Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Jarum jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Martabak di atas meja tinggal beberapa potong. Teh hangat yang tadi dibuat ibu Aurel pun mulai mendingin. Namun obrolan dua sahabat itu belum juga usai.
Najwa menyandarkan tubuhnya ke kursi teras.
"Rel."
"Hm?"
"Ada satu pertanyaan yang dari kemarin pengin aku tanyakan."
Aurel menoleh. "Apa?"
Najwa menarik napas pelan.
"Selama tujuh tahun..."
"...kamu benar-benar nggak pernah curiga sama Mahesa?"
Pertanyaan itu membuat Aurel terdiam. Tatapannya lurus ke halaman rumah. Ia seolah sedang memutar kembali semua kenangan selama pernikahannya.
Setelah beberapa saat, Aurel menggeleng pelan.
"Jujur..."
"Nggak pernah."
Najwa mengernyit. "Sama sekali?"
"Iya."
"Tidak pernah."
Najwa semakin penasaran. "Kenapa?"
Aurel tersenyum hambar.
"Karena Mahesa terlalu pandai menjadi suami yang baik."
Najwa memilih diam, membiarkan Aurel melanjutkan.
"Dia selalu pulang ke rumah."
"Kalau lembur, pasti mengabari."
"Kalau keluar kota karena pekerjaan, selalu ada bukti."
"Bahkan sering mengirim foto."
"Kadang video."
"Aku tidak pernah menemukan sesuatu yang janggal."
Najwa mengangguk pelan. "Lalu soal keuangan?"
"Itu juga normal." Jawab Aurel.
"Mahesa selalu terbuka soal penghasilan usaha."
"Kalau mengambil uang untuk kebutuhan bengkel, dia selalu bilang."
"Kalau membantu orang tuanya, aku juga tahu."
"Dia nggak pernah menyembunyikan itu."
Najwa kembali bertanya. "Lalu uang yang ternyata mengalir ke Kayla?"
Aurel mengembuskan napas panjang. "Itu yang sampai sekarang masih membuatku heran."
"Jumlahnya tidak besar."
"Dan tidak rutin."
"Kalau saja tiap bulan ada transfer dalam jumlah besar, mungkin aku sudah curiga sejak dulu."
"Tapi kenyataannya tidak."
Najwa mengangguk pelan. "Berarti secara keuangan memang tidak mencolok."
"Iya."
"Bahkan kami masih sering berdiskusi soal pengeluaran rumah."
"Soal tabungan."
"Soal biaya sekolah Raka."
"Semuanya terlihat seperti keluarga pada umumnya."
Najwa memandang sahabatnya dengan iba. "Lalu soal Kayla?"
Aurel tersenyum pahit.
"Itu lebih tidak mungkin lagi."
"Kayla sering datang ke rumah."
"Main sama Raka."
"Kadang menginap."
"Bahkan pernah beberapa kali menjaga Raka saat aku dan Mahesa sama-sama sibuk."
Najwa menghela napas. "Sulit dipercaya..."
Aurel mengangguk pelan. "Kalau ada orang bertanya kenapa aku tidak curiga..."
"...jawabannya sederhana."
"Aku percaya."
Kepercayaan itu membuat suara Aurel mulai bergetar. "Aku percaya sama suamiku."
"Aku juga percaya sama sahabatku."
"Dua orang yang paling tidak pernah aku bayangkan akan mengkhianatiku."
Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Aurel.
"Kalau aku harus hidup dengan selalu mencurigai suami dan sahabatku..."
"...itu bukan rumah tangga dan bukan persahabatan yang sehat."
Najwa menggenggam tangan Aurel. "Kamu benar."
Aurel mengusap sudut matanya.
"Makanya sampai sekarang aku tidak pernah menyalahkan diriku karena tidak curiga."
"Aku hanya sedang menjadi istri yang percaya kepada suaminya."
"Dan menjadi sahabat yang percaya kepada sahabatnya."
Najwa mengangguk pelan. "Itu bukan kesalahanmu, Rel."
"Kamu mempercayai orang yang menurutmu layak dipercaya."
Aurel menarik napas panjang. "Yang salah adalah mereka yang menyalahgunakan kepercayaan itu."
Malam kembali sunyi. Tak ada lagi yang perlu ditambahkan. Najwa akhirnya memahami satu hal. Bukan karena Aurel bodoh hingga tak menyadari perselingkuhan selama tujuh tahun. Melainkan karena Mahesa dan Kayla begitu pandai menyembunyikan hubungan mereka, sementara Aurel memilih membangun rumah tangga dengan kepercayaan, bukan dengan kecurigaan. Dan justru karena kepercayaan itulah. Luka yang dirasakan Aurel menjadi jauh lebih dalam saat semua kebohongan akhirnya terbongkar.
Angin malam berembus pelan. Suasana di teras kembali hening setelah percakapan panjang mereka. Najwa memandang wajah Aurel yang kini tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu.
Namun masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Rel."
Aurel menoleh. "Iya?"
