NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11. Cuma pion.

Bremmm... bleb.

Suara deru knalpot RX-King yang mendengung nyaring di gang samping perlahan mati. Jarum jam di dinding paviliun sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat ketika langkah kaki berat Ubay terdengar menaiki anak tangga teras depan rumah besar. Bahunya terasa kaku setelah seharian penuh berkeliling mengawasi rute motor listrik dan mengurus pasokan bahan baku kopi.

Ubay merogoh saku jaket usangnya, mengambil anak kunci, lalu memutarnya. Begitu daun pintu jati itu didorong terbuka, gerakan tangan Ubay seketika terkunci di udara.

Langkah kakinya tertahan di ambang pintu. Matanya yang biasa menatap dingin dan acuh tak acuh, kini melebar perlahan, menyapu setiap sudut ruangan dengan rasa takjub yang tidak bisa ia sembunyikan.

Hawa pengap dan bau debu apak yang biasanya menyengat hidung setiap kali ia pulang, kini menguap entah ke mana. Sebagai gantinya, aroma segar dari cairan pembersih lantai sewangi jeruk nipis menyeruak menenangkan indra penciumannya. Lampu gantung tua yang biasanya memantulkan bayangan buram, kini bersinar terang benderang karena permukaan kacanya telah dilap hingga mengkilap.

Ubay melangkah masuk, menutup pintu dengan pelan seolah takut merusak keteraturan baru di dalam rumahnya. Ia memandangi sofa kulit cokelat tua yang biasanya penuh lapisan debu, kini permukaannya tampak bersih kesat. Meja kayu di depannya pun sudah bebas dari tumpukan koran bekas yang kini telah tertata rapi di sudut bawah rak.

Pemuda berambut gondrong itu berjalan lebih dalam menuju ruang tengah. Pandangannya langsung tertuju pada meja makan kayu panjang yang biasanya berantakan. Di atas permukaan meja yang sudah dilap bersih itu, kini berdiri sebuah teko kaca bening berisi air putih yang penuh, dikelilingi oleh dua buah gelas terbalik yang tertutup rapi. Di sebelahnya, ada selembar kertas kecil yang ditindih oleh gelas, memperlihatkan tulisan tangan yang rapi dan anggun.

{ Mas Ubay, rumahnya sudah saya sapu dan pel. Kamar depan juga sudah saya rapikan sedikit debunya. Air di teko sudah direbus sampai matang, siap untuk diminum kalau Mas Ubay haus pulang kerja. Terima kasih banyak atas tumpangannya — Nadia.}

Ubay memandangi tulisan tangan itu cukup lama. Garis rahangnya yang biasanya mengeras penuh ketegangan perlahan mengendur. Ada desiran rasa hangat dan asing yang menyusup ke dalam dadanya. Sebuah perasaan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan sejak neneknya meninggal dunia. Rumah tua ini tidak lagi terasa seperti gudang kosong yang mati dan dingin.

Ubay meletakkan helmnya di atas meja, lalu menuangkan air dari teko kaca itu ke dalam gelas. Ia meneggaknya hingga tandas, merasakan kesegaran air putih dingin yang membasahi tenggorokannya yang kering.

Ia membalikkan tubuhnya, menatap ke arah jendela kaca yang menghadap langsung ke arah paviliun belakang. Di seberang sana, lampu paviliun Nadia masih menyala temaram. Ubay menyunggingkan seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya.

"Gadis itu... ternyata benar-benar bisa kerja," gumam Ubay pelan pada keheningan malam, sebelum akhirnya melangkah menuju kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari biasanya.

**

Sementara kehangatan baru mulai tumbuh di rumah tua milik Ubay, atmosfer yang sama sekali berbeda menyelimuti kediaman mewah keluarga Pramoedya yang ada di kawasan elite.

