Gagal menikah karena calon suaminya selingkuh dengan sesama jenis, ternyata membuat Bulan tidak lagi menyukai laki-laki bertubuh atletis seperti yang telah menjadi kesukaannya. Dia bahkan menganggap laki-laki bertubuh kekar semua sama seperti Andra, mantan tunangannya.
Lalu ia dikirim ke rumah kakak dari sang ibu, dan bertemu dengan Samudra Biru, sepupu yang sama sekali tak dilirik Bulan karena traumanya terhadap laki-laki. Berbeda dengan Samudra Biru yang ternyata juga dosen Bulan di kampus, Biru menyukai Bulan dengan segala keanehannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Rindu Bulan
Biru baru dapat kabar dari Dina, kalau Bulan pulang ke kota asalnya. Ia tidak tenang lantaran Bulan pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Lelaki itu berjalan cepat menuju parkiran mobil dengan tangan yang sibuk menempelkan ponsel ke telinga. Perasaannya tak tenang mendengar nada tunggu, sampai akhirnya panggilan pun tersambung.
"Bulan!"
Terdengar napas yang tidak tenang dari seberang, Biru jadi ikut gelisah.
"Bulan, kenapa kamu pulang ga bilang ke saya? Kamu sekarang dimana, Bulan? Udah di rumah?"
Semua pertanyaan yang keluar, tidak mendapat jawaban. Biru kembali bertanya.
"Bulan? Kamu ngga apapa? Besok pulang, kan? Saya jemput, ya."
'Ngga usah, kak. Kayanya aku ga akan balik. Kakak ngga perlu cari aku, ya. Aku lagi ga pengen diganggu.'
"Bulan-"
Sambungan terputus. Biru mencoba menelepon lagi tetapi tidak dijawab. Ia merenung sejenak. Apa maksud Bulan ga akan balik? Tidak ingin diganggu? Ah, Biru tidak bisa diputuskan sebelah pihak begini. Apalagi dia baru saja menyusun rencana untuk kelancaran hubungannya bersama Bulan. Supaya gadis itu tidak lagi berpikir kalau hubungan mereka tidak punya masa depan.
Dengan cepat ia masuk ke mobil untuk menyusul Bulan ke kota asalnya. Dia tidak bisa tenang, apalagi Bulan mengatakan hal yang tidak masuk akal baginya.
Beberapa jam setelahnya, Biru tiba di kota asal Bulan. Ia mencoba melacak keberadaan gadis itu. Ia sempat tertegun sesaat setelah melihat posisi Bulan berada di kantor Polisi.
Namun baru ia sampai, Biru malah melihat Bulan tengah bersama mantan kekasihnya. Bulan tampak menangis disana, dan lelaki itu menenangkannya, memeluknya, dan mengelus punggungnya.
Tentu Biru yang memperhatikan itu dari dalam mobil seperti tersambar petir. Ia menggenggam kuat setir dengan perasaan panas, matanya pula menatap tajam tak lepas dari dua orang itu.
Bulan. Gadis itu tadi bilang tidak ingin pulang. Dia juga minta untuk tidak diganggu. Apa maksudnya ini? Apa Bulan menjalin hubungan lagi dengan pria itu? Banyak sekali pertanyaan Biru, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti dua orang itu sampai menuju satu resto. Biru langsung keluar begitu Bulan dan Andra masuk ke dalam resto itu.
"Bentar, ya. Aku ke toilet."
Bulan mengangguki Andra, lalu duduk dan menatap deretan menu makanan yang menggugah selera.
Andra benar soal dirinya. Bulan memang kerap sulit mengendalikan emosi jika sedang lapar. Dan baiknya, Andra membawanya ke resto yang menjadi favoritnya sejak dulu.
Suara kursi ditarik, membuat Bulan tahu kalau Andra sudah kembali.
"Kakak pesan a..." Kalimatnya terhenti. Mata Bulan membulat sempurna mendapati siapa yang duduk disampingnya.
"K-kak.. Biru?"
Biru menyeringai. "Jadi ini, maksud kamu gak mau diganggu?"
Bulan menganga lebar. Dia gelagapan, dan bingung untuk menjelaskan. Terlebih, Andra datang dan duduk dihadapan mereka berdua.
"Oh, Samudra Biru. Kita bertemu lagi." Andra tersenyum, namun tidak dengan Biru.
"Tenang aja, Bulan udah cerita. Sepupunya, kan?"
Biru melirik Bulan sebentar, lalu mencoba menata ekspresi kala ia menyadari bahwa hubungan mereka memang sepupu. Walau dalam hati Biru ingin mengenalkan pada Andra kalau dia adalah kekasih Bulan.
