Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Griya Lestari
Hari itu belum selesai menguji gerbang Cluster Pondok Indah.
Hendry berjalan ke gerbang utara dengan Mawar di sampingnya dan Nasi di bahu. Fajar sudah lebih dulu menempatkan empat penjaga di balik pagar. Melati berdiri di sisi kiri dengan api kecil di ujung jari, tidak cukup besar untuk mengancam, tetapi cukup jelas untuk membuat orang sadar bahwa gerbang ini bukan tempat meminta belas kasihan sambil berbohong.
Di luar pagar, sekitar dua puluh orang berdiri dalam kelompok rapat.
Mereka bukan rombongan yang baru kabur lima menit lalu. Hendry bisa melihat itu dari cara mereka mengatur posisi. Anak-anak dan orang lemah berada di tengah. Dua pria dewasa memegang tongkat di sisi luar. Seorang pemuda kurus dengan luka di pipi berdiri agak depan, napasnya ringan, kakinya siap bergerak cepat. Wind Power Level 1, kemungkinan besar.
Di tengah rombongan itu berdiri seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan. Kemeja putihnya sudah kotor, rambutnya diikat rapi seadanya, dan di tangannya ada map plastik bening. Tubuhnya lelah, tetapi matanya tidak berantakan.
Ia tahu cara memimpin orang yang takut.
"Nama?" tanya Hendry dari balik pagar.
Perempuan itu melangkah setengah langkah, tidak terlalu dekat. "Cahaya Tan. Kami dari Perumahan Griya Lestari. Kompleks kami jatuh dua hari lalu. Kami kehilangan pagar, gudang makanan, dan separuh penjaga. Saya membawa yang tersisa ke sini karena melihat asap dapur dan pola patroli kalian."
Bagus yang baru datang dari arah barat mengangkat alis. "Dia lihat pola patroli kita?"
Fajar langsung terlihat tidak senang.
Cahaya cepat menundukkan kepala sedikit. "Bukan untuk menyerang. Kalau pola patroli acak, saya tidak akan berani mendekat. Itu artinya tempat ini dipimpin orang panik. Tapi gerbang kalian bersih, pos barat ditutup ulang pagi ini, dan penjaga tidak meninggalkan titik terlalu lama. Itu tanda ada komando."
Hendry menatapnya beberapa detik.
Jawaban seperti itu tidak lahir dari orang yang cuma ingin makan gratis.
"Sebelum kiamat kerja apa?"
"Manajer operasional perusahaan distribusi alat kesehatan."
"Jumlah orang?"
"Dua puluh satu termasuk saya. Tiga luka sedang, enam non-combat, empat pernah jaga malam, dua Awakener."
Fajar melirik Hendry. Detailnya terlalu rapi untuk orang panik, tetapi justru itu yang membuatnya berguna.
"Awakener maju," kata Hendry.
Pemuda kurus yang tadi Hendry perhatikan maju lebih dulu. Ia mengangkat tangan, lalu angin kecil berputar di sekitar pergelangan. Tidak kuat, tetapi cukup untuk mempercepat langkah atau mendorong debu ke mata musuh.
"Wind Power Level 1," katanya. "Saya bisa lari cepat dan dorong benda ringan."
Hendry mengangguk. "Kembali."
Orang kedua maju dengan senyum manis.
Perempuan muda itu memakai jaket krem bersih yang terlalu dijaga untuk ukuran pengungsian. Wajahnya cantik, matanya basah seperti selalu siap menangis, dan cara ia menunduk kepada Hendry tampak pas di permukaan.
"Nama saya Crystal Susanto," katanya lembut. "Light Power Level 1. Tidak sehebat Kak Mawar, tapi saya bisa bantu luka kecil."
Nasi langsung menggeram.
Suara itu pendek, rendah, dan tajam.
Crystal berhenti tersenyum sepersekian detik. Sangat cepat. Kebanyakan orang tidak akan melihatnya.
Hendry melihat.
Mawar juga menoleh ke Nasi, lalu kembali menatap Crystal dengan sopan. "Kamu tahu aku?"
