Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Bersembunyi di Ruang Musik
Jam pertama hari itu adalah Sejarah Dungeon, kelas yang menurut sembilan dari sepuluh murid SMA Bakti Bangsa adalah definisi literal dari penderitaan pukul tujuh pagi.
Pak Hendra berdiri di depan kelas dengan spidol papan tulis di tangan, menjelaskan klasifikasi tier monster dengan suara monoton yang sudah terdengar persis sama selama tiga tahun terakhir mengajar di sekolah ini. Murid-murid duduk dengan berbagai tingkat keputusasaan — ada yang corat-coret buku, ada yang diam-diam main ponsel di balik meja, ada yang sudah menyerah total dan tidur dengan kepala disandarkan ke lengan.
Rio termasuk kategori terakhir.
Bukan karena ia tidak peduli pada materinya. Justru sebaliknya — semalam ia baru saja menyaksikan langsung perbedaan riil antara tier Warrior dan tier Master dalam pertarungan nyata, jauh lebih detail dari yang bisa dijelaskan diagram di papan tulis. Masalahnya cuma satu: tubuhnya kelelahan luar biasa setelah dua malam berturut-turut tidur kurang dari empat jam.
"Rio Albert."
Suara Pak Hendra memanggil namanya membuat Rio tersentak bangun, refleks mengangkat kepala dengan tampang yang masih setengah linglung.
Seisi kelas tertawa pelan.
"Sebutkan tiga karakteristik umum monster tier Master yang membedakannya dari tier Grandmaster," ujar Pak Hendra, menatap Rio dengan ekspresi yang sudah terlalu lelah untuk benar-benar marah.
Rio mengerjap dua kali, otaknya masih setengah di alam mimpi sebelum tersambung kembali ke kenyataan.
"Kepadatan energi inti lebih tinggi, biasanya punya skill pasif area-effect, dan—" Rio berhenti sebentar, mengingat detail dari pertarungan semalam, "—dan biasanya mulai punya kemampuan deteksi ancaman yang lebih canggih dari insting dasar. Mereka bisa kalkulasi level lawan sebelum menyerang."
Kelas hening sebentar.
Pak Hendra mengerutkan dahi, jelas tidak menyangka jawaban itu keluar dari murid yang baru saja ia tangkap basah tertidur. "Itu... benar. Bahkan poin ketiga itu di luar materi buku paket. Dari mana kamu tahu?"
"Baca-baca," jawab Rio singkat, kembali menyandarkan kepala ke meja.
Kevin yang duduk dua baris di depan menoleh sekilas dengan ekspresi yang sulit didefinisikan — sedikit kesal karena jawaban Rio benar, sedikit penasaran kenapa anak F-rank tiba-tiba tahu detail teknis level itu.
Rio tidak peduli. Matanya sudah terpejam lagi sebelum Pak Hendra sempat melanjutkan materi.
Jam istirahat kedua, Rio duduk sendiri di bangku taman belakang sekolah — tempat favoritnya karena sepi dan ada pohon besar yang memberikan cukup keteduhan untuk tidur siang singkat. Wukong duduk di sebelahnya, mengunyah pisang yang Rio beli dari kantin tadi.
Panel sistem Rio menampilkan update kondisi serigala di rumah:
**[Update Status: Void Shadow Wolf]**
**[HP: 34% → 41% — Pemulihan Berjalan Normal]**
**[Estimasi Pulih Total: 36-48 jam]**
Rio mengangguk puas, menutup panel itu, dan baru saja akan menyandarkan kepala ke batang pohon untuk tidur siang singkatnya ketika sesuatu terjadi.
Tanpa peringatan apapun, panel sistem menyala sendiri — kali ini bukan update rutin, melainkan notifikasi mendadak dengan border emas yang lebih terang dari biasanya, jenis notifikasi yang biasanya Rio terima saat ada hal signifikan terdeteksi.
**[PERINGATAN! Sinyal Jiwa Hewan Kontrak Potensial Terdeteksi!]**
**[Jarak: 87 Meter dari Lokasi Pengguna]**
**[Lokasi: Area Dalam Bangunan Sekolah]**
Rio duduk tegak seketika, matanya yang tadi mengantuk langsung melek penuh.
"Di sekolah?" gumamnya pelan, cukup pelan agar tidak ada murid lain yang lewat mendengarnya.
Wukong berhenti mengunyah pisangnya, mendongak ke arah bangunan sekolah dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius.
Rio menatap panel itu lagi, mencoba mencerna informasi yang baru saja muncul. Dungeon liar di pelabuhan, makhluk tersegel di rawa terpencil — itu masuk akal. Tapi sinyal jiwa hewan kontrak setingkat dewa, di dalam gedung sekolah yang penuh murid dan guru setiap hari?
Itu tidak masuk akal sama sekali.
Kecuali sinyal itu sudah ada di sana sejak lama, tersembunyi dengan sangat baik sehingga tidak ada satupun dari ratusan orang yang lalu-lalang setiap hari yang menyadarinya.
**[Mendeteksi Arah Sinyal — Mengarah ke Gedung Seni, Lantai 2, Ruang Musik]**
**[Catatan Sistem: Sinyal sangat lemah dan tertutup rapat. Kemungkinan tersegel di balik objek fisik tertentu.]**
Ruang musik.
Rio mengenal tempat itu — gedung seni yang terletak di sayap timur sekolah, jarang dikunjungi kecuali oleh anak-anak ekstrakurikuler musik dan paduan suara. Ruangan itu penuh dengan alat musik tua, beberapa di antaranya sudah tidak terpakai bertahun-tahun, hanya jadi pajangan berdebu di sudut ruangan.
Bel masuk berbunyi.
Rio menatap jam tangannya, lalu menatap arah gedung seni, lalu kembali ke jam tangannya.
Jam pelajaran berikutnya adalah Matematika — guru paling tegas di sekolah yang bahkan tidak segan memberi hukuman bersih-bersih toilet untuk murid yang bolos tanpa surat izin resmi.
"Sialan," gumam Rio, berdiri dari bangku taman.
Pilihan logis adalah menunggu sampai pulang sekolah. Sinyal itu sudah terdeteksi, tidak akan hilang dalam beberapa jam ke depan, dan Rio bisa kembali setelah jam pelajaran selesai tanpa risiko ketahuan bolos.
Tapi sesuatu di dalam dirinya — entah insting dari sistem, entah rasa penasaran murni — terasa tidak sabar.
Rio menatap Wukong. "Kelas Matematika atau ruang musik?"
Wukong menatap balik dengan ekspresi yang Rio terjemahkan sebagai *kenapa kamu bahkan bertanya?*
Rio memilih jalan tengah yang cukup licik — ia menemui guru piket dengan alasan sakit perut mendadak, mendapatkan izin ke UKS, lalu berbelok arah ke gedung seni begitu keluar dari pandangan kantor guru.
Gedung seni di siang hari pelajaran berlangsung sangat sepi. Koridor lantai duanya hanya diterangi cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar di sepanjang dinding, debu-debu kecil melayang terlihat jelas di tengah berkas cahaya itu.
Ruang musik terletak di ujung koridor, pintunya tertutup dengan label kaca buram bertuliskan "RUANG MUSIK — Khusus Ekstrakurikuler".
Rio mengecek sekeliling — tidak ada siapapun — sebelum mendorong pintu itu pelan.
Engselnya berderit panjang, suara yang di tengah keheningan koridor terdengar jauh lebih keras dari yang seharusnya.
Bagian dalam ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya dari jendela yang setengah tertutup tirai. Deretan alat musik berjajar di sepanjang dinding — piano tua di sudut kiri, drum set yang sudah berdebu, beberapa gitar tergantung di rak, dan tumpukan kotak instrumen yang tidak terpakai di sudut belakang ruangan.
Panel sistem Rio berkedip lebih intens begitu ia melangkah masuk.
**[Sinyal Semakin Kuat — Jarak: 6 Meter]**
**[Sumber Sinyal: Sudut Belakang Ruangan]**
Rio melangkah perlahan menuju sudut belakang, melewati piano tua yang tutsnya sudah menguning, melewati rak gitar yang berdebu tebal.
Tumpukan kotak instrumen di sudut paling belakang tampak tidak tersentuh dalam waktu yang sangat lama. Sarang laba-laba menggantung di antara celah-celahnya, lapisan debu setebal hampir satu sentimeter menutupi permukaan kotak-kotak itu.
Rio mendekat, jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
Di balik tumpukan kotak instrumen rusak itu, tersembunyi sebuah kotak biola tua berukuran kecil — model lama yang sudah jarang digunakan, dengan gagang kulit yang sudah retak dan warnanya pudar menjadi cokelat kusam.
Rio berjongkok di depannya.
**[Sumber Sinyal Terkonfirmasi — Objek Fisik: Kotak Biola Tua]**
**[Catatan: Objek ini bukan wadah biasa. Terdeteksi enkripsi penyegelan kuno tingkat tinggi.]**
Rio meraih kotak itu dengan kedua tangan, mengangkatnya keluar dari tumpukan debu. Lebih berat dari yang seharusnya untuk sebuah kotak biola kosong — beratnya lebih mirip seperti membawa sebuak balok batu kecil yang dibungkus kain.
Ia mendudukkan dirinya di lantai, meletakkan kotak itu di pangkuannya, lalu membuka kaitnya yang sudah berkarat.
Kaitan itu macet di percobaan pertama. Macet lagi di percobaan kedua.
Pada percobaan ketiga, dengan sedikit tambahan tenaga, kaitan berkarat itu akhirnya terbuka dengan suara decit panjang.
Rio mengangkat tutup kotak itu perlahan.
Di dalamnya, alih-alih biola, tergeletak seekor laba-laba sebesar telapak tangan orang dewasa — tubuhnya berwarna hitam pekat dengan corak ungu metalik yang membentuk pola simetris di punggungnya, kedelapan kakinya menekuk rapat ke dalam, sama sekali tidak bergerak.
Rio menahan napas sebentar.
**[Sinyal Jiwa Terkonfirmasi — Analisis Hewan Dimulai...]**
**[Nama Makhluk: Laba-laba Bayangan (Wujud Tersegel)]**
**[Identitas Asli: ABYSSAL GODDESS WEAVER — Penenun Takdir Kegelapan (Segel Tingkat Dewa)]**
**[Tier Evolusi Saat Ini: TIDAK DAPAT DIDETEKSI — Status: Dormansi Total]**
**[Potensi Puncak: MYTHICAL IMMORTAL — Top Global Marksman]**
**[Catatan Sistem: Makhluk ini telah berada dalam kondisi dormansi selama estimasi lebih dari 80 tahun. Penyebab dormansi: Trauma jiwa parah yang belum teratasi. Diperlukan kondisi tertentu untuk membangunkan jiwa ini dari dormansi.]**
Delapan puluh tahun.
Rio menatap laba-laba kecil yang tergeletak diam di dalam kotak biola tua itu, otaknya mencoba memproses angka tersebut. Sembilan puluh tahun lalu, gedung sekolah ini bahkan mungkin belum berdiri. Entah berapa kali pemilik kotak biola ini berganti, entah berapa kali ruang musik ini dibersihkan dan diabaikan kembali, makhluk setingkat dewa ini terus tertidur dalam kegelapan, tidak disentuh, tidak dipedulikan.
"Trauma jiwa," gumam Rio pelan, membaca ulang baris terakhir notifikasi itu.
Sesuatu yang berbeda dari Wukong yang terlalu kuat untuk dikenali, berbeda dari serigala yang terluka secara fisik. Ini adalah luka yang lebih dalam — luka yang bahkan sistem segala-tahu miliknya tidak bisa langsung perbaiki dengan transfer energi sederhana.
Wukong melompat turun dari pundak Rio, mendekat ke tepi kotak biola itu. Ia mengendus laba-laba kecil yang tidak bergerak itu dengan hati-hati, lalu mendongak menatap Rio dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dari biasanya — bukan ekspresi waspada seperti saat bertemu serigala kemarin, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan kepedulian.
Rio menjulurkan tangannya perlahan, jari-jarinya berhenti beberapa sentimeter di atas tubuh laba-laba yang dingin dan tidak bergerak itu.
Ia tidak menyentuhnya dulu.
"Kondisi tertentu apa yang bisa membangunkan dia?" tanya Rio dalam hati, menatap panel sistemnya yang masih terbuka.
**[Analisis Sedang Berlangsung...]**
**[Kondisi Pembangunan Terdeteksi: Diperlukan Lingkungan yang Aman, Waktu, dan Kehadiran Konsisten dari Entitas yang Dipercaya.]**
**[Catatan: Proses Pembangunan Tidak Dapat Dipaksakan atau Dipercepat dengan Energi Inti. Dibutuhkan Pendekatan Bertahap.]**
Rio membaca notifikasi itu sekali lagi, lalu menghela napas pelan.
Berbeda dari Wukong yang langsung aktif begitu kontrak terjalin, berbeda dari serigala yang hanya butuh penyembuhan fisik dan tempat berlindung. Makhluk ini butuh sesuatu yang jauh lebih rumit untuk diberikan oleh sistem manapun.
Ia butuh waktu. Ia butuh rasa aman yang dibangun perlahan, bukan diberikan instan.
Rio menatap laba-laba kecil itu sekali lagi, lalu menutup kembali kotak biola itu dengan hati-hati, seolah menutup selimut untuk seseorang yang sedang tidur.
"Oke," gumamnya pelan. "Gue bawa kamu pulang dulu."
Ia mendekap kotak biola tua itu di dalam tasnya, menyelipkannya hati-hati di antara buku-buku pelajaran agar tidak terguncang.
Saat Rio berbalik untuk keluar dari ruang musik, langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu.
Ia menoleh ke belakang, menatap sudut ruangan yang tadi penuh debu dan sarang laba-laba — tempat yang selama puluhan tahun menjadi satu-satunya dunia yang dikenal oleh makhluk setingkat dewa yang kini tersimpan di dalam tasnya.
"Delapan puluh tahun," gumam Rio lagi, kali ini dengan nada yang berbeda. Bukan kekaguman pada angka itu. Lebih ke arah rasa tidak nyaman yang sulit ia jelaskan.
Wukong melompat kembali ke pundaknya, mencicit pelan — entah penghiburan, entah sekadar memberi tahu bahwa ia masih ada di sana.
Rio menutup pintu ruang musik di belakangnya, langkahnya kembali menyusuri koridor sepi gedung seni menuju ke arah UKS, di mana ia akan berpura-pura baru saja sembuh dari sakit perutnya sebelum kembali ke kelas Matematika yang tinggal setengah jam lagi.
Tapi pikirannya sudah jauh meninggalkan ruangan kelas itu.
Slot ketiga sudah terisi. Tapi berbeda dari dua sebelumnya, slot ini bukan tentang pertarungan atau evolusi cepat.
Slot ini tentang sesuatu yang jauh lebih sulit — membangunkan sesuatu yang sudah lama memilih untuk tidak bangun sama sekali.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