Najwa terlihat ragu.
"Kalau pertanyaanku terdengar nggak enak, kamu nggak usah jawab."
Aurel tersenyum tipis. "Tanya saja."
Najwa menarik napas pelan.
"Menurutmu..."
"...yang pintar itu Mahesa dan Kayla?"
"Atau..."
"...kamu yang terlalu polos?"
Aurel terdiam cukup lama. Ia tidak merasa tersinggung. Justru pertanyaan itu pernah berkali-kali ia tanyakan kepada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Aurel tersenyum pahit.
"Mungkin..."
"...dua-duanya."
Najwa mengernyit. "Maksudnya?"
Aurel menatap langit malam.
"Mahesa dan Kayla memang sangat pandai menyembunyikan hubungan mereka."
"Tapi di sisi lain..."
"...aku juga terlalu percaya."
Najwa mendengarkan dengan saksama.
"Aku bekerja hampir setiap hari."
"Berangkat pagi."
"Pulang sore."
"Kadang kalau pekerjaan sedang banyak, bisa sampai malam."
"Begitu sampai rumah, pikiranku sudah penuh."
"Yang ingin kulakukan hanya menemani Raka sebentar lalu istirahat."
Najwa mengangguk pelan. "Jadi waktu kalian memang terbatas."
"Iya."
"Aku dan Mahesa sama-sama sibuk."
"Tapi aku mengira itu fase yang wajar."
"Kami sedang membangun masa depan."
Aurel menarik napas panjang. "Kalau dipikir-pikir sekarang..."
"...mungkin komunikasi kami memang tidak seintens dulu."
"Tapi itu bukan berarti aku mengira dia berselingkuh."
Najwa memahami maksud sahabatnya. Dalam banyak rumah tangga, kesibukan memang bisa mengurangi waktu bersama, tetapi tidak otomatis berarti ada pengkhianatan.
"Lalu soal Kayla?" Tanya Najwa.
Aurel tersenyum tipis. "Justru sekarang kalau diingat-ingat..."
"...ada satu hal yang dulu pernah membuatku heran."
"Apa?" tanya Najwa.
"Setiap kali Mahesa datang..."
"...Kayla sering membuang muka."
Najwa langsung mengernyit. "Membuang muka?"
"Iya."
"Kalau kami bertiga sedang bersama, Kayla jarang menatap Mahesa."
"Kalau Mahesa mengajak bicara, jawabannya juga seperlunya."
Najwa tampak semakin penasaran. "Terus kamu nggak curiga?"
Aurel menggeleng.
"Nggak."
"Kenapa?" tanya Najwa.
"Karena saat itu aku menganggap Kayla sedang menjaga sikap."
"Aku pikir dia menghormati suami sahabatnya."
"Supaya tidak terlihat terlalu akrab."
Najwa menghela napas pelan. "Ternyata..."
Aurel mengangguk.
"Iya."
"Sekarang aku baru sadar."
"Mungkin itu bukan karena menjaga sikap."
"Tapi karena mereka takut aku melihat sesuatu dari tatapan mereka."
Najwa terdiam.
Aurel kembali melanjutkan. "Dan satu alasan lagi kenapa aku tidak pernah curiga..."
"Apa?" tanya Najwa.
"Karena Kayla punya Ardi."
Najwa mengangguk pelan. "Itu memang membuat orang sulit berprasangka."
"Iya."
"Aku tahu mereka bertunangan."
"Keluarga mereka juga saling mengenal."
"Jadi mana mungkin aku berpikir Kayla menjalin hubungan dengan suamiku?" Aurel tersenyum pahit.
"Kalau waktu itu ada orang yang bilang Kayla berselingkuh dengan Mahesa..."
"...mungkin aku orang pertama yang akan membela mereka." kata Aurel lagi.
Najwa menatap sahabatnya dengan iba. "Kamu terlalu percaya."
Aurel mengangguk.
"Iya."
"Tapi sekarang aku sadar."
"Percaya itu penting."
"Namun bukan berarti kita menutup mata terhadap perubahan."
Najwa menggenggam tangan Aurel. "Jangan salahkan dirimu terus."
"Kesibukanmu bekerja bukan alasan untuk membenarkan perselingkuhan Mahesa."
"Kurangnya komunikasi juga tidak membuat pengkhianatan menjadi wajar." kata Najwa memberi ketenangan ke Aurel.
Aurel mengangguk pelan. "Aku tahu."
"Makanya sekarang aku berhenti mencari-cari kesalahan pada diriku sendiri."
"Aku hanya mengambil pelajaran."
"Bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga."
"Dan sekali dikhianati..."
"...tidak semua orang mampu membangunnya kembali."
Najwa tersenyum hangat. Malam itu, ia semakin yakin bahwa sahabatnya bukan perempuan yang lemah. Aurel hanya pernah mencintai dan mempercayai orang yang salah. Dan itu adalah dua hal yang tidak seharusnya membuat seseorang disebut bodoh.