NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Kakak yang Mulai Melihat

Reno mengantar Alina pulang.

Ayla menumpang mobil Arga.

Tidak ada yang menyarankan mereka pulang bersama. Untuk pertama kalinya, keluarga Prameswari seperti paham bahwa memaksa Ayla duduk satu mobil dengan Alina setelah malam itu adalah ide buruk.

Di mobil, Arga tidak langsung bicara.

Ayla menyukai itu.

Kebanyakan orang terlalu takut pada hening, lalu mengisinya dengan pertanyaan bodoh. Arga membiarkan hening bekerja. Itu membuatnya lebih berbahaya daripada Bima yang suka terang-terangan curiga.

Setelah lima menit, Arga berkata, “Surya mengenal Besi Kelabu.”

Ayla melihat jalan. “Banyak orang mengenal perusahaan keamanan.”

“Dia tidak menyebut perusahaan. Dia menyebut Mamba.”

“Mungkin dia suka dokumenter ular.”

Arga menoleh.

Ayla tersenyum.

“Jawaban itu menghina kecerdasan saya.”

“Tidak. Aku sedang menguji batasnya.”

“Ayla.”

“Pak Arga.”

“Saya perlu tahu apakah kamu target atau pelaku dalam jaringan ini.”

Kalimat itu membuat senyum Ayla menghilang.

Dia menatap Arga. “Kalau aku pelaku?”

“Maka saya akan menangkapmu.”

“Bisa?”

Arga tidak mengalihkan pandangan. “Saya akan mencoba.”

Untuk beberapa detik, suasana di mobil setajam pisau.

Lalu Ayla tertawa pelan.

“Setidaknya kamu tidak bilang akan berhasil.”

“Saya bukan orang sombong.”

“Kamu orang Jakarta Selatan dengan keluarga pelabuhan dan satuan khusus. Sombong seharusnya bawaan lahir.”

“Kamu sedang menghindar.”

“Tentu.”

“Kenapa?”

Ayla melihat keluar jendela lagi. “Karena beberapa jawaban belum boleh keluar.”

“Menurut siapa?”

“Menurut orang yang masih ingin banyak orang tetap hidup.”

Arga diam.

Dia tidak puas, tetapi dia mengerti kalimat itu bukan sekadar alasan.

Mobil berhenti di depan rumah Prameswari hampir tengah malam. Lampu rumah masih terang. Begitu Ayla masuk, suara Ratna terdengar dari ruang tengah.

“Ayla!”

Ratna berlari mendekat, wajahnya kacau. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Alina dibawa ke rumah singgah? Kenapa ada gas? Reno tidak mau menjelaskan dengan benar.”

Ayla melepas jaket. “Karena mungkin untuk pertama kalinya, Reno juga tidak tahu harus percaya pada siapa.”

Ratna terlihat terluka. “Bagaimana kamu bisa bicara begitu? Alina hampir celaka.”

“Karena pilihannya sendiri.”

“Dia ditipu!”

“Orang bisa ditipu karena serakah pada hasilnya.”

Ratna mengangkat tangan, seperti ingin menampar.

Reno yang baru masuk dari belakang langsung berseru, “Ma!”

Tangan Ratna berhenti di udara.

Ayla menatap tangan itu, lalu menatap wajah ibunya.

“Silakan.”

Suara itu sangat pelan.

Justru membuat Ratna gemetar.

Marwan muncul dari ruang kerja. “Cukup. Tidak ada yang menampar siapa pun.”

Ratna menurunkan tangan, menangis. “Kamu selalu membela dia sekarang? Alina sedang ketakutan di kamar!”

Reno berkata, “Ma, Alina memang ketakutan. Tapi itu tidak membuat semua yang dia lakukan hilang.”

Ratna menatap putranya seperti dikhianati.

“Reno.”

Reno menelan napas. “Aku sayang Alina. Aku tumbuh bersamanya. Tapi malam ini... dia mengaku memberikan akses akun yayasan. Dia tahu ada yang tidak sesuai prosedur.”

“Dia tidak tahu ada korban!”

“Tapi dia tahu ada kebohongan.”

Ratna terdiam.

Ayla melihat Reno. Ini bukan pembelaan untuknya. Ini baru retakan kecil di tembok lama. Tetapi cukup.

Marwan menatap Ayla. “Apa Surya Atmadja ada hubungannya dengan Berkas 531?”

Arga, yang masih berdiri di belakang Ayla, menjawab, “Kami sedang menyelidiki.”

Marwan tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi menahan diri.

Ayla berkata, “Pak Marwan, mulai besok saya ingin semua dokumen yayasan dibuka untuk tim Pak Arga.”

Ratna spontan berkata, “Tidak bisa! Data anak-anak dilindungi.”

“Data anak-anak bisa disensor. Transaksi uang tidak.”

Marwan mengangguk pelan. “Saya akan instruksikan legal.”

Ratna menatap suaminya. “Mas?”

“Empat orang mati, Ratna.”

Suara Marwan berat.

“Kalau yayasan kita dipakai, kita harus tahu.”

Ratna seperti kehilangan tenaga. Dia duduk di sofa, menangis pelan. Namun kali ini tangisnya tidak membuat semua orang bergerak menghibur.

Alina turun dari tangga dengan selimut di bahu.

Wajahnya pucat. Dia melihat Arga, lalu Ayla, lalu Reno.

“Kak Reno,” panggilnya lirih.

Reno menatapnya.

Biasanya, satu panggilan seperti itu cukup membuatnya mendekat.

Malam ini dia tetap di tempat.

Alina langsung mengerti.

Matanya basah. “Kamu marah padaku?”

