"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32 - Supplier Yang Terlalu Ramah
Arya datang tepat pukul dua.
Safira menghargai ketepatan waktu. Ia juga mencurigainya. Orang yang terlalu rapi sering sedang menjual sesuatu lebih dari yang terlihat.
Hari itu Safa Atelier sudah hampir siap. Ruang konsultasi memiliki sofa kecil, meja kaca, dan rak sampel. Di sudut ruangan, papan nama baru bersandar menunggu dipasang. Safira memakai kemeja putih dan celana kain, rambutnya diikat rendah. Di depannya ada buku catatan supplier, laptop, dan kalkulator.
Arga duduk di meja kecil dekat jendela, membuka laptop seolah sedang bekerja.
Safira tahu ia mendengar semuanya.
Arya masuk membawa koper sampel. Senyumnya cerah, parfumnya mahal, dan caranya menatap ruangan membuat Safira merasa ia sedang menghitung nilai semua benda.
"Wah, atelier baru tapi sudah terasa hidup."
"Masih proses," jawab Safira.
"Justru proses itu menarik. Saya suka bekerja dengan brand yang sedang naik."
Arga tidak mengangkat wajah.
Arya meliriknya, lalu tersenyum kepada Safira. "Mas Arga ikut meeting?"
"Mas Arga ada di sini," jawab Safira. "Semua keputusan tetap saya yang ambil."
"Tentu. Saya justru senang suami mendukung."
Kata `mendukung` terdengar netral, tetapi Safira menangkap nada kecil di dalamnya. Seolah Arga hanya pelengkap.
Ia tidak memperpanjang.
Arya membuka koper. Sampel kain tersusun rapi. Lace Prancis, organza, satin premium, tile bordir, dan beberapa batik tulis dengan warna modern. Safira tidak bisa menyangkal kualitasnya bagus.
"Untuk klien seperti Bu Laras, saya sarankan ini," kata Arya sambil mengeluarkan lace warna champagne. "Jatuhnya mewah. Kalau Mbak pakai supplier biasa, hasilnya bisa kalah di lampu ballroom."
Safira menyentuh kain itu. Halus. Lentur. Memang bagus.
"Harga?"
Arya menyebut angka.
Safira menulis. "Minimum order?"
"Untuk Mbak Safira, saya bisa fleksibel."
"Tuliskan angka fleksibelnya."
Arya tertawa. "Mbak ini tegas sekali."
"Saya sedang bekerja."
Arga akhirnya mengangkat pandangan sebentar.
Safira tidak melihatnya, tetapi ia merasa udara berubah lebih aman.
Arya mengambil katalog harga. "Baik. Untuk lace ini minimum lima meter. Tapi kalau Mbak mau, saya bisa kasih tiga meter dulu."
"Dengan harga sama?"
"Sedikit lebih tinggi."
"Berapa?"
Arya menyebut angka lagi.
Safira menghitung. Tidak buruk. Tapi belum cukup.
"Kalau pembayaran tempo?"
"Untuk pelanggan baru biasanya tidak. Tapi untuk Mbak..." Arya tersenyum. "Bisa kita bicarakan."
"Syarat tertulis?"
"Santai saja. Kita kan akan sering kerja sama."
Safira menutup buku catatan.
"Mas Arya, saya tidak bekerja dengan kata santai untuk urusan uang."
Senyum Arya tidak hilang, tetapi matanya menajam sedikit. "Tentu. Saya hanya ingin mempermudah."
"Permudah dengan invoice, jatuh tempo, denda, dan ketentuan retur."
Arga menunduk lagi, tetapi sudut bibirnya bergerak.
Arya akhirnya mengeluarkan form kerja sama. "Saya sudah siapkan sebenarnya."
"Bagus."
Pertemuan berlanjut lebih serius. Safira membandingkan tiga jenis kain, menanyakan asal, stok, waktu pengiriman, dan kemungkinan cacat warna. Arya menjawab cukup baik. Semakin lama, ia semakin paham bahwa Safira tidak bisa dibeli dengan pujian.
