"Aku tau kau membenciku Quen... tapi apa kau tahu jika perkataanmu menyakitiku?" tanya Anna dengan tangisan nya
" Rasa sakit yang kau rasakan sekarang hari ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sejak dulu... sebelum kau merasa dirimu tersakiti fikiran dulu apa yang sudah kau lakukan padahal kau sama sama wanita... apa kau tidak punya hati atau kau memang tidak tau malu? " tanya Quen tajam
dan membuat Sean menatap Quen dengan tak kalah tajam nya Sean dan Quen menikah karna perjodohan yang di lakukan ayah Sean,Sean menerima perjodohan itu karna saat itu kekasih Sean berselingkuh di belakang Sean yang membuat Sean menerima perjodohan itu tapi tak lama Sean malah menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya setelah menikah dengan Quen malah perselingkuhan itu di lakukan secara terak terangan di hadapan Quen dan di dukung oleh teman teman Sean dan kekasihnya. Quen yang mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Sean hanya bisa diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Quen tengah mengecek beberapa obat bersama dengan Gavin dan Aksa.
“Apa sebaiknya kita memesan herbal juga?" tanya Gavin.
“Awalnya aku juga berfikir seperti itu..bagaimana menurut kalian?" tanya Quen pada Gavin dan Aksa la tengah duduk di meja diruangan tersebut sambil mengecek obat-obatan yang kurang.
"Aku setuju" kata Aksa yang tengah duduk istirahat di sofa diruangan tersebut.
“Aku rasa herbal juga perlu" kata Gavin.
“Baiklah kita pesan herbal juga" kata Quen.
"Kira-kira kapan obatnya baru sampai?" tanya Aksa.
"Jika kita kirim datanya sekarang maka minggu depan baru sampai disini" kata Quen.
“Mudah-mudahan selama satu minggu kedepan tidak ada penyakit yang mengharuskan memakai obat herbal" kata Aksa.
Quen pergi kekamarnya untuk mengambil charger hpnya yang tertinggal disana Ketika ia akan membuka pintu, ia kaget lantaran pintu kamarnya terbuka dan Sean masuk membuat ia mundur kebelakang.
“Apa yang kau lakukan disini?" tanya Quen kaget.
“Mau menemui istriku" kata Sean membuat Quen kaget.
"jangan macam-macam" kata Quen ia menjadi menjaga jarak dengan Sean setelah kejadian tadi pagi yang ia terbangun dikamar Sean.
Sean mempunyai ide untuk menjahili Quen dan sontak ia menatap tajam Quen sambil maju mendekati Quen dan membuat Quen mundur hingga punggung Quen menempel pada tembok.
“Aaapa yang akan kau lakukan?" tanya Quen ketakutan lantara Sean yang mengunci pergerakannya dengan meletakan tangannya disamping kepala Quen dan menata intens kearah Quen.
"Jika kau berani macam-macam aku akan teriak" kata Quen.
Sean masih diam hingga secara tiba- tiba Sean menempelkan bibirnya pada bibir Quen dan membuat mata Quen membulat kaget lantaran Sean yang menciumnya Quen masih diam membeku ini seperti mimpi untuknya dan entah kenapa otaknya seakan kosong ia ingin mendorong tubuh Sean namun tidak bisa.
Sean yang melihat ekpresi wajah Quen yang sangat terlihat jelas dari matanya hanya diam.. ia malah mulai menggerakan bibirnya pada bibir Quen dan mulai melumat bibir Quen dengan lembut.
Sean mencium Quen dengan lembut membuat Quen memejamkan matanya lantaran ciuman Sean yang ia akui sangat lembut dan memabukkan.
Sean yang merasakan Quen yang diam tersenyum penuh arti dan ia malah melingkarkan tangannya pada pinggang Quen dan sedikit memperdalam ciumannya yang jujur membuat Sean sangat gila Ia tidak pernah berciuman selembut ini dan juga ia dapat merasakan bibir Quen yang sangat manis yang sebenarnya sudah sejak dulu selalu ingin ia rasakan.
Hingga ketika ia merasa kehabisan nafas, Sean melepaskan ciumannya pada Quen dan ia menatap Quen yang masih memejamkan matanya.
Quen perlahan membuka matanya dan langsung menatap mata pria didepannya ini.
Sean tersenyum pada Quen.
“Apa hanya aku yang pernah melakukan ini?" tanya Sean dan membuat Quen kaget Wajah Quen langsung memerah dan membuat Sean tersenyum karena ia tahu jawabannya.
