Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lampu Hijau dari Sepertiga Malam
Lampu teras kediaman dr. Adrian sudah menyala temaram ketika mobil sedan hitam miliknya memasuki pelataran rumah.
Setelah menempuh perjalanan pulang dari pondok Gus Yusuf, suasana hati dokter muda itu tidak kunjung membaik. Sebaliknya, rahangnya justru semakin mengeras kaku, dan helaan napas berat berulang kali lolos dari bibirnya yang terkatup rapat.
Adrian melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat lesu. Dilemparkannya kunci mobil ke atas meja konsol di ruang tamu dengan bunyi dentang yang agak nyaring, mencerminkan kegusaran batinnya yang teramat sangat akut.
Seorang wanita paruh baya berwajah teduh dan bersahaja melangkah keluar dari arah dapur. Dia adalah Ibu Sarah, ibu kandung dr. Adrian.
Sebagai orang tua tunggal setelah suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, Ibu Sarah sangat mengenali setiap gerak-gerik putra satu-satunya itu. Adrian adalah anak yang tenang dan jarang sekali menunjukkan emosi meledak-ledak, tapi malam ini, aura di sekeliling putranya tampak sangat mendung dan uring-uringan tidak karuan.
"Baru pulang, Yan?" sapa Ibu Sarah lembut, memanggil nama Adrian. "Gimana acara pertemuan akbarnya? Kok mukanya kusut begitu, seperti baju belum disetrika."
Dr. Adrian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tengah. Memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Lancar, Bu," jawabnya pendek, mencoba menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
Ibu Sarah hanya tersenyum maklum. Beliau berjalan mendekat, meletakkan secangkir teh hangat di atas meja di depan Adrian. "Lancar kok mukanya ditekuk begitu? Sejak ayahmu meninggal, Ibu jarang sekali melihat kamu se-uring-uringan ini setelah pulang dari suatu tempat. Ada masalah di rumah sakit? Atau... ada hal lain?"
Mendengar perhatian yang teramat sangat tulus dari sang Ibu, pertahanan ego dr. Adrian yang biasanya sekaku gunung es langsung runtuh seketika. Perasaan cemburu, minder, dan panik karena melihat Kirana yang sudah mendapat lampu hijau dari keluarga Gus Yusuf sore tadi, membuat lidahnya keceplosan tanpa sadar.
"Bu... kalau ada seorang wanita yang baru melangkah di jalan yang baru dan sudah berhasil mengetuk pintu hati Rian... tapi saingan Rian sangat berat, apa yang harus Rian lakukan?" keluh dr. Adrian, kalimatnya mengalir begitu saja meluapkan beban di pundaknya.
Adrian menatap cangkir tehnya dengan pandangan kosong. "Saingannya... seorang pengajar muda pemilik pondok yang besar, Bu. Berbudi luhur, tampan, mapan, dan sore tadi... Rian melihat dengan mata kepala Rian sendiri bagaimana orang tua pengajar muda itu menyambut wanita ini dengan sangat hangat. Mereka benar-benar seperti sudah memberikan restu penuh. Rian... Rian merasa tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan dia untuk membimbing wanita itu."
Mendengar curhatan jujur nan langka dari putra tunggalnya, Ibu Sarah tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau marah seperti ibu-ibu kejam di dalam sinetron televisi.
Sebaliknya, wanita bersahaja itu justru mengulas senyuman yang teramat sangat lebar dan penuh arti.
Ibu Sarah menepuk bahu dr. Adrian dengan lembut. "Yan... dengarkan Ibu. Selama janur kuning belum melengkung di depan rumah wanita itu, artinya... masih ada lampu hijau yang menyala kuat untuk kamu."
Ibu Sarah menjeda kalimatnya, matanya berbinar jenaka menatap sang anak yang sedang galau. "Kalau memang kamu benar-benar yakin dengan apa yang kamu rasakan terhadap wanita itu... tikung lah dia di sepertiga malam, Nak. Rebut hatinya lewat jalur langit."
Ibu Sarah kemudian bangkit berdiri dari sofa, hendak kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, sambil berjalan melangkah menjauh, Ibu Sarah sempat menolehkan kepalanya sedikit, menyisipkan sebuah nasihat mendalam disertai senyuman bijak yang teramat sangat teduh.