Namun ia masih mencoba.
"Mbak Safira punya mata bagus. Jarang desainer muda sepeka ini."
"Terima kasih. Harga untuk satin ini?"
"Mbak tidak mudah dialihkan, ya."
"Saya belajar."
"Dari Mas Arga?"
Safira menatapnya. "Dari hidup."
Arga berhenti mengetik.
Arya mengangkat tangan kecil. "Saya tidak bermaksud menyinggung."
"Bagus."
Setelah hampir dua jam, Safira memilih beberapa kain untuk pesanan Bu Laras dan satu sampel batik untuk koleksi atelier. Total belanja cukup besar, tetapi masih masuk proyeksi. Ia meminta invoice dikirim ke email.
Arya menutup koper. "Kalau Mbak ingin melihat gudang saya, kapan-kapan saya antar. Banyak koleksi yang tidak saya bawa."
"Saya bisa datang dengan tim."
"Tidak perlu ramai-ramai. Gudangnya nyaman."
Arga menutup laptop.
Suara klik kecil itu membuat Arya menoleh.
Arga berdiri. "Istri saya sudah menjawab."
Arya tersenyum. "Tentu. Saya hanya menawarkan."
"Tawarkan dalam format kerja."
Safira menatap Arga. Nadanya tenang, tetapi jelas.
Arya menilai Arga lagi. "Mas Arga kelihatannya sangat protektif."
"Iya."
Jawaban itu terlalu langsung sampai Arya kehilangan ritme.
Safira menahan senyum.
Arya akhirnya pamit. Sebelum keluar, ia menatap Safira. "Saya tunggu kabar setelah kain sampai. Semoga kerja sama kita panjang."
"Kalau kualitas dan administrasinya baik, bisa."
"Selalu bisnis."
"Memang."
Setelah pintu tertutup, Safira duduk dan menghela napas.
Arga mendekat. "Kamu bagus sekali."
"Aku merasa seperti ujian."
"Kamu lulus."
"Dia berbahaya?"
"Cukup."
"Tapi kainnya bagus."
"Saya tahu."
"Jangan menyuruhku menolak kain bagus hanya karena orangnya menyebalkan."
"Saya tidak akan."
"Kamu tadi hampir."
"Saya hampir menyuruh orangnya jangan menyebalkan."
Safira tertawa.
Arga mengambil invoice sementara yang ditinggalkan Arya. "Saya cek?"
"Boleh. Tapi jangan ubah tanpa bilang."
"Saya hanya cek."
Mereka duduk berdampingan memeriksa harga. Arga menemukan dua klausul kecil yang bisa merugikan jika pengiriman terlambat. Safira menandainya untuk dinegosiasikan ulang.
"Kamu benar-benar berguna," kata Safira.
"Saya tersanjung."
"Jangan terlalu."
"Baik."
Sore itu, kain dari Arya belum tentu menjadi masalah. Namun Safira tahu, dunia usahanya mulai berubah. Dulu ia berurusan dengan pelanggan kecil, toko langganan, dan kerja yang dibayar setelah selesai. Sekarang ia mulai masuk dunia kontrak, supplier premium, klien besar, dan orang-orang yang tersenyum sambil menyembunyikan syarat.
Ia takut.
Tapi kali ini takutnya terasa seperti tanda bahwa ia sedang naik kelas.
Ponsel Arga bergetar. Ia melihat layar, lalu menolak panggilan.
Safira membaca sekilas nama `Sekar`.
Udara ruko berubah.
"Angkat kalau penting," kata Safira.
"Tidak penting."
"Kamu belum lihat isi pesannya."
Pesan masuk beberapa detik kemudian.
`Kita perlu bicara soal tadi pagi. Ini juga menyangkut Safira.`
Safira menatap layar itu.
Arga mengunci ponsel.
"Tidak hari ini."
"Mas Arga."
"Saya akan bicara dengan dia, tapi bukan tanpa kamu tahu."
Safira menahan napas.
