Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hampir saja mata Elio tertutup sepenuhnya, dibawa lelah yang lembut dan nyaman setelah berjam‑jam berbaring berdekatan dalam keheningan yang damai. Napasnya sudah melambat, tubuhnya rileks sepenuhnya di atas kasur empuk, satu tangan masih melingkar santai namun erat di pinggang Alena seolah tak mau melepaskan perlindungan itu meski sedang setengah terlelap.
Namun tepat saat kelopak matanya hampir menyatu sepenuhnya, gerakan halus namun jelas terjadi di sebelahnya—dan mengubah suasana kembali seketika.
Tanpa suara peringatan sebelumnya, Alena menggeser tubuhnya perlahan namun pasti. Siku‑siku dan lututnya bergerak hati‑hati di balik selimut, hingga dalam sekejap posisi mereka berubah: kini gadis itu berada tepat di atasnya, berlutut dan duduk di atas pangkuan Elio, berat tubuhnya yang ringan namun nyata terasa pas menempel di sana.
Elio langsung membuka mata kembali sepenuhnya, terkejut namun tak menjauhkan diri—hanya menatap ke atas dengan pandangan yang mulai jernih kembali, bercampur rasa heran sekaligus senyum kecil yang tak bisa ditahan. Di remang‑remang cahaya sisa lampu kecil, ia melihat wajah Alena yang sedikit menunduk ke arahnya, rambutnya jatuh halus menutupi sebagian bahu dan dada, bibirnya digigit perlahan ke dalam—tanda jelas bahwa ia sendiri pun tak tahu persis apa yang mendorongnya bergerak begitu, namun perasaannya menuntut kedekatan lebih erat lagi.
“Kamu… tiba‑tiba saja berubah posisi ya…” bisik Elio rendah dan lembut, jari‑jemarinya segera bergerak menyentuh pinggang di bawah kain baju, menopangnya agar tetap seimbang dan nyaman. Matanya berbinar—setengah bertanya, setengah kagum akan keberanian kecil yang jarang ditunjukkannya ini. “Apa yang sedang dipikirkan gadis kecilku ini?”
Alena tak menjawab langsung—hanya menggelengkan kepala sedikit sambil menahan napas, pipinya merona merah menyala hingga ke telinga namun matanya tak beralih menatap mata Elio. Tanpa kata, ia mulai bergerak: perlahan namun pasti menggesekkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, menyelaraskan bentuk tubuh mereka yang kini saling berhadapan rapat dan pas satu sama lain seolah diciptakan untuk itu. Gerakan itu halus namun terasa nyata—setiap kali bergerak, permukaan tubuh mereka bersentuhan dan bergesekan lembut, menciptakan sensasi hangat yang menyebar perlahan dari titik pertemuan hingga ke seluruh anggota badan.
Gigitan kecil di bibirnya makin terasa jelas—seolah cara itu satu‑satunya untuk menahan suara yang hampir lolos karena sensasi yang makin lama makin terasa mendalam dan menyenangkan.
Di bawahnya, Elio merasakan setiap gerakan itu sepenuhnya. Detak jantungnya yang tadinya tenang kembali berpacu lebih cepat, napasnya menjadi sedikit lebih berat namun tetap teratur dan terjaga. Ia mengamati setiap perubahan ekspresi wajah Alena—bagaimana matanya kadang terpejam rapat, kadang terbuka kembali menatapnya dengan pandangan yang berbinar dan lemah lembut namun penuh rasa; bagaimana bahunya naik‑turun mengikuti napas yang makin pendek; bagaimana setiap gesekan itu membuat tubuh mereka berdua semakin menyatu dalam irama yang sama.
Tak lama kemudian, rasa menahan diri itu perlahan mendesak keluar—karena Elio pun tak lagi sanggup sekadar diam dan mengamati saja. Dengan gerakan cepat namun tetap sangat hati‑hati agar tidak mengejutkan atau menyakitinya, ia melingkarkan kedua lengan erat di pinggang dan punggungnya, lalu menarik sekaligus mengubah posisi kembali: kini Alena kembali berada di bawah pelukannya, tertutup rapat oleh tubuh Elio yang menindih dengan berat ringan dan terkontrol, menopang berat badan di siku‑siku agar tak menekan berlebihan namun tetap cukup dekat hingga tak ada jarak sekecil apa pun tersisa.
“Kali ini… biarkan aku yang mengatur iramanya,” bisiknya tepat di samping telinga Alena, suaranya rendah dan sedikit serak namun masih sangat lembut dan penuh perhatian.