Seorang pramuniaga datang, ingin mencatat pesanan mereka.
"Bulan, mau pesan chicken blackpaper?" Tawar Biru, berusaha mengalihkan perasaannya yang masih menyimpan amarah.
"Bulan ga suka blackpaper." Ucap Andra, lalu beralih pada si pramuniaga. "Steak chicken mushroom dan tenderloin, ya. Minumnya..." Andra tersenyum kecil pada Bulan. "Chocolate signature dan lemon tea."
"Baik. Ada lagi?"
Jangan tanya bagaimana ekspresi Biru. Karena inilah kali pertama baginya sulit menata raut wajah. Andra berhasil membuatnya kalah telak. Terlihat pula ia tidak tahu apa-apa mengenai Bulan. Dan itu membuat Biru membenci pria yang lebih tau soal Bulan itu.
"Nanti kita panggil lagi ya, mbak." Sahut Bulan cepat. Dia merasa tidak enak lantaran Andra menunjukkan bahwa lelaki itu lebih unggul dalam mengenal dirinya dari pada Biru.
"Bulan tadi ada masalah di kantor Polisi." Andra memulai pembicaraan.
Biru diam. Jelas dia tidak tahu karena Bulan tidak bilang apa-apa.
"Untung aja gue cepat datang dan nyelamatin Bulan." Sambungnya lagi.
"Thanks, ya." Jawab Biru dengan wajah datar. Matanya tak lepas dari Andra, dan tangannya menggenggam tangan Bulan di bawah meja. Apapun itu dia memang harus bersikap bijak, terlebih Andra terlihat sedang berusaha menujukkan keunggulan dirinya.
Pesanan datang, mereka diam sampai Andra kembali bersuara. "Bulan itu sukanya steak ayam di resto ini." Katanya sambil menggeser hotplate agar lebih dekat dengan Bulan. "Dulu kita sering kesini. Ya kan, Mbul? Dia itu, kurang suka makanan pedas. Tapi kalau lagi stres sih, biasanya menghukum diri dengan makan yang pedas-pedas. Setelah itu, baru deh, minum jus jeruk hangat supaya pedasnya cepat berkurang." Ucap Andra yang tersenyum menatap Bulan.
"Kak..."
"Makan dulu. Setelah itu kita pulang." Tukas Biru dengan mata yang tak lepas dari Andra. Kalau saja bukan karena Biru yang menahan diri, mungkin Andra sudah ia habisi sejak tadi.
~
"Hati-hati di jalan, ya. Besok aku ke rumah." Andra mengelus puncak kepala Bulan, lalu mengedipkan mata.
Bulan hanya menghela napas, karena ia tahu, Andra tengah mempermainkan emosi Biru yang memang saat ini, lelaki itu bergeming karena tengah menahan diri.
Bulan mengikuti Biru masuk ke dalam mobil. Tanpa kata, Biru menancap gas mobilnya seolah tak mengizinkan Bulan melambaikan tangan pada Andra yang masih setia berdiri disana sampai mobil Biru menghilang dari penglihatannya.
Setelah dirasa cukup jauh, Biru menghentikan mobil di tepi jalan. Dia tidak sabar ingin menunjukkan pada Bulan betapa ia sangat marah. Namun Bulan langsung tahu. Gadis itu membuka seatbelt dan mencondongkan tubuh menghadap Biru.
"Makasih, kak." Bulan meraih tangan kiri Biru, menggenggamnya, hingga membuat lelaki berwajah masam itu menoleh.
"Makasih karena udah nahan buat gak marah sama aku dan kak Andra disana. Padahal aku tau, kakak ga suka banget liat aku berduaan sama kak Andra. Tapi tadi kita cuma lagi ada masalah. Sekarang udah selesai, kok."
Sebenarnya, Biru memang ingin memarahi gadis ini. Tapi belum juga membuka suara, Bulan sudah lebih dulu membuat emosinya mereda.
"Soal tadi siang itu, aku memang sempat putus asa waktu Mama minta aku lanjutin pernikahan sama kak Andra."
"Nikah??" Ulang Biru, dan Bulan mengangguk. Gadis itu mengelus tangan Biru dengan ibu jarinya, menatap jari besar Biru yang juga tengah menggenggam tangan Bulan yang lebih kecil.
"Mama nyuruh pulang karena keluarga kak Andra mau datang besok, buat bicarain kelanjutan pernikahan yang sempat batal itu. Mama marah kalau aku ngga mau nurut. Dia ngancam akan pergi kalau aku ga mau nikah sama kak Andra."