Itu jawaban yang lebih baik daripada penolakan kosong.
"Baik," katanya. "Tapi jangan terlalu lama."
"Tidak."
Di luar, papan nama Safa Atelier akhirnya dipasang tukang. Ketika paku terakhir masuk, suara logam kecil menggema.
Safira menoleh.
Namanya kini tergantung di depan ruko.
Dan di dalam ruangan, satu per satu urusan besar mulai mengetuk pintu.
Belum sampai satu jam setelah papan itu terpasang, Arya mengirim pesan lewat Nadia. Ia tidak lagi memakai alamat surel kantor, melainkan nomor pribadi yang tidak pernah Safira berikan.
`Mbak Safira, saya masih di sekitar Kemang. Kalau ada waktu, saya bisa mampir lagi. Ada contoh kain yang menurut saya cocok sekali untuk kulit Mbak.`
Nadia membaca pesan itu dengan alis naik. "Kulit Mbak?"
Dinda yang sedang menyusun pita langsung memutar badan. "Ini supplier atau sales body lotion?"
Safira mengambil ponsel dari tangan Nadia. "Balas: semua sampel kain dikirim lewat kurir ke alamat atelier, diterima oleh staf, dicatat dalam daftar inventaris."
"Dingin sekali," kata Dinda.
"Harus."
Nadia mengetik, lalu berhenti. "Mbak, perlu tambahkan jam operasional?"
"Tambahkan. Dan tulis bahwa semua pembahasan harga dilakukan melalui email kantor."
Dinda menyandarkan pinggul ke meja. "Kalau dia tetap datang?"
"Kita minta dia tunggu di depan. Kalau masih memaksa, kita tolak kerja sama."
Arga yang sejak tadi berdiri di dekat pintu berkata, "Saya bisa minta Bima cek latar belakang perusahaannya."
Safira menatapnya. "Cek perusahaan, bukan cek hidup pribadinya."
"Saya mengerti."
"Dan jangan tiba-tiba membeli pabrik kainnya."
Dinda tersedak tawa.
Arga menatap istrinya beberapa detik, lalu menjawab datar, "Itu bukan solusi pertama saya."
"Tapi masuk daftar?"
"Tergantung tingkat gangguannya."
Safira ingin kesal, tetapi sudut bibirnya naik sedikit. "Mas Arga, aku serius."
"Saya juga."
Keheningan kecil jatuh di antara mereka. Safira tahu Arga sedang berusaha menahan caranya yang biasa: menghilangkan masalah dengan uang, pengaruh, dan perintah singkat. Ia menghargai usaha itu, walaupun masih ada bagian dirinya yang khawatir suatu hari Arga akan kembali bergerak terlalu cepat.
Beberapa menit kemudian, Arya membalas.
`Baik, Mbak. Maaf kalau saya terlalu antusias. Saya hanya kagum dengan cara Mbak memilih material. Jarang ada desainer muda yang matanya setajam itu.`
Dinda membaca dari samping. "Dia mundur, tapi sambil lempar bunga."
Safira meletakkan ponsel. "Tidak apa-apa. Bunga tidak harus diambil."
Nadia terkekeh.
Namun Arga tidak tertawa. Tatapannya tertuju pada layar ponselnya sendiri. Ada pesan masuk dari Sekar lagi.
`Aku perlu bertemu. Ini tentang perempuan yang kamu nikahi. Kalau kamu tidak datang, jangan salahkan aku kalau orang lain tahu lebih dulu.`
Arga menutup ponsel perlahan.
Safira melihat gerakan itu.
"Sekar?" tanyanya.
Arga mengangguk.
Kali ini Safira tidak marah. Ia hanya mengambil buku catatan pesanan dari meja, lalu berkata, "Kita selesaikan pelanggan dulu. Setelah itu, kamu ceritakan semua isi pesannya."
Arga menatapnya seperti baru saja diberi kesempatan yang tidak ia duga.
"Semua," ulang Safira.
"Semua," jawab Arga.