Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Tak terasa waktu terus melangkah tanpa henti, hari demi hari berganti, minggu pun berlalu begitu saja, hingga tanpa disadari pernikahan Amara dan Abimanyu telah menginjak usia tiga bulan.
Tiga bulan yang dipenuhi kebersamaan dalam satu atap, namun belum cukup untuk meruntuhkan tembok gengsi yang sama-sama mereka bangun. Keduanya masih menjalani hari seperti biasa, saling memperhatikan dengan cara yang nyaris tak terlihat.
Amara selalu menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Abimanyu, semuanya terpenuhi sebelum pria itu berangkat bekerja. Begitupun Abimanyu, pria itu tanpa sepengetahuan Amara selalu mengawasi gerak gerik Amara baik di dalam maupun saat keluar.
Tak ada kata-kata manis yang terucap. Tak ada rayuan ataupun pengakuan yang berani dilontarkan. Perhatian mereka hadir dalam bentuk yang paling sunyi.
Namun di balik semua kepedulian itu, keduanya masih sama-sama keras kepala. Gengsi seolah menjadi dinding tinggi yang tak kunjung mampu mereka lewati. Setiap kali mata mereka bertemu, salah satunya akan buru-buru mengalihkan pandangan. Setiap kali hati mulai berani berharap, logika kembali menarik mereka untuk menjaga jarak.
Seperti halnya saat ini, tak seperti biasanya Amara sudah duduk lebih dulu menunggu Abimanyu di meja makan. Ia berulang kali melirik pintu kamar utama yang belum ada tanda-tanda kemunculan suaminya.
Kemana sih dia? Mandi saja lamanya melebihi perempuan, ck.
Gerutu Amara dalam hati, ia sudah tidak sabar ingin berbicara pada Abimanyu hendak meminta ijin untuk bekerja di kafe baru milik tantenya Erik.
Tak berselang lama pintu kamar utama berderit, mengalihkan perhatian Amara. Gadis itu segera menegakkan punggungnya kemudian berdehem, ia menoleh pada Abimanyu yang tengah menarik kursi.
"Om.."
"Hm" Abimanyu menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"
"Em, itu... Nanti saja, aku lapar mau makan dulu." Amara segera mengambil nasi, mengisi piring Abimanyu kemudian piringnya. Keduanya makan dalam diam, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Setelah beberapa menit Amara dan Abimanyu menghabiskan makannya dalam waktu bersamaan, dengan cepat Amara meneguk air putih hingga tandas. Ia melirik Abimanyu, memastikan suaminya itu sudah benar-benar menghabiskan makannya.
"Om," panggil Amara nampak ragu. Ia menjeda ucapannya sesaat kemudian kembali bersuara tanpa memberi celah pada Abimanyu untuk berbicara sebelum dirinya selesai. "Kalau boleh, aku mau kerja ya! Kebetulan tempat kerjanya dekat dari sini, jalan kaki paling sepuluh menit. Om enggak usah khawatir, meskipun aku kerja aku enggak bakal lupa tugas dan tanggung jawabku disini." Cerocosnya dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Abimanyu yang masih duduk tenang dengan raut yang sulit dibaca.
"Besok kalau berangkat kerja sekalian lewat coba om lihat, sebelah kiri jalan ada kafe belum lama buka. Itu kafe miliknya tante temanku, kemarin aku dikasih tahu dia bahwa tantenya buka loker."
Mendengar cerocosan Amara, Abimanyu menautkan kedua alisnya. Ia penasaran dengan teman yang dimaksud Amara, karena setahu dirinya kafe itu milik seorang influencer bernama Karenina.
"Siapa nama temanmu?"
"Erik."
"Erik?" Abimanyu membeo, "siapa dia?" tanya nya dengan sorot penasaran. Nama itu seolah tidak terlalu asing di pendengarannya namun ia lupa siapa.
"Teman SMA ku, om."
"Yang cowok itu?" Tanya Abimanyu sedikit kaget.
"Iya om cowok, namanya saja Erik masa iya cewek." Sahut Amara sedikit menggerutu, "boleh ya? Daripada aku jenuh."
"Enggak boleh!" Ucap Abimanyu pelan namun tak ingin dibantah. "Kamu butuh uang berapa, buat apa?" Pria itu menatap lurus wajah Amara yang seketika berubah.
"Ini bukan masalah uang om, aku di sini sama om enggak kekurangan apa-apa. Aku cuma jenuh enggak ada kegiatan kalau dirumah terus, ingin seperti orang-orang."
Abimanyu menghela napas, "kamu sudah ku kasih kebebasan. Boleh keluar ketemu teman-temanmu selama tahu batasan, apa itu masih kurang?" Tanya Abimanyu rendah.
"Om enggak bakalan ngerti!"
"Kurang mengerti apa aku? Katakan!" Abimanyu yang hendak bangkit mengurungkan niatnya, ada kilat amarah yang mulai terlihat dalam sorot matanya. "Aku berusaha ngertiin kamu, aku tidak menuntut apapun selain menjaga harga diriku sebagai suamimu!" Desisnya menahan emosi.
"Kamu minta ijin sama aku ketemu teman-temanmu di mall aku ijinin meskipun sebenarnya keberatan, entah aku harus menyebutmu apa selain bo-doh! Kamu pernah dijauhi, ditatap sinis karena kejadian orang tuamu tapi kamu masih mau bertemu dan berteman dengan orang-orang seperti itu." Lanjut Abimanyu, seolah baru saja menemukan celah untuk mengeluarkan semua unek-uneknya yang kini menjadi letupan amarah.
"Apa kamu pantas ijin sama suamimu, dan di luaran sana ketemu sama teman cowok sampai ci-um pipi kiri dan ci-um pipi kanan! kamu pikir selama ini aku diam itu karena enggak tahu?"
Wajah Amara memucat, tak menyangka Abimanyu tahu dirinya bertemu Erik di mall. Namun yang membuatnya lebih kaget karena Abimanyu mengatakan dirinya cipika cipiki dengan Erik, padahal itu sama sekali tidak dilakukannya. "Om jangan sembarang nuduh! Aku memang ketemu Erik, tapi enggak sampai ada ci-um pipi! Itupun rame-rame enggak cuma berduaan." Ucapnya agak keras tak terima dengan tuduhan Abimanyu.
"Aku juga tahu diri, tahu batasan sudah jadi istri om!" lanjutnya berapi-api. "Jangan bilang mantan kekasih terindah om yang ngadu? Ternyata cuma usia saja yang banyak, tapi pikirannya sempit karena masih percaya sama mantan." Sungut Amara kemudian berdiri, ia mengambil piring kotor bekasnya dan Abimanyu dengan sedikit keras kemudian membawanya ke wastafel.
Melihat kemarahan Amara, Abimanyu mendengus. Harusnya dia merasa bersalah, tapi kenapa malah balik marah. Umpatnya frustasi.
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️