NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melati Kecil Sakit Keras

Namun, saat Banyu mencoba menghubungi nomor Siska, ia hanya disambut oleh operator suara robotik yang mengatakan... "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan..."

Hal ini membuat Banyu semakin cemas. Setelah berpikir keras, satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya adalah menelepon ke rumah dinas Siska untuk mencari tahu sedikit informasi.

Mungkin orang biasa akan berpikir seribu kali sebelum berani menelepon langsung ke kediaman resmi seorang Wakil Gubernur, tapi Banyu sama sekali tidak punya keraguan semacam itu. Namun, yang membuatnya sangat terkejut, sosok yang mengangkat telepon di seberang sana bukanlah asisten rumah tangga atau pelayan, melainkan Pak Wijaya sendiri! Sebagai Wakil Gubernur, sangat jarang bagi Pak Wijaya mengangkat telepon rumah secara langsung. Fakta ini membuat firasat buruk di hati Banyu semakin menguat.

"Halo, apakah ini Pak Wijaya? Saya Banyu, Pak," sapa Banyu setelah memperkenalkan diri, lalu langsung melontarkan pertanyaannya. "Kudengar Melati mendadak jatuh sakit. Bagaimana kondisinya sekarang, Pak?"

Suara Pak Wijaya terdengar sangat serak dan kelelahan. Pria paruh baya itu menghela napas panjang dan berat. "Oh, Banyu... Penyakit Melati... haaah... kondisinya sangat serius!"

Mendengar tokoh sebesar Pak Wijaya pun terdengar begitu putus asa, Banyu semakin dilanda kepanikan. Ia buru-buru mendesak, "Memangnya Melati sakit apa, Pak?"

"Leukemia," jawab Pak Wijaya dengan suara bergetar dan pelan. "Hasil tes lab rumah sakit baru saja keluar beberapa hari yang lalu. Dokter mendiagnosisnya dengan Anemia Aplastik."

Banyu tersentak kaget bukan kepalang. Siapa sangka bocah secantik, seceria, dan selincah Melati bisa terserang penyakit mematikan seperti itu?

Di saat yang sama, Banyu juga merasa sedikit kesal dan kecewa pada Siska. Bagaimana mungkin Siska menyembunyikan kabar sepenting dan sefatal ini darinya?! Gadis kecil itu sedang bertaruh nyawa, tapi Siska memilih memikul beban itu sendirian. Ini jelas-jelas membuktikan bahwa Siska belum sepenuhnya menganggap Banyu sebagai keluarga inti.

Pak Wijaya bukanlah orang bodoh. Sebagai politisi kawakan, ia tentu bisa membaca kebisuan Banyu dan menebak isi kepalanya. Ia pun segera menjelaskan dengan nada menyesal, "Sebenarnya, aku sudah menyuruh Siska untuk menghubungimu dan menanyakan apakah kau punya solusi medis untuk ini. Sayangnya... Siska sempat bertanya pada beberapa kenalannya, dan mereka bilang pengobatan tradisional mana pun mustahil bisa menyembuhkan penyakit Leukemia. Karena merasa putus asa, ia memutuskan untuk tidak membebanimu dengan masalah ini..."

Tentu saja Banyu tidak akan mengutarakan kekecewaannya di hadapan Pak Wijaya. Ia segera menutupi perasaannya dengan tawa kecil dan bertanya, "Pak, di rumah sakit mana Melati dirawat sekarang? Aku ingin segera menjenguknya."

Mengingat status dan posisinya saat ini, Pak Wijaya harus sangat berhati-hati dalam bertindak agar tidak memicu skandal. Jika ada kolega atau pengusaha biasa yang memintanya memberitahukan lokasi perawatan cucunya, ia pasti akan menolak mentah-mentah demi menghindari praktik suap berkedok 'uang jenguk'.

Namun, karena yang bertanya adalah Banyu, Pak Wijaya tanpa ragu sedikit pun langsung menyebutkan nama rumah sakit dan nomor kamar tempat cucunya dirawat. Hal ini bukan semata-mata karena Banyu pernah menyelamatkan nyawanya, tetapi juga karena ia tahu persis betapa Melati sangat menyayangi pemuda itu. Pak Wijaya sangat yakin kehadiran Banyu akan membuat cucu kesayangannya itu sangat bahagia.

