NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

happy reading guys

(jangan lupa tinggalin jejak yaa)

------------------------------

Bab 3: Guncangan di Ruang Rapat

Pagi itu, atmosfer di dalam ruang rapat utama lantai teratas gedung Mahendra Group terasa begitu mencekam.

Deretan kursi kulit mewah telah diisi oleh belasan jajaran direksi dan staf ahli hukum perusahaan.

Mereka semua duduk dengan kaku, sesekali merapikan berkas di hadapan mereka dengan gerakan cemas.

Di ujung meja panjang berbahan kayu mahoni tersebut, Devan Mahendra duduk terdiam.

Pandangannya lurus menatap rintik hujan yang menghantam dinding kaca besar di belakangnya.

Lima tahun telah berlalu sejak malam badai yang merenggut segalanya, namun penyesalan seolah telah menjadi bayang-bayang hitam yang mengunci jiwa Devan.

Wajahnya kini tampak lebih tirus, gurat-gurat lelah tercetak jelas di balik ketampanannya yang dingin.

Berita kecelakaan bus tragis yang menewaskan Anya tepat di malam setelah ia mengusirnya, telah mengubah Devan menjadi pria yang mati rasa.

Ia sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan, bekerja belasan jam sehari tanpa henti.

Baginya, rasa lelah fisik adalah satu-satunya obat untuk mematikan rasa bersalah yang terus menggerogoti ulu hatinya setiap detik.

"Selamat pagi, Tuan Devan. Pihak Wijaya Corps baru saja melewati gerbang depan. Iring-iringan mobil Direktur Utama mereka sudah memasuki area parkir VIP," lapor Sekretaris Mahendra Group dengan suara rendah, seketika memecah keheningan batin Devan.

Devan menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan bayang-bayang masa lalu dari kepalanya. Ia membetulkan letak dasinya yang terasa mengecilkan ruang napas di lehernya.

"Apakah Angga Wijaya sendiri yang memimpin negosiasi ini?"

"Bukan, Tuan. Informasi resmi dari pusat menyatakan bahwa Angga Wijaya sudah menyerahkan takhta kepemimpinan sepenuhnya kepada cucu tunggal sekaligus pewaris sah mereka yang baru kembali dari Singapura. Beliau yang memegang keputusan mutlak atas investasi dua triliun ini," jelas sang sekretaris secara detail.

Devan mengangguk perlahan.

Mahendra Group saat ini benar-benar berada di ujung tanduk.

Krisis likuiditas akibat pembekuan modal di proyek pembangunan pelabuhan internasional telah membuat keuangan perusahaan mereka goyah.

Jika hari ini Wijaya Corps menolak menyuntikkan modal, saham Mahendra Group dipastikan akan anjlok drastis sebelum penutupan bursa sore nanti.

Devan tahu ia tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun di depan sang pewaris baru.

Klek.

Pintu ganda ruang rapat yang megah itu terbuka lebar.

Dua orang pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam melangkah masuk terlebih dahulu.

Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan pintu, memberikan jalan bagi sang pemimpin tertinggi dengan sikap hormat yang mutlak.

Suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas dan berirama mulai terdengar menggema, memotong keheningan ruangan.

Sontak, seluruh jajaran direksi Mahendra Group bangkit berdiri sebagai bentuk penghormatan.

Devan pun ikut berdiri, mengarahkan pandangannya ke ambang pintu dengan ekspresi profesional yang dingin.

Namun, detik berikutnya, dunia seolah runtuh bagi Devan Mahendra.

Seorang wanita dengan keanggunan yang luar biasa melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ia mengenakan setelan gaun formal berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

Rambut panjangnya disanggul modern dengan sangat rapi, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang.

Namun, bukan perubahan penampilannya yang membuat jantung Devan mendadak berhenti berdetak, melainkan wajah wanita itu.

Wajah yang selama lima tahun ini selalu muncul dalam mimpi buruknya.

