NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Tipis Profesionalisme

Hari Senin pagi adalah ujian terberat bagi ketahanan mental Aulia Putri.

Di depan cermin kamarnya, Aulia menghabiskan waktu sepuluh menit lebih lama hanya untuk memastikan penampilannya hari ini tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi spekulasi orang kantor.

Ia menyanggul rambut cokelat gelapnya dengan sangat kencang hingga tidak ada sehelai pun rambut halus yang lolos.

Blazer hitamnya dikancingkan rapat, rok pensil selututnya disetrika tanpa kerutan, dan ia bahkan memilih kacamata baca berbingkai tipis alih-alih lensa kontaknya, sebuah upaya visual untuk mempertegas jarak profesional.

"Ingat kesepakatan malam itu, Aulia," bisik Aulia pada bayangannya di cermin.

"Di lantai empat puluh dua, dia adalah Pak Khatyr Ali Fatih, Chief Executive Officer Kalumperri Corp. Dan kamu adalah sekretaris eksekutifnya. Tidak boleh ada debaran aneh, tidak boleh ada tatapan berlama-lama."

Aulia menghela napas panjang, mengencangkan pegangannya pada tas selempangnya, lalu melangkah mantap menuju kantor.

Namun, semua benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sejak subuh tadi langsung terasa goyah begitu ia melangkah keluar dari lift eksekutif lantai 42.

Suasana lantai teratas itu masih sepi karena jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.

Aulia melangkah menuju mejanya, meletakkan tasnya, dan bersiap membuat teh chamomile hangat untuk bosnya.

Saat ia berbalik menuju pantry, ia hampir saja menabrak dada bidang seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

"Pagi, Sekretaris Galak," sapa sebuah suara bariton yang sangat familier.

Suara itu terdengar begitu dekat, hangat, dan sarat akan nada menggoda yang membuat bulu kuduk Aulia meremang.

Aulia tersentak mundur satu langkah, menekan dadanya yang mendadak berdetak kencang.

Di hadapannya, Khatyr berdiri dengan kemeja putih tanpa jas, dua kancing teratasnya terbuka santai, dan rambut hitam tebalnya yang acak-acakan alami tanpa sentuhan pomade, persis seperti penampilannya di penthouse malam itu.

"P-Pak Khatyr..." Aulia tergagap sesaat sebelum dengan cepat memulihkan raut wajah datarnya yang formal.

Ia memundurkan tubuhnya lagi, menciptakan jarak aman sejauh satu meter.

"Selamat pagi. Anda datang sangat pagi hari ini. Dan mohon diingat, ini masih di area kantor. Panggilan formal adalah keharusan."

Khatyr mengulas senyum tipis yang sangat menawan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Aulia dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kacamata baru? Dan sanggulan rambut yang... sangat kencang. Apakah kamu sedang mencoba berperan sebagai sersan militer hari ini, Aulia?"

"Saya sedang berusaha menjaga profesionalitas kerja kita, Pak," jawab Aulia dengan penekanan tegas pada kata 'Pak'.

Ia mengulurkan tangannya, menunjukkan tablet kerja di mejanya.

"Jadwal Anda hari ini sangat padat. Pukul sembilan ada rapat koordinasi dengan divisi pemasaran, dan pukul sebelas Anda harus menandatangani dokumen persetujuan ekspansi logistik dengan tim Sterling Capital. Saya harap Anda sudah membaca draf yang saya kirimkan kemarin malam."

Khatyr melangkah maju satu langkah, memangkas kembali jarak yang baru saja diciptakan Aulia.

Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Aulia di balik lensa kacamatanya.

"Aku sudah membaca semuanya, Sekretaris Aulia," bisik Khatyr lembut, matanya berkilat jenaka.

"Tapi draf itu tidak semenarik wajahmu saat sedang panik seperti ini."

"Pak Khatyr!" Aulia mendesis pelan, melirik cemas ke arah meja resepsionis di lobi depan, takut jika Murni tiba-tiba datang lebih awal dan melihat interaksi mereka.

"Tolong jaga sikap Anda. Jika ada staf lain yang melihat—"

"Tenang saja, Murni tidak akan datang sebelum jam delapan lewat lima belas," sela Khatyr santai, namun ia akhirnya melangkah mundur, menyadari ketakutan yang nyata di mata Aulia.

Pria itu menghela napas pelan, lalu mengusap tengkuknya.

"Baiklah, baiklah. Aku akan mematuhi kesepakatan kita. Tapi setidaknya, biarkan aku mendapatkan teh buatanmu pagi ini. Kepalaku masih agak pusing karena meninjau kode server Sentul semalam."

