NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Erlang yang Teguh.

Matahari pagi di Kota Kadipaten terbit dengan semburat cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun beringin kembar di pelataran istana. Suasana di Paviliun Timur masih tampak tenang, sisa ketegangan semalam telah mencair seiring kembalinya Sekar Arum ke dalam kamarnya setelah ditenangkan oleh Erlang di taman. Pagi ini, Erlang sudah duduk bersila di selasar paviliun sembari mengelap permukaan bambu tuanya menggunakan sepotong kain perca lusuh, menikmati embusan angin pagi yang segar dengan kedamaian yang utuh.

Langkah kaki yang teratur dan halus terdengar mendekat dari arah jembatan kolam teratai. Gusti Ayu Kenanga berjalan anggun dengan dikawal oleh dua orang pelayan wanita yang membawa nampan kayu besar berkain beludru merah. Di atas nampan-nampan itu, terlihat jajaran hadiah mewah yang berkilauan, sebilah keris pusaka berliuk liuk tujuh dengan sarung emas, dua pasang jubah sutra halus berwarna ungu tua dan biru dongker khas pangeran istana, serta sebuah kantong kulit harimau yang tampak penuh berisi koin-koin emas murni Kadipaten.

"Sugeng enjang, Kangmas Erlang," sapa Kenanga dengan senyuman termanisnya, matanya memancarkan binar harapan cinta yang sangat pekat saat menatap wajah polos pemuda itu. "Bagaimana tidurnya semalam? Semoga keheningan Paviliun Timur ini bisa membuat batin Kangmas tenteram nggih."

Erlang mendongak, menghentikan aktivitas mengelap bambunya lalu tersenyum ramah, bangkit berdiri dengan gaya santainya yang khas. "Oalah, sugeng enjang, Nimas Kenanga. Wah, tidurnya nyenyak sekali toh, kasurnya empuk mirip tumpukan jerami padi yang baru dipanen di lereng Lawu. Matur nuwun sanget nggih."

Kenanga memberikan isyarat kepada kedua pelayannya untuk melangkah maju, menyodorkan nampan-nampan penuh kemewahan itu tepat di hadapan Erlang. "Kangmas Erlang... semua barang di atas nampan ini adalah bentuk ketulusan batin saya yang paling mendalam. Keris pusaka ini adalah warisan trah keluarga kami yang dialiri hawa murni penolak bala, dan koin-koin emas ini bisa Kangmas pakai untuk membeli rumah megah di pusat kota. Ambillah semua ini, Kangmas. Saya ikhlas memberikannya, asal Kangmas bersedia menetap di sini dan mengajari saya cara melatih sirkulasi energi hangat seperti yang Kangmas tunjukkan di hutan mahoni kemarin."

Di balik pilar jati ukir yang berada tepat di belakang selasar, Sekar Arum berdiri menyembunyikan tubuhnya. Ia berniat keluar untuk menyapa Erlang, namun kedatangan Kenanga yang mendadak membuatnya tertahan di sana. Sepasang mata bulat Sekar yang hari ini kembali dilapisi bedak kusam samaran tampak menyipit tajam, batinnya kembali bergejolak menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut pelindung polosnya itu setelah kejadian merajuk semalam.

Erlang memandangi keris emas dan kantong emas murni di atas nampan beludru itu sejenak dengan pandangan mata yang sangat jernih, tanpa ada rasa serakah atau silau sedikit pun terhadap kilauan harta duniawi. Ia menarik napas panjang yang teratur, lalu menjura dengan membungkukkan tubuhnya dengan sangat sopan dan halus di hadapan putri tumenggung tersebut.

"Waduh, Gusti Ayu... eh, Nimas Kenanga. Nyuwun sewu yang sebesar-besarnya nggih," ujar Erlang dengan nada suara yang teramat sangat santai, jujur, namun mengandung ketegasan yang luar biasa kokoh. "Hadiah-hadiah dari Nimas ini beneran luar biasa mewah dan berharga sekali. Tapi... tapi saya beneran tidak bisa menerimanya, Nimas. Hati saya ini tidak akan pas kalau harus memegang keris emas bertatahkan permata indah begini, tak jadinya malah hilang atau terselip waktu saya pakai mencari kayu bakar di hutan."

