Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Detik-Detik Pembersihan
Atmosfer di dalam ruang tamu rumah minimalis milik Dedi terasa semakin dingin merayap. Meskipun lampu hias gantung di langit-langit ruangan menyala terang benderang, namun cahaya itu seolah tidak mampu mengusir kabut kelam tak kasat mata yang menggelayuti setiap sudut ruangan hampa tersebut. Keheningan yang mencekam seolah mengunci pergerakan udara, membuat setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyesakkan dada. Ratna masih duduk bersandar lemas di atas sofa panjang dengan tubuh berselimut tebal, sepasang matanya menatap Bagus dengan sisa-sisa pandangan ragu yang bercampur dengan rasa takut yang akut. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan spekulasi liar yang berkecamuk di dalam kepalanya yang mulai terasa pening.
Sebagai seorang wanita urban yang terbiasa hidup logis di tengah gemerlapnya kota metropolitan, Ratna bener-bener sulit menerima kenyataan bahwa rumah tinggalnya sedang digempur oleh teror mistis. Baginya, dunia modern yang penuh dengan kesibukan karier, gedung pencakar langit, dan rutinitas serba praktis tidak menyisakan ruang untuk hal-hal di luar nalar semacam ini. Namun, rasa sesak di dadanya dan trauma ingatan tentang bayangan hitam bermata merah semalam adalah bukti nyata yang tidak bisa ia bantah lagi melalui logika manusianya. Bayangan mengerikan itu terus membayangi pelupuk matanya, meruntuhkan seluruh dinding skeptisisme yang selama bertahun-tahun ia agungkan sebagai tameng logisnya.
Bagus perlahan mendekati meja tengah, lalu menatap lurus ke arah Dedi dan Ratna bergantian dengan pembawaan yang sangat tegap dan tenang. Tatapan matanya yang teduh namun tajam seolah mampu membaca setiap riak kecemasan yang tersembunyi di lubuk hati pasangan suami istri tersebut. "Pak Dedi, Mbak Ratna," buka Bagus dengan nada suara yang sangat dalam dan berwibawa. "Sebelum saya memulai langkah pembersihan melalui jalur doa, saya butuh keselarasan batin dari kalian berdua selaku pemilik sah dari rumah tinggal ini. Pembersihan spiritual tidak akan pernah bisa bekerja maksimal jika di antara suami dan istri masih menyimpan sumbatan ego kesombongan atau rasa saling menyalahkan."
Ratna menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan lipatan kain selimutnya yang seolah tidak mampu menahan serbuan rasa dingin yang terus mengintimidasi fisiknya. Kulitnya tampak pucat pasi, dan jemarinya bergetar pelan menahan gejolak emosi yang berkecamuk. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah saat membuka bibirnya. "Mas Bagus... saya... saya sebenarnya masih bingung. Kenapa rumah kami yang tenang ini tiba-tiba dihantam teror menyeramkan seperti semalam? Apa salah kami?"
Bagus menghela napas pendek dengan sangat plong, memancarkan pilar ketenangan batinnya yang tebal seolah menjadi oase di tengah padang kecemasan ruangan itu. Ia memposisikan dirinya bukan sebagai dukun yang menakut-nakuti, melainkan sebagai penuntun spiritual yang membawa kedamaian. "Masalah ini tidak datang begitu saja, Mbak Ratna. Di dunia kerja kota yang keras, ada kalanya rasa dengki manusia mendorong mereka untuk menempuh jalan kegelapan yang menipu. Ada orang di luar sana yang sengaja mengirimkan hawa negatif untuk meredupkan aura wibawa Pak Dedi di kantor, sekaligus merusak keharmonisan rumah tangga kalian dari kejauhan."
Bagus kemudian mengalihkan arah pandangan matanya menatap tajam ke arah pintu kayu kamar tidur utama yang tertutup rapat di sudut ruangan. Sorot matanya menajam, mendeteksi eksistensi tak kasat mata yang mulai bergolak liar karena menyadari kehadirannya. Indra keenam Bagus yang tajam menangkap bahwa di balik pintu itulah pusat pusaran getaran energi hitam kiriman Ki Demang bersarang paling pekat, memancarkan aroma anyir darah yang semakin menguar tajam. Udara di sekitar celah pintu itu bahkan tampak sedikit membias, tanda bahwa benturan dimensi spiritual sedang terjadi secara intensif di sana.
"Sisa gelombang kutukan itu mengunci kamar tidur utama kalian," lanjut Bagus dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius. Gurat-gurat ketegasan kini tercetak jelas di wajahnya, menandakan bahwa entitas yang mereka hadapi bukanlah sembarang jin pengganggu. "Dukun tua yang mengirimkannya sengaja mengincar sistem saraf batin Mbak Ratna karena tahu batin Mbak adalah titik pertahanan yang paling rapuh di rumah ini. Jika batin Mbak Ratna runtuh diguncang rasa panik, maka mental Pak Dedi di kantor juga akan ikut hancur berantakan. Itulah intrik politik jahat yang sedang bekerja merusak takdir hidup kalian."
