Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Pagi ini Dinzy tidak terlibat dalam meeting project di kanornya. Digantikan oleh Maya dan Moza. Awalnya Hendra dan Moza, tapi Hendra memilih untuk mundur.
Moza mulai bisa melangkah untuk melakukan misinya, yaitu melirik beberapa kolega bossnya. Dengan mengandalkan kecantikan yang ia miliki.
Karena sejak awal, Moza begitu tertarik dengan Luca. Dan ia merasa kesal jika Dinzy yang bisa mendekati Luca.
Mata Moza menatap Luca dengan tatapan kagumnya, kemudian ia mempresentasikan pekerjaannya dengan baik tanpa ada kendala.
Sementara Alvin yang sudah terbiasa dengan banyak perempuan, ia tahu jika Moza sama seperti Siska yang dengan mudah di dapatkan.
Jika di bandingkan Siska, memang Siska lebih cantik. Namun dari segi bentuk tubuh, Moza memiliki tubuh yang indah.
Setelah selesai meeting, Alvin meminta sekretarisnya mendekati Moza untuk mendapatkan informasi tentangnya. Dan tidak perlu menunggu waktu lama, sekretaris Alvin mendapatkannya dan segera memberikan kepada Alvin.
"Moza?" - Alvin
"Iya Pak. Ada yg bisa dibantu" - Moza
"Seksi dan pintar" - Alvin
"Terimakasih Pak Alvin" - Moza
"Ada waktu? Mungkin bisa lunch atau dinner" - Alvin
"Lunch Pak, karena hari ini saya ada janji dengan mama saya" - Moza
"Great. Di Lounge samping kantor kamu"
"Baik Pak"
Moza meletakkan ponselnya, meskipun ia tidak tertarik dengan Alvin, tapi ia tidak ingin melepaskan kesempatan emas ini.
"Merespon bukan berarti mau" gumam Moza
Sementara Dinzy dan Hendra sedang diskusi membahas tentang pekerjaan mereka, Moza datang dan meletakkan berkas tersebut. Kemudian mengambil tas dan meninggalkan ruangan.
"Dia oke presentasinya" ucap Maya
"Syukurlah" jawab Hendra dan Dinzy bersamaan
"Setidaknya team kita aman" ucap Maya
"Mbak Maya mau makan siang sama kami?"
"Boleh Din. Ayo Hen, udah lapar nih"
"Giliran makan, laju nih anak"
"Hahaha"
Dinzy hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi Maya dan Hendra, interaksi yang biasanya ia lihat juga saat Siska masih ada di kantor tersebut.
"Mbak Siska, kangen" - Dinzy
Setelah mengirim pesan, Dinzy menyimpan kembali ponselnya. Lalu mereka segera menuju tempat makan yang tidak jauh dari kantor mereka.
Ketiganya makan dengan tenang, tanpa pembahasan apapun. Dan setelah makan semua kembali ke ruangannya, kecuali Dinzy yang masih membeli kopi.
"Sayang" panggil Luca lirih
"Ngagetin aja. Ada apa? Mau kopi?"
"Mau kamu"
"Ih, nanti ada yang dengar"
"Kenapa? Bulan depan kita menikah"
"Iya, tapi masih bulan depan"
"Tumben minum kopi?" "Aku ngantuk. Mau kopi?"
"Boleh"
Dinzy memesan kopi satu lagi untuk Luca, lalu memberikannya. Keduanya berdiri di coffee shop tersebut berbincang santai dan terlihat sangat akrab.
Moza yang melihatnya merasa geram, kenapa selalu Dinzy yang bisa mendapat perhatian Luca. Dan karena Moza tidak mau kalah, ia mendatangi Dinzy dan Luca.
"Hai Din, selamat siang Pak Luca" ucap Moza dengan rasa percaya diri
Dinzy hanya tersenyum, namun Luca terlihat bingung siapa dia dan tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Pak Luca perkenalkan, saya Moza yang tadi meeting menggantikan Dinzy"
"Oh" jawab Luca.
Moza merasa kesal karena Luca hanya menjawab dengan 'oh' tanpa ada kalimat lain.
"Silahkan di lanjut, terimakasih kopinya, nanti aku jemput seperti biasanya" ucap Luca
"Aku?? Di jemput??" batin Moza
Moza semakin penasaran, ada hubungan apa antara Luca dengan Dinzy. Dan setelah Luca meninggalkan mereka, Moza juga pergi begitu saja tanpa permisi, yang membuat Dinzy ingin tertawa namun ia menahannya.