Bulan mengangkat kepala, melihat ekspresi Biru yang sekarang berbeda. "Aku ga mau mama pergi, kak. Makanya aku putus asa dan mikir kalau mungkin memang hubungan kita ga bisa dilanjutin." Jelas Bulan.
Biru mengangkat sebelah tangannya dan mengelus Bulan, tahu kesedihan gadis itu. Lalu Bulan melanjutkan. "Tadi aku ketemu lagi sama Bobi. Dia cari masalah duluan, jadi aku tonjok aja. Tapi dia lapor ke polisi. Kak Andra yang datang bujuk Bobi sampe akhirnya aku bisa keluar. Kita juga udah nemuin titik terang dari pembatalan pernikahan itu. Aku ceritain semua, soal kakak juga."
Biru mengelus pipi Bulan dengan punggung tangannya. Syukurlah dia sempat menahan amarah karena hampir salah paham.
"Tapi saya ngga suka kamu peluk-peluk dia."
"Eh?" Bulan terkekeh pelan. Dia tidak tahu dari mulai kapan Biru ada disana, sampai tahu apa yang terjadi diantara dirinya dan Andra.
"Saya serius."
"Iya. Maaf, ya. Kakak ga marah, kan?"
"Saya ngga bisa marah sama kamu, Bulan." Biru mengecup kening Bulan dan memeluknya erat. "Saya kangen."
Bulan membalas pelukan Biru, memendamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Ada rasa lega di hatinya, walau kecemasan masih ada soal bagaimana besok Andra menjelaskan pada mamanya.
"Saya ada kejutan."
Bulan mengurai pelukan. "Oh, ya? Apa?"
Biru menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Bulan. "Nggak lama lagi saya akan bilang ke papa dan mama soal hubungan kita."
Bulan bukannya senang, perasaannya malah menciut. Bagaimana bisa tante dan omnya itu akan setuju, terlebih dia sudah mendengar pandangan Cakra tentang dirinya.
"Bulan..." Biru mengangkat dagu Bulan dengan telunjuknya. "Kamu ga usah khawatir, ya. Serahkan semua ke saya. Pokoknya sebentar lagi kita ga akan diam-diam kaya sekarang. Mereka semua harus tahu kalau kita saling mencintai."
Tetap saja Bulan tidak tenang, walau akhirnya ia mengangguk juga.
"Saya udah bilang, kan. Kalau hubungan kita punya masa depan. Saya akan buktikan itu ke kamu, Bulan. Saya ingin cepat menikah dengan kamu. Saya ga mau lagi nahan diri. Saya udah yakin mau jadiin kamu istri saya."
Gadis itu sebenarnya sangat senang mendengar penuturan Biru. Ia pun mengembangkan senyum, perasaan dicintai begitu indah dirasakan.
"Kamu mau kan, nikah sama saya."
Bulan menatap lekat-lekat wajah Biru. Entahlah, apa ini terlalu cepat atau memang sudah saatnya ia kembali menyetujui sebuah pernikahan, walau lagi dan lagi, Bulan takut jika mereka tidak disetujui, dan rencana menikah harus kembali gagal untuk kedua kalinya.
"Mau. Aku mau nikah sama kakak."
Biru mengembangkan senyum. "Maaf kalau kamu harus nunggu saya menyelesaikan masalah ini. Saya pastikan ini ga akan lama. Oke?"
Bulan mengangguk. Ia setuju saja lantaran Biru pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk mereka.
"Makasih, ya." Bisik Biru di depan wajah Bulan, lalu ia menarik tengkuk gadis itu guna mencium bibir yang sudah lama tidak ia rasakan.
Gadis itu memejamkan mata, melingkarkan kedua tangannya di leher Biru dan membiarkan pria itu yang melakukannya. Ternyata, Bulan tidak bisa berpisah sebentar dengan Biru. Terbukti, setelah merasakan ciuman Biru, ada perasaan rindu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan saat itu, Bulan tahu, ternyata dia telah sangat mencintai Samudra Biru.
To Be Continued....
Hai, sudah baca Dear, Majikanku Yang Lumpuh? Cerita ini penuh rasa penasaran. Yuk baca. klik dibawah ya.
Double Up?? Vote Dulu sampe banyak nanti sore aku update hehe...
mangaattts thor ✊🏻🔥
udah yarin ambekin aja mbuuulll biar uring²an pak dosen satu ini 🤣🤣🤣
Biruuuuuuu,. kamu di katain hombreng noh sama embul 🤣🤣🤣🤣