Banyu mencatat nomor kamar Melati dengan teliti, lalu berpamitan dengan sopan. Mengabaikan fakta bahwa luka tembaknya sendiri belum sembuh total, ia langsung melompat ke dalam mobil pikapnya dan memacu kendaraan menuju Rumah Sakit Anak di Bandung.

Dengan jaringan koneksi dan kekayaan finansial Siska bahkan tanpa perlu mencatut nama besar ayahnya Melati sudah dipastikan akan mendapat fasilitas medis paling elit. Dan benar saja, gadis kecil itu ditempatkan di kamar perawatan intensif khusus VVIP yang terletak di lantai 20 gedung baru Rumah Sakit Anak.

Awalnya Banyu mengira prosedur menjenguk pasien VVIP itu mudah; paling mentok hanya perlu mengisi buku tamu di meja resepsionis. Namun, saat ia sudah menemukan kamar Melati dan hendak menyelinap masuk untuk memberikan kejutan, langkahnya langsung dihadang oleh seorang perawat yang sedang lewat.

Perawat muda berwajah manis itu menatap Banyu dari atas sampai bawah dengan penuh curiga, seolah sedang menatap maling jemuran. Dengan nada ketus ia menegur, "Heh, mau ngapain Mas?! Nggak lihat ini ruang perawatan apa? Berani-beraninya mau nyelonong masuk sembarangan!"

Banyu tentu tidak akan terpancing emosi menghadapi teguran semacam itu. Ia justru memasang senyum paling ramah dan bertanya sopan, "Permisi, Sus. Ini benar kamar adik Melati, kan? Saya ini pamannya, datang khusus untuk menjenguk. Boleh minta izin masuk sebentar?"

Mungkin karena tertipu oleh wajah tampan dan senyum ramah Banyu, nada bicara si perawat sedikit melunak, meski tubuhnya tetap memblokir pintu dengan protektif. "Tentu saja tidak boleh! Pasien di kamar ini dilarang keras melakukan kontak fisik langsung dengan orang luar demi mencegah infeksi sekunder! Sistem imun anak ini sedang hancur lebur. Terpapar virus flu biasa saja sudah cukup untuk membunuhnya! Mas paham nggak sih bahayanya?!"

Teguran keras itu membuat Banyu tersadar. Ia baru teringat film-film dokumenter yang pernah ia tonton; anak-anak penderita Leukemia yang dirawat di rumah sakit bahkan diwajibkan memakai masker medis berlapis-lapisan di dalam kamarnya sendiri. Ini karena sistem kekebalan tubuh mereka nyaris nol, membuat mereka sangat rentan terhadap segala jenis bakteri dan virus. Bagi anak-anak dengan kondisi serapuh ini, bersin atau batuk ringan pun berpotensi menjadi hukuman mati.

Menyadari bahwa omelan galak suster ini murni didasari oleh kepedulian terhadap keselamatan Melati, Banyu menjadi semakin sopan. Ia buru-buru membungkuk kecil sambil tersenyum canggung. "Aduh, maafkan saya, Sus! Saya benar-benar awam soal medis jadi tidak kepikiran sampai ke sana. Terima kasih banyak ya, Sus, sudah diingatkan."

Melihat Banyu begitu kooperatif dan mau menerima teguran, perawat itu menjadi jauh lebih ramah. Ia berbisik pelan memberikan solusi, "Kalau Mas benar-benar ingin melihatnya, Mas bisa menjenguk dari balik kaca partisi transparan di ruang depan. Tapi jam besuk baru dibuka nanti sore jam setengah empat."

"Siap, kalau begitu saya akan kembali lagi nanti sore," Banyu langsung menyanggupi untuk mematuhi regulasi rumah sakit. Sebelum berbalik pergi, ia tak lupa melancarkan jurus gombalannya pada perawat muda itu. "Terima kasih banyak atas informasinya ya, Sus! Anda ini perawat yang sangat berdedikasi. Oh ya, seragam perawat itu sangat cocok dipakai oleh Anda, kelihatan makin cantik lho! Sampai jumpa!"

Menatap punggung Banyu yang perlahan menjauh, pipi perawat muda itu mendadak memanas. Ia menepuk pipinya sendiri dan menggumam salah tingkah, "Gombal banget sih! Tapi... lumayan juga orangnya, minimal dia patuh aturan!"

Sayangnya, perawat muda itu telah tertipu mentah-mentah oleh topeng kepatuhan Banyu. Ia sama sekali bukan tipe pria yang patuh pada aturan kaku!

Mengingat kondisi Melati yang sangat kritis, prioritas absolut Banyu saat ini adalah mencekoki gadis kecil itu dengan Cairan Ajaib secepat mungkin. Tentu saja ia tidak akan sudi membuang waktu mematuhi regulasi jam besuk rumah sakit. Ia mulai berkeliaran menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah mengendap-endap. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah pintu yang terbuka separuh. Di dalamnya terdapat dua buah meja kerja dan beberapa helai jas putih khas dokter yang tergantung rapi di dinding. Jelas sekali itu adalah ruang pantry atau ruang istirahat dokter jaga.

Banyu menoleh ke kiri dan kanan. Setelah memastikan lorong itu sepi, ia melesat menyelinap masuk ke dalam ruangan tersebut bak bayangan. Setengah menit kemudian, Banyu kembali keluar. Namun kali ini, penampilannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat!

Dibalut jas putih panjang, masker medis menutupi separuh wajah, dan stetoskop menggantung keren di lehernya, Banyu kini tampak persis seperti dokter spesialis yang sedang melakukan ronde visit pasien.

Dengan penyamaran sempurna itu, tak ada lagi yang berani mencegat Banyu saat ia kembali ke depan kamar rawat Melati. Ruang isolasi VVIP Melati didesain menjadi dua bagian: bilik dalam tempat ranjang pasien berada, dan bilik luar yang berfungsi sebagai ruang tunggu keluarga. Kedua bilik itu disekat oleh dinding kaca raksasa, sehingga pengunjung hanya bisa menatap pasien dari kejauhan.

Tentu saja Banyu tidak akan sudi hanya berdiam diri di bilik luar. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorong pintu dan langsung masuk ke dalam bilik isolasi! Namun, begitu matanya menatap sosok Melati yang terbaring di atas ranjang, dada Banyu serasa ditusuk oleh ribuan jarum. Hatinya perih bukan main baru berpisah beberapa hari, gadis kecil yang selalu ceria itu kini tampak begitu hancur disiksa oleh penyakitnya.

Tubuh mungil Melati tampak sangat kesepian dan tak berdaya terbaring di atas ranjang rumah sakit yang terlalu besar untuknya. Meski separuh wajahnya tertutup masker medis, Banyu bisa melihat dengan jelas bahwa pipi chubby yang biasanya menggemaskan itu kini tirus ke dalam. Ia kehilangan banyak berat badan. Sepasang mata besar yang dulu selalu berbinar-binar penuh kecerdikan kini tampak sayu dan kehilangan cahayanya. Sisa-sisa semangat hidupnya hanya terlihat samar setiap kali ia mengerjapkan matanya.

Melihat seorang "dokter" berjas putih melangkah masuk, Melati yang polos tanpa curiga menyapanya dengan suara lirih yang lemah. "Om Dokter... apa sudah waktunya disuntik lagi? Nggak apa-apa kok, Melati kan anak pemberani. Melati nggak takut sakit... Om suntik saja, nggak apa-apa..."

Mata Banyu seketika berkaca-kaca menyadari bahwa mata Melati sebenarnya sudah menggenang oleh air mata ketakutan. Banyu tahu persis bocah sekecil ini pasti sangat takut pada jarum suntik. Namun, saking dewasanya Melati, gadis kecil itu malah berusaha menguatkan sang dokter agar tidak merasa bersalah saat menyuntiknya.

Sikap kedewasaan Melati yang terlalu dini ini membuat hati Banyu semakin hancur bercampur haru. Ia setengah berjongkok di samping ranjang, mengelus rambut Melati dengan sangat lembut, dan berbisik pelan, "Melati anak pintar... Om ke sini untuk menyembuhkan penyakitmu, kok. Setelah ini, Melati nggak perlu disuntik-suntik lagi, mau kan?"

Mendengar suara yang sangat familier itu, mata Melati yang tadinya sayu mendadak berbinar terang. Dengan sisa-sisa tenaga, ia memekik tertahan kegirangan, "I-ini... Om Banyu!!"

"Hahaha, telinga Melati tajam banget ya," Banyu tertawa pelan sambil membuka maskernya. "Bisa-bisanya ngenalin suara Om!"

Melihat wajah di balik masker itu benar-benar Banyu, Melati bersorak gembira. "Om Banyu memang paling hebat! Bisa masuk sampai ke kamar ini! Kalau Mama datang, Mama cuma boleh lihat Melati dari balik kaca itu, sedih banget rasanya!"

