Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 3
Alysia memarkir mobilnya di bahu jalan yang teduh tak jauh dari gerbang sekolah, tepat saat bel pulang berbunyi. Setelah memastikan Arkhasa duduk dengan aman di kursi belakang, dia membiarkan radio memutar lagu anak-anak, memberikan ruang bagi dirinya untuk menarik napas panjang.
Tangan Alysia meraih ponselnya. Jarinya menekan deretan angka kantor Damian yang sudah dia hapal di luar kepala, meskipun tak pernah dia gunakan.
"Halo, dengan kantor Bapak Damian di sini," suara seorang wanita, sekretaris baru Damian, terdengar profesional dan tajam.
Alysia menarik napas dalam, memantapkan suaranya agar terdengar setegas mungkin.
"Ini dari pihak sekolah Arkhasa. Saya ingin mengonfirmasi perihal agenda Family Day minggu depan, karena Bapak Damian sebelumnya diinformasikan sedang berada di Singapura."
Ada jeda sejenak di ujung sana, suara ketikan keyboard terdengar samar.
"Sebentar, Ibu. Saya cek jadwal Bapak untuk minggu depan."
Alysia menggenggam ponselnya erat hingga buku jarinya memutih.
"Bagaimana?" tanyanya, mencoba terdengar seperti pihak sekolah yang sibuk.
"Oh, mohon maaf," suara sekretaris itu terdengar sedikit kikuk.
"Sepertinya terjadi kekeliruan informasi. Bapak tidak ada agenda ke Singapura untuk urusan pekerjaan minggu depan. Jadwal beliau hari ini pun, sebentar, saya lihat catatan terakhir..."
Sekretaris itu terdiam, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit merendah.
"Bapak baru saja meminta izin untuk private leave sore ini. Beliau tadi memberikan instruksi agar saya tidak mengganggu untuk urusan apa pun. Sepertinya beliau sedang menghadiri acara pribadi di The Grand Pavilion."
The Grand Pavilion.
Alysia merasakan dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar. Hotel itu bukan tempat untuk pertemuan bisnis. Itu adalah tempat yang sering menjadi lokasi perjamuan eksklusif, tempat di mana orang-orang dari lingkaran sosial yang sama dengan Damian mengadakan acara-acara pribadi yang sangat privat.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Ibu?" tanya sekretaris itu.
"Kalau begitu tolong di informasikan untuk pekan depan acara dari sekolah Arkhasa kepada Pak Damian. Kami menunggu informasi lebih lanjut, terima kasih," jawab Alysia pelan, lalu memutus sambungan.
Dia mematikan ponselnya, jemarinya terkulai lemas di atas setir. Kebohongan itu terasa seperti tamparan yang lebih keras daripada penolakan fisik mana pun. Damian tidak pergi ke Singapura. Damian tidak sedang rapat. Dia hanya tidak ingin ada di rumah, dan dia lebih memilih tempat lain, entah dengan siapa. Daripada menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri.
"Mama? Kenapa diam saja? Kita mau beli es krim, kan?" suara Arkhasa dari kursi belakang membuyarkan lamunannya.
Alysia memejamkan mata, membiarkan kepedihan itu meresap ke tulang-tulangnya. Enam tahun pernikahan ini, yang bermula dari pernikahan yang dia kira dibangun di atas niat baik, kini terasa seperti sebuah sandiwara yang dia mainkan sendirian.
Dia menatap bayangannya di spion tengah. Matanya yang tadinya penuh dengan tekad kini tampak redup, namun kemudian perlahan mengeras.
"Iya, Sayang. Kita beli es krim," jawab Alysia dengan suara yang masih stabil, seolah tidak ada sesuatu yang hancur di dalam dadanya.
Dia melajukan mobilnya, bukan ke arah rumah, melainkan memutar arah menuju pusat kota. Jika Damian ingin bermain rahasia, maka Alysia tidak akan lagi menjadi istri yang duduk diam menunggu di rumah.
Dia adalah wanita yang mampu membangun dunianya sendiri, dan mungkin, sudah saatnya dia melihat dengan mata kepala sendiri ke mana sebenarnya Damian selama ini melangkah.
Di balik kemudi, Alysia tidak lagi merasa takut. Dia merasa kosong. Dan dalam kekosongan itu, dia menemukan keberanian untuk pertama kalinya sejak dia melangkah masuk ke rumah Damian enam tahun lalu.
Dia akan membawa Arkhasa ke tempat itu, bukan untuk membuat keributan, tapi untuk memberikan jawaban final pada dirinya sendiri. Apakah masih ada ruang bagi mereka di hidup Damian, atau apakah ini saatnya bagi Alysia untuk benar-benar menggunakan tabungan yang dia kumpulkan selama dua tahun terakhir untuk melangkah keluar?
Alysia melajukan mobilnya dengan tenang, namun setiap injakan pedal gas terasa seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Arkhasa, yang duduk di belakang, sudah asyik dengan buku gambarnya, sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya sedang membawa mereka menuju sebuah persimpangan hidup.
The Grand Pavilion berdiri megah dengan arsitektur klasik yang dingin dan angkuh. Alysia memarkir mobilnya agak jauh dari lobi utama, di barisan parkir yang tidak terlalu mencolok. Dia tidak turun, hanya memperhatikan pintu masuk hotel tersebut dari balik kaca jendela.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa melihat bagaimana pria yang membagikan hidup dengannya selama enam tahun. Pria yang dia rawat setiap pagi, justru membuang waktu di tempat yang begitu jauh dari kata "keluarga".
Tak sampai sepuluh menit menunggu, sebuah mobil sedan hitam mewah melambat di depan lobi. Damian keluar dari sana. Dia mengenakan setelan jas yang berbeda dari yang ia pakai pagi tadi, yang ini tampak lebih santai namun tetap elegan.
Namun, bukan Damian yang membuat napas Alysia tercekat.
Seorang wanita keluar dari kursi penumpang depan. Anggun, dengan gaun berwarna champagne yang berkilau tertimpa lampu lobi. Wanita itu merangkul lengan Damian dengan sangat alami. Tidak ada jarak, tidak ada dingin, tidak ada kaku.
Damian bahkan menunduk sedikit, membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu, yang dibalas dengan tawa renyah yang terdengar sampai ke telinga Alysia atau mungkin, hanya ilusi pendengarannya saja yang menciptakan suara itu.
Mereka melangkah masuk ke dalam hotel, bahu mereka bersentuhan, menciptakan pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harapan Alysia.
"Mama, itu Papa bukan?" suara kecil Arkhasa memecah keheningan di dalam mobil.
Arkhasa telah berpindah posisi, hidungnya menempel di kaca jendela, menatap ke arah yang sama dengan Alysia. Alysia berusaha mati-matian menahan air matanya di depan Arkhasa. Dia tak ingin anaknya melihat kehan-curan ibunya, ibu sambungnya.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,