NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Saat cahaya lembut perlahan meredup dan menghilang sepenuhnya, udara di sekitar tenda besar itu berubah drastis. Bau anyir darah dan bau busuk sihir hitam yang tadi menyengat hidung kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh udara yang sejuk, bersih, dan membawa aroma tanah basah serta kesegaran air yang menenangkan hati. Langit kelabu di luar pun perlahan menipis, seolah alam pun ikut merasakan kedamaian yang baru saja tercipta.

Bellatrix perlahan menarik tangannya dari dada Thiago. Ia membiarkan ujung jarinya menyentuh pelan pipi lelaki itu, memeriksa suhunya dengan teliti dari dingin membeku kini sudah kembali hangat dan alami. Ia menatap wajah Thiago lama sekali, memastikan urat hitam yang tadi menjalar mengerikan di leher dan rahangnya sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh warna kulit yang sehat kembali.

Matanya yang biru safir kini berbinar jernih, tidak lagi kabur atau liar. Hati Bellatrix pun perlahan meleleh lega, namun ia tahu tugasnya belum selesai sampai ia memastikan tidak ada satu pun orang di sini yang tertinggal dalam kesusahan.

Ia melangkah perlahan menjauh dari sisi Thiago. Setiap langkahnya terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya, bahunya sesekali berkerut halus menahan rasa lelah yang mulai merayap ke seluruh persendian tubuhnya. Namun ia mengatupkan rahangnya, memaksakan diri untuk tetap tegak dan tenang. Ia tidak boleh berhenti sebelum semuanya benar-benar aman.

Matanya menyapu sekeliling tenda satu per satu. Ia melihat Silas yang sedang menggerakkan lengannya ke atas dan ke bawah dengan wajah tak percaya, lalu tersenyum lebar seolah tidak pernah terluka. Ia melihat para prajurit yang tadinya tampak putus asa kini berdiri tegak kembali, menyeka keringat dan siap kembali bertugas. Ia melihat tabib-tabib yang tertegun memandangnya dengan pandangan kagum. Namun pandangannya berhenti pada satu sosok yang duduk terpojok di sudut gelap tenda, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak mengganggu orang lain.

Itu adalah seorang warga desa tua yang ikut datang ke markas untuk membantu mengangkut air dan makanan bagi para prajurit. Ia tidak memiliki sedikit pun kekuatan sihir, hanya orang biasa yang berusaha berbuat sebaik mungkin bagi negerinya. Kakinya robek cukup dalam terkena serpihan kayu besar saat serangan gelombang tadi, darah masih perlahan menembus kain kasar yang ia tekan dengan tangan gemetar. Ia menggigit bibirnya menahan erangan, tidak berani memanggil bantuan karena tahu para tabib sedang sibuk merawat prajurit yang terluka lebih parah.

Bellatrix berjalan mendekat dengan langkah pelan, lalu berlutut di hadapan pria tua itu. Pria itu tampak sangat kaget, matanya membelalak lebar dan segera mencoba menyingkirkan kakinya. "Jangan, Yang Mulia! Aku tidak pantas disentuh oleh tanganmu!" serunya gemetar.

Namun Bellatrix tersenyum lembut, senyum yang tulus dan tanpa sedikit pun kesombongan. Ia menggeleng pelan. "Tidak ada yang pantas atau tidak pantas di sini. Kita semua sama-sama manusia. Biarkan aku membantumu."

Ia mengangkat tangannya yang halus, meletakkannya perlahan di atas tangan pria tua itu yang menutupi lukanya. Seketika itu juga, cahaya biru samar namun hangat memancar lembut dari telapak tangannya. Rasa sakit yang menyengat di kaki pria itu hilang seketika, seolah disapu bersih oleh air yang menyejukkan. Luka robek yang dalam itu menutup rapat perlahan lapis demi lapis, darah berhenti mengalir, dan akhirnya kulitnya kembali mulus sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Pria tua itu menggerakkan kakinya, berdiri perlahan, lalu melompat kecil sedikit karena tak percaya ia bisa berjalan tanpa rasa sakit sama sekali. Ia jatuh berlutut di hadapan Bellatrix, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur, namun Bellatrix sudah berbalik badan dengan tenang.

Kini langkah kakinya membawanya lurus ke arah Alexander. Ia berhenti tepat di depan kakaknya itu, menatap wajah yang selalu ia jadikan tempat berlindung sejak kecil wajah yang tenang, bijaksana, yang selalu ada untuknya, dan yang tadi sempat terbaring tak berdaya dengan urat hitam di dadanya. Mengingat pemandangan itu kembali, rasa takut yang sedalam samudra kembali melonjak di dadanya, membuat matanya berkaca-kaca dan napasnya tercekat sejenak.

Tanpa berkata apa-apa, Bellatrix melangkah maju dan memeluk erat kakaknya. Ia memeluknya sekuat tenaga yang tersisa, menyandarkan wajahnya di dada bidang Alexander, merasakan detak jantungnya yang kuat, teratur, dan nyata di bawah telapak tangannya. Ia ingin memastikan ribuan kali bahwa kakaknya benar-benar ada di sana, tidak pergi ke mana-mana.

"Kak Ale..." bisiknya pelan, suaranya bergetar hebat tertahan rasa haru dan sisa ketakutan yang baru saja ia rasakan. "Aku... aku tadi sangat takut. Takut aku terlambat. Takut aku harus kehilanganmu juga. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika sesuatu terjadi padamu."

Alexander sempat tertegun sejenak karena kaget oleh pelukan adiknya yang begitu erat dan penuh emosi, lalu perlahan ia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan itu dengan lembut namun penuh kasih sayang yang mendalam. Ia mengelus punggung Bellatrix pelan, berusaha menenangkan gadis itu.

"Aku di sini, Bella. Aku di sini dan aku baik-baik saja," ucapnya lembut di telinga adiknya. "Kau yang menyelamatkanku. Kau yang membuatku tetap bisa berdiri di sini. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi sekarang. Aku tidak akan ke mana-mana."

Bellatrix melepaskan pelukannya perlahan, mengangguk pelan sambil tersenyum tipis senyum yang begitu lega dan bahagia, meski matanya sudah mulai terlihat sayu, berat, dan tenaganya semakin menipis drastis.

Ia berbalik perlahan dan menatap Thiago yang sudah berdiri tepat di belakangnya, menatapnya lekat-lekat seolah tak ingin memalingkan wajah sedetik pun. Pandangan mata lelaki itu begitu dalam, penuh rasa syukur, kekaguman, dan rasa sayang yang tak terhingga.

Sebelum Bellatrix sempat membuka mulut untuk bertanya, Thiago sudah melangkah mendekat dengan cepat namun gerakannya sangat lembut. Tanpa berkata apa-apa, ia merentangkan kedua lengannya yang besar dan hangat, lalu menarik tubuh Bellatrix masuk ke dalam pelukannya yang begitu kokoh, hangat, dan sangat erat seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, gadis itu akan menghilang dari sisinya selamanya. Ia memeluknya sekuat tenaga namun tetap berhati-hati agar tidak menyakiti tubuh

Bellatrix yang sudah terlihat lelah sekali. Ia menyandarkan dagunya di atas kepala gadis itu, menghirup aroma khas air segar dan bunga teratai yang selalu menenangkan hatinya yang gelap.

"Bella..." suaranya rendah, bergetar hebat menahan emosi yang selama ini ia simpan rapat. "Terima kasih. Terima kasih sudah datang. Terima kasih tidak menyerah padaku. Kalau bukan karena kau, detik ini aku pasti sudah tiada. Kau adalah satu-satunya alasan aku masih bisa berdiri di sini, masih bisa merasakan detak jantungku sendiri, masih bisa memelukmu seperti ini."

Ia mempererat pelukannya sedikit lagi, membiarkan gadis itu merasakan seberapa besar arti keberadaannya bagi hidupnya. "Kau menyelamatkan hidupku. Dan aku berjanji, mulai detik ini, aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku. Tidak ada yang boleh menyakitimu, tidak ada yang boleh mengambilmu dariku."

Bellatrix tertegun sejenak, lalu perlahan ia mengangkat tangannya yang gemetar dan membalas pelukan itu sekuat sisa tenaganya. Ia menempelkan telinganya di dada Thiago, mendengar detak jantung lelaki itu yang berdetak kencang namun stabil, dan hatinya pun perlahan menjadi tenang sepenuhnya.

"Kau aman kan?" tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik.

Thiago mengangguk, tangannya mengusap lembut punggung dan rambut gadis itu. "Sangat aman. Selama kau di dalam pelukanku, aku tidak akan pernah takut pada apa pun lagi."

Mendengar jawaban itu, melihat semua orang di sekitarnya sudah selamat dan tersenyum lega, beban berat yang selama ini ia pikul perlahan terangkat sepenuhnya dari pundaknya. Semuanya sudah aman. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan saat ini.

Namun Bellatrix sudah berada di batas kemampuannya. Ia telah memaksakan tubuh dan kekuatannya jauh melampaui kemampuan biasanya.

Sekarang saat ia berhenti berusaha keras dan merasa terlindungi di pelukan Thiago, kelelahan yang luar biasa menyerangnya seketika. Kakinya lemas tak tertahankan, pandangannya berbayang gelap, dan sebelum ia sempat mengucapkan kata lain, tubuhnya perlahan melorot lemas di pelukan lelaki itu.

Thiago segera mempererat pelukannya dengan sigap, memastikan tubuh gadis itu jatuh ke dalam dekapannya dan tidak menyentuh tanah sedikit pun. Ia menatap wajah pucat Bellatrix yang kini terpejam rapat, lalu menatap orang tua gadis itu dengan tatapan penuh keprihatinan namun tenang.

 

Thiago mengangkat tubuh Bellatrix perlahan, memindahkannya dengan posisi digendong di pelukan kepalanya bersandar nyaman di lekukan leher lelaki itu, kakinya terangkat rapi, seolah ia sedang memegang benda paling berharga dan rapuh di dunia ini. Setelah memastikan posisinya aman, ia melangkah mendekat ke arah Duke Leonidas dan Duchess Elara.

Ia berhenti tepat di depan mereka, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, namun matanya menatap mereka dengan penuh ketulusan dan tekad yang tak tergoyahkan.

"Ayahanda, Ibunda..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya jernih dan serius. "Aku bermaksud membawa Bellatrix pulang ke kediamanku. Ke kamarku. Di sana dia akan lebih tenang, lebih aman, dan aku bisa menjaganya setiap detik tanpa harus beranjak pergi ke mana pun. Aku memohon izin kalian. Aku berjanji akan merawatnya dengan sebaik-baiknya, tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya, dan akan menjaganya dengan nyawaku sendiri."

Keheningan sejenak menyelimuti mereka bertiga. Duke Leonidas menatap wajah putrinya yang damai di pelukan lelaki itu, lalu menatap mata Thiago yang tulus dan penuh tanggung jawab. Ia melihat betapa hati-hatinya Thiago memegang putrinya, betapa besar rasa sayang yang terpancar dari setiap gerakannya. Duchess Elara menatap suaminya, lalu tersenyum lembut dan mengangguk pelan.

Akhirnya Duke Leonidas menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Kau sudah membuktikan bahwa kau pantas mendapatkan kepercayaan kami, Thiago. Kau sudah membuktikan bahwa kau adalah tempat yang tepat untuknya. Bawalah dia. Jaga dia sebaik yang kau janjikan. Dan ingat... dia bukan sekadar tanggung jawab bagimu, dia adalah separuh dari hidupmu mulai sekarang."

Thiago mengangguk dalam, matanya berbinar bahagia. "Aku mengerti, Ayahanda. Terima kasih banyak."

Duchess Elara maju selangkah, menyentuh pelan pipi putrinya, lalu menatap Thiago dengan senyum penuh kasih sayang. "Istirahatlah juga, Thiago. Kau pun butuh waktu untuk pulih. Biarkan pintu kamarmu tetap tertutup bagi siapa pun sampai dia bangun. Kami akan mengurus semuanya di sini."

"Terima kasih, Ibunda," jawab Thiago lembut.

 

Thiago menoleh sebentar pada Kaisar, Permaisuri, Alexander, dan Silas yang menunggu di belakang, mengangguk hormat sebagai tanda pamit. Mereka semua membalas anggukan itu dengan senyum pengertian dan memberikan jalan lebar untuknya.

Ia pun berjalan keluar dari tenda besar itu, menembus gerbang sihir perantara yang langsung membawanya kembali ke lorong-lorong istana yang megah dan sunyi. Langkah kakinya pelan dan mantap, berusaha sekecil mungkin bergerak agar tidak mengganggu tidur lelap Bellatrix.

Ia tidak berbelok ke arah sayap timur tempat Paviliun Putri Mahkota berada. Ia terus berjalan lurus menuju sayap barat yang paling tenang, paling tinggi, dan paling terlindungi tempat kediaman pribadinya yang selama ini hanya dihuni olehnya sendiri. Sepanjang jalan, pelayan dan prajurit yang berpapasan dengan mereka segera menunduk hormat dan membiarkan jalan, melihat betapa serius dan lembutnya cara Panglima Tertinggi membawa Putri Mahkota.

Langit sudah mulai gelap sepenuhnya saat mereka tiba di depan pintu kayu besar kediaman Thiago. Pintu itu dihiasi ukiran naga api yang melindungi butiran air, simbol yang kini terasa begitu pas bagi mereka berdua. Thiago mendorong pintu itu terbuka perlahan, masuk ke dalam ruangan, lalu membiarkan pintu itu tertutup rapat kembali di belakangnya, memisahkan mereka dari dunia luar sepenuhnya.

Di dalam kamar itu, suasana sangat hangat dan damai. Perapian besar di sisi ruangan sudah menyala terang, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh sudut ruangan. Jendela besar yang menghadap ke danau istana terbuka sedikit, membiarkan angin malam yang sejuk masuk perlahan.

Thiago berjalan perlahan mendekati tempat tidur besar yang terbuat dari kayu gelap yang kokoh. Ia duduk di tepi kasur sejenak, lalu perlahan menurunkan tubuh Bellatrix ke atas permukaan kasur yang empuk dan dilapisi seprai berwarna krem yang lembut. Ia menyusun bantal di bawah kepala gadis itu agar posisinya nyaman, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi tubuhnya rapi hingga sebatas bahu.

Setelah memastikan Bellatrix tidur dengan nyaman, Thiago tidak beranjak pergi. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah damai gadis itu lama sekali. Ia menyentuh pelan punggung tangan Bellatrix yang tergeletak di atas selimut, merasakan kehangatan yang masih ada di sana.

"Istirahatlah, Bella," bisiknya pelan di keheningan kamar. "Kamu sudah di tempat yang paling aman. Di rumahku. Dan mulai hari ini, ini adalah rumah kita berdua."

Ia tidak akan pergi ke mana pun. Ia akan tetap di sana, menjaganya, menunggunya bangun, dan siap menyambutnya dengan senyum hangat saat matanya terbuka nanti.

 

Thiago perlahan menurunkan tubuh Bellatrix ke atas permukaan kasur yang empuk dan hangat. Ia menyusun bantal dengan rapi di bawah kepala gadis itu, menyelipkan helaian rambut yang berantakan ke belakang telinga dengan ujung jarinya yang lembut, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi tubuhnya rapi hingga sebatas bahu. Memastikan tidak ada sedikit pun angin dingin yang menyentuh kulitnya.

Setelah semuanya terlihat nyaman, Thiago tidak beranjak pergi. Ia duduk perlahan di kursi kayu di samping tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah damai Bellatrix yang terpejam rapat.

Ia mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh punggung tangan Bellatrix yang tergeletak di atas selimut. Kulitnya masih terasa sejuk, namun detak jantungnya berdetak teratur dan tenang.

Thiago menggenggamnya erat, menghantarkan kehangatan tubuhnya lewat sentuhan itu, seolah ingin memberitahu gadis itu lewat genggaman. Aku di sini. Kau aman.

Perlahan kelelahan yang selama ini ia tahan mulai merayap masuk. Matanya terasa berat, namun ia tetap memaksakannya terbuka sesekali, takut melewatkan apa pun. Hingga akhirnya, ditemani heningnya ruangan dan napas teratur Bellatrix, kesadarannya perlahan ikut melayang tenang.

 

1
Osie
waaahhh bakal dibakar abiz nih ma sihir api bella
Osie
laaahh udah buta msh aja ngebacot nih kaisar Utara
Osie
huuufttt habislah sdh kaelen cs ditangan bella
Ayu Padi
kereeen
Ayu Padi
seru sekali...lanjut Thor...ayo ramaikan baca dan koment ny .
Osie
BOOOM jleb baru suara bella yg keluar blm lagi pasukan elemen n para sahabat kontraknya
aku
astaga 🤣🤣🤣🤣 ngakak bgt
aku
4 tor 🤔 bukan 3. 😭
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣
aku
wkwkwkwk gagal lagi 🤣
aku
kok NAK tor? bukannya DEK..?? 🤔😁😁
Osie
waduh LDR an deh bella ma thiago
Osie
hrsnya utk kuda kuda bella udah jago donk nya..secara kan jiwa ms depan sosok hebat lagi yg jago main senjata..gak mungkinlah ya gak bisa
Osie
eleanor ente salah cari lawan🤣🤣🤣jiwa ms depan dilawan ya kalah licik lah ente
Osie
interupsi interupsiii thoorr.nale dibab ini rambut putra mahkota jd warna hitam logam.. apa dicat tuh rambut
Jennifer: ok deh, krna kamu aku double up lagi kali yaaa, hehe makasihhhh🫶
total 3 replies
Osie
jiwa bella kan jiwa masa depan apalagi ahli perang..pastinya bisa donk bela diri masa depan jadi kenapa tdk itu aja di kuatkan dgn dipadukan bela diri kuno
Osie
yaaaaa demi bisa kuat bella masukan jebakan batman🤣🤣🤣ish ish ish padahal aku dah berharap bella minggat dr hdp si putra mahkota..dahlaaahh/Frown/
Osie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣ku suka gaya bella..kereeeennn😍😍😍😍
Osie
aku hadir nih..suka cerita transmigrasi dgn tokohnya sosok wanita tangguh n smart ..dan yg pastinya gak muluk muluk permintaanku.. moga ceritanya ini sp end💪🙏
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!