Wajah yang selalu menangis memohon ampunan di bawah guyuran hujan badai sambil memegangi perut buncitnya.

"A-Anya...?" bisik Devan lirih.

Suara Devan tercekat di tenggorokan, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.

Kedua lututnya mendadak lemas, dan tangannya yang bertumpu pada meja marmer bergetar hebat.

Keringat dingin langsung membanjiri dahinya.

Seluruh jajaran direksi Mahendra Group tampak kebingungan melihat perubahan ekspresi sang CEO yang biasanya sekeras batu, kini memucat bagaikan melihat hantu di siang bolong.

Wanita itu terus melangkah mendekat tanpa menghentikan ritme jalannya sama sekali.

Sorot matanya yang tajam di balik riasan mata yang sempurna menatap lurus ke arah Devan.

Tidak ada ketakutan, tidak ada kepasrahan, dan tidak ada air mata yang dulu selalu menghiasi wajahnya.

Yang ada hanyalah tatapan dingin dan asing, seolah-olah Devan tidak lebih dari sekadar benda mati yang tidak penting di ruangan tersebut.

"Selamat pagi, jajaran direksi Mahendra Group," suara wanita itu terdengar sangat tenang, jernih, dan penuh wibawa saat ia berhenti di ujung meja yang berlawanan dengan posisi Devan.

"Anya... kamu masih hidup?"

Devan benar-benar mengabaikan seluruh formalitas rapat bisnis.

Pria itu melangkah maju dengan napas yang memburu, mengitari meja panjang dengan mata yang memerah menahan badai emosi yang meledak di dadanya.

Rasa bersalah, kerinduan, dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu hingga membuatnya nyaris gila.

"Ini benar-benar kamu, kan...? Kamu belum mati, Anya...?"

Saat Devan melangkah terlalu dekat dan hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh lengan wanita itu, dua pengawal Wijaya Corps dengan sigap maju satu langkah.

Mereka menghadang pergerakan Devan, berdiri kokoh di depan sang bos dengan tatapan mata yang mengancam.

Anastasia Wijaya tidak mundur atau menghindar sedikit pun.

Ia hanya menatap tangan Devan yang menggantung di udara dengan pandangan jijik yang amat pekat, persis seperti tatapan Devan kepadanya di malam pengusiran itu.

"Tolong jaga kesopanan Anda, Tuan Devan Mahendra,"

sela Sekretaris Hendra yang berdiri di belakang Anastasia dengan suara tegas dan penuh penekanan.

"Wanita di hadapan Anda saat ini adalah Anastasia Wijaya, Direktur Utama Wijaya Corps. Mohon tidak mencampuradukkan khayalan atau masalah pribadi Anda ke dalam forum bisnis formal ini."

"Tidak! Dia Anya! Dia istriku!" Devan setengah berteriak, kehilangan seluruh kendali dirinya.

Matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah Anastasia, mencari setitik kebohongan atau keraguan di sana.

"Anya, aku tahu itu kamu... tolong katakan sesuatu! Mengapa kamu bisa ada di sini? Mengapa kamu—"

"Tuan Mahendra," Anastasia akhirnya angkat bicara.

Suaranya terdengar begitu datar, sehalus beludru namun sedingin es yang mampu membekukan atmosfer seluruh ruangan.

Ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat formal di bibirnya.

"Saya datang ke sini jauh-jauh dari Singapura bukan untuk mendengarkan cerita melodrama tentang mendiang istri Anda yang malang."

Anastasia melangkah mundur satu langkah dengan anggun, lalu duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kakinya dengan tenang tanpa memedulikan tatapan syok Devan.

Ia menatap Devan yang masih berdiri mematung dengan tatapan merendahkan.