Mendengar penjelasan Bagus yang menguliti habis situasi batinnya, Ratna seketika tertegun membisu seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, tak mampu memproduksi satu kata pun untuk membela diri. Dada wanita itu bergetar hebat, ada rasa penyesalan yang mendadak menyeruak di ulu hatinya, mengalir bersama aliran darahnya yang berdesir kencang. Ia teringat betapa ketus dan seringnya ia mencaci maki suaminya belakangan ini, tanpa menyadari bahwa Dedi sedang berjuang sendirian menahan gempuran beban mental yang luar biasa besar di luar rumah. Segala prasangka buruk dan amarah egois yang selama ini ia tumpahkan ke punggung Dedi kini berbalik menjadi cambuk penyesalan yang teramat perih.
Dedi yang melihat perubahan drastis pada raut wajah istrinya tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Sebaliknya, sorot matanya justru dipenuhi oleh rasa iba, cinta, dan tanggung jawab yang besar sebagai kepala keluarga. Dedi perlahan meraih tangan kanan Ratna, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat, berusaha menyalurkan seluruh sisa kekuatan fisik dan jiwanya untuk menopang kerapuhan wanita yang sangat dicintainya itu. "Ratna, mari kita buang semua ego kita siang ini. Mas mohon, pasrahkan batinmu sepenuhnya ikut bimbingan Mas Bagus agar rumah tangga kita kembali terang dan diselimuti berkah langit."
Ratna menatap wajah suaminya yang kini tampak jauh lebih tegap dan berwibawa, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundak pria itu runtuh seketika oleh ketulusan niatnya sendiri. Kehangatan dari genggaman tangan Dedi perlahan menjalar ke seluruh tubuh Ratna, mengusir rasa dingin ekstrem yang sempat membekukan sendi-sendinya. Ratna lalu beralih menatap Bagus dengan sepasang mata yang mulai memancarkan rasa percaya murni, sebuah kepasrahan total yang lahir dari kesadaran spiritual yang paling dalam. "Baik, Mas Bagus... saya bersedia. Saya pasrahkan diri saya sepenuhnya untuk dibersihkan siang ini," jawab Ratna dengan nada suara yang mulai mantap tanpa ada keraguan lagi di dalam dadanya.
Bagus mengangguk puas melihat keselarasan rasa batin di antara sepasang suami istri tersebut telah terkunci rapat. Ketika dua hati telah menyatu dalam satu frekuensi keimanan, kekuatan benteng pertahanan mereka akan meningkat berkali-kali lipat. Keteguhan iman Bagus seketika memancarkan hawa murni yang sejuk, bersiap bertindak sebagai benteng pelindung bagi sukma mereka berdua. Gelombang ketenangan yang keluar dari tubuh Bagus perlahan-lahan mulai mengikis kabut hitam yang semula memenuhi ruang tamu tersebut. Bagus berdiri dari posisinya, memantapkan pijakan kakinya di atas lantai, lalu melangkah perlahan namun pasti menuju ke depan pintu kamar tidur utama.
Setiap langkah kaki Bagus terdengar begitu konstan, menggema di ruangan yang sunyi itu bagaikan detak jam dinding yang menghitung mundur waktu penentuan. Atmosfer di depan pintu kamar itu terasa semakin padat dan menekan, seolah mencoba mendorong tubuh Bagus agar melangkah mundur menjauh. Namun, iman Bagus telah mematrikannya pada bumi. Tangannya yang kokoh perlahan memegang gagang pintu kayu tersebut, meraba energi dingin yang berdenyut di permukaannya, lalu memutarnya dengan gerakan yang sangat konstan.
Begitu pintu kamar terbuka lebar, sebuah embusan angin dingin yang sangat pekat disertai aroma busuk bangkai seketika berembus kasar keluar menembus wajah Bagus, seolah-olah memberikan sinyal perlawanan keras dari sisa energi kegelapan yang bersarang di dalam ruangan hampa tersebut. Angin hitam itu menderu, membawa serta manifestasi kebencian dan kutukan yang pekat, mencoba meruntuhkan nyali siapa pun yang berani mengusiknya. Namun, Bagus sama sekali tidak bergeming satu senti pun. Sepasang matanya tetap terbuka lebar, memancarkan cahaya keyakinan yang tidak goyah oleh gertakan makhluk kegelapan. Di bawah naungan takdir Tuhan, detik-detik pertempuran spiritual untuk membongkar jaring kutukan di kamar utama resmi dimulai siang hari itu.
“Ketika sepasang jiwa telah bersedia menurunkan ego manusianya dan menyelaraskan rasa batin di atas jalur kepasrahan mutlak, maka gerbang pertolongan langit akan terbuka lebar. Jangan pernah kau gentar menghadapi embusan hawa kegelapan yang mencoba mengancam imanmu, karena kesucian doa akan selalu tahu jalan untuk melumat habis setiap belenggu sihir yang menipu.”
— Sang Alifas Yang Merumput