Mendengar keluhan fisik dari bosnya, naluri "gembala" di dalam diri Aulia seketika mengambil alih.

Tatapan galaknya melunak berganti dengan rasa khawatir yang tulus.

"Pusing? Apakah insomnia Anda kambuh lagi semalam?"

"Sedikit," jawab Khatyr dengan cengiran tanpa dosa.

"Tapi tidak separah dulu. Aku hanya... merindukan wangi teh chamomile dan vanila yang biasa kamu semprotkan."

Aulia merasakan pipinya memanas.

Ia segera berbalik menuju pantry untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Saya akan membuatkan teh Anda sekarang, Pak. Mohon segera masuk ke ruangan Anda dan rapikan kancing kemeja Anda sebelum staf lain berdatangan."

Khatyr terkekeh renyah, melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan hati yang dipenuhi kegembiraan.

Perang dingin profesional ini ternyata jauh lebih menarik daripada yang ia duga.

Ujian sesungguhnya dimulai ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh siang.

Ruang Rapat Divisi Pemasaran lantai 42 dipenuhi oleh belasan manajer senior dan staf analis.

Pertemuan itu membahas mengenai kampanye digital baru untuk layanan logistik premium Kalumperri.

Di kepala meja, Khatyr duduk dengan jas abu-abu gelapnya yang terkancing rapi, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan tak tersentuh.

Aulia berdiri tepat di sebelah kanan belakang kursi Khatyr, memegang tabletnya dengan sikap tubuh yang sangat tegap dan formal.

"Jadi, target pasar kita untuk kuartal ini adalah para pelaku UMKM digital di wilayah timur," ujar kepala divisi pemasaran yang sedang mempresentasikan slide di layar proyektor.

"Namun, kendala utama kita adalah biaya pengiriman logistik udara yang masih terlalu tinggi."

Khatyr mengetuk-ngetuk meja kayu jati dengan jari-jari tangannya yang panjang, menciptakan ketukan ritmis yang membuat suasana ruangan kian tegang.

"Biaya udara bisa dipangkas jika kita mengintegrasikan rute distribusi Sentul kita dengan jalur laut Sterling. Aku ingin tim analis menghitung ulang metrik efisiensinya malam ini."

"Baik, Pak CEO," jawab kepala divisi pemasaran patuh.

Khatyr kemudian menengadah sedikit, berniat meminta draf dokumen analisis Sterling dari Aulia.

"Aulia, tolong berikan draf analisis risiko dari meja..."

Khatyr menghentikan kalimatnya sesaat.

Di depan belasan pasang mata stafnya, ia hampir saja menggunakan nada suara manjanya yang biasa ia pakai jika sedang berdua saja dengan Aulia.

Aulia yang menyadari kesalahan kecil bosnya, dengan sangat cekatan langsung melangkah maju satu langkah.

Ia menyodorkan tabletnya dengan gerakan yang sangat profesional, memotong sebelum Khatyr sempat merusak citra wibawanya.

"Ini dokumen proyeksi risiko ekspansi Sterling yang Anda minta, Pak Khatyr," ujar Aulia dengan nada suara yang sangat datar, formal, dan tegas.

"Seluruh perhitungan metrik efisiensi sudah disaring di halaman pertama untuk memudahkan peninjauan Anda."

Khatyr menatap wajah datar Aulia yang menyembunyikan kepanikan kecil di balik kacamata bacanya.

Senyum tipis yang hampir tidak terlihat terukir di sudut bibir Khatyr.

Ia menerima tablet itu, dan saat melakukannya, ujung jari telunjuknya secara sengaja menyentuh punggung tangan Aulia dengan usapan lembut yang sangat singkat.

Sentuhan lembut yang tak terlihat.

Aulia seketika menarik tangannya kembali dengan gerakan sehalus mungkin, meskipun batinnya sedang berteriak histeris akibat sengatan listrik manis yang mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ia segera mundur kembali ke posisi berdirinya di belakang kursi Khatyr, mencoba menstabilkan napasnya yang mendadak tidak beraturan.

Beberapa staf analis di seberang meja sempat melirik interaksi singkat itu dengan dahi berkerut, namun mereka segera mengabaikannya karena ketegangan presentasi yang kembali berlanjut.

Saat jam makan siang tiba, ketegangan di antara mereka berdua mencapai puncaknya.