“Berarti aku pria pertama yang menciummu" kata Sean lagi dan membuat wajah Quen memanas.
Quen langsung mendorong Sean untuk menjauh darinya dan pergi dari kamar tersebut Sean tersenyum melihat Quen yang pergi dengan kesal la menyentuh bibirnya yang mencium Quen tadi sambil tersenyum puas bahkan ia masih bisa merasakan manisnya bibir Quen.
Sementara itu, Quen menuju ruangannya dengan perasaan yang campur aduk ada rasa kesal, marah, sedih. Sampai diruangannya ia merutuki dirinya yang tadi hanya bisa diam saja saat Sean menciumnya bahakn ia tidak mempunyai muka untuk bertemu dengan Sean nanti.
Quen memegang bibirnya yang tadi dicium oleh Sean bahkan ia masih bisa merasakan sentuhan bibir Sean pada bibirnya Quen menggelangkan kepalanya.
"Tidak Quen! Kau tiak boleh tergoda dengan ini.. dia hanya mempermainkanmu" kata Quen pada dirinya sendiri.
“aaaaaa" teriak Quen pelan sambil mengacak rambutnya sendiri mencoba melupakan kejadia tadi Setelah kejadian tersebut.
Quen lebih sering menghindari Sean karena ia malu melihat Sean sedangkan Sean merasa agak aneh dengan Quen yang menghindarinya ia sangat heran dengan Quen apa hanya karena ciuman itu ia menghindari Sean? Apa Quen sepolos itu? Pikir Sean dalam hatinya.
Sudah 5 hari setelah kejadian tersebut mereka tidak pernah saling bicara mereka hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan makan malam Bella baru saja selesai mandi dan dia keluar dari kamarnya dan saat yang bersamaan Satria juga keluar dari kamarnya membuat dia tersenyum melihat kearah Bella.
"Dokter Satria" sapa Bella tersenyum membuat mata Satria kaget dan berhenti berkedip melihat senyum Bella yang begitu indah dan hatinya berdebar dengan itu semua Bella terdiam dan heran dengan sikap Satria.
"Dokter baik-baik saja?" tanya Bella dan Satria langsung mengerjapkan matanya dan dia tersenyum sambil menggaruk rambutnya.
"ʻAku baik Bella. Kau mau kemana?" tanya Satria.
“Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar"
"Mau bareng?" tawar Satria dan Bella diam lama membuat Satria was-was dengan tanggapan Bella.
"Heemmm boleh" jawab Bella membuat Satria senang.
"Ayo silahkan" Bella tersenyum pada Satria begitu juga dengan Satria dan mereka berjalan bersama mengelilingi markas tersebut.
Satria begitu sulit memulai obrolan dia memang sungguh payah didepan gadis yang sangat dia cintai namun Bella justru sangat santai dan banyak mengajaknya mengobrol.
“Apa Dokter juga suka dengan hujan?"
"Sebenarnya tidak juga tapi terkadang aku juga suka" kata Satria dan Bella tersenyum mendengarnya.
“Hujan itu menyenangkan tapi membuat sakit"
"Sesekali tidak apa asal tubuhmu kuat"
"Tapi disini tidak ada hujan" kata Bella.
"Nanti saat kembali ke Indonesia aku akan menemanimu bermain hujan" jawab Satria membuat dia kaget dengan apa yang dia katakan.
Quen, Vio dan Jeno menutup mulut mereka menahan tawa sejak tadi mereka bertiga bersembunyi dibalik tembok mengintip Satria dan Bella dan mereka terkejut dengan jawaban Satria disaat mereka tahu Satria sangat benci dengan hujan.
Quen memegang perutnya sakit karena memahan tertawa.
Vio memejamkan matanya dan Jeno Rasanya dia tidak bisa bernafas sekarang akibat tawanya mendengar cara Satria mendekati gadis yang dia sukai.
"Wah luar biasa Satria putra" kata Vio dan mereka terkikik.
"Satria terlalu gugup dan Bella yang tidak peka" kata Quen dan mereka mengangguk setuju.
“Ayo kita harus kabur sebelum ketahuan" kata Jeno dan mereka merangkak diam- diam supaya tidak ketahuan namun mata Satria melihat ketiga sahabatnya dan membuat dia sangat kesal.
“awas saja kalian" cibir Satria.
Jangan lupa tinggalkan jejak
like
komen
vote
ulasan
And subcribe