NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelicikan Pedagang

Para perampok itu pun kemudian menyerang Wira bersama-sama. Rasa takut akan kematian yang mereka rasakan, berubah menjadi semangat yang berkobar-kobar.

Tapi bermodal semangat saja tidak cukup bagi mereka untuk melawan Wira yang kemampuannya jauh di atasnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, para perampok itu harus meregang nyawa di tangan pemuda tersebut.

Pemimpin rampok bertubuh tinggi besar itu hanya bisa menatap kematian semua anak buahnya. Begitu juga para penduduk desa yang melihat kejadian itu.

Harapan untuk hidup tenang yang menghilang akibat aksi perampokan itu, kini seolah sudah muncul kembali. Seorang pemuda tampan tiba-tiba saja muncul dan menyelamatkan desa mereka. Sekaligus juga membantai para perampok yang berjumlah puluhan orang itu.

Rasa geram yang menyelimuti pikiran mereka, akhirnya bisa terlampiaskan. Dengan berbekal senjata apa saja yang bisa mereka temukan, para penduduk desa, terutama laki-laki, langsung mengepung pimpinan perampok yang kini hanya seorang diri saja.

"Berani mendekat, aku akan membunuh kalian!" bentak pimpinan rampok tersebut. Dia sudah tidak bisa berpikir lebih panjang lagi saat ini. Jika dia menyerah, nyawanya tetap akan melayang dihabisi penduduk yang sudah dalam puncak emosi. Namun jika dia melawan, setidaknya akan ada yang mati terkena pedangnya.

Melihat hal tersebut, Wira mendekati para penduduk desa untuk menenangkan mereka.

"Saudara semua... biar aku saja yang menghabisinya! Sudah cukup korban dari desa ini, jangan lagi timbul korban berikutnya. Jika kalian melawannya, bisa jadi salah satu dari kalian akan mati di tangannya, bahkan lebih. Namun jika kalian bersikeras untuk membunuhnya dengan tangan kalian sendiri, silahkan saja!"

Ucapan Wira membuat para penduduk desa yang sudah emosi, akhirnya berpikir ulang. Tanpa berkata, mereka mengakui jika ucapan pemuda itu benar adanya. Bisa saja nyawa mereka melayang sia-sia karena tidak berpikir panjang. Tanpa dikomando, mereka semua akhirnya bergerak mundur cukup jauh.

"Aku tidak akan memberi penawaran apapun karena aku akan tetap membunuhmu. Sekarang bersiaplah untuk menyusul kematian anak buahmu!" ucap Wira tenang tapi menakutkan.

Merasa sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi, pimpinan perampok itupun akhirnya lebih memilih untuk menyerang Wira.

Pedang besar di tangannya bergerak ngawur memberi serangan tanpa terencana. Yang ada di pikiran lelaki bertubuh tinggi besar itu hanya menyerang dan menyerang saja. Tidak sekalipun dia berpikir untuk menutup pertahanannya.

Tanpa kesulitan berarti, Wira bisa dengan mudah menghindari serangan tersebut. Pimpinan perampok yang hanya bermodal kekuatan fisik, tentu bukan lawan yang sepadan dengannya.

Hanya dalam satu serangan cepat dan mematikan, pedang di tangan Wira melesat dan memenggal kepala pimpinan perampok itu hingga terlepas dari tubuhnya. Setelah itu, dia memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.

Para penduduk desa lalu bergerak mendekati pemuda tersebut, setelah pimpinan perampok itu sudah tewas. "Terima kasih, Pendekar. Entah bagaimana caranya bagi kami untuk membalas kebaikan yang sudah pendekar berikan kepada penduduk desa ini," kata seorang lelaki setengah baya mewakili penduduk yang lainnya.

Wira tersenyum mendengar ucapan lelaki itu. Dia tidak pernah berpikir untuk mendapat balasan dari kebaikan yang sudah dilakukannya. "Tidak perlu berterima kasih, Paman. Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk menolong siapapun yang mendapat masalah. Asalkan tetap di jalan kebenaran, aku tidak akan segan untuk memberi pertolongan."