Kenanga agak tersentak, wajah cantiknya sedikit memucat karena tidak menyangka penawaran kemewahan kelas satu miliknya akan ditolak mentah-mentah. "Tapi, Kangmas Erlang... kenapa toh? Pakaian sutra ini beneran halus dan nyaman dipakai, cocok untuk ketampanan wajah Kangmas daripada pakaian robek yang Kangmas pakai sekarang. Dan emas ini... emas ini bisa mengubah hidup Kangmas sekejap mata menjadi ksatria yang dihormati di seantero Kadipaten!"

Erlang terkekeh renyah, menggaruk rambut belakangnya dengan wajah merona merah samar karena canggung dipuji tampan. "Hahaha, Nimas Kenanga ini beneran pandai bergurau. Baju robek saya ini justru yang paling nyaman kalau dipakai berjalan menapak bukit pasir, Nimas. Paman Suro selalu berpesan, hidup mulia itu bukan diukur dari halusnya kain sutra atau banyaknya koin emas di dalam kantong kulit, melainkan dari bersihnya batin kita saat melangkah di atas bumi Gusti Allah."

"Kangmas Erlang... apakah Kangmas beneran menolak semua ini hanya karena ingin terus hidup mlarat mengembara sebagai musafir bebas?" tanya Kenanga dengan nada suara yang mulai bergetar menahan rasa sedih dan kecewa di hatinya.

"Bukan masalah hidup mlaratnya, Nimas Kenanga," jawab Erlang perlahan, sorot mata jernihnya menatap lurus ke arah Kenanga dengan ketulusan yang menyejukkan. "Alasan utama saya menolak semua kemewahan ini adalah karena saya sudah punya janji yang mengunci seluruh arah langkah kaki saya di sepanjang sisa hidup ini. Saya sudah berjanji untuk selalu berjalan berdampingan di samping Nimas Sekar, menjadi pelindung, dan melindunginya dari segala mara bahaya luar. Langkah kaki saya ini hanya ingin mengikuti ke mana pun jubah sutra birunya bergerak menembus misteri dunia persilatan ini. Jadi... saya beneran tidak bisa menetap di dalam sangkar emas Kadipaten ini, Nimas."

Mendengar bait kalimat yang diucapkan Erlang dari balik pilar jati, dada Sekar Arum yang tadinya sesak penuh rasa waswas mendadak terasa seperti diguyur oleh aliran mata air pegunungan yang sangat sejuk dan manis. Seluruh dinding pertahanan hatinya yang kaku seketika meleleh total tanpa sisa. Rasa haru, rasa bangga, dan letupan cinta murni yang sangat pekat membuncah hebat di dalam lubuk batin putri raja yang sedang menyamar itu. Air mata kebahagiaan hampir saja menetes di pipinya yang kusam jika ia tidak segera menahannya dengan gigitan bibir bawah yang anggun. “Erlang... kau ini beneran pendekar bodoh yang paling teguh jiwanya di jagad raya ini,” batin Sekar meratapi kebahagiaan batinnya sendiri yang kian membubung tinggi ke langit sore.

Kenanga terdiam mematung, sepasang matanya menatap kosong ke arah deretan koin emas di atas nampan pelayannya. Ketegasan dan kesetiaan mutlak yang ditunjukkan Erlang terhadap janjinya kepada Sekar Arum membuat putri tumenggung itu akhirnya menyadari bahwa pesona kekuasaan dan harta duniawi setinggi apa pun tidak akan pernah mampu menggeser posisi gadis berbaju biru tersebut dari dalam hati sang pendekar murni.

