itu, jam telah menunjukkan pukul dua pagi.
Kediaman diselimuti dengan keheningan. Dante yang seharusnya berjaga, justru melakukan sesuatu yang melanggar protokol keamanan.
Bukannya berjaga di depan pintu, ia berada di dalam kamar Elara.
Ia masuk lewat pintu balkon yang sengaja ia kunci dengan longgar saat patroli sore tadi.
Elara sedang terlelap diatas ranjang besarnya, cahaya bulan masuk menembus tirai tipis, memberikan siluet tubuh gadis itu di bawah selimut.
Ia berhenti di samping ranjang, mengamati betapa damainya wajah Elara saat tidur, tanpa tatapan dingin yang biasanya tertuju kearahnya.
Tiba-tiba, mata Elara terbuka, tidak ada keterkejutan di dalamnya. Elara hanya menatap Dante dengan tenang, seolah sudah tahu Dante ada di sana sejak awal.
"Dante," panggilnya pelan, suaranya parau karena baru bangun tidur. "Apa yang kau lakukan di sini, di jam seperti ini?"
Dante membeku, "Aku hanya ingin memastikan tidak ada ancaman yang mendekat." jawab Dante, suaranya serak.
Elara menatapnya lama, "Kau melanggar batas, Dante," bisik Elara. "Apa kau siap menerima konsekuensinya?"
"Konsekuensi apa pun yang kau berikan, aku siap menerimanya," sahutnya menatap intens mata Elara.
Sudut bibir Elara terangkat sedikit, membentuk sebuah lengkungan tipis.
"Konsekuensi terkadang tidak datang dalam bentuk hukuman fisik, Dante," bisik Elara.
"Bagaimana kalau aku memintamu pergi dari kediaman ini?" tanya Elara.
Dante tidak berkedip sedikitpun mendengar ucapan Elara. Pilihan untuk 'pergi' bahkan tidak pernah terlintas dalam kamus hidupnya sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di kediaman ini.
"Pergi?" Dante mengulang kata itu dengan kekehan rendah yang terdengar berbahaya. "Kamu tahu persis, Elara... duniaku ada di kediaman ini."
"Kalau begitu, keluarlah dari kamarku," ucap Elara.
"Baik, aku minta maaf telah mengganggu waktu tidurmu." Dante menegakkan tubuhnya dan keluar dari kamar Elara.
Elara menarik selimutnya kembali, menatap langit-langit kamar dengan napas pendek. Di rumah terkutuk ini, Dante adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia.
Dan justru karena itu, ia harus mendorong pria itu sejauh mungkin, agar tidak terseret dalam misinya menghancurkan organisasi ini suatu hari nanti.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..