Malam itu, lampu-lampu gantung kristal di ruang kerja utama menyala benderang. Di balik meja kerja kayu ek yang kokoh, Tuan Pramoedya duduk dengan raut wajah tegang, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara ritmis. Di hadapannya, Nyonya Sarah berdiri dengan gelisah, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap ke luar jendela besar yang menampilkan halaman rumah mereka yang luas.

Besok adalah hari besar. Hari pertunangan antara Axel dengan Larasati, putri tunggal dari rekan bisnis terbesar mereka yang memegang kunci ekspansi proyek multinasional keluarga Pramoedya.

"Semua persiapan untuk besok sudah beres, kan, Ma?" tanya Tuan Pramoedya, suaranya berat dan penuh penekanan.

Nyonya Sarah berbalik, lalu menghembuskan napas panjang. "Sudah, Pa. Pihak catering, dekorasi, sampai hotel bintang lima tempat acara besok semuanya sudah dikonfirmasi. Undangan untuk para kolega bisnis dan pejabat juga sudah dipastikan aman."

Tuan Pramoedya mengangguk, namun ketegangan di dahinya tidak berkurang sedikitpun. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu menatap istrinya dengan pandangan menuntut. "Kita tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun besok. Kamu sudah pastikan kalau si Nadia, tidak akan pernah memunculkan batang hidungnya lagi di sekitar sini?"

"Papa tenang saja. Dia tidak akan mungkin berani menampakkan batang hidungnya. Kalai dia berani macam-macam, kita datangi saja kampusnya. Kita bisa buat dia dikeluarkan dari sana." jawab Nyonya Sarah dengan nada mengancam, senyum sinis tersungging di bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala.

"Lagian dia tidak punya kerabat di kota ini. Gadis kampung seperti dia pasti sekarang sedang kebingungan mencari tempat tinggal, atau mungkin sudah pulang naik bus ekonomi ke kampungnya. Dia tidak akan punya akses atau keberanian untuk merusak acara besok."

Tuan Pramoedya mendengus, bersandar kembali ke kursinya. "Bagus. Justru karena itu kita harus mempercepat pertunangan ini, Ma. Papa tidak mau mengambil resiko."

Nyonya Sarah melangkah mendekat ke meja kerja suaminya, matanya menyipit penuh kecemasan tersembunyi. "Maksud Papa... soal kemungkinan yang kita bicarakan semalam?"

"Ya," sahut Tuan Pramoedya dingin. "Axel memang bilang kalau gadis itu yang menjebaknya. Tapi kita tahu sendiri bagaimana kelakuan anak kita kalau sudah mabuk. Bagaimana kalau beberapa minggu lagi tiba-tiba dia muncul dan mengatakan kalau dia hamil? Kalau sampai pihak keluarga Larasati mendengar berita menjijikkan seperti itu sebelum ikatan resmi terjalin, investasi ratusan miliar kita bisa amblas dalam semalam! Nama baik keluarga Pramoedya di bursa saham akan hancur."

Nyonya Sarah menelan ludah, membayangkan kehancuran sosial yang bisa menimpa mereka. "Benar, Pa. Makanya begitu kejadian malam itu ketahuan, otak Mama langsung berpikir cepat untuk mendepak Nadia secepat mungkin sebelum dia bisa menuntut apa-apa. Kalau Axel dan Larasati sudah resmi bertunangan besok, posisi kita akan jauh lebih kuat. Bahkan kalaupun suatu saat gadis pembantu itu mencoba membuat drama atau mengaku hamil, kita tinggal sebut dia sebagai wanita pemeras yang iri dengan kebahagiaan Axel."

"Tepat sekali. Pengaruh publik ada di tangan kita," ucap Tuan Pramoedya. "Pastikan Axel besok tampil sempurna. Jangan biarkan dia terlihat linglung atau mabuk-mabukan lagi seperti malam-malam kemarin. Katakan padanya, masa depannya dan masa depan perusahaan ini dipertaruhkan besok pagi."