"Jadi... hati Kangmas sudah sepenuhnya terkunci oleh Nimas Sekar?" tanya Kenanga dengan suara lirih, senyuman kecut menghiasi bibir merah delimanya.

"Nggih, Nimas Kenanga. Janji itu sifatnya sakral bagi saya," jawab Erlang lembut, kembali memberikan anggukan hormat sebagai tanda permohonan maaf atas kekecewaan yang diberikannya.

Kenanga menghela napas panjang, melambaikan tangan kepada kedua pelayannya untuk menarik kembali nampan-nampan mewah tersebut. "Baiklah, Kangmas Erlang. Saya beneran kagum sekaligus segan melihat keteguhan batin Kangmas yang tidak goyah oleh silau emas. Saya tidak akan memaksa Kangmas lagi untuk menetap di sini. Tentang informasi Mbah Wiro... telik sandi kami sudah menemukan petunjuk baru bahwa pasukan bayaran Gagak Hitam terlihat bergerak menuju ke arah pasar malam di distrik timur kota siang ini. Semoga petunjuk ini bisa membantu perjalanan Kangmas dan Nimas Sekar."

"Wah! Beneran petunjuk yang luar biasa berharga, Nimas Kenanga! Matur nuwun sanget nggih atas bantuan informasinya," puji Erlang gembira, wajah polosnya kembali berseri-seri.

Pada saat itulah, Sekar Arum melangkah keluar dari balik pilar jati dengan keanggunan berwibawa yang khas. Caping bambunya disampirkan di punggung, menampilkan wajah kusam buatannya yang kini memancarkan aura ketenangan batin yang sangat tinggi. Ia berjalan mendekati Erlang dan Kenanga tanpa ada lagi sisa sifat ketus atau cemburu seperti semalam.

"Gusti Ayu Kenanga," panggil Sekar Arum dengan nada suara yang lembut namun tegas. "Terima kasih atas segala keramahan, hidangan tahu bacem madu, serta petunjuk berharga tentang pergerakan pasukan Gagak Hitam ini. Kami berdua mendoakan agar keselamatan dan kedamaian selalu menyelimuti Kadipaten barat ini."

Kenanga menatap Sekar Arum dengan pandangan mata yang kini dipenuhi rasa segan yang tulus, menyadari bahwa gadis di hadapannya ini beneran memiliki kemuliaan batin yang pantas mendampingi kesaktian mutlak Erlang. "Sama-sama, Nimas Sekar. Jaga Kangmas Erlang dengan baik di sepanjang perjalanan panjenengan berdua nggih."

"Nggih, tentu saja. Itu sudah menjadi bagian dari janji kami," sahut Sekar Arum sembari melirik Erlang dengan senyuman manisnya yang paling hangat, membuat jantung Erlang kembali berdesir kencang karena kegembiraan melihat rekannya sudah tidak marah lagi.

Erlang langsung memungut kembali pikulan bambu tuanya, menyampirkannya ke atas pundak kanan dengan gerakan yang sangat luwes dan mantap. "Ayo, Nimas Sekar! Mari kita segera bergerak ke distrik timur sebelum hari kian siang, biar sisa-sisa antek berbaju hitam itu tidak sempat meloloskan diri lagi dari kejaran kita!"

"Mari, Erlang. Berjalanlah di sampingku," perintah Sekar Arum dengan nada manis yang memanjakan batin Erlang.

Kedua pengembara muda itu melangkah beriringan keluar dari selasar Paviliun Timur, melewati pelataran taman beringin kembar dengan langkah kaki yang kian mantap dan selaras menapak bumi Kadipaten. Penolakan teguh Erlang terhadap segala godaan kemewahan istana tidak hanya membuktikan kemurnian jiwanya sebagai pendekar sejati, melainkan telah merekatkan ikatan cinta rahasia di antara mereka berdua kian kokoh, siap menyongsong pertempuran yang kian menantang di pasar malam distrik timur demi menyingkap keberadaan Mbah Wiro.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!