"Jika kondisi psikologis CEO Mahendra Group sedang tidak stabil untuk membahas investasi sebesar dua triliun rupiah, saya rasa pertemuan ini tidak perlu dilanjutkan sekarang. Wijaya Corps tidak pernah menanamkan modal pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria yang tidak bisa membedakan antara realitas bisnis dan masa lalu," lanjut Anastasia, lalu menutup map dokumen di hadapannya dengan suara ketukan yang tajam.

Kata-kata menohok itu laksana tamparan keras yang menghantam telak harga diri Devan.

Logika bisnisnya sebagai seorang pengusaha dipaksa berputar keras di tengah kekacauan batinnya yang hancur.

Pria itu mengepalkan tinjunya kuat-kuat di bawah meja, berusaha keras meredam detak jantungnya yang berpacu gila.

Di satu sisi, seluruh nalurinya berteriak bahwa wanita berkelas di hadapannya ini adalah Anya, wanita yang dulu selalu memasak untuknya dengan daster lusuh.

Namun di sisi lain, wanita ini memiliki pembawaan, sorot mata yang penuh kekejaman, identitas resmi, dan kekuasaan yang jauh di atas jangkauan seorang Anya.

Devan menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya kembali meski wajahnya masih sekaku mayat.

Ia menyadari, jika ia kehilangan kendali dan merusak rapat ini, Mahendra Group akan hancur hari ini juga, dan ia tidak akan pernah bisa mendapatkan jawaban dari wanita ini.

"Maaf atas ketidaksopanan saya, Nona Anastasia," ucap Devan dengan suara bariton yang bergetar hebat menahan gejolak di dadanya.

Ia perlahan mundur dan kembali duduk di kursinya, namun sepasang matanya tidak pernah sedetik pun lepas dari wajah Anastasia.

"Mari... kita mulai rapatnya."

Rapat pun dimulai dengan ketegangan yang kian memuncak.

Selama presentasi berlangsung, Devan sama sekali tidak bisa fokus pada angka-angka di layar proyektor.

Pikirannya sepenuhnya tertuju pada cara Anastasia berbicara, caranya menganalisis data, dan caranya menolak beberapa poin kontrak dengan ketegasan yang mematikan.

Wanita itu benar-benar menguliti satu per satu kelemahan Mahendra Group dalam hal pembagian keuntungan bisnis pelabuhan.

Setiap kali Anastasia memberikan kritik tajam, para direksi Mahendra Group hanya bisa menunduk ketakutan, sementara Devan terus menatap garis wajahnya dengan rasa sakit yang mendalam.

Ia melihat bagaimana jemari lentik wanita itu memegang pulpen dengan anggun—jemari yang dulu penuh bekas luka melepuh karena minyak panas demi memasak untuknya.

‘Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu? Jika dia adalah Anya, bagaimana bisa dia selamat dan berubah menjadi putri Keluarga Wijaya?’ batin Devan menjerit frustrasi.

Rasa bersalahnya kini bertambah dengan rasa takut yang amat besar bahwa ia telah benar-benar kehilangan hak atas wanita itu untuk selamanya.

Anastasia yang menyadari tatapan intens Devan, kembali tersenyum dingin di balik tumpukan dokumennya.

Ia sengaja memperlama pembahasan pasal-pasal kontrak, membiarkan Devan terus tersiksa dalam ketidakpastian dan syok yang mendalam.

Babak pertama dari pembalasan dendamnya berjalan dengan sangat sempurna, dan ia bisa melihat dengan jelas bagaimana penguasa Mahendra Group itu kini perlahan mulai hancur di hadapannya.

------------------------------

Bersambung.............

Wah wah wah Anastasia kerennn bangettttt yaaaaa....???eeemmm jadi pengen deh kaya diaaa 😁.hufttt udah dehh mending kita pantengin dibab selanjutnya ada apa yaaa??? Apakah anak kembar itu akan datang dan mengacaukan kantor Devan? nantikan selanjutnya yaaaaaa!!!! Bye bye bye

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!