Crystal tersenyum lagi. "Saya dengar dari orang-orang di jalan. Katanya di sini ada healer yang baik sekali."
Pujian itu terlalu halus. Terlalu cepat mencari jalur ke orang yang penting.
Melati menyilangkan tangan. "Kamu dengar dari siapa?"
"Saya lupa namanya, Kak. Di jalan banyak orang bicara."
Melati tidak tersenyum. "Aku belum jadi kakakmu."
Udara di depan gerbang menegang.
Cahaya langsung memotong sebelum Crystal menjawab terlalu manis. "Maaf. Kami semua masih belajar batas tempat ini. Kalau diizinkan masuk, saya siap mengikuti aturan screening."
Hendry mengangkat tangan. Melati mundur setengah langkah, meski matanya masih menempel pada Crystal.
"Aturannya sederhana," kata Hendry. "Tidak ada yang masuk ke villa utama. Semua tas dibuka. Senjata dikumpulkan dan dicatat. Luka diperiksa Mawar. Awakener dicatat jenis dan levelnya. Makanan pertama adalah porsi pemulihan, bukan porsi tempur. Siapa pun yang menyembunyikan gigitan, racun, senjata, atau niat menyerang, keluar. Kalau melawan, mati."
Beberapa orang di rombongan pucat.
Cahaya justru mengangguk. "Itu adil."
"Belum tentu enak."
"Tempat aman memang tidak dibangun untuk enak dulu, Pak Hendry. Dibangun supaya besok masih ada orang yang hidup untuk mengeluh."
Bagus tertawa pendek. "Gue suka yang ini."
Hendry memberi isyarat kepada Fajar. Gerbang dibuka separuh, cukup untuk satu orang lewat. Rombongan Griya Lestari masuk satu per satu, melewati pemeriksaan di bawah mata Raja yang duduk seperti patung penjaga.
Setiap tas dibuka. Ada pakaian, beberapa kaleng makanan, obat flu, dua pisau dapur, satu golok karatan, dan tiga botol air yang langsung disita untuk diperiksa. Mawar memeriksa luka. Dewi menyiapkan bubur encer dan teh panas tanpa gula berlebihan. Awan menutup area saluran utara dengan es tipis sementara proses berjalan.
Crystal membantu seorang perempuan tua duduk. Tangannya menyala lembut, menutup luka lecet di punggung tangan orang itu.
Beberapa anggota baru langsung memandangnya dengan rasa terima kasih.
Nasi menggeram lagi.
Hendry tidak menghentikan Crystal. Kemampuan yang berguna tidak otomatis berarti pemiliknya aman. Justru orang yang berguna dan haus posisi lebih berbahaya daripada pengkhianat bodoh.
Ia hanya berkata pelan kepada Fajar, "Catat siapa saja yang mendekat ke Crystal setelah ini."
Fajar mengangguk tanpa menoleh. "Siap."
Sore harinya, Cahaya duduk di ruang tamu samping, bukan ruang kerja utama. Di meja ada tiga kertas: daftar nama rombongan, catatan stok sementara, dan jadwal kerja kosong. Hendry sengaja tidak memberinya akses ke semua angka.
"Kamu membawa dua puluh orang melewati jalan yang sudah penuh zombie," kata Hendry. "Kenapa tidak bertahan di Griya Lestari?"
Cahaya menaruh map plastik di meja. Di dalamnya ada peta perumahan dengan tanda merah di tiga titik.
"Pagar belakang rusak. Awalnya cuma lima zombie masuk. Salah satu penghuni menyembunyikan luka. Malamnya berubah di rumah sendiri, menggigit anaknya, lalu panik menyebar. Kami menutup blok tengah, tapi gudang makanan ada di sisi yang jatuh."
"Berapa banyak yang kamu tinggalkan?"
Jari Cahaya berhenti sebentar di atas peta. "Yang mati? Lebih dari tiga puluh. Yang tidak bisa saya bawa? Empat."
Tidak ada pembelaan diri di wajahnya. Hanya angka yang sudah terlalu sering ia hitung.