Tanpa menunggu jawaban panjang, Elio mulai menggerakkan tubuhnya selaras—kali ini sedikit lebih tegas, lebih berirama, dan lebih cepat dari gerakan awal yang hanya menjelajah perlahan. Setiap gerakan maju‑mundur diselaraskan dengan baik, selalu menjaga agar permukaan tubuh mereka tetap bersentuhan rapat dan bergerak serentak, sehingga sensasi hangat dan berdenyut itu terus mengalir tanpa putus. Alena memejamkan mata lebih erat, tangannya melingkar kuat di leher dan bahu Elio seolah menjadikan pelukan itu satu‑satunya pegangan yang pasti di tengah rasa yang makin memuncak.
Suara napas mereka yang saling menyapa, sedikit berat dan tergesa namun tetap lembut, menyatu dengan keheningan kamar yang sunyi—hanya sesekali terdengar erangan halus yang tak tertahan, samar namun jelas bagi satu sama lain, dan senyuman kecil yang terselip di antara bibir yang bersentuhan sesekali. Elio tak berhenti, justru mengikuti setiap perubahan kecil yang terjadi pada tubuh gadis di bawahnya—ketika ia semakin mendekat, ketika ia semakin erat memeluk, ketika bahunya sedikit bergetar tak sadarkan diri—dan mengatur gerakannya agar semakin pas dan semakin selaras dengan kebutuhan itu.
Hingga tanpa disadari oleh keduanya—di tengah irama yang makin terasa menyatu, di tengah kehangatan yang melingkupi setiap inci kulit dan setiap detak jantung—mereka perlahan namun pasti sampai pada titik puncak kebersamaan itu.
Saat saat itu tiba, tubuh mereka bergetar serentak dan lembut seketika—seolah satu gelombang hangat melintasi kedua tubuh bersamaan, menyebarkan rasa nikmat yang mendalam, damai, dan lengkap sepenuhnya. Gerakan perlahan melambat, lalu berhenti sepenuhnya seiring berakhirnya getaran halus itu. Napas mereka masih terengah sebentar namun perlahan kembali tenang, menyatu satu sama lain di jarak yang hampir tak terpisahkan. Mata Alena terpejam rapat namun wajahnya rileks dan damai sepenuhnya; Elio menundukkan kepala sedikit lagi hingga dahi mereka bersentuhan lembut, menikmati sisa‑sisa rasa hangat yang perlahan menyebar menjadi kedamaian yang tenang dan puas.
Hanya beberapa detik kemudian, suara lembut dan sedikit jenaka terdengar dari bibir Elio yang masih bergetar pelan—seolah tak bisa melepaskan kebiasaan kecilnya menggoda bahkan di momen paling dalam sekalipun:
“Ternyata… kamu benar‑benar tahu cara mengejutkanku malam ini ya,” bisiknya sambil mengelus pipi halus gadis itu perlahan dengan ibu jarinya, senyum tipis namun puas tergambar jelas di wajahnya. “Bergerak naik begitu saja… seolah‑olah kamu ingin memimpin jalan ke puncak kebahagiaan kita sendiri.”
Alena membuka mata perlahan, menatap wajah yang begitu dekat di hadapannya—wajah yang selalu membuatnya merasa aman, dicintai, dan juga… sedikit sering diganggu—lalu tersenyum balik dengan wajah masih merah namun jauh lebih santai dan berani dari sebelumnya.
“Aku… hanya merasa ingin lebih dekat saja,” bisiknya pelan, tangannya masih melingkar di belakang leher Elio dan tak berniat melepaskan. “Dan ternyata… rasanya jauh lebih indah daripada yang kubayangkan.”
Elio tertawa kecil, suara yang rendah dan hangat, lalu mencium bibirnya sekali lagi—sangat lembut, pendek, dan penuh kasih sayang murni, tanpa terburu‑buru lagi. “Memang begitu… karena setiap hal yang kita lakukan bersama selalu berakhir menjadi hal yang paling indah. Dan jangan khawatir—aku pun tak akan melupakan momen keberanian kecilmu ini.”
Perlahan‑lahan Elio menggeser berat badannya sedikit ke samping namun tetap berbaring sangat dekat, satu lengan tetap melingkar erat di pinggang Alena agar tak ada jarak yang terbentuk kembali. Selimut ditarik kembali menutupi bahu dan punggung mereka, menjaga sisa kehangatan yang kini terasa meresap hingga ke dalam tulang dan hati. Rasa lelah yang menyenangkan mulai menyelimuti perlahan, menggantikan ketegangan yang tadi ada—lelah yang muncul karena kebersamaan yang begitu nyata, begitu dalam, dan begitu lengkap.