Nyonya Sarah mengangguk mantap, kilat kelicikan memancar dari matanya. "Mama akan pastikan Axel sadar penuh besok, Pa. Pertunangan dengan Larasati harus tetap terjadi, apa pun taruhannya. Noda dari anak pelayan itu... sudah kita bersihkan dari rumah ini selamanya."

Di balik dinding-dinding megah itu, sebuah skenario kejam telah matang diatur. Mereka merayakan kemenangan di atas penderitaan Nadia yang mereka campakkan, tanpa pernah menduga bahwa roda nasib selalu punya cara tersendiri untuk berputar.

**

Malam semakin larut, namun dentuman musik di kelab malam VIP itu seolah enggan melambat. Di sudut sofa yang remang, botol whiskey kedua sudah berkurang setengahnya. Teman dekat Axel, seorang pria bernama Riki, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memutar-mutar korek api di jarinya. Matanya melirik Axel yang sejak tadi terus-terusan menghisap rokoknya dalam-dalam dengan pandangan kosong.

"Cel, gue masih agak nggak nyangka ya," kata Riki setengah berteriak, mencoba mengalahkan suara bas musik yang bergetar di lantai. "Besok lu udah resmi tunangan aja sama Larasati. Cepet banget rasanya. Bokap nyokap lu gerak cepat bener."

Axel tidak menyahut, hanya menghembuskan asap rokoknya ke atas, membiarkannya buyar diterpa lampu laser biru.

Riki memajukan tubuhnya, menatap Axel penasaran. "Gue mau nanya serius deh. Lu... emang udah mulai suka sama Larasati? Maksud gue, dia emang cantik, modis, lulusan London lagi. Tapi, lu beneran ada rasa sama dia?"

Mendengar pertanyaan itu, Axel mendengus pendek. Sebuah tawa hambar dan sinis lolos dari bibirnya. Ia mematikan puntung rokoknya ke asbak yang sudah penuh, lalu meraih gelas whiskey-nya kembali.

"Suka? Cinta?" sahut Axel dengan nada meremehkan, matanya menatap cairan emas di dalam gelasnya dengan dingin. "Lu kayak baru hidup sehari di lingkungan kita aja, Ki."

Axel menenggak minumannya sedikit, merasakan sensasi terbakar di tenggorokan yang sama sekali tidak bisa menghangatkan hatinya yang mendadak terasa hampa.

"Pertunangan besok, atau bahkan pernikahan gue nanti, itu kan cuma hubungan bisnis. Enggak lebih dari sekadar tanda tangan kontrak kerja sama antara keluarga Pramoedya dan keluarga Larasati," lanjut Axel, suaranya terdengar datar namun sarat akan kepahitan yang nyata.

Ia menjeda kalimatnya, lalu menoleh dan menatap Rasya dengan senyum getir yang dipaksakan. "Memangnya orang-orang dari kalangan kita mengerti apa itu cinta? Dari kecil, kita dididik untuk melihat keuntungan, bukan perasaan. Larasati itu aset bagus buat perusahaan bokap, dan gue adalah pion untuk mengamankan aset itu. Cuma itu fungsinya."

Riki terdiam, tidak bisa mendebat ucapan sahabatnya karena tahu itulah realita pahit di lingkaran sosial mereka. Di balik kemewahan dan status terhormat yang dipuja-puja orang, pernikahan tak lebih dari sebuah transaksi saham.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, bayangan wajah Nadia yang menangis di lantai kamarnya malam itu mendadak kembali berkelebat. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada Axel. Ia tahu, dibalik semua teorinya tentang pernikahan bisnis yang dingin, ada seonggok rasa bersalah yang terus menggerogoti jiwanya karena telah menghancurkan hidup seorang gadis tak berdaya demi sebuah status kepalsuan, yang besok akan ia pamerkan di depan ratusan pasang mata.

*****

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!