Wira tiba-tiba teringat dengan Sinta yang masih berada di kamar penginapan. Setelah berpamitan kepada semua orang yang berada di dekatnya, pemuda itu berlari menuju penginapan. Dia tidak mau terjadi apa-apa kepada gadis cantik itu. Terlebih dia sudah berjanji kepada Ki Anom untuk menjaganya.

Sesampainya di penginapan, Wira langsung berlari menuju kamarnya. Belum sempat dia mengetuk pintunya, dari dalam kamar terdengar teriakan minta tolong yang keluar dari mulut Sinta.

"Toloong... Wira... tolooong!"

Braaak!

Pintu itupun roboh terkena tendangan pemuda tersebut. Setelah berada di dalam kamar, dia melihat pedagang yang bertubuh sedikit tambun itu dalam keadaan bertelanjang dada dan sedang memegangi tangan Sinta.

Tanpa diduganya, pedagang tersebut berniat tidak senonoh terhadap Sinta. Itu terlihat dari beberapa bagian dari pakaian gadis itu yang robek.

"Wira tolong! Dia mau memperkosaku!" teriak Sinta lagi. Air matanya sudah tidak terbendung lagi keluar membasahi pipinya yang mulus dan putih.

Pedagang tersebut tidak percaya dengan kedatangan Wira. Padahal dia sangat mengharapkan pemuda itu tewas di tangan para perampok. Dengan begitu dia bisa menikmati tubuh gadis cantik itu dengan bebas. Kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Sinta, membuatnya tidak bisa menahan nafsunya. Apalagi mereka hanya berdua saja di dalam kamar itu.

"Kau...!" Mata Wira memerah karena emosinya memuncak. Dia tidak menyangka jika pedagang itu mempunyai niat buruk kepada Sinta. Pemuda itu langsung menerjang tubuh lelaki tersebut dengan tendangannya yang begitu kuat.

Braaak!

Tubuh sedikit tambun itupun terlempar ke dinding dengan keras.

"Aaakh!" Seringai kesakitan terdengar dari bibir pedagang tersebut. Dia merasakan tulang di bahunya serasa patah terkena tendangan Wira. Belum lagi rasa sakit di punggungnya yang membentur dinding hingga jebol.

"Ampuni aku, Wira. Aku khilaf... Setan sudah menggoda jiwaku." Lirih suara Pedagang tersebut mengiba agar Wira mau memaafkan kesalahannya.

"Kau menyalahkan setan? Yang perlu kau ketahui, Setan hanya menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Yang salah adalah kau kenapa mau tergoda oleh bisikan setan!" bentakan Wira membuat pedagang itu semakin mengkerut ketakutan.

"Tolong maafkan aku, Wira. Sebagai tebusan atas kesalahan yang telah aku perbuat, kau boleh membawa semua harta yang kubawa."

Ratapan mengiba lelaki bertubuh sedikit tambun itu tidak membuat Wira berubah pikiran.

"Meskipun seisi dunia ini kau berikan kepadaku, aku tetap tidak akan memaafkanmu! Kesalahanmu sudah di luar batas!"

Wira melangkah mendekati lelaki itu dan menendang kepalanya dengan keras. Emosinya yang sudah di luar batas kendalinya, membuatnya mengeluarkan tenaga dalamnya dengan jumlah yang cukup besar. Kepala pedagang itu retak dan nyawanya langsung terlepas dari tubuhnya.

Sinta yang masih merasakan ketakutan, tanpa sadar menghambur dan memeluk pemuda tampan itu dengan begitu erat. Air matanya terus mengalir keluar tanpa henti hingga membuat matanya sembab.

"Sudah aman sekarang. Kau jangan menangis lagi, ada aku di sini." Wira membalas pelukan gadis itu dengan lembut. Jari jemarinya mengelus rambut Sinta yang hitam dan panjang untuk menenangkannya.

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku lagi." pinta gadis cantik tersebut. Dia merasakan sesuatu yang aneh dan tidak pernah dirasakannya selama ini. Rasa nyaman yang teramat sangat dalam pelukan Wira.

"Selama kau ada di dekatku, aku berjanji akan selalu menjagamu," balas Wira. Dengan takut-takut dia mengecup kening gadis cantik tersebut.

Sinta terkejut dan juga senang. Dia semakin mempererat pelukannya di tubuh pemuda tampan tersebut.

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!