Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Sah
"Prabu dan keluarganya sudah tau. Percayalah mereka ikhlas menerimamu. Mama berharap kamu jangan pernah mengungkit hal pahit itu lagi nantinya setelah kalian menikah," tutur Ayu seraya menggenggam erat tangan Alea.
Ayu tampak jelas memberi kekuatan serta kasih sayangnya secara penuh pada Alea.
"Kamu juga sudah mendengar cerita dan alasan kandasnya pernikahan Prabu di masa lalu. Semua manusia pasti diciptakan punya kekurangan dan kelebihan baik kamu maupun Prabu. Jangan pernah merasa rendah diri terus. Banyak berdoa saja agar kelak pernikahan kalian berdua langgeng hingga akhir hayat. Kamu dan Prabu memang terikat takdir jodoh seperti ini," sambung Ayu.
Perlu diketahui, Alea dan Prabu belum pernah bertemu secara langsung perkara membahas perjodohan antara mereka berdua.
Mayor Prabu Rasyid Wicaksono sendiri tengah sibuk dengan jabatan baru nya yakni sebagai komandan Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Jakarta Timur.
Keluarga besar Wicaksono adalah perpaduan gambaran keluarga militer dan old money. Mendiang kakek Prabu adalah seorang pengusaha sukses di era Orde Baru. Sedangkan ayah Prabu yakni Jenderal TNI (Purn.) Dr. Mahendra Wicaksono S.I.P. memilih berkarir di militer. Jabatan terakhirnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Ayah kandung Prabu terpaksa pensiun lebih awal dari karirnya di dunia militer. Dikarenakan setahun yang lalu ia mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Sopir pribadi dan ajudannya meninggal dunia. Sedangkan Ayah Hendra mengalami koma hingga detik ini.
Perjodohan ini terjadi ketika Citraningtyas yang biasa dipanggil Bunda Citra (53 tahun) tanpa sengaja bertemu Ayu dan Alea di sebuah acara pernikahan rekan militer di Malang. Kala itu Bayu sedang ada urusan ke luar kota sehingga tak bisa hadi memenuhi undangan pernikahan dari anak rekan sejawatnya.
Bunda Citra adalah ibu sambung Prabu.
☘️☘️
Satu bulan kemudian, Malang.
"Sah!"
Satu kata terucap dari bibir para saksi menandakan kini Mayor Prabu Rasyid Wicaksono telah resmi menjadi suami dari Alea.
Papa Bayu tak kuasa menahan haru hingga kedua mata tua mereka berkaca-kaca dan menangis lirih.
"Alhamdulillah..." ucap Papa Bayu yang menitikkan air matanya karena telah menikahkan putrinya dengan Prabu.
Ia tentu berharap ke depan pernikahan antara Alea dan Prabu bisa langgeng hingga maut memisahkan.
Di sebuah kursi yang berada dekat di belakang Prabu, Bunda Citra duduk penuh rasa bahagia dan haru.
"Semoga pernikahan Prabu kali ini yang terakhir. Bahagiakan lah mereka berdua ya Tuhan. Berikan anak-menantuku keturunan yang saleh dan salehah. Aamiin..." batin Bunda Citra seraya memanjatkan doa untuk pernikahan Prabu dan Alea.
Ayah Hendra tidak hadir dalam pernikahan Prabu dan Alea karena masih terbaring koma. Namun Bunda Citra dan Prabu sudah mengatakan perihal pernikahan ini pada Ayah Hendra lewat bisikan di telinga. Mereka sangat berharap Ayah Hendra lekas bangun dari koma nya.
Di sebuah ruangan tak jauh dari tempat Prabu dan Bayu berada saat ini, Ayu begitu lega sekaligus terharu usai telinganya mendengar jelas dalam satu tarikan nafas Prabu mengucapkan ijab qobul.
"Alhamdulillah Lea-putri mama. Akhirnya kamu sekarang sudah sah jadi istri Prabu. Ingat selalu nasehat-nasehat mama ya, Sayang..." ucap Ayu di telinga Alea seraya memeluk tubuh putrinya itu.
Alea hanya mampu terdiam dengan kedua matanya yang ikut berkaca-kaca.
Bahagia
Terharu
Namun, Alea juga masih merasa takut.
Hanya Alea yang mengerti akan rasa ketakutannya sendiri tersebut.
"Selamat ya, Lea. Semoga kamu dan Prabu bahagia terus dan setelah ini segera punya banyak anak," ucap Nanda seraya bergantian memeluk tubuh adik iparnya itu.
"Makasih, Mbak."
"Kalau kamu ada yang ditanyakan urusan wanita, dapur, kasur, aku siap berbagi kok. Hehe..." celetuk Nanda sedikit bercanda agar suasana di dalam ruangan itu lebih cair alias tidak tegang.
Ketiga wanita berbeda usia itu pun saling tertawa kecil.