"Tapi sebelum kamu melangkah lebih jauh... yakinkan dulu hatimu dan yakinkan Sang Pemilik Takdir, apakah kamu sudah siap dan sanggup untuk mendampingi wanita itu agar tetap teguh berjalan di jalan-Nya yang benar? Perbaiki dulu kedekatan spiritualmu sendiri, Yan. Sainganmu itu sosok yang mendalami kebijaksanaan hidup, maka kamu benar-benar harus mengetuk pintu pemilik hati Kirana dengan ketukan doa yang lebih panjang," ucap Ibu Sarah pelan tapi sanggup menghujam tepat ke dalam relung hati dr. Adrian.
DEG...
Dr. Adrian terpaku diam di atas sofa. Kalimat ibunya seolah menjadi tamparan sekaligus bahan bakar baru yang membakar semangatnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dr. Adrian bertekad untuk tidak akan menyerah begitu saja sebelum berjuang di atas hamparan doa sepertiga malam.
Sementara itu, di tempat lain, suasana beralih ke kamar ruko konveksi milik Kirana.
Malam sudah larut, dan jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di atas ranjang tidur yang sederhana, Kirana dan Aisyah sudah berbaring di bawah selimut yang sama. Namun, sepasang mata Kirana masih menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang, teringat kembali kehangatan genggaman tangan Ummi Gus Yusuf sore tadi.
Aisyah yang sejak tadi belum memejamkan mata, melirik ke arah sahabatnya itu dengan senyuman jahil yang teramat sangat kentara. Naluri usilnya mendadak bangkit melihat Kirana yang tampak sedang melamun.
Aisyah menyenggol lengan Kirana pelan dengan sikunya, membuat Kirana sedikit tersentak kecil. "Ciyeee... yang sore tadi langsung dapet lampu hijau dari calon mertua idaman se-kecamatan... melamun ya, Ran?" goda Aisyah dengan nada suara yang berbisik jenaka.
"Ih, Aisyah... apaan sih? Jangan ngada-ngada deh," jawab Kirana dengan wajah yang mendadak terasa menghangat, meskipun suasana kamar cukup remang-remang.
"Ummi Gus Yusuf kan cuma bersikap ramah karena aku orang baru yang sedang belajar, tidak lebih dari itu."
"Halah, ramah sih ramah, Ran... tapi kalau sampai dipegang-pegang tangannya, dipuji mukanya adem, terus disuruh sering-sering main ke ndalem, itu mah bener-bener namanya kode keras kalau kamu sudah dapet restu penuh jadi menantu pondok!" sahut Aisyah makin gencar menggoda sahabatnya sebelum mereka memejamkan mata untuk tidur.
Aisyah mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Kirana, menopang dagunya dengan tangan. "Tapi jujur ya, Ran... sore tadi itu seru banget tahu gak? Kamu sadar gak sih, sepanjang acara pertemuan akbar tadi... mukanya Dokter Adrian itu berubah sekaku papan tulis dan gelisah terus?"
Kirana menoleh kecil, mengerutkan keningnya anggun. "Gelisah kenapa, Syah? Dokter Adrian kan katanya cuma mau ikut mencari ketenangan lingkungan di sana."
"Aduh, Kirana-ku yang kelewat polos!" Aisyah tertawa pelan demi menahan suara agar tidak terdengar ke luar kamar.
"Pak dokter tampan kita itu gelisah karena cemburu berat, Ran! Liat aja gimana sibuknya dia pasang badan tiap ada murid laki-laki yang curi-curi pandang ke kamu! Ditambah lagi pas liat kamu diistimewakan sama Umminya Gus Yusuf, haduuuh... Dokter Adrian keliatan kayak cowok yang ketakutan setengah mati bakal kehilangan kamu tahu!"
"Aisyah, sudah ah... gak baik membicarakan orang lain malam-malam begini, mending kita tidur," potong Kirana, mencoba menutupi detak dadanya yang tiba-tiba berdegup tidak karuan mendengar analisis spontan dari Aisyah mengenai kecemburuan dr. Adrian.
Kirana langsung membalikkan badannya memunggungi Aisyah, menarik selimutnya hingga sebatas dada. Tetapi di balik kegelapan kamar, sepasang mata anggun Kirana terbuka lebar dengan senyuman tipis yang sangat misterius, meninggalkan sejuta teka-teki tingkat tinggi mengenai ke arah mana sebenarnya hati sang wanita anggun ini akan berlabuh kelak!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia