Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Perubahan Kania
Pagi itu, Kania berdiri di depan kompor, membolak-balik tempe goreng dengan tatapan kosong. Air matanya sudah habis semalaman. Hatinya yang hancur perlahan membeku, menyisakan sebuah ruang hampa yang membuat logikanya mulai mengambil alih.
Kania sadar, menangis meraung-raung tidak akan mengubah kenyataan bahwa suaminya telah membagi hati dengan wanita lain.
Langkah kaki berat terdengar memasuki dapur. Tuti muncul dengan wajah ditekuk seperti biasa. Matanya memindai wajan dengan tatapan meremehkan.
"Masak apa hari ini?" tanya Tuti dengan nada ketus.
Tanpa menoleh dari wajannya, Kania menjawab dengan suara datar dan dingin. "Apa saja, asal bisa dimakan, Ma."
Tuti tersentak. Alisnya menukik tajam mendengar jawaban menantunya yang tidak seperti biasanya.
Selama ini, Kania selalu menunduk dan menjawab dengan suara gemetar jika ditegur.
"Kamu ini ditanya kok jawabnya ketus begitu?! Nggak ada sopan santunnya sama mertua! Ditanya baik-baik malah nyolot!" bentak Tuti.
Kania mematikan kompor perlahan. Ia meletakkan spatulanya, lalu menoleh menatap ibu mertuanya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Sama sekali tidak ada raut ketakutan di sana.
"Lalu Kania harus jawab gimana, Ma?" sahut Kania tenang, terlalu tenang hingga membuat Tuti sedikit tertegun.
"Uang belanja dari mas Firman sudah habis sejak minggu lalu. Kania masak dengan sisa uang receh di dompet Kania. Kalau Mama mengharapkan hidangan daging atau ayam, Kania nggak punya uangnya. Jadi, apa saja yang ada di dapur ini, asal bisa dimakan, itu yang Kania masak."
Wajah Tuti memerah padam karena telak disindir soal ekonomi putranya.
"Berani kamu ya sekarang menjawab ucapan orang tua?! Dasar perempuan nggak tahu diuntung! Suami lagi bangkrut bukannya dibantu, malah banyak tingkah!" gerutu Tuti sambil menghentakkan kaki menuju meja makan.
Kania hanya menarik napas panjang. Ia mengambil piring berisi lauk seadanya itu dan membawanya ke meja makan.
Tak lama kemudian, Firman turun dari lantai dua. Rambutnya masih sedikit berantakan dan matanya sembab karena efek alkohol semalam.
Pria itu menarik kursi dan duduk dengan kasar di meja makan, memijat pelipisnya yang berdenyut.
Firman menangkap sebuah benda di atas meja. Tepat di sebelah cangkir kopi hitamnya, terlipat sangat rapi sebuah kemeja berwarna cream. Kemeja yang ia pakai semalam.
Firman menelan ludah. Tubuhnya mendadak kaku.
Dari arah dapur, Kania berjalan mendekat membawa teko berisi air putih. Ia menuangkan air ke gelas Firman, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang kini memucat.
"Aku sudah hilangkan noda lipstiknya, Mas," ucap Kania dengan tenang. "Kalau kamu mau menemuinya lagi, pakai kemeja itu."
Firman mematung. Jantungnya berpacu cepat. Ia membuka mulutnya, namun lidahnya seolah kelu.
"Kania... apa yang—"
"Setidaknya, kalau kamu mau keluar menemui perempuan lain, pakaianmu harus rapi, Mas. Jangan sampai perempuan itu berpikir istrimu di rumah cacat dan tidak becus mengurus pakaian suaminya," lanjut Kania masih menatap tajam ke arah Firman.
Di seberang meja, Tuti yang sedang mengambil nasi mengerutkan kening.
Ia menatap kemeja itu, lalu menatap Firman dan Kania bergantian dengan wajah bingung.
"Ada apa ini? Noda lipstik apa maksudmu, Kania?!" tanya Tuti nyalang. "Kamu nuduh anakku yang tidak-tidak lagi, ya?! Kemeja apa ini, Firman?!"
Firman yang panik langsung menyambar kemeja itu dari atas meja dan menyembunyikannya di pangkuannya. Ia menatap ibunya dengan gugup.
"Nggak ada apa-apa, Ma! Kania ini cuma mulai ngawur!" kilah Firman cepat. Ia lalu menatap Kania dengan raut wajah berang, menggunakan kemarahan sebagai tameng untuk menutupi rasa bersalahnya.
"Kamu jangan mulai bikin drama pagi-pagi begini ya, Kania!" bentak Firman keras sembari menunjuk wajah istrinya. "Aku sudah bilang, semalam itu aku cuma minum di bar! Noda itu pasti nggak sengaja bersenggolan dengan orang lewat! Jangan menuduhku selingkuh, aku nggak ke mana-mana!"
Dalam hati, Firman merasa membenarkan dirinya sendiri. Ia merasa tidak berselingkuh karena ia belum tidur dengan Mawar, dan ia yakin ia masih mencintai Kania. Ia hanya nyaman mendapat bantuan dana dan simpati dari Mawar.
Mendengar bentakan suaminya, Kania tidak menangis atau gemetar seperti biasa. Bibirnya justru melengkung membentuk senyuman miris yang meremehkan.
"Bersenggolan dengan orang lewat sampai meninggalkan cetakan bibir ?" Kania terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang menyayat hati.
"Dan aroma vanilla musk yang menempel kuat di sana... sungguh kebetulan yang sangat luar biasa, ya, Mas."
"Itu karena Mawar—" Firman keceplosan, lalu buru-buru menutup mulutnya.
"Oh, jadi namanya Mawar?" Kania memiringkan kepalanya sedikit. Padahal Firman sudah bilang soal Mawar.
"Bagus. Kalau memang dia cuma teman lewat yang nggak sengaja bersenggolan, tidak perlu sembunyi-sembunyi dan membohongiku, Mas. Bawa dia ke sini. Pertemukan aku dengan wanita bernama Mawar itu."
"Kamu sudah gila?!" teriak Firman, memukul meja makan hingga gelas kopinya sedikit tumpah. "Mawar itu cuma teman lamaku! Dia yang mau bantu bayar utang-utangku! Kamu ini nggak tahu terima kasih ya, bukannya bersyukur suamimu dapat bantuan, kamu malah cemburu buta begini!"
Mendengar itu, Tuti langsung ikut campur dan membela putranya dengan membabi buta.
"Dengar itu, Kania!" teriak Tuti berang. "Suamimu itu di luar sana banting tulang, cari pinjaman sana-sini supaya kalian tetap bisa makan! Kalau ada teman perempuannya yang berbaik hati membantu, ya harusnya kamu bersujud terima kasih! Bukannya malah curiga dan menuduh suamimu selingkuh! Dasar istri beban, otaknya cuma dipakai buat suudzon sama suami sendiri!"
Kania menatap ibu mertuanya dan suaminya bergantian. Dua orang di hadapannya ini benar-benar tidak punya hati nurani.
"Mencari pinjaman dari mantan kekasih dengan cara mabuk berdua dan menempelkan bibir di kemeja?" sahut Kania.
"Baik. Kalau itu cara mas Firman bekerja, silakan. Tapi ingat, Mas, aku mungkin memang punya banyak kekurangan. Tapi aku tidak pernah mengemis kenyamanan di pelukan laki-laki lain saat rumah tangga kita sedang hancur. Kalau kamu memang berniat membuangku, lakukan dengan jantan. Jangan jadi pengecut!"
Setelah menjatuhkan kalimat telak itu, Kania membalikkan badannya dan melangkah kembali ke arah dapur, meninggalkan Firman yang mematung dengan dada kembang kempis.
Di balik sikap sok kerasnya, Firman merasakan ketakutan asing menjalar di tengkuknya. Kania yang dulu selalu menangis memohon-mohon padanya, kini terasa begitu jauh dan tak terjangkau.
"Apa kepalanya baru saja terbentur? Kenapa tiba-tiba dia jadi menyebalkan begini?!" gumam Firman.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor