NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Penjaga Kos Itu Bernama Mak Tik

“Eh, si kasep, kunaon kabarnya? Tadi Wak Kaji sudah ngasih tahu saya.”

Suara ramah wanita bertubuh besar, membuat langkah Satya terhenti. Langkah kakinya yang tergesa di depan gerbang indekos langsung tertahan. Sementara ia masih memegangi lengan Melati dengan protektif.

“Iya, Mak. Saya datang. Mau antar teman saya.” Ia mengenalkan Melati. Tangannya menuntun jemari Melati agar sedikit maju ke depan. “Ini Melati … dia ….”

“Pacar Kang Kasep kan?” Mak Tik langsung menceplos. “Cantik. Cocok sama Kang Satya.” Wanita paruh baya itu terkekeh lebar, mengamati riasan sisa di wajah Melati dengan binar mata menggoda. Sengaja memotong kalimat Satya demi mencairkan ketegangan yang dibawa dua sejoli itu dari jalanan.

“Eh, itu, saya ….” Satya mendadak kikuk. Ia meraba luka parut di pipinya sekilas. Menundukkan kepala dengan rona merah yang mendadak menjalar hingga telinga.

“Nggak usah gugup. Mari Teh, saya antar.” Mak Tik menarik tangan Melati ramah. Sentuhan hangatnya seketika meruntuhkan kewaspadaan Melati yang sempat meninggi, karena takut dikejar anak buah Juragan Herwanto.

“Biaya kos-nya, Mak?” tanya Satya cepat. Menahan langkah Mak Tik sebelum mereka menaiki anak tangga ke lantai atas.

“Sama Wak Kaji saja ya?” Mak Tik mengibaskan tangan. Menggiring Melati, berjalan. Rupanya penjaga kos itu sudah tahu, kalau Melati buta. Langkahnya disesuaikan dengan sangat pelan dan hati-hati agar Melati tidak tersandung.

“Titip calon istriku ya, Mak!” Satya berteriak. Kalimat itu lolos begitu saja dari kerongkongannya. Membelah keheningan koridor kos dengan nada yang teramat tegas dan berani.

Jantung Melati langsung mengencang. Dentumannya bertalu lebih cepat. Gadis itu menghentikan langkahnya sedetik. Meremas jemarinya sendiri dengan senyuman yang merekah manis di bibir. Menyadari bahwa takdir asmaranya kini telah berlabuh.

“Aman!” Mak Tik membalas berteriak. Lambaian tangannya mengudara dari balik tangga. Sebelum sosoknya dan Melati menghilang di balik belokan lantai atas.

Satya memutar langkah. Tersenyum lebar, untuk pertama kali. Ia mengembuskan napas lega yang panjang, lalu melangkah mantap keluar dari gerbang kos untuk kembali ke bengkel. Bekerja. Langkah kakinya kini terasa ringan, tak lagi dihantui oleh bayang-bayang intrik masa lalu yang kelam.

Satya akhirnya memiliki tujuan hidup lagi. Membahagiakan Melati.

Langkah Mak Tik dan Melati, terhenti di depan sebuah pintu. Paling ujung lorong. Wanita paruh baya itu, mengambil kunci.

Bunyi gemerincing logam beradu memecah keheningan koridor yang sunyi, meningkatkan ketegangan di dada Melati yang masih was-was akan perlakuan Juragan Herwanto.

Derit pintu terdengar. Bau lembab menyeruak. Kamar itu terasa pengap. Meski begitu, masih nyaman bila dibandingkan dengan kamarnya, di rumah sang bibi.

“Kamar ini jujur, paling nggak laku,” tutur Mak Tik, kembali menggiring Melati masuk.

“Karena letaknya paling ujung. Orang pada malas. Mungkin karena terpencil kali ya. Tapi Teteh tenang saja. Kamar ini, paling aman. Posisinya nyempil soalnya.”

Mak Tik mengusap permukaan meja kayu yang agak berdebu dengan telapak tangannya.

“Iya, Mak.” Melati tersenyum kecil. Ia meraba pinggiran dipan, memastikan tempatnya berpijak aman. “Asalkan aman dari orang-orang jahat, saya tidak keberatan.”

“Kalau butuh saya. Teteh bisa jalan di pintu. Lalu teriak. Nanti saya pasti datang.” Mak Tik berkacak pinggang, menawarkan solusi dengan nada bicaranya yang ceplas-ceplos.

“Eh, kalau teriak. Apa nggak ganggu penghuni lain.” Melati mengerutkan kening.

Memiringkan kepala, membayangkan betapa hebohnya suasana koridor kos jika ia benar-benar berteriak.

“Iya juga sih.” Mak Tik menepuk dahi.

Langkah kakinya bergeser mundur, menyadari kebodohan sarannya sendiri di tengah atmosfer kos yang padat.

Melati terkekeh. “Tenang saja, saya bisa sendiri kok. Aman.” Ia mencoba menenangkan wanita bertubuh besar itu agar tidak terlalu mencemaskannya.

“Kalau begitu, Mak permisi ya, Non.” Mak Tik memutar tubuh, bersiap melangkah keluar dari ambang pintu.

“Eh tunggu.” Melati menahan. Ia mengangkat tangannya, meraba udara demi menghentikan pergerakan Mak Tik yang terburu-buru.

“Ada apa.” Mak Tik berbalik cepat. Matanya menyipit, menatap heran pada raut wajah Melati yang mendadak berubah serius dan dramatis.

“Kenapa tadi Ibu, manggil Satya Kasep?” Melati bertanya, karena ia heran. Sebab Satya mengaku wajahnya buruk rupa. Dibenarkan pula oleh Bibi dan sepupunya. “Kasep itu … artinya ganteng kan?”