"Kenapa aku harus percaya kamu tidak akan merebut orangku dari dalam?"
Cahaya menatap Hendry langsung. "Karena saya sudah melihat apa yang terjadi pada tempat tanpa komando. Saya bisa mengatur jadwal, stok, dapur tambahan, tempat tidur, pekerjaan non-combat, dan laporan harian. Tapi saya bukan orang yang bisa membunuh Racun Hidayat sebelum dia bicara. Tempat ini butuh Anda. Kalau saya ingin hidup lebih lama, saya harus membuat tempat ini lebih rapi, bukan merebutnya."
Hendry mengetuk meja sekali.
Jawaban itu cukup tajam.
"Mulai malam ini kamu bantu Dewi dan Fajar di logistik non-tempur. Bukan kepala. Bantu. Tiga hari masa observasi."
Cahaya mengangguk. "Saya mengerti."
"Jumlah orang di base sekarang menembus empat puluh. Mulai besok, kita pakai papan kerja. Porsi makan dicatat, stok keluar dicatat, air dan obat dicatat. Sebagian angka dibuka ke anggota supaya tidak ada yang bisa memainkan isu kelaparan."
Cahaya untuk pertama kalinya tampak sedikit lega. "Transparansi terbatas. Cukup untuk menenangkan orang, tidak cukup untuk membocorkan stok asli."
Hendry menatapnya lebih lama.
"Kamu cepat."
"Kalau lambat, saya sudah mati di Griya Lestari."
Malam turun dengan lebih banyak suara daripada biasanya. Dua puluh satu orang baru berarti lebih banyak batuk, langkah, tangis tertahan, dan bisik-bisik. Fajar menambah jadwal jaga. Bagus membuat garis latihan di halaman. Dewi mengomel karena dapur tiba-tiba seperti warung pengungsian, tetapi tangannya tetap bergerak cepat.
Hendry berdiri di lantai dua, melihat halaman.
Base-nya bukan lagi rumah besar dengan beberapa orang kuat.
Ini mulai menjadi organisasi.
Dan organisasi selalu punya penyakit sendiri.
Di bawah, Crystal sedang membagikan senyum kecil kepada dua anggota baru. Ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia bahkan membantu. Tetapi Nasi duduk di railing dekat Hendry, ekornya bergerak pelan, matanya tidak lepas dari perempuan itu.
"Aku lihat," kata Hendry pelan.
Nasi menepuk railing sekali.
Larut malam, ketika sebagian orang sudah tidur, Crystal menghampiri Mawar di dekat meja obat. Melati berada di balik pintu dapur, mengambil air panas untuk adiknya, dan langkahnya berhenti saat mendengar suara Crystal.
"Kak Mawar," panggil Crystal lembut.
Mawar menoleh. "Panggil Mawar saja. Ada luka yang sakit?"
"Tidak. Saya cuma mau terima kasih. Di luar sana susah sekali menemukan orang sebaik kamu." Crystal tersenyum malu. "Hendry juga... luar biasa, ya. Dia kelihatannya dingin, tapi pasti perhatian sekali sama kamu."
Mawar menutup kotak obat pelan. "Hendry perhatian pada semua orang yang mengikuti aturan."
"Iya, tentu." Crystal menunduk, lalu tertawa kecil. "Tapi aku merasa dia beda kalau melihat kamu. Kamu beruntung sekali bisa dekat dengan orang sekuat itu."
Di balik pintu, mata Melati menyipit.
Mawar tetap sopan. "Di sini, yang membuat orang bertahan bukan dekat dengan siapa. Tapi kontribusi apa yang bisa diberikan."
Senyum Crystal tidak jatuh. Justru makin manis.
"Aku juga ingin berkontribusi. Mungkin kamu bisa ajari aku cara memakai Light Power lebih baik? Supaya aku tidak selalu jadi beban."
Melati memegang gelas lebih erat.
Ia akhirnya mengerti bau yang sejak sore membuatnya tidak nyaman.
Bukan bau racun seperti Racun Hidayat.
Ini bau ambisi yang dibungkus gula.