Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tak Bisa Lagi Ditahan
Pagi itu, suasana di Panti Asuhan Al Amanah terasa hangat dan penuh kebersamaan. Setelah menikmati sarapan sederhana bersama anak-anak panti, Arini ikut membantu membereskan meja makan. Sesekali ia tersenyum ketika beberapa anak berebut ingin memeluknya atau sekadar bercerita tentang kegiatan mereka hari itu. Kehangatan yang selama ini nyaris hilang dari hidupnya perlahan mulai ia rasakan kembali di tempat itu.
Setelah semua selesai, Arini menghampiri Bu Khadijah yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.
"Bu, aku pamit dulu, ya."
Bu Khadijah menghentikan kegiatannya lalu menoleh dengan senyum lembut. "Mau ke mana, Nak?"
"Aku mau pulang sebentar ke rumah. Masih ada beberapa barang pribadi yang tertinggal di sana. Setelah itu mau pindah ke kamar yang ada di toko online."
"Wah, kenapa tidak tetap di sini saja? Bukankah di panti lebih ramai?" tanya Bu Khadijah dengan nada penuh perhatian.
Arini tersenyum tipis. "Sebenarnya aku juga nyaman di sini, Bu. Tapi kalau tinggal di toko lebih memudahkan pekerjaan. Operasionalnya berjalan dua puluh empat jam, jadi selalu ada karyawan yang berjaga. Kalau aku membutuhkan sesuatu atau tiba-tiba ada keperluan, tidak akan kesulitan karena selalu ada orang di sana."
Bu Khadijah mengangguk pelan. Ia memahami pertimbangan perempuan muda itu.
"Kalau itu memang yang terbaik menurutmu, Ibu mendukung. Tapi ingat, Nak, pintu panti ini selalu terbuka untukmu. Anggap saja tempat ini rumahmu sendiri."
Mata Arini kembali menghangat mendengar kalimat itu. "Terima kasih banyak, Bu. Arini tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Ibu dan anak-anak di sini."
Bu Khadijah mengusap lembut lengan Arini sebelum memeluknya singkat. "Hati-hati di jalan. Semoga semua urusanmu dimudahkan Allah!"
"Aamiin. Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam."
Arini kemudian melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman panti. Ia menoleh sekali lagi ke arah bangunan sederhana yang telah memberinya ketenangan di saat hidupnya sedang porak-poranda. Senyum kecil terukir di wajahnya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan perlahan. Mobil itu pun melaju meninggalkan Panti Asuhan Al Amanah menuju rumah yang pernah menjadi tempat ia membangun begitu banyak impian. Kini ia kembali ke sana bukan sebagai istri yang pulang menunggu suami, melainkan hanya untuk mengambil sisa-sisa barang yang masih menjadi miliknya. Setelah itu, ia akan memulai lembaran baru di kamar kecil yang berada di toko onlinenya—tempat yang akan menjadi rumah sementara sekaligus saksi perjuangannya untuk kembali bangkit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Arini lebih banyak diam. Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan mantap, sementara pandangannya lurus menembus jalanan yang mulai dipadati kendaraan.
Beberapa kali lampu merah memaksanya berhenti. Saat itulah pikirannya kembali dipenuhi berbagai kenangan. Jalan yang kini ia lewati adalah rute yang hampir setiap hari ia lalui selama menjadi istri Galang. Dulu, ia selalu pulang dengan hati berbunga, membawa berbagai rencana sederhana untuk keluarganya. Namun kini, jalan yang sama justru terasa asing. Seolah setiap meter yang dilalui mengingatkannya bahwa hidupnya telah berubah begitu drastis.
Arini menarik napas panjang. Berkali-kali ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa kepulangannya kali ini bukan untuk memperbaiki hubungan yang sudah retak. Ia hanya ingin mengambil barang-barang pribadinya yang masih tertinggal.
Tidak lebih.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah. Baru saja mesin dimatikan, pintu rumah sudah terbuka.
Bu Sumarni berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya dingin, bahkan senyum sekecil apa pun tak tampak di wajahnya.
"Hm... ternyata nggak betah juga di luaran sana, ya?" sindirnya begitu Arini turun dari mobil. "Akhirnya balik lagi ke rumah."
Arini menghentikan langkahnya sesaat. Kalimat itu menusuk, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk menanggapi setiap sindiran yang keluar dari mulut mantan ibu mertuanya.
Ia memilih tetap bersikap tenang. "Maaf, Bu. Aku datang bukan untuk kembali tinggal di sini."
Bu Sumarni mengangkat sebelah alisnya.
"Aku hanya ingin mengambil barang-barang pribadi saya yang masih tertinggal."
