Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Di Balik Cermin
Valeria mundur selangkah hingga pinggulnya membentur tepian wastafel. Jantungnya berdegup begitu kencang. Wajah di depan cermin itu, wajah Annora yang cantik, dingin, dan tanpa cela menatapnya dengan keheningan yang mencekam.
"Lo... sejak kapan lo ada di situ?!" tanya Valeria gagap, suaranya naik satu oktav karena panik.
Annora tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, dia melangkah maju. Suara ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai toilet terdengar seperti detak jam kematian bagi Valeria. Annora mengulurkan tangannya yang lentik, meraih pintu utama toilet, lalu memutar tuas kuncinya dari dalam.
Klik.
Suara kunci pintu itu membuat bulu kuduk Valeria berdiri meremang.
"Mau apa lo? Jangan macam-macam ya! Gue bisa teriak!" ancam Valeria, meski suaranya bergetar hebat.
Annora hanya tersenyum tipis. Dia berjalan mendekati Valeria yang sudah terdesak. Alih-alih melayangkan tamparan atas makian kotor Valeria tadi, Annora justru mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut merapikan beberapa helai rambut Valeria yang berantakan di dekat telinga. Sentuhan jari-jari Annora terasa begitu dingin di kulit Valeria, seperti es.
Annora mendekatkan wajahnya ke telinga Valeria, membisikkan kata-kata dengan nada yang sangat lambat, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
"Mulut cantikmu ini... terlalu kotor untuk seseorang yang sebentar lagi akan kehilangan segalanya, Valeria," bisik Annora, napasnya yang hangat terasa di leher Valeria.
"Kamu tahu... dasar jurang yang gelap itu sangat dingin dan sepi. Apalagi untuk orang jahat yang suka mendorong orang lain ke dalamnya. Menurutmu, bagaimana rasanya kalau kamu yang dikirim ke sana?"
Mendengar kata 'jurang', mata Valeria seketika melotot horor. Seluruh persendiannya lemas. Bagaimana wanita investor asing ini bisa tahu tentang kejadian jurang? Apakah dia tahu tentang Anita? Atau... apakah dia adalah?
Sebelum Valeria sempat menyelesaikan kepanikannya, Annora sudah mundur, menepuk bahu Valeria dua kali dengan lembut seolah-olah mereka adalah teman dekat, lalu membuka kunci pintu toilet dan melangkah keluar dengan anggun, meninggalkan Valeria yang gemetar hebat di bawah lampu toilet yang temaram.
Ketika Valeria kembali ke meja dengan langkah gontai dan wajah sepucat mayat, Randy sama sekali tidak peduli. Pria itu sedang sibuk menuangkan teh ke cangkir Annora dengan senyuman menjilat yang menjijikkan.
"Kamu kenapa, Val? Lama banget di toilet," tegur Randy ketus tanpa menoleh.
"R-Randy... wanita ini..." Valeria berbisik, mencoba memperingatkan Randy, namun suaranya langsung dipotong oleh ketukan jemari Annora di atas meja.
"Baiklah, Pak Randy. Mari kita bicara bisnis secara efisien," ucap Annora, membuka sebuah map dokumen tebal berlambang PT Angkasa Megah.
"Saya siap mentransfer dana darurat sebesar lima puluh miliar rupiah ke rekening perusahaan Anda besok pagi. Tapi, saya memiliki satu syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat."
"Apa itu, Bu Annora? Katakan saja, apa pun akan saya penuhi!" jawab Randy dengan mata berbinar-binar penuh keserakahan.
Annora melirik Valeria yang duduk gelisah di sebelah Randy. Senyum sinis terukir di bibir indahnya.
"Perusahaan saya hanya bekerja sama dengan orang profesional. Citra perusahaan Anda saat ini sangat buruk karena rumor domestik. Dan malam ini, saya melihat sendiri bagaimana sekretaris pribadi Anda bertindak tidak kompeten, norak, dan sangat memalukan di depan mitra bisnis kelas atas."
Annora mengetukkan pulpennya ke atas kertas.