Jantung Melati berdegup kencang, dilingkupi rasa penasaran yang teramat sangat tentang fakta fisik pria yang dicintainya, tanpa melihat rupa.

“Memang. Maaf, apa Nona sama sekali tak pernah melihat wajah Kang Kasep?” Mak Tik bertanya hati-hati. Ia melangkah mendekat, menatap iba pada sepasang mata kosong Melati yang indah namun tak bernyawa.

“Saya buta sejak lahir.” Melati menelan ludah. Rasa perih merayap di tenggorokannya seiring drama takdir yang mengurungnya dalam kegelapan. “Saya kenal Satya, waktu umur dua belas. Waktu sama-sama di panti.”

“Oh, wajar kalau begitu.” Mak Tik mengangguk. Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya yang penuh teka-teki masa lalu. “Baiklah. Akan Mak jabarkan wajah Kang Satya. Akang itu tinggi. Kulitnya bersih. Badannya tegap. Hanya cacat wajah, seperti bekas kena api.”

“Kena api?” Melati tersentak. Tangannya spontan meremas ujung baju, dengan sangat kuat. Dadanya mendadak sesak membayangkan rasa sakit luar biasa yang pernah dialami Satya.

“Jujur, Mak nggak berani tanya. Hanya menebak. Tapi kalau dari bekas luka wajah. Mak yakin itu karena terbakar. Soalnya melepuh. Kalau yang lain, Mak kurang tahu. Kang Satya, sering pakai lengan panjang soalnya. Tapi meski wajahnya penuh luka. Mak yakin, kalau dulunya Kang Satya pasti tampan. Masih keliatan kok.” Mak Tik berbisik pelan, takut ada yang menguping pembicaraan.

Penuturan Mak Tik, membuat Melati tersentak lalu tersenyum. “Berarti saya beruntung ya, Mak. Bisa sama Satya.” Setitik air mata haru mengambang di sudut matanya, menyadari ketulusan cinta Satya yang melampaui segala kekurangan fisik.

“Beruntung banget, Non. Mas Satya itu baik. Anak saya sering dijajanin sama dia. Padahal awalnya si Devan takut, pas awal-awal, dia datang. Lama-lama jadi lengket dia, karena sering dijajanin.” Mak Tik terkekeh renyah, mengingat kedekatan putranya dengan pemuda yatim piatu yang misterius itu.

“Mak Tik punya anak?” tanya Melati, mencoba mengalihkan gejolak asmaranya yang kian membubung tinggi di dalam dada.

“Ada tiga, Non, hehehe. Satu kuliah sambil kerja. Dua masih sekolah. Doain jadi orang ya, Non. Biar bisa ngangkat derajat, emaknya.” Mak Tik menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan penuh harap.

“Amin,” balas Melati, “Mak, panggil saya Melati saja ya. Nggak enak saya dipanggil Non.” Ia mengangguk ramah, merasa tidak pantas menerima panggilan terhormat di tengah statusnya yang sama kurang mampu.

“Siap, Mbak Mel. Saya permisi dulu, ya. Oh iya satu lagi. Nanti malam, yang jaga anak saya. Yang kuliah itu. Namanya Elva. Saya ntar kasih tahu dia. Biar kalau apa-apa, Mbak Mel, bisa minta tolong sama dia.” Mak Tik melangkah mundur, jemarinya memegang gagang pintu luar.

“Iya. Terimakasih.” Melati merasa hangat. Tuhan sudah mengenalkannya dengan orang baik. Ia mendengarkan langkah kaki Mak Tik yang perlahan menjauh hingga suara pintu ditutup rapat. Meninggalkan dirinya. Merenungi takdir cinta sucinya bersama Satya.

Satya kembali ke bengkel. Tepat saat situasi tengah memanas. Udara yang biasanya dipenuhi aroma pelumas kini terasa mencekat. Pekat oleh drama dan intrik keluarga yang baru saja meledak di area khusus pegawai.

“Kalau nggak tertangkap basah begini. Kamu pasti nggak ngaku!” Pak To berkacak pinggang. Menunjuk Rina yang menunduk gemetar.

Lembaran kertas mutasi rekening koran dilemparkannya ke atas meja hingga berserakan. “Lihat ini. Mutasian ini, masuk ke Taufik puluhan juta. Ke Satya, masha-allah cuma lima ratus ribu! Eko sejuta. Ya Allah Rina! Kamu itu satu-satunya anak gadis Bapak! Kok bisa sih kamu nggak amanah, karena bucin sama satu laki?”

Pak To menghentakkan kakinya kasar, wajah tuanya memerah padam menahan murka.

Satya berjalan mendekat. Di samping Eko berbisik, “Ada apa?” Ia menyenggol lengan Eko pelan, matanya memindai situasi konfrontasi yang kian menegangkan itu.

“Pak To beneran mengecek mutasi. Mbak Rina ketahuan korupsi. Gaji kita dimakan si Taufik,” balas Eko, dengan berbisik lirih. Ia memundurkan tubuhnya selangkah, melirik Rina yang mulai meneteskan air mata saking paniknya.

“Sekarang Taufik ke mana?” Satya celingukan. Mencari rekan kerjanya yang tampan itu. Jantungnya berdegup lebih kencang, menyadari konspirasi di bengkel ini ternyata jauh lebih busuk dari dugaannya.

“Kabur, saat melihat Pak To datang.” Eko mendengkus sinis, melipat tangannya di dada dengan raut puas melihat keadilan mulai ditegakkan.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!