Walaupun hubungan di masa lalu antara Alea dengan Nanda-kakak iparnya pernah bermasalah, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Justru keduanya semakin akrab, terutama setelah Alea keluar dari rumah sakit jiwa.
Pembawa acara segera memanggil mempelai wanita yakni Alea Widya Laksono untuk keluar dan duduk di meja akad nikah. Dikarenakan segera melakukan penandatanganan buku nikah serta sesi foto bersama.
Tap...tap...tap...
Alea hari ini tampil begitu cantik memakai gaun muslim berwarna putih dengan hijab warna yang senada. Bahan satin premium mewah dengan aksen bordiran serta brukat yang melekat pada gaun putih yang dikenakan Alea semakin membuat semua mata terpesona memandangnya, tak terkecuali Prabu.
Alea digandeng oleh Mama Ayu di sisi kanan. Sedangkan di sisi kiri Nanda menggandeng lengan adik iparnya itu. Langit bagian mendorong perlahan kursi roda sang ibu yang bersikeras ingin mengantar Alea ke meja ijab qobul.
Secara perlahan mereka berempat melangkah dan mendekat ke meja ijab qobul.
Prabu sekilas melihat Alea dari kejauhan. Tak dapat dipungkiri hati kecilnya mendadak bergemuruh aneh. Mirip hati seseorang apabila sedang merasakan jatuh cinta. Padahal Prabu tipikal pria yang cukup sulit untuk jatuh cinta pada seorang wanita.
Entah ia terpesona akan kecantikan wanita yang sudah menjadi istrinya itu atau ada hal lain yang membuat hatinya seakan tersentuh pada paras Alea. Walaupun wanita itu sejak tadi menjatuhkan pandangannya terus ke arah lantai.
Alea pun kini sudah mendaratkan b0_kong nya di sebuah kursi, tepat di samping Prabu.
"Silahkan tanda tangan, Bu," ucap petugas sambil menggeser map ke arah Alea dan menyerahkan sebuah pena.
Terdengar suara hembusan nafas Alea di telinga Prabu. Tampak jelas wanita di sampingnya ini terlihat grogi. Jari-jemari Alea yang memegang pena sedikit bergetar. Hal itu tak luput dari tatapan mata elang Prabu.
Acara tanda tangan dokumen pun telah usai. Nama keduanya kini tercetak rapi di dokumen negara.
Pernikahan kedua Prabu kali ini dihelat secara tertutup, namun tetap tergolong mewah. Lokasinya di sebuah hotel berbintang di Malang Kota. Hanya mengundang keluarga, teman dan kolega dekat saja seperti inti_mate wedding.
Pemandangan yang sangat kontras dapat terlihat jelas jika dibandingkan dengan pernikahan pertamanya dahulu bersama Kinanti Putri Salim yang dihelat begitu besar-besaran bahkan disiarkan secara live di sebuah stasiun televisi swasta ternama di Jakarta. Kinan juga menggelar pesta kedua yang mengusung tema private party beberapa hari setelah acara di Jakarta.
Tentu semua itu atas permintaan mantan istri Prabu yang biasa dipanggil Kinan. Wanita itu berprofesi sebagai model sekaligus pewaris tunggal perusahaan ternama negeri ini yakni Salim Grup.
Namun sayang, pernikahan keduanya kandas dua tahun yang lalu.
☘️☘️
Kembali ke masa sekarang.
Sebagian besar tamu sudah pulang. Alea sudah dibawa oleh Mama Ayu dan Nanda untuk kembali ke kamar pengantin.
Papa Bayu datang mendekat ke tempat Prabu berdiri. Prabu cukup terkejut, namun dengan cepat ia berhasil tenang di depan ayah mertuanya itu
"Nak," sapa Papa Bayu seraya menepuk pundak Prabu lembut namun tetap tampak penuh ketegasan.
Bibir Prabu memilih tetap diam, namun ia membalas sapaan Papa Bayu penuh hormat dari gestur dan gerak matanya.
"Papa titip Alea ke kamu. Bahagiakan dia semampumu," tutur Papa Bayu menjeda ucapannya sejenak. "Kalau putri papa melakukan kesalahan, tolong kamu bimbing dia dan maafkan. Kamu bisa beritahu papa, nanti kami yang akan menegurnya."
"Prabu juga masih banyak belajar, Pa. Prabu juga bukan manusia yang sempurna," sahut Prabu.
Papa Bayu pun menganggukkan kepalanya kecil di depan menantunya itu. Ia begitu mengerti.
"Jika suatu hari nanti kamu sudah tak sanggup hidup bersama, tolong pulangkan Alea baik-baik ke rumah kami. Papa tidak akan banyak bertanya atau menyalahkan siapapun termasuk kamu. Alea sudah pernah mengalami luka yang sangat dalam. Papa berharap kamu menyembuhkan luka itu, bukan untuk menambahkan luka baru di hatinya."
Bersambung...
🍁🍁🍁