Reno menjawab setelah lama diam. “Aku kecewa.”

Dua kata itu mengenai Alina lebih keras daripada bentakan.

Dia menangis. “Aku hanya ingin membantu yayasan. Aku ingin Mama bangga.”

Ayla bersandar di dinding. “Kamu juga ingin semua orang tetap melihatmu seperti malaikat.”

Alina menoleh padanya. “Kak, tolong. Aku sudah lelah.”

“Bagus. Orang jujur biasanya mulai setelah lelah.”

Alina menggenggam selimut. “Apa yang kamu mau dariku?”

“Nama semua orang yang menghubungimu soal Raka dan yayasan.”

“Aku tidak tahu banyak.”

“Mulai dari sedikit.”

Alina melihat Ratna. Ratna tidak mampu membalas tatapannya. Marwan berdiri kaku. Reno menunggu.

Tidak ada yang langsung menyelamatkannya.

Alina akhirnya berkata, “Ada satu nomor. Dia tidak pernah menyebut nama. Pak Raka bilang aku harus menjawab kalau nomor itu menghubungi.”

Arga langsung mengeluarkan ponsel. “Nomornya?”

Alina menyebutkan perlahan.

Lestari yang tersambung melalui telepon Arga langsung mulai melacak.

Beberapa detik kemudian, suara Lestari terdengar. “Nomor burner. Tapi pernah aktif di sekitar studio produksi Mahardika Pictures dua hari lalu.”

Reno langsung mengangkat wajah. “Mahardika Pictures?”

Ayla menatapnya. “Kamu kenal?”

Reno mengangguk. “Aku ada proyek film baru dengan mereka. Alina juga ikut audisi peran pendukung.”

Ayla tersenyum tipis.

Tentu saja.

Semua jalan drama memang menuju panggung.

Arga bertanya, “Siapa pemilik Mahardika Pictures?”

Reno menjawab, “Secara resmi, grup media Mahardika. Tapi proyek film ini dibiayai investor baru. Aku belum tahu detailnya.”

Marwan berkata, “Prameswari Group juga pernah bekerja sama dengan Mahardika untuk kampanye yayasan.”

Ayla menatap Alina.

Alina menunduk.

“Jangan bilang kamu tidak tahu,” kata Ayla.

Alina berbisik, “Aku hanya tahu Pak Raka bilang kalau aku berhasil masuk proyek film itu, kampanye yayasan akan makin besar. Dia bilang itu kesempatan.”

Reno menutup mata.

Film, yayasan, obat, Berkas 531.

Jalur yang tampak terpisah mulai bertemu.

Arga berkata pada Ayla, “Besok kita cek Mahardika Pictures.”

Ayla mengangkat alis. “Kita?”

“Ya.”

“Saya naik jabatan lagi?”

“Jangan membuat saya menyesal.”

“Sudah pernah bilang.”

“Akan terus saya bilang sampai kamu mendengar.”

Ayla tersenyum.

Reno memandang mereka berdua dengan ekspresi aneh. “Kalian... dekat?”

“Tidak,” jawab Arga.

“Belum,” jawab Ayla.

Arga menatapnya.

Ayla menatap balik dengan santai.

Di tengah ruang keluarga yang tegang, untuk pertama kalinya Reno hampir tertawa.

Alina melihat itu.

Dan mungkin, lebih dari semua bukti malam itu, tawa yang hampir muncul di wajah Reno membuatnya sadar: pusat perhatian keluarga mulai bergeser.

Bukan karena Ayla meminta disayangi.

Tetapi karena kebohongan Alina sendiri mulai kehilangan tempat bersembunyi.

Malam itu, Reno mengetuk pintu kamar Ayla.

Ayla baru selesai membersihkan pisau lipat kecilnya. Dia membuka pintu setengah, tidak mempersilakan masuk.

Reno melihat benda di tangannya, lalu memutuskan untuk tidak bertanya. “Aku mau bicara.”

“Kalau soal Alina, aku mengantuk.”

“Soal kamu.”

Ayla mengangkat alis.

Reno tampak canggung. Untuk aktor yang biasa bicara di depan kamera, dia buruk sekali menghadapi adik kandungnya sendiri.

“Empat tahun lalu,” katanya pelan, “aku memang sedang syuting di Bali. Tapi aku tahu kamu datang. Papa bilang situasinya rumit, Mama menangis, Alina sakit. Aku... aku memilih percaya versi mereka.”

“Selamat. Kamu tidak istimewa. Semua orang di rumah ini melakukan itu.”

Reno menerima sindiran itu tanpa membalas. “Aku tidak minta kamu langsung memaafkan. Aku cuma ingin bilang, malam ini aku mulai sadar mungkin ada banyak hal yang tidak pernah kutanya karena lebih mudah tidak tahu.”

Ayla menatapnya.

Kalimat itu tidak memperbaiki apa pun.

Tetapi setidaknya bukan alasan.

“Kalau mau tahu, tanya. Kalau mau nyaman, kembali ke Alina.”

Reno mengangguk pelan. “Baik.”

Dia hendak pergi, lalu berhenti. “Ayla.”

“Apa?”

“Dulu... waktu kamu hilang, aku masih kecil. Tapi aku ingat Mama sering duduk di kamar kosongmu.”

Ayla tidak menjawab.

Reno menunduk. “Aku cuma ingin kamu tahu, tidak semuanya palsu sejak awal.”

Setelah dia pergi, Ayla menutup pintu.

Kamar itu sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, rumah Prameswari terasa bukan hanya menjijikkan.

Ia juga sedikit menyebalkan karena masih menyimpan sisa-sisa hal yang mungkin pernah hampir menjadi keluarga.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!