Membayangkan Siska yang hanya bisa meratapi putrinya dari balik kaca tebal, hati Banyu ikut perih. Ia buru-buru membujuk Melati dengan suara lembut, "Melati tenang saja, Om Banyu janji akan segera membasmi semua penyakit jahat di tubuh Melati! Dalam beberapa hari ke depan, Melati pasti sudah bisa jalan-jalan dan main lagi sama Mama kayak dulu. Percaya sama Om, kan?"

"Yeay! Asyik!" Sorak gembira Melati tertahan lemah. Namun tak lama, raut wajahnya kembali murung. "Tapi kata Mama... penyakit Melati ini sangat jahat. Melati harus tinggal di rumah sakit ini lamaaa banget baru bisa sembuh..."

Banyu tahu Melati adalah anak jenius yang tidak bisa dibohongi dengan alasan murahan. Untungnya, ia sudah menyiapkan skenario alibi di perjalanan tadi. Ia tersenyum lebar dan bertanya, "Lho, Melati lupa ya? Dulu waktu Kakek sakit parah, siapa coba yang berhasil menyembuhkannya?"

Mata Melati langsung membulat berbinar-binar. "Oh iya! Om Banyu yang sembuhin Kakek! Kalau Om bisa sembuhin Kakek, berarti Om juga pasti bisa sembuhin Melati, kan?!"

Banyu mengeluarkan sebuah botol kaca mungil berisi cairan berwarna ungu pekat dari sakunya dan menyodorkannya pada Melati. "Melati memang paling pintar! Makanya hari ini Om Banyu datang bawa obat ajaib khusus buat Melati. Ayo lihat! Asalkan Melati minum obat ini, Om jamin penyakitnya bakal langsung kabur ketakutan!"

"Wah, asyik! Melati mau minum sekarang!" seru gadis kecil itu kegirangan.

Faktanya, kondisi fisik Melati saat ini sudah sangat memprihatinkan. Antusiasme dan senyum yang ia tunjukkan saat mengobrol dengan Banyu hanyalah efek adrenalin sesaat karena ia terlalu bahagia bertemu dengan paman kesayangannya. Saat ia berniat meminum obat itu, tubuh lemahnya tak bisa berbohong. Ia bahkan tak punya cukup tenaga untuk mengangkat tangannya sendiri! Dua kali ia mencoba meraih botol itu, namun kedua tangan mungilnya selalu jatuh terkulai lemas. Merasa frustrasi dan tak berdaya, bibir Melati melengkung ke bawah, nyaris menangis.

Melihat bocah seceria ini disiksa hingga selemah itu, Banyu merasa hatinya seakan diiris sembilu. Ia buru-buru mencabut sumbat botol, menyangga kepala Melati dengan lembut menggunakan sebelah tangannya, lalu meminumkan cairan ajaib itu ke mulut mungil sang gadis secara perlahan.

Awalnya Melati mengernyitkan dahi, mengira obat ini akan terasa sepahit empedu. Namun, begitu cecapan pertama membasahi lidahnya, mata Melati langsung menyipit bahagia membentuk bulan sabit. Ia langsung menyedot isi botol itu dengan lahap dan cepat.

Saking paniknya melihat Melati minum terlalu tergesa-gesa, Banyu buru-buru mengingatkan, "Pelan-pelan Sayang, jangan sampai tersedak!"

Banyu sangat hafal bahwa buah favorit Melati adalah bluberi. Oleh karena itu, ia sengaja membeli jus bluberi kualitas premium dalam perjalanan tadi, lalu meneteskan Cairan Ajaib ke dalamnya. Modifikasi rasa ini murni ia lakukan agar Melati bahagia dan tidak merasa trauma meminum 'obat'. Bagaimanapun juga, penderitaan bocah sekecil ini sudah terlalu banyak.

Taktik Banyu terbukti sangat jenius. Melati menghisap habis seluruh isi botol itu tanpa sisa. Ia bahkan bersabar menunggu hingga tetesan terakhir meluncur ke tenggorokannya, lalu mendesah puas sambil menjilati bibirnya. "Wahhh... obatnya rasa bluberi! Manis banget! Om Banyu, obatnya masih ada nggak? Kapan Melati boleh minum obat enak ini lagi?"

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!