Khatyr mengirimkan pesan singkat ke ponsel pribadi Aulia saat seluruh staf luar sudah meninggalkan lantai 42 untuk makan siang di kantin bawah:

“Makan siang bersamaku di dalam ruangan. Aku sudah menyuruh Pak Ujang membeli sushi premium kesukaanmu.”

Aulia menatap pesan itu dengan dahi berkerut.

Ia melirik meja Murni yang kosong karena gadis itu juga sedang pergi makan siang.

Aulia segera mengetik balasan dengan cepat:

“Tidak bisa, Pak. Murni atau staf keuangan bisa saja kembali ke ruangan ini kapan saja untuk menyerahkan laporan fisik. Jika mereka melihat kita makan sushi bersama di dalam ruangan Anda yang terkunci, gosip baru akan meledak sebelum sore.”

Satu menit kemudian, pintu ruangan CEO terbuka sedikit. Khatyr melongokkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah cemberut yang sangat manja.

"Aulia... hanya makan siang. Pintu tidak akan kukunci. Mengapa kamu kaku sekali hari ini?"

Aulia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati pintu ruangan Khatyr dengan tangan berkacak pinggang.

"Pak Khatyr, harap kembali ke dalam. Ini adalah bagian dari komitmen kita. Jika kita tidak disiplin menjaga batas ini di kantor, cepat atau lambat rahasia kita akan terbongkar."

"Tapi aku lapar dan tidak mau makan sendirian," rengek Khatyr pelan, sepasang netra gelapnya menatap Aulia dengan pandangan memohon yang membuat pertahanan hati Aulia kembali goyah.

Aulia menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan ketegasannya.

"Saya akan meminta Murni untuk mengantarkan sushi itu ke dalam ruangan Anda begitu dia kembali nanti. Dan sebagai gantinya..."

Aulia melirik ke sekeliling lorong yang sepi. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, ia merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebuah kotak kertas kecil berisi kue sus cokelat panggang buatan rumah yang sempat ia beli di dekat apartemennya pagi tadi.

Aulia menyodorkan kotak itu ke tangan Khatyr dengan senyum manis yang sangat tipis dan cepat.

"Makanlah ini dulu untuk menambah energimu. Dan di dalam kotaknya... ada sesuatu untukmu."

Khatyr menerima kotak kue tersebut dengan binar mata yang mendadak berubah sangat gembira.

"Apa ini?"

"Rahasia. Bacalah di dalam ruanganmu sendiri," bisik Aulia cepat sebelum mendorong dada tegap Khatyr masuk kembali ke dalam ruangannya dan menutup pintu ganda kayu jati itu rapat-rapat.

Khatyr berdiri di balik pintunya yang tertutup dengan senyum lebar yang menghiasi wajah tampannya. Ia segera berjalan menuju sofa, duduk di sana, dan membuka kotak kertas kecil tersebut.

Di bagian dalam tutup kotak kue, terdapat selembar kertas memo kuning kecil dengan tulisan tangan rapi milik Aulia:

“Bekerjalah dengan baik hari ini, Khatyr kesayanganku. Selesaikan semua dokumenmu sebelum pukul lima sore, dan aku berjanji akan membuatkanmu makan malam spesial di penthouse-mu malam ini. Jaga kesehatanmu dan jangan tidur di bawah meja kerja lagi! - Gembalamu.”

Khatyr menatap memo kuning itu selama beberapa menit, merasakan kehangatan yang luar biasa murni mengalir memenuhi seluruh rongga dadanya.

Rasa lelah, pusing, dan tekanan dari ancaman Valkyrie Capital yang sempat membayanginya sejak pagi seketika menguap tanpa bekas, digantikan oleh debaran kebahagiaan yang tak tertandingi.

Ia menempelkan memo kuning kecil itu tepat di bagian belakang casing ponsel pribadinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah kertas itu adalah dokumen paling berharga di seluruh dunia.

"Makan malam spesial..." gumam Khatyr dengan tawa renyah yang bahagia.

Pria itu segera bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan kembali ke meja kerjanya dengan semangat kerja yang belum pernah terlihat sebelumnya di Kalumperri Corp.

Perang batas profesional di antara sang sekretaris galak dan sang CEO pemalas mungkin memang sangat melelahkan dan penuh dengan rintangan manis.

Namun bagi mereka berdua, batas tipis itulah yang justru membuat setiap sentuhan kecil, setiap tatapan rahasia, dan setiap pesan sembunyi-sembunyi di luar jam kantor terasa jauh lebih indah, menantang, dan mengikat hati mereka kian erat, selamanya.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!