"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"Aku tahu Jenny, kamu pasti sangat lapar sekarang ini! Ayo, kita ke ruang kepala sekolah!" ajak Nathan sambil menarik pergelangan tangan Jenny.
Namun, sebenarnya, perasaan batin Jenny berkecamuk antara ingin mengikuti Nathan dan khawatir akan reaksi Nyonya Vina. "Ta - tapi Tuan, bagaimana jika Nyonya Vina marah nanti?" ucap Jenny dengan ragu, berusaha melepaskan genggaman tangan Nathan.
"Tidak usah khawatir, biasanya jam segini Mamahku pergi, entah ke mana. Ayo buruan!" Nathan terlihat tidak peduli akan kekhawatiran Jenny dan terus menarik tangannya.
Di tengah kebingungannya, Jenny akhirnya memilih pasrah, karena ia sadar bahwa saat ini tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang diperintahkan oleh tuannya. Namun, di lubuk hati yang paling dalam, Jenny masih merasa khawatir akan konsekuensi dari keputusan ini. "Apakah aku benar-benar harus mengikuti Tuan Nathan? Bagaimana jika nanti Nyonya Vina mengetahui dan marah padaku? Apakah aku bisa menghadapinya?" gumam Jenny dalam hati, sambil terus dihantui rasa takut.
Bahkan bukan hanya rasa takut saja yang sekarang ini menghantui pikiran Jenny. Pikirannya kini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk. Apa yang tadi tuannya katakan, jika selama ini dia berpura-pura bodoh, sungguh membuat kecurigaan di hati Jenny semakin mendalam.
"Kenapa tuanku selama ini berpura-pura bodoh? Apa yang dia sembunyikan dari saya?" Jenny merenung dalam-dalam sambil mencoba mengingat-ingat tindak-tanduk tuannya beberapa waktu lalu.
Jenny mencoba mencari tahu, apa sebenarnya tujuan dan motif di balik permainan pura-pura tuannya itu.
Namun, Jenny sadar bahwa dia harus mengikuti tuannya terlebih dahulu, ia pun terlihat melangkahkan kakinya, mengikuti langkah tuannya, dengan pikiran yang kosong, berusaha menenangkan benaknya agar bisa lebih jernih dalam menyikapi permasalahan yang akan ada di depan matanya.
***
Ceklek
Nathan terlihat santai kala membuka pintu ruang kepala sekolah, sementara Jenny terlihat celingukan seraya melihat kesana kemari.
"Tenanglah Jenny! Suara bel istirahat belum berbunyi, tidak akan ada satu orang pun yang melihat kita!"
"Ta - tapi, disana itu banyak sekali petugas kebersihan yang terus menerus menatap ke arah ku!" Ntah kenapa sekarang ini Jenny memasang ekspresi wajah panik sendiri.
Nathan terlihat memegang ke dua bahu Jenny, guna menenangkan gadis yang sekarang ini berdiri di hadapannya.
"Tenanglah Jenny, tenanglah! Mereka itu hanya seorang petugas kebersihan yang di bayar. Mereka tidak akan mengatakan apapun pada siapapun! Aku mohon sekarang ini kamu itu tenang," kata Nathan seraya menenangkan gadis yang ada di depannya. Lalu ia terlihat membawa gadis itu untuk masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
Ceklek
Nathan dan Jenny berjalan masuk ke ruang kepala sekolah. Tiba-tiba langkah Jenny terhenti ketika mendengar suara Vina dari balik telepon.
"Apakah kalian sudah persiapkan semua hal untuk ritual? Karena dalam satu jam, aku akan sudah sampai ke tempat itu," ujar Vina dengan tegas.
Jenny langsung terperangah mendengar kata-kata tersebut, "Ritual apa ini?" Gumamnya dalam hati, menahan kepanikan yang menguasainya. Vina sendiri tidak menyadari ada orang yang masuk ke ruangannya.
Sementara itu, Nathan, anak kandung Vina, memperhatikan sang ibu dengan wajah datar. "Kenapa aku tidak tahu tentang ritual ini? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Mamah?" Batin Nathan, bingung dan penasaran. Tapi ia tidak menunjukkan perasaan bingung dan penasarannya itu.
kalo berkenan mampir juga ya😉