"Syarat saya sederhana. Bersihkan citra perusahaan Anda, dimulai dengan memecat sekretaris tidak berkelas ini malam ini juga. Saya tidak ingin melihat wajahnya lagi di kantor Anda, atau kerja sama ini batal."
"Apa?!" Valeria tersentak dari kursinya.
"Heh, perempuan gila! Lo sengaja kan—"
"Valeria, diam!" bentak Randy dengan suara menggelegar, langsung memotong ucapan kekasih gelapnya itu. Randy menatap Valeria dengan pandangan mata yang dipenuhi kemarahan dan kebencian murni.
Di mata Randy saat ini, Valeria hanyalah parasit pembawa sial yang menghalangi jalannya menuju uang 50 miliar rupiah.
"Bu Annora benar," ucap Randy dingin, menatap Valeria tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Mulai detik ini, kamu saya pecat secara tidak hormat dari perusahaan. Kamu bukan lagi sekretaris saya."
"Randy! Kamu gila?! Kamu lupa siapa yang udah bantu kamu selama ini?! Kamu lupa apa yang udah kita lakuin?!" jerit Valeria histeris, air matanya mulai merusak riasan tebal di wajahnya. Dia tidak percaya pria yang dia bela sampai rela melakukan percobaan pembunuhan terhadap Anita kini membuangnya seperti sampah demi uang.
"Pergi dari sini sekarang, Valeria! Pulang naik taksi, dan jangan pernah tunjukkan muka kamu di kantor saya lagi!" usir Randy kasar, bahkan tidak sudi melihat wajah Valeria.
Valeria berdiri dengan tubuh gemetar karena marah dan kecewa yang luar biasa. Dia menatap Randy dengan dendam yang membara, lalu melirik Annora yang sedang menyesap minumannya dengan tatapan kemenangan yang dingin.
"Kalian berdua akan menyesal! Terutama kamu, Randy! Kamu bajingan tak tahu diri!" teriak Valeria sebelum menyambar tasnya dan berlari keluar dari restoran dengan isak tangis kemurkaan.
Setelah pintu tertutup, Randy langsung berbalik menghadap Annora dengan senyuman lebar yang sangat menjilat.
"Masalah kecil udah selesai, Bu Annora. Jadi, kapan kita bisa menandatangani kontrak kerja sama ini?"
Annora menatap Randy, menahan hasratnya untuk meludahi wajah pria tak punya harga diri di depannya ini.
'Nikmati kemenangan semu ini, Randy,' batin Anita di balik topeng Annora.
'Karena saat kamu menandatangani kontrak ini, kamu baru saja menyerahkan seluruh hidupmu ke dalam genggamanku.'
Valeria berlari keluar dari hotel, menembus lobi yang ramai dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping. Begitu ia menginjakkan kaki di trotoar, langit malam yang kelam seolah ikut menertawakannya, hujan turun dengan deras, mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup dalam hitungan detik.
Riasan wajahnya luntur, bercampur dengan air hujan dan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia tampak seperti wanita gila di tengah hiruk-pikuk kota yang tak peduli pada nasibnya.
Ia berhenti di bawah sebuah papan reklame besar, terengah-engah dengan tubuh gemetar hebat. Rasa dikhianati oleh Randy, pria yang baru saja ia perjuangkan dengan cara yang kotor membuat dadanya terasa seperti diiris sembilu. Namun, di balik tangisnya, dendam yang jauh lebih gelap perlahan mengkristal.
"Annora... jalang sombong itu..." desis Valeria di tengah deru hujan. Kilatan petir yang menyambar menerangi wajahnya yang kini penuh aura keji.
Matanya menyipit, memancarkan kebencian murni yang menakutkan.
"Dia pikir dia bisa menghancurkan hidup gue dan mengusir gue seperti sampah? Tidak akan!"
Dengan tangan mengepal kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangan, Valeria bersumpah di hadapan malam yang dingin.
"Gue akan buat perhitungan sama lo. Lo bakal berakhir sama persis dengan Anita... membusuk di dasar jurang yang paling dalam, dan kali ini, gue sendiri yang akan memastikan detak jantung lo berhenti dengan lebih kejam dari apa yang dulu Anita rasakan!"
Bersambung