"Barang apa lagi? Bukannya waktu pergi kemarin sudah bawa semuanya?"
"Belum, Bu. Masih ada beberapa yang belum dibawa."
Raut wajah Bu Sumarni langsung berubah.
"Eh tunggu-tunggu, kamu gak boleh pergi lagi dari rumah ini, karena kamu masih sah menjadi istri Galang."
"Iya Bu, aku tahu itu. Tidak perlu diingatkan."
"Syukur kalau gitu. Sekarang, kamu belanja dan masak untuk makan siang nanti!"
"Apa? Gak salah Bu?"
"Apanya yang salah?"
"Ibu nyuruh aku masak? Mana menantu idaman ibu itu? Dia aja yang suruh belanja dan masak."
"Dia itu berkelas, gak mungkin mengerjakan pekerjaan kasar."
"Ya sudah, suruh aja Vera, atau kenapa gak Ibu sendiri yang masak, kok malah nyuruh aku?"
"Karena statusmu masih istri Galang." Bu Sumarni membentak.
Tanpa menghiraukan bentakannya dan memperpanjang perdebatan, Arini melangkah masuk ke dalam rumah. Setiap sudut ruangan masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Sofa di ruang tamu, foto-foto keluarga yang masih tergantung di dinding, hingga aroma rumah yang dulu begitu akrab kini justru terasa asing baginya.
Ia tidak datang untuk mengenang masa lalu. Ia datang untuk menutupnya dengan baik, mengambil apa yang menjadi haknya, lalu melangkah pergi menuju kehidupan yang baru.
Arini mengabaikan semua sindiran Bu Sumarni. Ia langsung berjalan menuju kamar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya beristirahat. Begitu masuk, ia menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Ia ingin membereskan barang-barangnya dengan tenang tanpa ada gangguan.
Lemari pakaian dibuka perlahan. Satu per satu baju, tas, dan barang-barang pribadinya dimasukkan ke dalam koper."
Belum lama Arini membereskan barang, tiba-tiba...
**Brak! Brak! Brak!**
Suara pintu digedor begitu keras hingga membuat Arini terkejut.
"Arini! Buka pintunya!" teriak Bu Sumarni dari luar.
Arini mencoba tetap fokus melipat pakaian. Namun gedoran itu semakin menjadi-jadi.
**Brak! Brak! Brak!**
Seolah orang yang berada di luar sudah kehilangan kesabaran.
Dengan menghela napas panjang, Arini akhirnya membuka pintu.
"Ada apa, Bu?"
Bu Sumarni langsung melangkah mendekat.
"Kamu ngapain ngunci pintu? Memangnya rumah ini rumah orang lain?"
"Aku sedang membereskan barang-barangku, Bu."
"Mau dibawa ke mana?"
"Saya akan pindah."
"Pindah?" Bu Sumarni mendengus. "Kamu nggak dengar ya? Kamu nggak boleh pergi dari rumah ini!"
Arini menatapnya tenang. "Bu, aku sudah mengajukan gugatan cerai. Selama prosesnya berjalan, saya memilih tinggal di tempat lain."
Mendengar itu, Bu Sumarni langsung tertawa sinis.
"Gugatan cerai?" katanya dengan nada meremehkan. "Siapa yang mau bercerai?"
Arini terdiam.
"Galang nggak akan menceraikanmu!" lanjut Bu Sumarni penuh keyakinan. "Kamu itu masih istri sah anak saya. Jadi berhenti bertingkah macam-macam dan tetap tinggal di rumah ini!"
Arini menarik napas pelan. "Maaf, Bu. Perceraian bukan hanya soal siapa yang mengucapkan talak atau siapa yang ingin mempertahankan. Biar pengadilan yang memutuskan."
"Pokoknya Ibu nggak setuju."
Dengan suara yang tetap sopan, Arini berkata,
"Maaf, Bu. Ada atau tanpa persetujuan Ibu, aku tetap akan mengajukan gugatan cerai tersebut.
Wajah Bu Sumarni langsung berubah masam.
"Kamu sekarang berani ya, menjawab terus. Dulu kamu gak kayak gini."
"Iya dulu begitu, ternyata dimanfaatkan, Aku gak mau begitu lagi." jawab Arini tenang. "Sekarang keadaan sudah berbeda."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arini menutup kembali pintu kamarnya. Kali ini ia menguncinya lagi dari dalam.
Di luar, suara omelan Bu Sumarni masih terdengar bersahutan. Namun Arini memilih tidak menggubris. Ia kembali memasukkan pakaian dan barang-barang miliknya ke dalam koper. Dia semakin mantap meninggalkan rumah yang tak lagi memberinya rasa nyaman.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.